DR Anwar Daud SKM, EHS Sadar Lingkungan, Jangan Hanya Slogan


Deringan Telepon terdengar dari ruangan pembantu Dekan (PD) III Fakultas Kesehatan Masyarakat, Rabu (3/2). Tak lama kemudian, pria dengan kumis tipis mulai berbicara melalui saluran telepon tersebut. Sambil memegang gagang telepon, sejumlah mahasiswa telah menunggu untuk meminta tanda tangan. Ramai, begitulah suasana ruangan salah satu dosen Kesehatan lingkungan ini. Berbagai aktivitas dan keperluan mahasiswa membuat Dr Anwar Daud, SKM, EHS harus menerima resiko menjabat PD bidang kemahasiswaan.



Namun, walaupun memikul tanggung jawab yang besar, hal itu tak menjadi alasan baginya tuk menghindari segudang prestasi yang telah menunggunya.
Sibuk di kampus, tak membuatnya jengah beraktivitas dan bergabung di beberapa organisasi. Sebut saja organisasi Blue Enviromental Health se-Indonesia, Bina Lingkungan Hidup Indonesia dan Majelis Speliasis Kesehatan Lingkungan Indonesia, ia memegang jabatan penting sebagai ketua. Belum lagi Dosen yang mengajarkan Mata Kuliah dasar-dasar Kesehatan Lingkungan ini adalah seorang tim ahli Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL) di daerah Sulawesi Selatan. Tentunya, hal itu membutuhkan kerja ekstra dari beliau.

Sosok yang pernah menjadi dosen teladan se-Unhas tahun 2009 ini, meraih kesuksesan berkat keputusannya memperdalam ilmu di Jurusan Kesehatan Lingkungan Universitas Hasanuddin. Kecintaannya pada lingkungan pun mulai bertambah dan mengusiknya untuk melakukan beberapa penelitian mengenai kesehatan lingkungan. Tak hanya meneliti, tapi dosen asal Pinrang ini melakukan pengabdian masyarakat dengan memberikan penyuluhan pencegahan penyakit berbasis lingkungan, percontohan model pengolahan air dengan tray waterfall aerator dan yang paling baru adalah percontohan teknologi pengolahan air langsung diminum.

Tri Dharma perguruan tinggi yang dilakukannya selama ini akhirnya membuahkan hasil. Sosok kelahiran 1966 ini, didaulat sebagai Young Investigator Award dalam Asia Pacific Academic Consortium for Public Health (APACH). Penghargaan internasional yang diselenggaraan di Taipei ini diraihnya berkat penelitian Association Between Arsenic Level in Drinking Water with Skin Disorder in Buyat Village, North Sulawesi, Indonesia. Penelitiannya ini, berawal dari hipotesisnya, penyakit yang diderita masyarakat berasal dari Arsen. Dalam tulisannya, Suami Trisa Zeury Tedjokesumasari, SH ini menyanggah penyakit yang mewabah di Buyat bukan disebabkan oleh merkuri, tapi berasal dari arsen.

Penghargaan yang telah diraihnya itu bukanlah proses yang mudah. Tidak mudah untuk meneliti di buyat. “Ada oknum dari pemerintah yang tidak ingin diketahui bahwa Buyat sudah tercemar, jadi setiap peneliti yang masuk harus diperiksa” ungkapnya kepada Atrasina Adlina dari identitas, sambil mengenang penelitian yang membawanya memperoleh penghargaan itu.

Ketika ditanya tentang kondisi lingkungan khususnya Indonesia, Anwar merasa prihatin. Menurutnya, lingkungan secara keseluruhan sudah mengalami penurunan. “hal ini bisa dilihat dari adanya bencana seperti tanah longsor yang sebenarnya manusia sendiri yang membuatnya, lalu pencemaran di laut dan pesisir sudah tercemar apalagi kalau ada tambang di dekatnya” ungkapnya. Menurutnya, Solusi yang dapat diupayakan adalah aturan harus ditegakkan secara benar, apalagi UU No 32/2009 harus diperketat. Lalu, jika ada perusahaan yang ingin membuka tambang harus ada izin dan ANDAL.

Anak dari pasangan Daud dan Iluka berharap agar pemerintah benar-benar memperhatikan lingkungan dan mengontrol peraturan terutama yang berkaitan dengan dampak lingkungan. “jangan cuma slogan!” tambahnya di akhir wawancara .

Adlina Atrasina/Hdl
Tags:

About author

Penerbitan Kampus identitas Unhas.

0 komentar

Leave a Reply

silahkan isi komentar anda.
sebelum isi komentar anda harus daftar terlebih dahulu di sini