Bukan legenda, ketika 8 November 2009 lalu bebatuan berukuran raksasa tiba-tiba berjatuhan dari puncak bukit di Desa Battang Barat. Dalam sekejap batu-batu berukuran lima hingga dua puluh meter meluluhlantakkan daerah ini. Tanah longsor! Sebuah peristiwa alam yang akhirnya menjelma bencana, menimpa daerah di punggung perbukitan daerah Palopo ini.
Rinal, seorang penduduk setempat yang selamat membagi ceritanya pada kami, Di hari naas itu, sedari sore hujan deras mengguyur daerah berpenduduk 1606 jiwa ini. Luapan air sungai menggenang hingga 10 cm di rumah-rumah warga. Namun banjir kecil serupa itu telah dianggap biasa oleh penduduk daerah Battang. Warga menganggap hal itu sebagai resiko tinggal di tepi sungai Bambalu. Malam makin larut, dan hujan semakin deras. Sekitar pukul 23.15, suara gemuruh yang sangat keras terdengar. Suasana mendadak gelap gulita dan beberapa rumah penduduk, termasuk rumah kerabat Rinal, sudah tak lagi ada di tempatnya semula, lenyap dibawa arus sungai dan tertimpa bebatuan besar.
Alam sungguh penuh misteri. Hanya butuh waktu semalam untuk membuat daerah yang terletak di bahu barat Palopo ini lumpuh total. 108 titik longsor membuat wilayah ini mengalami bencana longsor terparah sepanjang sejarah daerah ini berdiri. Kamis (28/01), didampingi Wakil Walikota Palopo, kami mengunjungi daerah longsor di KM 9 – KM 28 jalan poros yang menghubungkan Kabupaten Tana Toraja dengan Palopo. Rombongan kami terdiri dari beberapa dosen dan belasan mahasiswa Teknik Industri. Penelitian mengenai bencana ini adalah kerjasama antara JICA (Japan International Cooperation Agency) dan Pustemi (Pusat Studi Teknologi Manajemen Industri).
Setelah menyambangi Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, dan PMI Palopo untuk men-survey data dan meneliti jejaring kerjasama elemen-elemen yang terkait dalam pemulihan bencana, terhimpun informasi bahwa bencana ini merenggut tiga belas jiwa, juga membuat 1050 orang harus mengungsi meninggalkan kediamannya. Rumah penduduk hanyut, jalur transportasi Palopo-Toraja lumpuh, persawahan tertimbun longsor, dan jaringan listrik yang rusak adalah sebagian kecil imbas bencana alam ini.
Negeri Rawan Bencana
Bencana alam bertubi-tubi menimpa Indonesia belakangan ini. Tak aneh, sebab baik secara fisiologis maupun geografis negeri kita ini memang rawan bencana. Secara geologis wilayah Indonesia merupakan tempat pertemuan beberapa lempeng utama kerak bumi. Akibat pengaruh perputaran bumi, wilayah Indonesia yang menjadi tempat pertemuan empat lempeng kerak bumi dan tiga sistem pegunungan utama, terus menerus bergerak dan menyebabkan wilayah Indonesia berwujud kepingan-kepingan daratan yang membentuk ribuan pulau-pulau besar dan kecil (kurang lebih berjumlah 17.667 pulau). Hal ini juga menyebabkan wilayah Indonesia sangat labil dan rentan akan tanah longsor, gempa bumi tektonik, gerakan tanah, dan erupsi gunung api. Sebagai akibat perputaran bumi itu pula lempeng kerak bumi yang menjadi landasan Kepulauan Indonesia bergerak antara 6 – 8 cm setiap tahun. Itulah salah satu faktor mengapa riset mengenai manajemen bencana belakangan booming dan dinilai penting dilakukan.
Longsor, Hutan Lindung, dan Durian
Angin sejuk di ketinggian 250 mdpl menyambut kami begitu menginjakkan kaki di lokasi ini. Kontur perbukitan membuat jalan yang menuju daerah ini berkelok-kelok, seringkali diselingi tikungan curam dan tanjakan. Namun pohon durian dan rambutan adalah hal yang paling mengundang decak kami saat mengunjungi lokasi ini.
Battang sebenarnya bukan merupakan daerah layak huni. Dinas Pertambangan dan Energi Pemerintah Kota Palopo dalam hasil eksplorasinya menyebutkan bahwa daerah ini dikhususkan untuk hutan lindung. Pasalnya, kondisi lahan di kawasan tersebut didominasi oleh material berupa bebatuan granit. Lapisan tanah hanya setebal 1 - 6 meter saja sehingga kondisi tanah sangat labil dan tidak memiliki daya tahan yang cukup terhadap beban di atasnya, terutama ketika terjadi hujan.
