• Home
  • Home
  • Civitas
  • Laput
  • Kampusiana
  • Iptek
  • Wansus
  • Akademika
  • Cerpen
  • Puisi
  • Resensi
  • Jeklang
  • Opini
    • Opini
    • cermin
You are here : Home »
 Suatu hari seorang kawan perempuan berkata bahwa dirinya tidak mempermasalahkan poligami jika suaminya berkehendak, saya benar-benar terkejut. karena sebuah perasaan heran mendapatinya berkata seperti itu, sedang saya tidak menanyakannya. Lalu kemudian ketika pernyataan itu saya gulirkan ke teman perempuan yang lain efeknya begitu menggenaskan, sebagian yang memiliki naluri menyerang alamiah akan bersuara keras menentang, “Tak ada perempuan yang mau dibagi,” sedang yang lain hanya diam dengan ekspresi tak setuju. namun satu hal yang benar-benar jelas, tidak saya dapati satu orang pun yang berdiri dan berkata “sepakat” dengan lantang sambil mengepalkan tinju ke udara.
Setelah itu, hingga sekarang jarang lagi saya tanyakan. Karena Sepertinya ada benteng perasaan yang besar menghalangi perdebatan rasional antara pihak satu dan yang lainnya.. Saya bertanya pada diri sendiri  Dan ibuku menjawabnya dengan jujur ketika saya tanyakan pendapatnya suatu hari.
“kalau saya, pokoknya pengadilan agama!!!”   
Kesimpulan sementara, sebagian besar wanita membenci poligami tanpa perlu perdebatan lebih lanjut dan mempertanyakan alasannya hanya akan menghancurkan kredibilitasmu sendiri.
lalu bagaimanakah dengan para laki-laki? Seorang perempuan mencibir hal ini dengan menyatakan kami diunggulkan oleh sistem dan mengeksploitasi hal tersebut dengan kegembiraan yang berlebihan. Saya tidak sepakat dengan itu juga sebenarnya, karena Yusuf qardhawi dalam bukunya “ jangan menyesal menjadi perempuan” mengemukakan hal yang bertentangan dengan itu, neno warisman dalam perdebatan pagi hari di TVRI juga mengemukakan hal yang berbeda “ seorang wanita adalah tonggak peradaban melalui perannya sebagai seorang ibu” . jika ia berkata kami diuntungkan oleh sistem, itu tidak benar karena saya rasa dia tidak pernah tahu bagaimana perasaan laki-laki ketika tahu tidak ada surga ditelapak kakinya.  Saya pun tidak mengkronfontasikan semua itu kepadanya. Bukan karena saya menghindari perdebatan, tetapi karena saya tidak mengenal perempuan itu dan dia sedang berbicara dengan orang lain.
            sebenarnya yang menjadi masalah bukan laki-laki atau perempuan, tetapi cara pandang kita terhadap keberpihakan. Gender memang adalah sebuah masalah klasik dalam persoalan kesetaraan dan poligami adalah ujung runcing dari tombak perseteruan tersebut. Namun hal yang  kita tolak secara naluriah adalah kenyataan bahwa seorang laki dan perempuan memang berbeda. Seorang aktivis gender kita anggap normal menolak poligami karena menindas kaum wanita, namun menganggap aneh  jika ia memperjuangkan hak laki-laki untuk mengandung dan melahirkan. Secara teknologi itu mungkin, tapi ia akan menolak lalu kemudian mengarahkan perdebatan akan pada aspek kodrat dan keagamaan. Sebuah  ironi sebenarnya  menyaksikan seorang bicara tentang agama setelah sebelumnya menolaknya.
Bahkan agama kita pun mengenal dan memperbolehkan poligami. Terlepas dari banyaknya spekulasi dan perdebatan mengenai hal itu, kenyataanya tetap sama, poligami boleh dan ada dalam dimensi keagamaan itu. pilihan sikap kita jelas, setuju atau mengingkari hal tersebut. Disinilah permasalahan itu berkembang biak mengakar dan membesar. Mengakui ada dan bolehnya hal tersebut tidak berarti harus dan ingin melakukannya, semuanya kembali menjadi pilihan pribadi,

Saya tidak heran jika teman saya mengatakan tidak masalah jika dipoligami, saya juga tidak bermasalah jika seorang kawan tidak mau dipoligami, bahkan bukan masalah yang besar jika seorang laki-laki mengatakan ingin melakukan poligami atau sebaliknya, itu pendapat pribadi. agama saya membolehkan hal tersebut dan saya percaya itu. Saya yakin Tuhan tidak pernah berspekulasi ketika berfirman kepada nabi-nabinya dan saya rasa jibril tidak diciptakan dengan kecenderungan untuk menipu ketika menyampaikan wahyu kepada rasulullah. tapi jika engkau meragukan perasaanku, maka pakailah perasaanmu sendiri.
Sebenarnya ada titik temu yang samar  dalam seteru pendapat ini, beberapa pihak menganggap laki-laki benar-benar menikmati haknya untuk melakukan poligami, sedangkan pihak lainnya justru merasa dirugikan. Pihak-pihak ini dapat kita bagi lagi, pihak yang pro, kontra dan merasa tidak perlu memusingkan poligami. Tidak bisa dipungkiri memang sebagian laki-laki memandang poligami sebagai hak ekslusif laki-laki dalam rumah tangga. Kredo yang paling sering kita dengar untuk mempertegas hal ini adalah “Sunnah Rassul” tapi tetap saja lemah menurutku, karena sulit membayangkan motivasi utama para pejuang poligami itu dari sebuah monolog panjang tentang sunnah rasul sedang dirinya sendiri mengabaikan hal-hal yang diwajibkan Tuhan
Untuk yang kontra pun tidak terlalu jauh berbeda, menjunjung tinggi harkat dan martabat wanita, tapi aborsi dan persetubuhan diluar nikah dikategorikan kegiatan biasa yang bertumpu pada kesadaran individunya. Pemenuhan kepuasan individu yang keterlaluan inilah yang menjadi masalah, menggerus jiwa laki-laki dan perempuan mengenai masa depan, tentang sebuah garis keturunan dan masa depan anak cucu kita. Karena kita terlalu sibuk hidup dimasa sekarang, menghabiskan waktu membahagiakan diri dan menolak menumpukan kehidupan kita pada masa depan yang lebih baik. Untuk itulah ada baiknya kita berpikir jernih mengenai masalah ini, karena menurutku bukan polgami sebenarnya ujung seteru dari perbedaan antara seorang laki-laki dan perempuan, tapi pandangan kita pada pentingnya sebuah keluarga. Karena jika dalam sebuah bangsa kaum wanitanya telah kehilangan naluri keibuan dan kaum laki-lakinya sudah kehilangan nurani seorang ayah, maka akan percuma jika kita bicara tentang masa depan yang lebih baik.
Haerul Purnama
Mahasiswa Teknik Sipil 2003 dan  Penggiat Majalah Elektronik Pete-pete Nusantara





Ada yang memperolehnya dengan sangat  mudah, ada yang harus bersabar sambil gigit jari. Kehadiran BKM tak jelas untuk siapa.


