Yang Kerja yang Merana


Sejumlah buruh dipekerjakan dalam proyek pembangunan Unhas. Namun jaminan sosial bagi mereka masih tanda tanya.

Dua anak kecil sedang asyik bermain di tumpukan pasir siang itu, Senin (23/4). Tak jauh dari mereka, seorang wanita berjaket hitam dan celana panjang lusuh tengah menciduk pasir menggunakan sekop. Disekanya peluh yang menetes dari balik topi yang menutupi kepalanya. Sesekali Ia menoleh ke kedua bocah yang asyik bermain pasir itu.  Memastikan bahwa mereka baik-baik saja.
Terik siang tak dihiraunya. Dia dan pekerja lain terus bekerja mengejar tenggat waktu pembangunan. Gedung baru Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin (Unhas) itu harus selesai tepat waktu. Mari, nama wanita itu tak peduli meski dirinya seorang perempuan. Ia tetap bekerja seperti yang lain. Menyekop pasir, mendorong gerobak dan mengangkat bahan bangunan layaknya pekerja pria.
Mari adalah pekerja wanita yang ada di lokasi pembangunan itu. Ia dan kedua anaknya, Randi dan Yaddi telah enam bulan berada disitu. Di sebuah gubuk kecil di belakang gedung, wanita asal Bone ini tinggal bersama kedua anaknya.
Waktu kerjanya delapan jam per hari. Selama delapan jam itu, cucuran keringatnya dihargai empat puluh ribu rupiah. Itu sudah termasuk uang makan. Obat-obatan juga ditanggung sendiri. Namun jika ingin mendapat uang tambahan, mereka bisa bekerja di luar waktu normal alias lembur. Jika lembur, mereka bekerja sampai malam. Meski risiko kecelakaan sangat besar, Mari tak punya pilihan.
Sebagai buruh wanita yang bekerja di proyek pembangunan Unhas, Mari tak sendiri. Di lokasi pembangunan Gedung Olahraga (GOR) juga ada buruh wanita. Namanya Dian. Gadis berumur sembilan belas tahun asal Surabaya. Dia dan puluhan temannya dikontrak oleh kontraktor pemenang tender pembangunan GOR. Disini, Dian bekerja sebagai tukang cor. Gajinya sedikit diatas Marti. Sekira tujuh puluh ribu rupiah per hari.
Sebagai buruh yang hanya terikat kontrak selama proyek. Kejelasan nasib mereka kerap menjadi masalah. Semisal Tunjangan Hari Raya (THR) yang tak mereka dapatkan. Ditambah jaminan keselamatan kerja yang tak jelas. Berbeda dengan karyawan tetap, pihak perusahaan biasanya tak ingin rugi jika harus menjamin keselamatan kerja mereka. Pasalnya mereka hanya dikontrak selama beberapa bulan saja. Akibatnya, perhatian atas kesehatan dan keselamatan mereka kerap diabaikan.  
Buruh yang tidak mendapat perhatian atas kesehatan dan keselamatan kerjanya memang sudah biasa terjadi di negara berkembang, termasuk Indonesia. Demikian yang dikatakan oleh Yahya Thamrin SKM Mkes MOHs, dosen jurusan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) Fakultas Kesehatan Masyarakat Unhas. Hak-hak mereka sering diabaikan oleh pihak perusahaan. Oleh karena itu, meski hari buruh atau May Day selalu diperingati tiap tahun. Nasib mereka tak kunjung membaik.
Unhas yang tengah giat-giatnya melaksanakan sejumlah pembangunan banyak menggunakan tenaga buruh. Menurut Yahya, sudah seyogyanya dalam proyek pembangunan di Unhas diterapkan prinsip-prinsip K3. Hal ini demi melindungi para pekerja dari risiko kecelakaan. Terutama bagi buruh yang berkerja di gedung-gedung. Risiko jatuh atau tertimpa bahan bangunan sangat mungkin terjadi.
Menurut Yahya, selama ini pembangunan di Unhas belum berparadigma K3. “ Unhas itu unik, banyak yang ahli soal itu K3 tapi aplikasinya terhadap kampus sendiri tidak ada,” kata Yahya. Perkataan Yahya patut menjadi renungan. Setiap tahun May Day memang selalu diperingati. Namun hak-hak mereka juga masih diabaikan. (M05/M03/Ran)







Tags: , ,

About author

Penerbitan Kampus identitas Unhas.

0 komentar

Leave a Reply

silahkan isi komentar anda.
sebelum isi komentar anda harus daftar terlebih dahulu di sini