| Foto : Identitas/Mustafa |
Tahun 2010 silam Unhas menggadang Greener, Healthier, and Safer (GHS). Berharap terealisasi awal tahun ini. Sejauh mana realisasinya?
Tumpukan sepeda sesak memenuhi gudang universitas. Setahun lebih sudah sepeda-sepeda tersebut tersimpan rapi di sana. Kondisinya pun sudah berubah sejak ia “digudangkan” 2010 yang lalu. Ada yang berban satu, tak sedikit pula yang telah berkarat. Sepeda-sepeda tersebut merupakan sumbangan dari salah satu bank ternama untuk mendukung program GHS yang direncanakan Unhas sejak 2010.
Tumpukan sepeda sesak memenuhi gudang universitas. Setahun lebih sudah sepeda-sepeda tersebut tersimpan rapi di sana. Kondisinya pun sudah berubah sejak ia “digudangkan” 2010 yang lalu. Ada yang berban satu, tak sedikit pula yang telah berkarat. Sepeda-sepeda tersebut merupakan sumbangan dari salah satu bank ternama untuk mendukung program GHS yang direncanakan Unhas sejak 2010.
Kala itu Rektor Unhas, Prof Dr dr Idrus A Paturusi SpB SpBO menargetkan realisasinya rampung awal 2012 (identitas awal Juni 2010). Sejak saat itu pula berbagai upaya dilakukan untuk mewujudkan niat itu. Termasuk memenuhi target lima ratus buah sepeda, membangun 10-16 shelter sepeda, membangun jalur hijau untuk pejalan kaki, serta menyiapkan shuttle bus beserta perangkatnya.
Sudah sebulan 2012 berlalu, kini sepeda yang dimiliki Unhas baru sekira empat ratus buah, hasil sumbangan beberapa bank dan perusahaan. Sebuah shelter di Pintu Satu baru selesai, shelter kedua di sekitar tugu sementara dalam pengerjaan. Masih butuh seratus buah sepeda dan 8-14 shelter, juga kerja keras.
Ya untuk merealisasikan rencana besar ini memang dibutuhkan kerja keras. Selain giat mencari kerja sama, Unhas juga mesti rela merogoh kocek sendiri. Kedua shelter yang sementara dibangun ini merupakan sumbangan dari Bank Negara Indonesia (BNI). Dana yang digunakan untuk keduanya sebasar 100 juta rupiah.
Untuk pembangunan shelter selanjutnya Unhas masih mengharapkan kemitraan. Saat ini beberapa perusahan telah masuk daftar mitra Unhas. BNI, BTN, serta perusahaan swasta milik Timi Habibie merupakan daftar perusahaan yang selama ini membantu realisasi proyek ini. Selain itu, masih terdapat sederet kerjasama yang menanti follow up dari pihak Unhas. “Mungkin ke depan kita perlu tim khusus itu untuk mengejar kemitraan ini,” tutur Prof Dr Dwia A Tina NK MA, Wakil Rektor IV Unhas.
Unhas juga mengeluarkan anggaran hanya untuk rute sepeda sebesar satu hingga dua miliar. Namun untuk menyelesaikan shelter dan mencukupkan sepeda serta shuttle bus, Unhas belum bisa merogoh kantongnya sendiri. “Kalau Penghasilan Negara Bukan Pajak (PNBP) agak longgar, kita coba untuk mengalirkan ke Campus Bike,” tutur Drs H. Abd. Halim Doko MSi, Kepala Biro Administrasi Umum.
Kampus yang hijau dan sehat tentunya menjadi dampaan setiap sivitas akademika. Namun tampaknya mereka mesti menunggu, menunggu kerja keras Unhas. “Sesuai perkataan rektor sebelumnya, Unhas akan mengusahakan GHS terealisasi tahun ini,” tutur Prof Dwia di akhir wawancara.
GHS Terealisasi, Pedagang Diamputasi
Pedagang di sekitar jalan lingkar Poltek tampaknya mesti berpikir keras lagi. Pasalnya 4 Januari lalu mereka kembali menerima surat pemberitahuan untuk segera membongkar tenda-tenda tempat mereka berjualan. Ini bukan kali pertama, sebelumnya mereka telah mendapat surat bernada sama.
Jika GHS benar-benar terealisasi, jalan lingkar Poltek akan dilalui oleh angkutan kota. Di area tersebut juga akan dibangun halte. Dengan demikian jalur tersebut mesti bersih dari tenda-tenda. Soal bongkar-mengbongkar tenda, pedagang tampaknya masih enggan bergerak.
Mereka masih menunggu janji sebelum melakukan perintah tersebut. Janji akan diberikannya tempat menyambung hidup dengan berdagang di tempat lain. Namun, belum ada kesepakatan pasti akan hal ini.
“Kalau masalah penggusuran itu saya rasa itu akan otomatis. Kalau mobil keluar masuk di jalan yang begitu sempit dengan kios-kios di situ kan tidak mungkin lagi. Jadi saya pikir tanpa kita suruh minggir pun secara alami dia akan minggir,” tutur Halim Doko. Amm/Ali
0 komentar