Ruangan Bagian Kemahasiswaan tampak ramai dipenuhi mahasiswa, Rabu (23/12). Mahasiswa berjejal untuk menulis data dirinya sebagai calon penerima beasiswa BKM.  Ada yang menulis nama di atas kertas, ada yang sibuk menelpon untuk menginformasikan ke rekan-rekannya yang lain perihal beasiswa tersebut. Rupanya Mahasiswa Unhas ketiban rejeki di penghujung tahun 2009. Aktifitas itu berlangsung hingga pukul 14.00. Lewat dari waktu tersebut, mahasiswa yang belum mendaftarkan namanya harus menelan rasa kecewa karena mereka diminta mendaftar ke fakultas.
Mahasiswa tentu saja menyambut gembira kehadiran bantuan ini. Jubaedah misalnya. Mahasiswa Fakultas Farmasi Angkatan 2005 ini berharap dengan bantuan ini, ia dapat membayar SPP. “ Dengan batuan ini kan, dapat membatu membayar uang SPP,” ujarnya. Ia merasa senang karena pemberian bantuan ini tidak meminta persyaratan apa-apa. “Pendaftaran beasiswa dengan cara begini sudah bagus, karena mahasiswa dipermudah,” ungkapnya. Namun bagi mahasiswa yang kebetulan tidak  mengetahui perihal bantuan ini, tentu saja hanya bisa gigit jari sambil menyesali kenapa ia tidak mendengar informasinya.
Hal berbeda dialami Alam, Mahasiswa Fakultas Peternakan Angkatan 2005. Ia mendaftar sebagai calon penerima BKM di fakultasnya, namun namanya tidak lolos pada saat pengumuman. Ketika mendaftar di fakultas, ia diharuskan menyetor transkrip nilai. Berbeda dengan Bagian Kemahasiswaan universitas yang tinggal menulis nama saja. “Kalau temanku yang mendaftar di bagian kemahasiswaan namanya lolos, ini tidak adil,” keluhnya.
Menurut Kasubag Kesejahteraan Mahasiswa Pusat, Dra Hj Nur Azzah, memang banyak mahasiswa yang tidak lolos sebagai penerima BKM karena waktu yang diberikan kantor pusat sangat sempit untuk mendata mahasiswa. Akibatnya, daftar nama dari beberapa fakultas yang terlambat mengirimkan data mahasiswanya ada yang tidak lolos. “ Faks untuk menerima calon penerima BKM datang tanggal 23 Desember, nama-nama tersebut harus dikirim 28 Desember dan kita harus mengumpulkan 3130 mahasiswa dalam jangka waktu tersebut,” ungkapnya ketika ditemui identitas, Rabu(20/1).
BKM ini merupakan bantuan yang berasal dari Direktorat Jenderal Perguruan Tinggi. Untuk Unhas sendiri, dianggarkan untuk 3130 mahasiswa, dengan nominal 1 juta rupiah per mahasiswa. Pendaftaran calon penerima bantuan ini cenderung terburu-buru, karena mahasiswa hanya diberi waktu sehari. Pegawai kemahasiswaan yang menangani pemberian beasiswa hanya menempelkan sebuah kertas pengumuman bertuliskan spidol di pintu. Proses pengurusannya pun relatif sederhana. Cukup menuliskan nama, Nomor Induk Mahasiswa (NIM), dan nomor rekening di atas secarik kertas yang disediakan oleh pegawai kemahasiswaan. Mahasiswa yang tak sempat datang bisa meminta tolong kepada rekannya untuk menuliskan nama dan nomor rekeningnya. Setelah itu, nama-nama yang tertulis diinput ke dalam komputer.
Terkait mudahnya proses penerimaan bantuan, hal ini dibenarkan oleh Pembantu Rektor III Unhas, Ir Nasaruddin Salam MT. “Ini bantuan khusus mahasiswa, bukan beasiswa. Kalau beasiswa diberikan perbulan, sedangkan BKM ini hanya diberikan sekali, jadi tidak boleh ada persyaratannya seperti beasiswa pada umumnya.” 
Tak jelas apa motif pemberian bantuan ini, mengingat prosedurnya yang terlalu sederhana. Bantuan semestinya diberikan kepada mahasiswa yang termasuk dalam dua kategori, mahasiswa berprestasi atau mahasiswa kurang mampu dari segi financial. Untuk BKM ini sendiri, penerimanya bisa dibilang tak termasuk dalam kedua kategori tersebut, karena tak ada persyaratan yang diterapkan bagi calon penerima. Siapa yang kebetulan mendengar informasi tentang kemunculannya, maka dialah yang beruntung. Tak peduli kaya atau miskin, berprestasi atau tidak. BKM ini tak ubahnya seperti uang kaget. Siapa yang untung, dia yang dapat. Bahkan BKM juga menghampiri mahasiswa yang sebelumnya telah menerima beasiswa. Berbagai polemik dalam pengurusan BKM ini, tak ubahnya penerimaan Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang tidak merata. Mungkin sistem penerimaan harus diubah ataukah BKM ini  memang sudah ditetapkan hanya untuk orang yang beruntung? (Fda/Nay)






Pendidikan, penelitian dan pengabdian adalah pedoman bagi perguruan tinggi kita biasa mengenalnya dengan Tri Dharma. Padat, singkat namun sarat akan makna.