Pun, setelah bencana melanda, tak semua warga mau direlokasi ke daerah yang lebih aman. Kami menemui Wandi, seorang korban yang tinggal di KM 23, lokasi yang paling parah kondisinya Ia mengatakan dirinya beserta keluarga tidak ingin meninggalkan lokasi tempat tinggalnya yang sudah dihuni sejak puluhan tahun lalu. Menurutnya, tanah yang ditinggalinya tersebut adalah warisan dari leluhur. “Kami lebih memilih untuk tinggal disini, dan tidak ingin dipindahkan ke lokasi yang lain,” begitulah sepotong alasan Wandi yang telah kehilangan istri dan dua anaknya karena bencana longsor itu. Wandi berbalik meminta Pemerintah untuk mengontrol perambahan hutan, agar tanah longsor susulan tak semakin parah.
Pendirian yang serupa ini merupakan gambaran betapa eratnya hubungan ‘magis’ antara warga dengan tanah tempatnya berpijak. Tapi sayang ia lupa bahwa pilihannya itu justru berbahaya bagi dirinya. Permintaan Wandi agar ditempuh langkahuntuk menghindari longsor memang tepat tapi hal tersebut mestinya dimulai dari warga Kelurahan Battang sendiri dengan tidak lagi menjadikan kawasan hutan lindung di sana menjadi kebun cengkeh dan durian. Namun jika alasan ekonomi adalah titik awal dari semua ini, maka menjadi tugas besar bagi kita dan pemerintah untuk menata sistem baru yang menyadarkan Indonesia bahwa alam bukanlah sekedar objek yang bisa kita eksploitasi semau hati. Yunita Dewi Masitoh/Nay
Mahasiswa sebagai kaum intelek kembali menuai tanya. Pasalnya Selasa hingga Rabu (16-17/2) lalu terjadi peristiwa bentrok antar mahasiswa Unhas. Terik matahari siang itu dihiasi hujan batu dan botol di depan gedung Perkuliahan Bersama (PB) wilayah Agrokompleks. Teriakan-teriakan dan bunyi kaca pecah menambah gaduh di sekitaran itu. Hal tersebut tidak sepantasnya terjadi pada kalangan intelektual.
Menurut Elma Haryani, MA seorang psikolog dari The Islamic College Jakarta mengatakan ketika ada permasalahan-permasalahan kecil dan berujung pada tawuran maka semuanya dari pribadi mahasiswa masing-masing yang masih rapuh (fragile). ”mereka belum memiliki kematangan sosial yang terstruktur jadi pribadi fragile yang seperti itu gampang tersulut isu-isu yang sebenarnya tidak prinsip dan bisa diselesaikan dengan jalur musyawarah” ungkapnya, Rabu (23/2).
Pada awalnya sebuah individu akan belajar bagaimana mengatasi sebuah masalah dengan sendirinya, tetapi lingkungan yang membentuk pribadi. Sebut saja dunia pendidikan adalah salah satu pembentuknya. Berarti dunia pendidikan harus ada untuk membentuk character building ketika mereka masih sekolah. Harus ada membangun atmosfer pendidikan yang sehat dan matang serta bertanggung jawab. ”Yang diinginkan ketika mereka keluar dari sekolah adalah mereka terbentuk menjadi orang yang bisa menahan diri, bisa menyeleksi isu yang mana penting dan yang tidak, serta bisa memprioritaskan hal yang paling urgent” ujarnya. Semua elemen pendidik harus memahami hal itu dan bisa menerapkannya pada kehidupan pendidikan mereka. ”apa yang diharapkan jika para penerus bangsa fragile dan gampang tersulut oleh isu-isu semacam itu?” tambahnya lagi sambil tersenyum pada identitas.
Menurut penjelasan Elma, permasalahan yang seharusnya bisa diselesaikan dengan jalan musyawarah malah menjadi tawuran bisa jadi dikarenakan mahasiswa terlalu banyak memiliki energi berlebih dan tidak ada tempat penyalurannya. ”semestinya dibuat suatu komunitas yang bisa mengakomodir energi berlebih mahasiswa itu ke arah yang lebih positif dan bermanfaat. Jadi semua pihak harus bisa ikut turun tangan, bukan hanya mahasiswa saja.” ujarnya ketika ditemui di Aula Pengembangan Masyarakat.
