Teknologi ini mulai dikembangkan menjadi komoditas unggulan di bidang perikanan, dengan membudidayakan menggunakan kerambah wadah yang Saling terpisah.
Banyaknya tambak yang ditinggalkan oleh pemiliknya, membuat lokasi yang termarginalkan ini menjadi tak terawatt. Lokasi itu berada di area Pertambakan Keera Kabupaten Wajo, Pampang Kota Makassar dan tambak Unhas di Tallo. Hal ini kemudian menginisiatif Dosen Jurusan Perikanan Unhas Dr Ir Hadiratul Kudsiah MP, bersama rekannya Ir Rustam MSi dan Dr Asmi Citra Malina untuk mengaktifkan kembali lahan itu. Sejak tahun 2008 hingga kini, usaha pembudidayaan kepiting tambak cangkang lunak terus dikembangkan
Awalnya, kegiatan ini merupakan hasil kompetisi antara perguruan tinggi se-Indonesia, yang dilaksanakan DP2M DIKTI DEPDIKNAS RI tahun 2007 silam. Hasil monitoring, verifikasi, dan penilaian tim reviewer DP2M Dikti, memenangkan tim yang diketuai Hadiratul. Dengan mengalahkan 605 hasil penelitian lainnya..
Tahapan Pelaksanaan Budidaya
Usaha ini terbilang sangat prospektif dan ramah lingkungan. Produk yang dihasilkan juga memiliki nilai jual yang tinggi dibanding dengan kepiting biasa. Kandungan nutrisi tambahan yang baru ditemukan pada cangkang, membuatnya dapat dikonsumsi. Waktu pembudidayaannya terbilang singkat, berkisar 15 – 30 hari. Selain itu pakan yang digunakan bersifat alami serta biasa pula dipolikultur (dicampur, red) dengan udang, ikan bandeng dan rumput laut. Teknologi ini memiliki nilai mortalitas rendah.
Tahap awal persiapan budidaya dimulai dengan membuat keramba. Umumnya, tiap keramba berukuran 20x20 cm dan hanya diisi seekor kepiting. Hal ini dimaksudkan agar kepiting tidak saling memakan antara sesamanya. Pada atas keramba dibuatkan pula jembatan, dengan tujuan memudahkan pemantauan dan pengangkutan kepiting saat melakukan molting (pergantian kulit, red).
Proses selanjutnya adalah perawatan benih. Awalnya, benih yang dibeli dilepaskan pada tempat khusus, tempat khusus disini berarti tempat lain untuk menjaga agar kepiting tidak stress. Proses ini dilakukan selama satu hingga dua jam, untuk melakukan proses adaptasi. Syarat benih terutama berukuran 10 – 15 ekor per kg. Benih ini kemudian dimasukkan dalam keramba. Lalu masuk dalam tahap pemberian pakan.
Umumnya pakan yang diberikan disesuaikan dengan ukuran tubuh kepiting. Untuk saat ini jenis pakan yang dianggap paling cocok ialah ikan segar biji nangka. Selama satu bulan, pada awal dibudidayakan kepiting diberi pakan dua kali sehari. Setelah rentang waktu itu maka pemberian pakannya dikurangi satu kali sehari. Pasalnya akan mempersulit proses molting jika ukurannya besar.
Proses molting dimulai saat benih berumur kurang lebih satu bulan. Satu persatu kepiting akan berganti kulit pada malam hari. Saat itulah kepiting ini diangkat, lalu direndam selama lima menit di dalam air tawar. Tujuannya, agar cangkang kepiting tidak mengeras. Proses molting juga dilakukan dengan menusuk persendiannya. Sehingga kepiting akan teransang untuk melindungi diri dengan cara melepaskan diri dari capitnya.
Proses ini berlansung selama dua minggu hingga satu bulan, dan membutuhkan penerangan pada rentang waktu itu. Setelah melalui proses, maka cangkang kepiting menjadi lunak. Kepiting ini bisa hidup selama seminggu. Bisa juga dibekukan dan dibuat dalam kemasan sesuai permintaan pembeli..
Merambah ke berbagai daerah
Dari dua area pertambakan yakni di daerah Keera dan Pampang, budidaya ini mampu menghasilkan rata-rata 300 kg per bulan. Hasilnya lansung diangkut oleh bayer ke Surabaya dan Bali. Menurut Hadiratul, permintaan ini masih minim. ”Kami disuruh menyediakan 12 Ton per bulan, tetapi kami belum mampu. Jadi kalau ada yang mau bertambak jangan khawatir dengan pemasarannya. Soalnya kebutuhan pasar sangat banyak,” ucap Hadiratul diselingi senyum ketika dikunjungi identitas, Rabu (6/1) di ruang tamu Dekan Fakultras Ilmu Kelautan dan Perikanan.
Hasil penjualannya cukup lumayan. Jika dihitung per kilogram, seharga Rp 75 ribu untuk diperdagangkan di swalayan dan untuk pasar tradisional Rp 55 ribu. Sementara modalnya Rp12 ribu-Rp 15 ribu per kg. Untuk menyediakan hasil lebih banyak, kendala yang dialami berupa pasokan benih yang belum cocok dengan habitatnya. Sedangkan untuk pemeliharaannya sendiri telah memiliki tenaga ahli. Seperti di Pampang dijaga oleh tujuh orang warga dan di Keera sendiri dijaga oleh tiga orang alumni Mahasiswa Unhas.
Hingga saat ini, pihaknya terus melakukan workshop keberbagai tempat, yang memiliki daerah tambak, seperti Wajo dan Makassar. Dengan tujuan memperkenalkan produk serta menarik investor untuk melakukan kerjasama. Di lingkungan Unhas sendiri, berbagai lokasi tambak milik Unhas menjadi lahan-lahan baru yang akan diberdayakan, semoga!
Popular Posts
- PENERIMAAN MAHASISWA JALUR UNDANGAN
- Pendaftaran SNMPTN 10-31 Mei 2012
- PK identitas Membuka Pemagangan
- Pemanfaatan Angin dan Air sebagai Sumber Energi Alternatif
- Japanvaganza, Japanese Culture Festival
- Jalur Masuk Unhas 2011/2012
- BNI adakan Kerjasama dengan Unhas
- Mursyida (Dilla) Dai Muda Pilihan ANTV
- Setetes Darah Untuk Generasi Muda
- 8 Mahasiswa Unhas Ikut Kompetisi di Harvard University
0 komentar