Tri Dharma sudah sangat ‘keramat’ dan semestinya bisa diaplikasikan dalam kehidupan Mahasiswa. Pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat adalah penyokong kualitas dan bentuk nyata adanya perguruan tinggi. Begitu memasuki perkuliahan, seorang mahasiswa baru akan melaksanakan hal yang pertama yaitu pendidikan. Bangku perkuliahan akan mengasah kemandirian dalam mengembangkan pola pikirnya.
Kebanyakan mahasiswa hanya dapat melaksanakan pendidikan dan pengabdian, ada pun penelitian dilakukan karena adanya tuntutan tugas akhir. Penelitian dimaksud disini adalah penulisan karya-karya tulis, artikel ilmiah, serta riset-riset. Penelitian adalah sebuah karya nyata yang disumbangkan selagi menjadi mahasiswa. Dengan budaya meneliti yang tinggi, mahasiswa telah berperan bagi kemajuan pendidikan di Indonesia. Karena, dari hal kecil, kemudian ditanyakan permasalahannya, mengajukan inovasi, mahasiswa dapat membahasnya sekaligus mencari solusi dari masalah tersebut.
Menurut Syifa Fauzia yang pernah mengharumkan nama Unhas lewat karya tulisnya mengatakan bahwa kecintaan akan menulis tidak lahir dalam semalam, tapi membutuhkan minat terlebih dulu. “kalau sudah mendapatkan feel of sense-nya maka lama-lama bisa menjadi addicted (kecanduan, red),” terangnya lewat pesan singkat, Senin (18/1).
Minat mahasiswa Unhas pada menulis dan meneliti umumnya masih sangat sedikit. Rasio antara jumlah mahasiswa keseluruhan dengan hasil penelitian tidak sebanding. Unhas masih kurang dalam kegiatan penulisan. Sebanyak 171 tim dengan 513 orang pada tahun 2009/2010 yang memasukkan proposal karya tulis ilmiah ke Bagian Minat Penalaran dan Informasi Kemahasiswaan. 513 orang sangat sedikit jika dibandingkan dengan jumlah mahasiswa Unhas secara keseluruhan.
Setiap tahun Unhas sudah menganggarkan uang ratusan juta untuk pembinaan kepada pengaju proposal. Uang tersebut digunakan untuk meneliti kajian atau inovasi dari mahasiswa. Hitungannya 2 hingga 6 juta per judul, jika ada 48 judul maka bisa dikalkusi sekitar 200 juta untuk penelitian dengan hadiah lomba Program Kreatifitas Mahasiswa (PKM) dianggarkan dua milyar dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti).
Untuk penelitian tingkat mahasiswa strata 1 yang dikanalisasi dalam PKM, Dikti akan membagikan dana penelitian 3 juta sampai 10 juta rupiah. Sebagai gambaran tahun 2008, Dikti meloloskan 2.500 proposal. “Dengan cara seperti itu minat mahasiswa akan lebih terpacu. Karena setiap penelitian dibutuhkan biaya yang tidak sedikit dan dengan hadiah cukup besar membuat mahasiswa semakin terangsang untuk membuat riset.” Ujar Ir Nasaruddin Salam MT selaku Pembantu Rektor bidang kemahasiswaan.
Tidak hanya pihak universitas yang mencoba terus menggiatkan minat mahasiswa dalam kegiatan seperti itu, pihak fakultas pun ikut andil. Sudah banyak fakultas yang mendorong mahasiswanya untuk terus meneliti dan menulis. Misalnya saja dengan mengaktifkan lembaga penalaran ilmiah, seperti yang sudah ada di beberapa fakultas. Sebut saja Fakultas Kedokteran dengan Medical Youth Research Center (MYRC), Fakultas Ilmu Sosial dan Politik dengan Fisip Research Center (Fire C), dan Fakultas Hukum dengan Lembaga Penalaran dan Penulisan Karya Ilmiah (LP2KI).
Rafiqa Nurdin selaku ketua MYRC-FK mengatakan bahwa pihak fakultas selalu memberikan dana untuk setiap kegiatan penelitian yang dilakukan oleh anggota timnya. “mereka selalu memberikan bantuan sesuai dengan apa yang kami butuhkan” ujarnya kepada Identitas, Minggu (17/1). Tidak jauh berbeda dengan Fakultas Hukum, Drs Farida Patitingi sebagai Pembantu Dekan bidang kemahasiswaan FH mengatakan bahwa pihak fakultas siap mendanai kegiatan meneliti mahasiswa. “kami selalu mendukung kegiatan yang positif bagi mahasiswa, karena itu bisa mengharumkan nama Fakultas dan Unhas tentunya” terangnya. Menurutnya LP2KI, sudah bisa mengharumkan nama FH dengan beberapa lomba yang pernah dimenangkan oleh anggota dari LP2KI.
Tapi, hanya sedikit fakultas yang bisa mewadahi mahasiswanya untuk terus melakukan penelitian. Tidak mencapai setengah dari jumlah seluruh fakultas di Unhas. Padahal Unhas sudah melakukan kegiatan untuk menggiatkan minat meneliti dan menulis. Salah satu contoh dengan mengadakan pelatihan-pelatihan penulisan kepada mahasiswa. Setiap fakultas di Unhas diwakili oleh tiga orang untuk diberi pengertian bagaimana membuat karya tulis ilmiah dan mengingkutsertakan ke perlombaan. Dan diharapkan mahasiswa per fakultas akan menularkannya ke teman-temannya di fakultas lain. Tidak hanya mahasiswa yang diberikan penyuluhan, dosen pun mendapat jatah. Unhas memberikan pelatihan kepada dosen pembimbing karya tulis.
Dan, hal itu tergantung dari keinginan dan gerak nyata seorang mahasiswa dalam memberikan sumbangan bagi dunia pendidikan. Sedikit langkah itu akan memberikan secarah harapan bagi inovasi dalam pendidikan yang dapat dikembangkan pada bidang teknologi. Banyaknya penelitian dalam berbagai bidang studi mahasiswa adalah sebuah modal penting bagi pengembangan keilmuan. Sebagai langkah nyata dalam pengamalan Tri Dharma Pendidikan Tinggi. Tra/Nti


Keteraturan singapura serta bagaimana nasib Tenaga Kerja Wanita (TKW) disana adalah sebuah kisah yang hendak dibagi oleh Haryati Harnang, salah seorang kru identitas saat berkunjung ke negeri berlambang kepala singa itu.


