Kampanye Anti Kekerasan Terhadap Perempuan


Catatan Kampanye We Can Goes To Campus dengan Tema “Hidup Terhormat Tanpa Kekerasan Terhadap Perempuan : Saling Menghormati dan Menyayangi dalam Pacaran.” Diselenggarakan atas kerjasama  PK Identitas dengan Koalisi Perempuan Indonesia. Di Lt 1 PKM Unhas, Sabtu (22/1)
 
Kendati saat ini telah banyak gerakan yang mendukung kesetaraan gender, tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa kekerasan terhadap perempuan tetap saja ada. Dalam hal ini kekerasan yang dimaksud adalah seperti yang disebutkan dalam Deklarasi Internasional tentang Penghapusan kekerasan Terhadap Perempuan dengan nomor deklarasi A/RES/48/104 pada 20 Desember 1993 yang berbunyi “Kekerasan terhadap perempuan adalah setiap perbuatan berdasarkan perbedaan jenis kelamin yang berakibat atau mungkin berakibat kesengsaraan atau penderitaan perempuan secara fisik, seksual atau psikologis, termasuk ancaman perbuatan tertentu, pemaksaan atau perampasan kemerdekaan, secara sewenang - wenang, baik yang dilakukan di depan umum maupun yang dilakukan dalam kehidupan pribadi.”
 Deklarasi di atas juga sejalan dengan UU Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (PKDRT) No 23 Tahun 2004, kekerasan terhadap perempuan dapat berentuk 4 hal : (1) kekerasan fisik, (2) kekerasan psikis, (3) kekerasan seksual, dan (4) kekerasan ekonomi. Di beberapa negara, adat istiadat bahkan mendukung kekerasan terhadap perempuan. Perempuan diabaikan dan mereka tidak berhak memberikan suaranya dalam keluarga dan komunitas sosialnya. Hal ini terjadi karena adanya kepercayaan bahwa kedudukan lelaki lebih tinggi daripada perempuan. Menyikapi hal ini, diadakanlah Kampanye We Can untuk merubah persepsi yang salah mengenai perempuan. Kampanye We can adalah sebuah metode kampanye yang bertujuan untuk mendorong perubahan sikap dan perilaku setiap individu secara berantai dan dengan skala yang cukup besar dapat menghasilkan sebuah gerakan sosial yang mampu menghentikan segala kekerasan terhadap perempuan.
Dalam kampanye we can kali ini mengambil defenisi bahwa Kekerasan terhadap perempuan adalah setiap tindakan yang berakibat kesengsaraan atau penderitaan-penderitaan pada perempuan secara fisik, seksual atau psikologis, termasuk ancaman tindakan tertentu, pemaksaan atau perampasan kemerdekaan secara sewenang-wenang baik yang terjadi di depan umum atau dalam lingkungan kehidupan pribadi. Seringkali kekerasan pada perempuan terjadi karena adanya ketimpangan atau ketidakadilan jender.  Ketimpangan jender adalah perbedaan peran dan hak perempuan dan laki-laki di masyarakat yang menempatkan perempuan dalam status lebih rendah dari laki-laki.  “Hak istimewa” yang dimiliki laki-laki ini seolah-olah menjadikan perempuan sebagai “barang” milik laki-laki yang berhak untuk diperlakukan semena-mena, termasuk dengan cara kekerasan.
We can kampanye awalnya diadakan oleh Oxfam Great Britain sebuah yayasan amal yang berpusat di London. Kampanye ini kemudian menyebar ke seluruh dunia hingga ke Asia. Kampanye We Can menggunakan strategi mengajak semua orang dari berbagai kalangan atau komunitas untuk berubah dan berperan sebagai change maker atau pelaku perubahan.
Di dalam Kampanye We Can, change maker didefinisikan sebagai orang yang tidak membiarkan dirinya maupun orang lain menjadi korban dan/atau pelaku kekerasan, serta menjadi inspirasi bagi orang lain untuk menolak kekerasan terhadap perempuan. Di harapkan change maker akan mengajak dan mendorong paling tidak 10 orang lain untuk melakukan perubahan dan menjadi seorang change maker. Sebagai salah satu negara besar di Asia, Indonesia juga turut ambil bagian dalam kampanye ini.
Di Indonesia, setiap tahunnya angka kekerasan terhadap perempuan meningkat secara konsisten. Pada tahun 2009 angka kekerasan yang tercatat di Komisi Nasional Perempuan mencapai 143.586 korban. Data ini meningkat sebesar 250 % di tahun 2010. Beberapa kalangan berpendapat hal ini dapat mengindikasikan kurang berhasilnya kampanye We Can tersebut. Menjawab hal ini, aktivis perempuan Zohra Andi Baso yang juga aktif di kampanye We Can mengatakan, “hal ini bukan karena jumlah kasusnya yang meningkat, tetapi karena semakin tingginya kesadaran perempuan yang menjadi korban untuk melaporkan kasusnya.” Sejak disahkannya undang – undang mengenai penghapusan kekerasan dalam rumah tangga, kasus yang masuk setiap tahunnya selalu meningkat tajam. 
Dalam kasus – kasus yang tercatat di Komnas Perempuan, kekerasan dalam pacaran menempati urutan ketiga terbanyak setelah kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dan poligami. Spesifikasi kasus kekerasan yang banyak terjadi dalam pacaran adalah kasus kekerasan seksual. Banyaknya kasus kekerasan dalam pacaran tersebut ditengarai karena tidak adanya hukum  pidana yang mengatur tentang hal ini.
Sangat disayangkan dengan banyaknya kasus yang terjadi pada perempuan – perempuan di dunia pada umumnya dan di Indonesia khususnya. Padahal menurut Nasaruddin Salam, Wakil Rektor  III Universitas Hasanuddin, lelaki tidak akan lengkap tanpa adanya perempuan. Perempuan itu layaknya air yang mampu memadamkan api. Tidak layak jika perempuan hanya dijadikan alas kaki lelaki.
Dengan mengusung slogan “Bersama Menghentikan Kekerasan hari Ini, Esok Kita Hidup Terhormat”, kampanye We Can diharapkan membuat semakin banyak orang sadar dan menolak kekerasan terhadap perempuan.
Eny Erliani


Tags:

About author

Penerbitan Kampus identitas Unhas.

0 komentar

Leave a Reply

silahkan isi komentar anda.
sebelum isi komentar anda harus daftar terlebih dahulu di sini