Amin Soebandrio, Kenal Lebih Dekat SPICE III

SPICE (Science for the Protection of Indonesian Coastal Marine Ecosystem), adalah program kerjasama riset Internasional bidang pesisir dan kelautan antara Indonesia dan Jerman yang telah dimulai sejak tahun 2002. Sementara, untuk tahun 2012 ini Unhas menjadi tuan rumah lokakarya, Selasa (10/4). 

Prof dr Amin Soebandrio PhD SpMK, Staf Ahli Menristek bidang Kesehatan dan Obat yang juga menjabat Deputi Menristek bidang Jaringan Iptek ad interim menjelaskan tentang SPICE III. Ia menyampaikan bahwa SPICE III ada, karena kita menyadari Indonesia punya garis pantai yang begitu panjang di dunia. “Itu kekayaan yang luar biasa. 

Kita menyadari bahwa kita kurang aktif dalam memeliharaan hingga banyak yang mulai rusak. Untuk itu, maka kami adakan kerjasama dengan pihak lain. Salah satu pihak tersebut ialah dari negara Jerman,” jelasnya. Ia juga menambahkan bahwa, “kami bersama meneliti dan konservasi tentang apa yang sedang mengalami kerusakan tersebut.” Demi peningkatan kualitas dan mengembalikannya ke keadaan sedia kala. Juga, mencegah kerusakan sampai pada pemanfaatan pantai itu.

“Kerusakan itu bisa bersumber dari alam, seperti ombak yang keras. Yang biasa pula terjadi kerusakan pada terumbu karang. Yang menjadi tempat hidup biota laut. Yang dapat mengurangi produksi ikan. Olehnya itu, kita berupaya untuk mengembalikan ke keadaan yang bagus. Yang kedua, pantai dibuat sedemikian rupa untuk melindungi masyarakat sekitar pantai dari hantaman gelombang tinggi dan sebagainya. Yang ketiga, bagaimana kita memanfaatkan produksi yang ada di sekitar tersebut untuk memenuhi kehidupan pangan. Tanpa harus merusak lingkungan,” latarnya.  
Peneliti pun memanfaatkan pantai yang memiliki arus dan anginnya. Sehingga, dapat dikonversi menjadi energi alternatif.  
Pertemuan lokakarya mengumpul peneliti dari berbagai institusi. Untuk membahas hal tersebut. Sehingga, mereka bisa berkonstribusi. Ia juga menjelaskan bahwa hasil lokakarya terdapat enam proposal penelitian. Yang nantinya digunakan untuk kerjasama dengan pihak Jerman. Selain itu, ada penelitian untuk peningkatan kapasitas manusia, semacam training. Yang outputnya, bisa produk makanan, kebijakan dan pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM). 
Berikutnya, jika proposal telah siap dilanjutkan dengan Material Transfer Agreement (MTA). Hal ini adalah perjanjian yang dipergunakan untuk menggambarkan syarat dan kondisi dalam tukar menukar material penelitian.

“Perjanjian yang harus dibuat saat mengirim sample atau spesimen keluar negeri. MTA ada agar nantinya hasil penelitian tetap akan dimanfaatkan oleh Indonesia. Tanpa ada manfaat komersil dari pihak luar negeri,” ungkap Prof dr Amin Soebandrio.
Esa Ramadana/Hery Pasaribu  

Tags: , , ,

About author

Penerbitan Kampus identitas Unhas.

0 komentar

Leave a Reply

silahkan isi komentar anda.
sebelum isi komentar anda harus daftar terlebih dahulu di sini