Kamis (7/1) pukul 8 pagi saya dan lily savitri, mahasiswi jurusan akuntansi FE Unhas sudah berada di Corus Hotel Kuala Lumpur (KL) Malaysia. Sebelum matahari terbit kami sudah berangkat menuju Corus Hotel yang merupakan tempat perwakilan bus Aeroline yang akan k ami gunakan menuju singapura.
Setelah check in dan mengurus boarding pass , Pukul 10 pagi bus aeroline double deck ( bus dua tingkat) siap melaju mengantarkan kami menuju kota singa yang pernah dijajah oleh jepang pada tahun 1942 hingga 1945 itu. Tanpa terasa lima jam kami duduk di kursi dengan nomor 7A dan 7B yang berada dilantai dua bus tersebut, pukul 3 sore akhirnya bus tiba di kantor pemeriksaan imigrasi singapura. Setelah pemeriksaan paspor, bus melanjutkan perjalanan membawa penumpang menuju pemberhentian bus di Harbour Front Centre.
“Alhamdulillah akhirnya tiba juga” itulah kata yang terucap dalam hati saat turun dari bus dua tingkat dengan cat warna kuning dan hitam itu. Tak pernah menyangka perjalanan backpacker yang sudah kurencanakan beberapa bulan sebelumnya itu telah sampai juga ke salah satu negara yang paling padat di dunia.
Tanpa menunggu lama, sebuah taksi kemudian membawa kami menuju chatswort road, tepatnya di kantor Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI). Disitulah yang akan menjadi tempat peristirahatan dan persinggahan kami selama berada di negeri bekas jajahan inggris ini. Di KBRI kami menempati sebuah wisma yang sebenarnya merupakan tempat wakil duta besar, akan tetapi saat ini dubes RI untuk singapura tak memiliki wakil. Oleh karena itu, rumah tersebut terkadang difungsikan sebagai tempat untuk tamu-tamu kedutaan dari Indonesia.
Tak sabar ingin mengeksplor kemegahan republik yang terletak 137 KM dari khatulistiwa ini, kami hanya menyimpan barang dan sholat di KBRI kemudian berjalan kaki menuju pusat perbelanjaan Orchard. Kami sengaja memilih berjalan kaki untuk lebih menikmati keteraturan negara yang menempati urutan ke-14 sebagai negara dengan standar kehidupan termahal di dunia menurut survey dari Mercer Human Resource Consulting ini.
Di sepanjang jalan menuju Orchard terdapat banyak rumah susun, dimana sebagian besar warga singapura menempati rumah susun tersebut. Negara yang meiliki empat bahasa resmi ini sungguh tertata dengan rapi dan bersih. Selain berjalan kaki, kami juga sering menggunakan salah satu kereta tercepat di dunia yaitu Mass Rapid Transit (MRT) sewaktu berada di negeri yang 77,3% penduduknya merupakan etnis tionghoa ini.
Singapore Flyer, Science Center, Singapore zoo, Esplanade, China Town, Bugis Street dan Merlion yang merupakan ikon singapura adalah sebagian besar tempat yang menjadi destinasi kami selama wara-wiri di negara yang memiliki sirkuit Formula 1, Grand Pix Singapura. Takjub dengan eksotisnya kota singapura itu sesuatu yang pasti bagi saya, namun miris dengan pemberitaan media tentang nasib TKW bangsa kita di negeri itu juga menjadi perhatianku. Oleh sebab itu saya menyempatkan diri untuk mengintip nasib TKW di penampungan yang berada di KBRI.
Di kompleks KBRI Singapura terdapat satu bangunan yang digunakan sebagai tempat penampungan TKW yang bermasalah. Tempat itu dihuni oleh sekitar 170 orang TKW. Ada yang baru saja masuk ke penampungan, namun ada juga yang 3 bulan bahkan ada yang sudah tiga tahun berada di penampungan. Mereka ditempatkan di penampungan KBRI sambil menunggu kasus atau masalah yang mereka hadapi terselesaikan.
Kasus yang dihadapi oleh TKW itu beragam, ada yang gajinya tidak dibayar, dianiaya oleh majikan dan disiksa oleh polisi. Di penampungan, para pahlawan devisa negara ini dibuatkan jadwal piket memasak dan membersihkan. Selain itu mereka juga ikut membantu orang-orang di KBRI mempersiapkan acara yang akan dilaksanakan di KBRI, misalnya saja pada saat kami disana, para TKW membantu mempersiapkan acara rangkaian perayaan natal dan tahun baru.
Itulah sekilas singkat aktifitas TKW di penampungan yang sebagian besar sangat ingin kembali ke tanah air. Sebelum meninggalkan singapura menuju KL dengan sejuta kisah, saya hanya berharap semoga keteraturan singapura bisa memberikan perubahan bagi nasib TKW Indonesia, selamat berjuang diplomat-diplomat KBRI untuk memberikan perlindungan kepada para tenaga kerja kita disana. (Haryati Harnang)
Dalam rangka peningkatan kualitas mengajar, tenaga pengajar The Regional Language Office dan American Corner menyelenggarakan Workshop English Teaching, Senin (11/1). Sekira 70 peserta yang berasal dari berbagai institusi pengajaran di Makassar .


Bertempat di Gedung SIL FIB, Amber Engelson dan Mark Nicodemus memberikan materi mengenai prinsip pengajaran dan pembelajaran bahasa. Dr Noerjihad Saleh Ketua UPT Perpustakaan Pusat mengatakan, “ program ini merupakan kerjasama American corner, Kedubes Amerika, FIB dalam meningkatkan kualitas mengajar terutama dalam pembelajaran bahasa.” (Ali)


Tokoh yang satu ini terkenal dengan gagasan dan ide-idenya yang kontroversial. Kadang ia muncul dengan gagasan yang melawan arus dan mengejutkan banyak pihak. Namun, ia tetaplah salah satu tokoh yang harus kita kenang karena pergerakannya di dunia politik



