Identitas Mahasiswa Dipertanyakan

Identitas mahasiswa Unhas kembali menuai tanya setelah peristiwa bentrok Selasa-Rabu (16-17/2) lalu. Apakah peristiwa tawuran ini pantas dijumpai di lingkungan kaum intelek?

Mahasiswa sebagai kaum intelek kembali menuai tanya. Pasalnya Selasa hingga Rabu (16-17/2) lalu terjadi peristiwa bentrok antar mahasiswa Unhas. Terik matahari siang itu dihiasi hujan batu dan botol di depan gedung Perkuliahan Bersama (PB) wilayah Agrokompleks. Teriakan-teriakan dan bunyi kaca pecah menambah gaduh di sekitaran itu. Hal tersebut tidak sepantasnya terjadi pada kalangan intelektual.
Menurut Elma Haryani, MA seorang psikolog dari The Islamic College Jakarta mengatakan ketika ada permasalahan-permasalahan kecil dan berujung pada tawuran maka semuanya dari pribadi mahasiswa masing-masing yang masih rapuh (fragile). ”mereka belum memiliki kematangan sosial yang terstruktur jadi pribadi fragile yang seperti itu gampang tersulut isu-isu yang sebenarnya tidak prinsip dan bisa diselesaikan dengan jalur musyawarah” ungkapnya, Rabu (23/2).
Pada awalnya sebuah individu akan belajar bagaimana mengatasi sebuah masalah dengan sendirinya, tetapi lingkungan yang membentuk pribadi. Sebut saja dunia pendidikan adalah salah satu pembentuknya. Berarti dunia pendidikan harus ada untuk membentuk character building ketika mereka masih sekolah. Harus ada membangun atmosfer pendidikan yang sehat dan matang serta bertanggung jawab. ”Yang diinginkan ketika mereka keluar dari sekolah adalah mereka terbentuk menjadi orang yang bisa menahan diri, bisa menyeleksi isu yang mana penting dan yang tidak, serta bisa memprioritaskan hal yang paling urgent” ujarnya. Semua elemen pendidik harus memahami hal itu dan bisa menerapkannya pada kehidupan pendidikan mereka. ”apa yang diharapkan jika para penerus bangsa fragile dan gampang tersulut oleh isu-isu semacam itu?” tambahnya lagi sambil tersenyum pada identitas.
Menurut penjelasan Elma, permasalahan yang seharusnya bisa diselesaikan dengan jalan musyawarah malah menjadi tawuran bisa jadi dikarenakan mahasiswa terlalu banyak memiliki energi berlebih dan tidak ada tempat penyalurannya. ”semestinya dibuat suatu komunitas yang bisa mengakomodir energi berlebih mahasiswa itu ke arah yang lebih positif dan bermanfaat. Jadi semua pihak harus bisa ikut turun tangan, bukan hanya mahasiswa saja.” ujarnya ketika ditemui di Aula Pengembangan Masyarakat.
(Mud /Tra)

Gambaran kejadian bentrokan
Selasa (16/2)
Dua mahasiswi jurusan arsitektur jualan kue (pencarian dana inaUgurasi) di PB depan gedung perpustakaan pusat
Mahasiswi arsi tersinggung dengan ucapan dari sejumlah mahasiswa Fakultas Peternakan di ruang PB 134 dan melapor ke Himpunan jurusannya dan melakukan negosiasi
Negosiasi yang dilakukan FT ke peternakan gagal
Kisruh terjadi pukul 11.00 wita
Dilakukan perundingan di peternakan dihadiri PR 3, dosen dan petinggi senat mahasiswa
Kisruh kembali terjadi pukul 13.00 wita
Perundingan dilakukan kembali pukul 20.00 WITA di ruang PR 3, dengan membuat konsep perdamaian dan rencana lanjut besok siang pukul 13.00 WITA
Rabu (17/2)
Jam 11.00 WITA pecah lagi bentrokan di mulai dari LT 7 dan terus melebar mulai dari wilayah agrokompleks sampai ke fakultas MIPA
Pukul 14.00 WITA bentrok mereda
Pertemuan di ruang PR 3 jam 23.00 WITA membicarakan sangsi DO jika masih terjadi tawuran esok hari. Perdamaian pada akhirnya disepakati kedua belah pihak.





Tags:

About author

Penerbitan Kampus identitas Unhas.

0 komentar

Leave a Reply

silahkan isi komentar anda.
sebelum isi komentar anda harus daftar terlebih dahulu di sini