(Mud /Tra)
Gambaran kejadian bentrokan
Selasa (16/2)
Dua mahasiswi jurusan arsitektur jualan kue (pencarian dana inaUgurasi) di PB depan gedung perpustakaan pusat
Mahasiswi arsi tersinggung dengan ucapan dari sejumlah mahasiswa Fakultas Peternakan di ruang PB 134 dan melapor ke Himpunan jurusannya dan melakukan negosiasi
Negosiasi yang dilakukan FT ke peternakan gagal
Kisruh terjadi pukul 11.00 wita
Dilakukan perundingan di peternakan dihadiri PR 3, dosen dan petinggi senat mahasiswa
Kisruh kembali terjadi pukul 13.00 wita
Perundingan dilakukan kembali pukul 20.00 WITA di ruang PR 3, dengan membuat konsep perdamaian dan rencana lanjut besok siang pukul 13.00 WITA
Rabu (17/2)
Jam 11.00 WITA pecah lagi bentrokan di mulai dari LT 7 dan terus melebar mulai dari wilayah agrokompleks sampai ke fakultas MIPA
Pukul 14.00 WITA bentrok mereda
Pertemuan di ruang PR 3 jam 23.00 WITA membicarakan sangsi DO jika masih terjadi tawuran esok hari. Perdamaian pada akhirnya disepakati kedua belah pihak.

Deringan Telepon terdengar dari ruangan pembantu Dekan (PD) III Fakultas Kesehatan Masyarakat, Rabu (3/2). Tak lama kemudian, pria dengan kumis tipis mulai berbicara melalui saluran telepon tersebut. Sambil memegang gagang telepon, sejumlah mahasiswa telah menunggu untuk meminta tanda tangan. Ramai, begitulah suasana ruangan salah satu dosen Kesehatan lingkungan ini. Berbagai aktivitas dan keperluan mahasiswa membuat Dr Anwar Daud, SKM, EHS harus menerima resiko menjabat PD bidang kemahasiswaan.

Piawai dalam memimpin, membuat Negeri Jiran mencapai puncak kemakmuran. Selama 22 tahun berkuasa, teknologi ditiap aspek kehidupan tumbuh pesat. Untuk itu beliau dijuluki sebagai politikus handal. Namun, sejak hengkang sebagai Perdana Menteri Malaysia, Oktober 2003 silam, wajahnya jarang menghiasi layar kaca. Sosok berusia 84 tahun ini lebih banyak melakukan aktivitas sosial. Termasuk ketika menjadi keynote speaker pada Seminar Internasional “Demokrasi untuk Kesejahteran Rakyat” dalam rangka Reuni Akbar Program Pascasarjana Unhas, Kamis (14/1).
Sebelum dialog dengan Mahasiswa Malaysia di Rumah Sakit Pendidikan Unhas, Mahathir berbicara mengenai demokrasi dan Hubungan Indonesia-Malaysia. Pembicaraan berlanjut di Bandara Internasional Soekarno Hatta, sambil menunggu pesawat pribadi menjemput, Fadli dari Identitas mendapat kesempatan wawancara dengan sang datuk.
PROGRAM MAHASISWA WIRAUSAHA (PMW)
UNIVERSITAN HASANUDDIN TAHUN 2010
Syarat Peserta PMW :1. Mahasiswa Unhas yang telah menempuh minimal 40 sks dan maksimal 120 sks, dibuktikan dengan melampirkan transkrip nilai masing-masing peserta yang disahkan ketua jurusan/Ketua Program Studi
2. Proposal dalam bentuk perorangan atau kelompok
a. Proposal perorangan, maksimal dana yang dibiayai Rp 8 jt
b. Proposal kelompok terdiri dari 1 ketua, maksimal 2 anggota dan dana yang dibiayai maksimal Rp 24 jt (Rp. 8 jt per mahasiswa)
3. Proposal PMW dibuat 2 rangkap dengan mengikuti format penyusunan
4. Proposal PMW yang dibuat, diketik dengan menggunakan kerta A4, spasi 2, huruf Times New Roman, font 12 dan dijilid
5. Proposal diserahkan di Sekretariat Program Mahasiswa Wirausaha, Rektorat lt 2 Unhas, paling lambat 19 Februari 2010.
6. Panduan PMW 2010 dapat diakses melalui http://.www.dangkang-uh.com
Kegiatan ini akan dilaksanakan di Lec Athirah, Antang, Makassar selama tiga hari mulai 12-14 Maret 2010.
Kegiatan ini insya Allah akan di hadiri oleh pemateri-pemateri yang telah mapan di bidang jurnalistik. seperti Ketua Aliansi Jurnalis Indonesia wilayah Makassar, Pimpinan Redaksi Tribun TImur, Pimpinan Redaksi Fajar, Wartawan Kompas, Sindo, SCTV, MNC, Metro TV dan ada juga dari kalangan akademisi dan penulis . Jadi sayang jika dilewatkan.
Kegiatan ini terbuka untuk umum.
Pendaftaran dapat dilakukan di sekretariat identitas Gedung Perpustakaan Unhas Lantai 1 jalan perintis kemerdekaan KM 10, Tamalanrea, Makassar, 90245.
telp. (0411) 589899