“gitu, aja kok repot ?”, begitulah kalimat yang sering dilontarkan oleh sosok akademika di edisi kali ini. Kalimat yang dipopulerkan oleh sosok yang juga salah satu mantan presiden negara kita. Yah, begitulah orang-orang mengenali Abdurrahman Wahid. Sosok yang familiar dengan sapaan Gus Dur ini ternyata lahir di Jombang, 4 Agustus 1940 dari pasangan KH Wahid Hasyim dan Hj Sholehah.
Tokoh yang pernah bercita-cita menjadi anggota ABRI ini pun memulai jenjang pendidikannya, dengan mengikuti pendidikan Sekolah Dasar di Jakarta. Setelah itu, Gus Dur melanjutkan pendidikannya ke Sekolah Menengah Ekonomi Pertama di Yogyakarta hingga lulus pada tahun 1957. Gus Dur memasuki dunia pendidikan agama secara intensif. Mula-mula ia menimba ilmu agama selama sekitar dua tahun di Pesantren Tegalrejo, Magelang, di bawah bimbingan Kiai Chudori. Selanjutnya di Pesantren Tambak Beras, Jombang, Gus Dur bekerja sambil meneruskan pendidikan di pesantren sebagai santri senior.
Kehidupan religius memang telah mengisi kehidupannya. Sewaktu kecil, ia sudah diajar mengaji dan membaca Al Quran oleh kakeknya di Pesantren Tebuireng, Jombang. Maklum, kakeknya adalah pendiri Nahdlatul Ulama (NU) yakni Hasyim Asy'ari. Sedangkan dari garis keturunan sang Ibu, ia merupakan keturunan tokoh besar NU, KH Bisri Sansuri.
Pada usia 22 tahun, Sosok yang memiliki hobi mendengarkan musik klasik barat ini, berangkat menuju Mekah untuk menunaikan ibadah haji, sekaligus untuk melanjutkan studinya di Universitas Al-Azhar di Kairo. Di sana, ia tinggal bersama para pelajar asal Indonesia dan sempat menjadi Sekretaris Persatuan Pelajar Indonesia di Mesir. Saat di luar negeri itu jugalah Gus Dur melangsungkan pernikahan jarak jauh dengan Siti Nuriah. Pasangan ini kemudian dikaruniai empat orang putri, yakni Alissa Munawarah, Arifah, Chayatunnufus, dan Inayah.
Setelah menyelesaikan pendidikannya di Mesir, pada tahun 1966 Gus Dur pindah ke Baghdad, Irak. Ia bergabung di Department of Religion di Universitas Baghdad dengan mengambil spesialisasi ilmu sastra dan humaniora. Dari Baghdad, Gus Dur meneruskan pengembaraan akademisnya ke sejumlah negara Eropa, dari satu universitas ke universitas lainnya. Terakhir, ia tinggal di Belanda selama sekitar enam bulan, dan sempat mendirikan Perkumpulan Pelajar Muslim Indonesia dan Malaysia.
Setelah hampir menjelajahi dunia, ia kembali ke Tanah Air, pada tahun 1971. Pada saat itu, Gus Dur bergabung dengan Fakultas Ushuluddin Universitas Hasyim Asy'ari. Di universitas kota kelahirannya, Gus Dur mengajar teologi dan beberapa ilmu agama. Selanjutnya, sejak tahun 1974 ia dipercaya sebagai sekretaris pesantren Tebuireng. Tak hanya aktivitas mengajar, nampaknya Gus Dur senang mengirimkan tulisannya di berbagai surat kabar, majalah, dan jurnal. Dan berawal dari tulisan-tulisannyalah sosoknya mulai dikenal.
Kiprahnya di dunia politik dimulai sekitar awal 1980 an, ketika ia mulai banyak bersinggungan dan secara terbuka menawarkan ide-ide tentang pluralisme, demokrasi, HAM, dan lain-lain. Tindakan politiknya semakin jelas, sejak ia terpilih menjadi Ketua Umum PBNU pada Muktamar 1984 di Situbondo. Melalui peran Gus Dur, NU menjadi ormas Islam pertama yang menerima pemberlakuan Pancasila sebagai satu-satunya asas dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Meskipun pernah hubungan Gus Dur dengan pemerintah kembali merenggang karena sikap kritisnya terhadap pemerintahan Soeharto, posisinya sebagai Ketua Umum PBNU tetap dapat dipertahankannya selama dua kali muktamar berturut-turut, yaitu pada tahun 1989 dan 1994.
Oleh sebagian orang, gagasan-gagasan dan tindakan Gus Dur kerap dipandang sebagai hal kontroversial dan mengejutkan, Sekali waktu, Gus Dur menggagas untuk mengganti salam assalamu'alaikum dengan selamat pagi. Gagasan yang kontan mendatangkan sergahan dari umat Islam. Pada lain waktu, Gus Dur mengejutkan banyak orang melalui kunjungannya ke Israel pada tahun 1994, justru ketika masyarakat banyak menyoroti kelicikan negeri tersebut terhadap nasib rakyat Palestina. Walaupun berbagai hal yang dianggap kontroversial telah dilakukan oleh Gus Dur, namun sepak terjangnya di dunia politik tak boleh kita hapus dengan begitu saja, apalagi ia pernah menjadi mantan presiden Republik Indonesia. Semoga dia yang telah menghadap Ilahi, pada hari rabu 30 Desember 2009, dapat diterima disisinya. Amin.


Senyum Tergurat dari wajahnya yang ramah, seperti itulah kesan awal Hasdinar dari identitas, saat menemui Syifa Fauzia, Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) angkatan 2007, Selasa (5/1). Tak salah jika pada edisi kali ini, rubrik jeklang identitas memuat kisah Syifa. Salah satu alasannya adalah gadis kelahiran Makassar ini telah dikenal melalui prestasinya di bidang karya tulis ilmiah. Sebut saja, prestasinya membawa nama Unhas dalam Pekan Ilmiah Nasional di Universitas Brawijaya, Jawa Tengah, Rabu hingga Sabtu (22-25/7) tahun 2009.
Teknologi ini mulai dikembangkan menjadi komoditas unggulan di bidang perikanan, dengan membudidayakan menggunakan kerambah wadah yang Saling terpisah.
Banyaknya tambak yang ditinggalkan oleh pemiliknya, membuat lokasi yang termarginalkan ini menjadi tak terawatt. Lokasi itu berada di area Pertambakan Keera Kabupaten Wajo, Pampang Kota Makassar dan tambak Unhas di Tallo. Hal ini kemudian menginisiatif Dosen Jurusan Perikanan Unhas Dr Ir Hadiratul Kudsiah MP, bersama rekannya Ir Rustam MSi dan Dr Asmi Citra Malina untuk mengaktifkan kembali lahan itu. Sejak tahun 2008 hingga kini, usaha pembudidayaan kepiting tambak cangkang lunak terus dikembangkan

Catatan Seminar Nasional Pengembangan Diri "BAGAIMANA MEMPERSIAPKAN DIRI MENCARI KERJA" di FIS.1 111 Fakultas Ekonomi Unhas, Senin (28/12)

Apakah pekerjaan Anda saat ini? pertanyaan paling berat dijawab bagi lulusan Perguruan Tinggi yang belum memperoleh pekerjaan tetap. Meningkatnya jumlah wisudawan dan wisudawati tidak berbanding lurus dengan peluang kerja yang ada, sehingga tersingkir karena tidak mampu bersaing ditengah ketatnya persaingan pasar, yang kemudian berdampak pada pengangguran semakin melonjak. Menurut Direktur Jendral Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti ) ditahun 2009 angka pengangguran di Indonesia mencapai 900 ribu orang. Angka tersebut mengalami peningkatan 20 % dari angka pengangguran di tahun 2006 yang jumlahnya sekira 740 ribu orang. Kira-kira 2900 perguruan tinggi negeri dan swasta meluluskan setiap tahunya sarjana sekira 300 ribu orang. Artinya sebagian besar dari mereka tidak tertampung di dunia kerja.

