Pemanfaatan Angin dan Air sebagai Sumber Energi Alternatif


Seminar Nasional Bertema: “Urgensi Teknologi Ramah Lingkungan”   Rangkaian Acara “Physics Competition 2011” Himpunan Mahasiswa Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Unhas, Kamis 17/03, di Baruga A.P. Pettarani.

Semakin menepisnya cadangan energi dunia kian hari kian menimbulkan kekhawatiran. Cadangan energi yang digantungkan pada sumber daya alam tak terbarukan (fosil), seperti minyak bumi dan batu bara semakin lama semakin menipis. Belakangan ini marak digembar-gemborkan upaya mengurangi penggunaan energi fosil oleh elemen pemerhati lingkungan, dan negara-negara industri yang memilki ketergantungan terhadap persediaan energi ini, misalnya Amerika Serikat dan Jepang. 
Rupanya, kekhawatiran tersebut bukan hanya ada di benak kalangan industri dan pemerhati lingkugan. Mahasiswa Universitas Hasanuddin yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Fisika (Himafi) FMIPA Unhas juga memeiliki kekhawatiran serupa. Atas dasar itulah maka mereka menggelar seminar nasional dengan tema “Urgensi  Teknologi Ramah Lingkungan”.
Indonesia merupakan salah satu negara dengan cadangan sumber energi fosil (minyak bumi,batu bara, gas alam) terbesar di dunia. Meski besar, suatu saat nanti, cadangan energi tersebut akan habis sebab sumber energi fosil tergolong sumber daya alam yang tak terbarukan. Oleh karena itu, kesadaran mahasiswa Indonesia akan habisnya cadangan energi dunia sangatlah beralasan.
Menurut data dari Pusat informasi Energi & Sumber Daya Mineral, Jakarta cadangan minyak bumi Indonesia 8,2 milyar barel, sementara batu  bara sebanyak 18,8 milyar ton. Dunia industri merupakan konsumen terbesar. Empat puluh enam persen cadangan energi tersebut diserap oleh sektor tersebut, disusul transporrtasi (29 %) sisanya (25%) di gunakan untuk keperluan rumah tangga.
Saat ini salah satu upaya pemerintah untuk menanggulangi masalah ini adalah dengan menghemat semaksimal mungkin konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM). Langkah-langkah yang ditempuh antara lain menambah armada angkutan massal, efisiensi peralatan yang padat energy, dan pemanfaatan energi alternatif. Langkah yang terakhir inilah yang coba di gali pada seminar nasional Himafi ini.
Energi alternatif atau dikenal juga dengan sebutan energi terbarukan di definisikan sebagai sumber energi yang dapat dengan cepat diisi kembali oleh alam, dalam artian energi yang terganti sama dengan laju pengunaannya. Bentuk energi alternatif ada banyak, antara lain bio energi, tenaga air, tanaga surya dan lain-lain. Dengan memanfaatkan sumber energy terbarukan, kita tidak perlu khawatir akan habis karena senantiasa tersedia dan dapat digunakan dalam jangka waktu yang cukup lama. Selain itu kita pun turut andil dalam mengurangi emisi karbon.

Dalam seminar ini, Prof Dr Ir Syukri Himran yang di dapuk selaku pembicara menawarkan dua alternatif sumber energi yang paling murah dan berpotensi besar diterapkan di Indonesia khususnya di Sulawesi selatan yakni energi air dan energi angin. Saat ini energi air yang di manfaatkan di Indonesia baru sekira enam persen dari total energi yang ada di Indonesia atau sekitar 3529 Mega Watt (MW) dari potensi sekira 70 000 MW. Demikian pula dengan energi angin. Listrik yang dihasilkan dari pemanfaatan energy angin baru 0,6 MW dari 7 500 MW yang bisa di manfaatkan.
Wilayah Indonesia yang dikelilingi lautan memang menyimpan potensi besar untuk pemanfaatan sumber energi angin dan air. Kecepatan angin yang cukup (2.5 ¸ 6) m/s. serta air yang melimpah semakin memperkuat argumen bahwa tidak ada alasan bagi Indonesia untuk kekurangan energi. Tinggal mencari cara memanfaatkannya saja
Abdul Rahman
Tags:

About author

Penerbitan Kampus identitas Unhas.

0 komentar

Leave a Reply

silahkan isi komentar anda.
sebelum isi komentar anda harus daftar terlebih dahulu di sini