Seperti biasa, setelah kuliah selesai aku menuju halte di jalan raya menunggu angkot untuk kembali ke rumah. Siang ini sangat terik. Matahari seakan sedang menari-nari di atas sana. Menunjukan kalau dialah sang kuasa langit di siang hari. Keringat di kepalaku terus mengucur. Jilbab putihku sudah basah. Gerah. Ingin rasanya cepat-cepat sampai di rumah. Meminum air yang tersedia di kulkas.

Sambil menunggu angkot, aku memerhatikan keadaan di sekelilingku. Di hadapanku terlihat seorang wanita senja baya memegang karung kumal yang berisi kaleng dan botol bekas telah ia kumpulkan dari tadi. Tak hanya karung kumal yang di genggam, tapi ia juga menggendong anak kecil berusia dua tahun yang diam. Sepertinya anak itu adalah cucunya.
Wanita senja baya dan cucunya telah menarik perhatianku. Mataku terus mengawasi gerak tangannya. Kulitnya kusam, tubuhnya kurus, dan rambutnya sudah ubanan. Sketsa rupa yang keriput tidak menghalanginya untuk terus mengais sampah. Bisa kutaksir usianya sudah seperdua abad, 50-an. Dia terus mengumpulkan kaleng dan botol bekas. Lalu memasukkan ke dalam karung kumal yang terus dibawanya. Aku terbuai memerhatikan tingkahnya sehingga ketinggalan angkot. Mau tak mau aku harus menunggu angkot berikutnya.
“Heee…! Nenek Tua..!!!! Kasi’mi cepat karungmu sama saya!”
Bentak seorang lelaki berbadan besar dan berkulit hitam ke arah wanita senja baya itu. Lelaki berkulit hitam itu juga pemulung. Sama seperti wanita senja baya itu. Tanpa perlawanan atau sikap protes, wanita senja baya menyerahkan karung kumal kepadanya. Lelaki berbadan besar dan berkulit hitam pun pergi meninggalkan wanita senja baya itu dan cucunya. Lelaki hitam itu menjauh tanpa rasa salah. Dia telah merampas hasil kerja orang lain.
Aku yang sedari tadi memerhatikan mereka, merasa kesal terhadap sikap dan perilaku lelaki itu. Kenapa wanita senja baya itu tidak melawan? Apa ia takut pada lelaki itu, karena ia wanita yang sudah senja baya yang tak ada lagi daya dan upaya untuk memberi perlawanan?
“Assalamu Allaikum.” Salam terdengar dari suara seorang pengemis wanita muda yang menghampiri wanita senja baya itu.
“Waalaikum Salam” Jawab wanita senja baya.
“Bu, saya pinjam dulu di’ cucuta’ Jojo setengah jam. Nanti saya kembalikan sekalian sama uang setorannya 5000 rupiah,” ucap wanita muda itu.
Tanpa banyak bicara, sang wanita tua menyerahkan cucunya, Jojo. Jojo tampak sedih dan menangis ketika terlepas dari gendongan neneknya. Ya Allah…! Apakah benar yang aku liat ini?
Kini mataku berbalik arah untuk memerhatikan wanita tadi yang sekarang menggendong Jojo. Aku menjadi penasaran apa yang bakalan ia lakukan. Dia membawa Jojo ke jalan yang kini dipenuhi kendaraan. Lampu merah menyala tanda berhenti. Mataku terus mengawasi. Apa yang terpikirkan olehku ternyata benar. Tak hanya di kota-kota besar seperti Jakarta yang setiap harinya terekam di layar tv, pengemis yang menggendong anak dan meminta-minta dari kendaraan ke kendaraan yang lain juga ada di kotaku.
Ketika rasio tak lagi diguanakan oleh manusia mencari uang demi sesuap nasi, maka akan hadir kepalsuan. Jojo, anak belia itu jadi korban ganasnya hidupan.
Wanita muda itu telah menyusuri lampu lalulintas yang berwarna merah. Dia beraksi dari angkot satu ke angkot yang lain. Menyodorkan gelas plastik bekas air minum mineral. Sambil memelas dengan ucapnya.
“Pa…! Bu…! Uangta’ kodong, seratus rupiah’mo…! Kasihan anakku dari tadi pagi belumpi makan sampai sekarang,” Tuturnya. Tentu dengan wajah yang sengaja dipermak sendu.
Salah satu dari penumpang angkot mengambil uang 1000 rupiah dari tas dan menaruhnya ke dalam gelas plastik.
“Makasih di’…” Kembali suara pengemis itu terucap. Wanita muda itu pun pergi melanjutkan untuk meminta -minta di angkot yang lain.
Aku bersyukur kepada Allah, karena masih ada yang mau memberikan uang kepada pengemis itu. Masih ada yang punya nurani. Masih ada yang tidak tega melihat anak kecil mengelilingi lampu lalulintas di siang hari yang terik.
Jujur. Aku kadang jengkel dengan para pengemis yang kerjanya hanya meminta-minta. Kalau dilihat dari fisik, mereka sebenarnya tidak layak mengemis. Bukankah Rasulullah tidak pernah ingin umat dan para sahabatnya meminta-minta? Bukankah meminta-minta akan membuat seseorang malas bekerja dan hanya mengharapkan belas kasihan orang lain? Dan yang paling aku ingat adalah kata guru agamaku. Beliau sering bilang kalau tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah. Ah…! Yang jelas aku bersyukur. Bukan karena pengemis itu berhasil mendapatkan uang, tapi karena Jojo bisa cepat kembali ke pelukan neneknya.
***
Suara Jojo terus mengusikku. Seolah ingin memberitahu kalau ia tak sanggup lagi menantang mentari yang panasnya makin garang. Emosiku tak tertahan. Tangisan Jojo yang semakin menjadi-jadi membuatku nekat melangkah. Kakiku bergerak menyeberang jalan menuju lampu lalu lintas. Entah apa yang aku perbuat sekarang.
Aku terkejut ketika mendekati pengemis itu. Bayi mungil yang digendongnya terus histeris. Jojo, bayi kecil itu memekakkan telingaku. Keringatku semakin lancar. Jilbab dan bajuku basah. Panas matahari tanpa ampun menghembaskan sinarnya. Sementara Jojo, anak berusia dua tahun itu seketika terdiam. Tak ada lagi suara tangisannya. Aku buru-buru mendekat, memegang tubuh mungil Jojo. Tanganku menyentuh lehernya. Meyakinkan diri kalau Jojo tidak apa-apa. Aku takut sekali. Takut jika terjadi sesuatu pada Jojo.
Tanpa berpikir panjang aku merenggut Jojo dari gendongan wanita muda itu. Inginku menyerahkan Jojo kepada wanita senja baya yang sedang berada di seberang jalan. Mataku memburu segala arah, mencari wanita senja baya itu.
“De’, Mauki’ apakan cucuku? Kenapa kita ambil dia dari wanita tadi?” Suara pelan itu terdengar persis di belakangku. Aku terkejut dengan pertanyaannya. Sebelum menjawab, Aku menyerahkan Jojo yang lemas kepadanya.
“Bu, Kita sadar akan apa yang kita perbuat sekarang? Kita tega sebagai nenek, biarkan cucuta’ dibawa keliling dari angkot ke angkot dengan cuaca panas seperti ini?” Kali ini aku berbalik bertanya.
Wanita senja baya itu terdiam dan menatapku, tanpa berkedip. Aku heran dengan tatapan yang penuh kesusahan.
“Maaf Bu! Apa ada yang salah dengan pertanyaanku tadi?” Ucapku dengan nada bersalah. Kali ini bukan saja menatapku tapi wanita senja baya itu mengeluarkan air mata. Memeluk Jojo erat dan menciumnya. Jojo semakin lemah tak berdaya. Kasih sayang wanita senja baya terlihat jelas. Dia juga tidak tega jika Jojo diarak dengan alasan mendapatkan uang.
Cinta seorang nenek yang kini mengharapkan cucunya untuk bisa membuka mata terlihat jelas. Wanita senja itu memekik.
“Jojo, maafkan nenek. Nenek sayang sama Jojo”
Tangan kananku bergerak. menghentikan taksi yang melintas. Aku menarik wanita senja baya yang terus memeluk Jojo.
“Pak, tolong antarkan kami ke rumah sakit!” Pintaku kepada sopir taksi. Jalanan macet. Membuat aku tak kuasa melihat adegan nenek dan cucu di sampingku. Mengharukan!
Aku tidak ingin tenggelam dalam linang air mata. Sepasang mata wanita tua itu kutatap lekat-lekat. Kutemukan peta kesedihan yang mirip dasar sebuah sumur yang keruh. Ada genangan lumpur, bongkahan karang di sorot mata wanita senja baya yang tajam menatap cucunya. Ah! Seperti mengundangku untuk basah kuyup air mata. Mentari yang sedari tadi memancarkan sinar teriknya, seakan lenyap dengan sekejap. Di luar hujan merembes deras. Langit kelam dan senja lebam dalam guyuran hujan lebat. Kilat menjilat sambung-menyambung seperti ingin membakar langit. Halilintar bersahut-sahutan tiada henti bagai ingin membelah dunia.
Jojo yang tadinya pucat pasih tanpa membuka mata, kini mulai siuman. Wajahnya menoleh ke arah wanita senja baya. Kini bibir kecil itu menyunggingkan senyuman manis terakhirnya. Seakan memberitahukan kebahagiaan selama dua tahun bersama neneknya. Sebentuk ucapan terima kasih yang telah mau merawatnya. Senyum terakhir yang terukir itu kini telah pergi selamanya dan abadi menemui Rabb.

Penulis adalah Mahasiswi Jurusan Ilmu Komunikasi
Angkatan 2006, KOSMIK
(Korps Mahasiswa Ilmi Komunikasi)














Judul : The Miracle of Enzyme: Self Healing Program
Judul Asli : The Enzyme Factor
Penulis : Hiromi Shinya, MD
Penerjemah : Winny Prasetyowati
Penerbit : Penerbit Qanita PT Mizan Pustaka
Edisi : Cetakan X, September 2009
Halaman : 304 Halaman

Masyarakat beranggapan, minum susu sapi akan membantu mencegah osteoporosis. Menurut Prof Dr Hiromi Shiya, Penulis Buku The Miracle of Enzyme, hal itu merupakan miskonsepsi dan kesalahan besar. Susu sapi adalah minuman atau makanan paling buruk untuk manusia. Terlalu banyak minum susu terutama susu sapi, sebenarnya menyebabkan osteoporosis.
Susu sulit untuk dicerna. Pasalnya begitu memasuki lambung, kandungan kasein dalam menyebabkan susu langung mengalami penggumpalan menjadi satu. Sehingga menjadi sangat sulit dicerna. Agar mampu dicerna, tubuh mengeluarkan “enzim pangkal”, yang seharusnya digunakan untuk pertumbuhan termasuk pertumbuhan tulang.
Saat minum susu, konsentrasi kalsium dalam darah akan meningkat secara drastis, sembilan sampai sepuluh mili gram. Keadaan abnormal ini akan memicu tubuh untuk mengembalikannya ke kondisi normal. Jalannya dengan membuang seluruh kalsium dari ginjal melalui urine.
Jadi meminum susu berarti membuang kalsium dalam tubuh secara keseluruhan, bukan sebaliknya. Susu hanya cocok untuk bayi yang baru lahir dan susu sapi memang pada dasarnya untuk anak sapi. Tidak ada anak sapi yang meminum susu manusia. Shiya tentu tidak hanya mencari sensasi. Dia adalah ahli usus berusia tujuh puluh tahun, dengan pengalaman memeriksa 300.000 usus manusia Amerika dan Jepang.
Selama lebih dari 40 tahun meneliti lambung manusia, Shiya menemukan hubungan yang erat antara makanan yang dicerna dengan jenis penyakit yang muncul. Wujud usus pun menampakkan jenis makanan dan minuman yang dikonsumsi. Dia menjadi hafal jenis makanan yang dicerna pasiennya bermutu atau tidak. Disebutkan juga bahwa makanan yang paling tidak bermutu adalah susu dan daging.
Inti dari teori Shiya, setiap tubuh manusia diberi anugrah berupa enzim pangkal yang disebut juga enzim induk. Enzim ini merupakan asal-muasal dari 5000 jenis enzim yang ada di tubuh. Teorinya mengatakan, sebelum 5000 jenis enzim ini berspesifikasi dan mengontrol sebuah proses biologi, wujudnya adalah enzim pangkal. Enzim pangkal ini jumlahnya terbatas dan makanan yang buruk akan mengeluarkan enzim ini dalam jumlah yang besar. Gastroenterolog ini berpendapat bahwa mati adalah habisnya enzim di tempat produksinya.
Untuk Anda yang menginginkan umur panjang, kuncinya dengan menghemat penggunaan enzim ini. Memakan makanan yang segar juga merupakan cara yang paling ampuh menghemat persediaan enzim ajaib ini. Buku yang pertamakali dicetak tahun 2008 ini juga menjelaskan, memakan makanan yang digoreng akan menguras persediaan enzim pangkal.
Penulis juga merekomendasikan banyak memakan sayur, biji-bijian dan buah. Makanan yang berprotein tinggi harus dihindari. Konsumsi obat-obatan harus diminimalkan. Pada dasarnya semua obat itu asing bagi tubuh. Semua obat mengandung racun. Apabila ditemukan obat yang efeknya cepat muncul, maka semakin kuat pula racun yang dikandungnya.
Buku ini berisi banyak informasi mengenai kebiasaan makan yang dianggap biasa. Namun sangat berpengaruh pada kelangsungan hidup manusia. Dalam buku ini ditawarkan program penyembuhan sendiri (Self Healing Program), yang beberapa metodenya seperti yang dikemukan sebelumnya. Program penyembuhan ini dipraktekan pada pasiennya yang mengidap kanker. Hasilnya potensi munculnya kanker bisa ditekan sampai nol persen.
Tak heran sejak pertamakali buku ini diluncurkan, dua juta kopi laris terjual. Fakta-fakta mencengangkan seputar kesehatan yang dihadirkan pada setiap bab, membuat pembaca ingin segera menyelesaikannya dan menemukan fakta itu. Pendekatan ilmiah namun rasional yang disuguhkan kepada pembaca membuat buku ini mudah dipahami, walaupun masih banyak terdapat istilah teknis kedokteran yang hanya dapat diketahui dengan membuka kamus. Tapi, jangan merasa yakin dulu dengan pola hudup yang Anda jalani sebelum membaca The Miracle of Enzyme.


Fadli/Sin






Getaran irama waktu, telah sampai di penghujung malam
Yang sesak oleh bintang-bintang pucat dan awan-awan hitam
Nada-nada selanjutnya, membawakanku sepotong lirik kelam
Tentang mimpi buruk di tengah kemarau siang tadi
Ketika gagak-gagak hitam dan tikus-tikus kotor berlari
Berebut menggerogoti seonggok bangkai basi
Namun benarkah itu mimpi?


Atau, aku hanya merasa bahwa aku telah bermimpi?
Dan jika aku telah benar-benar bermimpi,
Mengapa ia lebih nyata dari kenyataan yang telah benar-benar nyata?
Awan-awan hitam itu pun menguap
Dilemanya telah terlelap
Namun aku kembali terjebak dalam simpul kusut sang malam
Dalam tumpukan garis-garis kelam
Lalu kucoba ‘tuk kembali melihat ke arah dalam
Dari dalam diriku yang paling dalam
Dan kutemukan hatiku telah hampa
Nuraninya telah tiada
Lalu apa artinya hidup tanpa nurani?
Bukankah maut akan lebih berarti?
Awan-awan hitam itu pun kembali menguap
Menyisakan sehelai garis putih pada simpul kusut yang ikut terlelap
Kurentangkan ia dengan seribu harap
Hingga terurai sebentuk jalan: KEBENARAN
Ingin kuukir ia di pasir ketaatan
Namun kutahu, segera ia ‘kan kembali pupus
Oleh jilatan ombak-ombak rakus
Maka biarlah ia kembali menguap bersama awan-awan hitam
Yang ‘kan turun sebagai hujan di akhir malam

MENDUNG DI LANGIT ROTTERDAM
Lamunanku beranjak seketika
Saat angin desember menghembus tinta
Melukis sejuta mendung hitam
Di langit senja Fort Rotterdam
Gerimis pun akhirnya tumpah juga
Pada palem tua yang lemah tak berdaya
Pada tembok renta yang diam dalam rahasia
Saat angin desember menghembus tinta
Melukis sejuta mendung hitam
Di langit senja Fort Rotterdam
Dan ingatanku pun kembali terpaut
Dalam elegi cinta yang akut
Pada kesetiaan karang tua yang menanti
Kekasihnya sang buih ‘tuk kembali
Ya, semuanya merampai dalam rapsodi cinta
Saat angin desember menghembus tinta
Melukis sejuta mendung hitam
Di langit senja Fort Rotterdam


Rahmatan Idul
Penulis adalah Mahasiswa Sastra Inggris Angkatan 2006














Persoalan kerusakan lingkungan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat moderen saat ini. Pemanasan global adalah salah satu contoh persoalan yang sangat serius yang harus dihadapai. Karena dampak akhirnya adalah kepunahan makhluk hidup di atas dunia.

asklfaklsdfamsdflmas.;fnaklsnfa
asdfklansklfnalsnflansflnalfnafkabf.vn v
vl;ndlfasv,zv.z vasd
asdfansdfn a.sdfansdf;a


Newer Posts Older Posts Home
  • Recent Posts
  • Comments

Popular Posts

  • PENERIMAAN MAHASISWA JALUR UNDANGAN
  • Pendaftaran SNMPTN 10-31 Mei 2012
  • PK identitas Membuka Pemagangan
  • Pemanfaatan Angin dan Air sebagai Sumber Energi Alternatif
  • Japanvaganza, Japanese Culture Festival
  • Jalur Masuk Unhas 2011/2012
  • BNI adakan Kerjasama dengan Unhas
  • Mursyida (Dilla) Dai Muda Pilihan ANTV
  • Setetes Darah Untuk Generasi Muda
  • 8 Mahasiswa Unhas Ikut Kompetisi di Harvard University

Statistic Pageviews

Sparkline
2010 identitasunhas. All rights reserved.
Designed by identitas unhas