POLIGAMI

 Suatu hari seorang kawan perempuan berkata bahwa dirinya tidak mempermasalahkan poligami jika suaminya berkehendak, saya benar-benar terkejut. karena sebuah perasaan heran mendapatinya berkata seperti itu, sedang saya tidak menanyakannya. Lalu kemudian ketika pernyataan itu saya gulirkan ke teman perempuan yang lain efeknya begitu menggenaskan, sebagian yang memiliki naluri menyerang alamiah akan bersuara keras menentang, “Tak ada perempuan yang mau dibagi,” sedang yang lain hanya diam dengan ekspresi tak setuju. namun satu hal yang benar-benar jelas, tidak saya dapati satu orang pun yang berdiri dan berkata “sepakat” dengan lantang sambil mengepalkan tinju ke udara.
Setelah itu, hingga sekarang jarang lagi saya tanyakan. Karena Sepertinya ada benteng perasaan yang besar menghalangi perdebatan rasional antara pihak satu dan yang lainnya.. Saya bertanya pada diri sendiri  Dan ibuku menjawabnya dengan jujur ketika saya tanyakan pendapatnya suatu hari.
“kalau saya, pokoknya pengadilan agama!!!”   
Kesimpulan sementara, sebagian besar wanita membenci poligami tanpa perlu perdebatan lebih lanjut dan mempertanyakan alasannya hanya akan menghancurkan kredibilitasmu sendiri.
lalu bagaimanakah dengan para laki-laki? Seorang perempuan mencibir hal ini dengan menyatakan kami diunggulkan oleh sistem dan mengeksploitasi hal tersebut dengan kegembiraan yang berlebihan. Saya tidak sepakat dengan itu juga sebenarnya, karena Yusuf qardhawi dalam bukunya “ jangan menyesal menjadi perempuan” mengemukakan hal yang bertentangan dengan itu, neno warisman dalam perdebatan pagi hari di TVRI juga mengemukakan hal yang berbeda “ seorang wanita adalah tonggak peradaban melalui perannya sebagai seorang ibu” . jika ia berkata kami diuntungkan oleh sistem, itu tidak benar karena saya rasa dia tidak pernah tahu bagaimana perasaan laki-laki ketika tahu tidak ada surga ditelapak kakinya.  Saya pun tidak mengkronfontasikan semua itu kepadanya. Bukan karena saya menghindari perdebatan, tetapi karena saya tidak mengenal perempuan itu dan dia sedang berbicara dengan orang lain.
            sebenarnya yang menjadi masalah bukan laki-laki atau perempuan, tetapi cara pandang kita terhadap keberpihakan. Gender memang adalah sebuah masalah klasik dalam persoalan kesetaraan dan poligami adalah ujung runcing dari tombak perseteruan tersebut. Namun hal yang  kita tolak secara naluriah adalah kenyataan bahwa seorang laki dan perempuan memang berbeda. Seorang aktivis gender kita anggap normal menolak poligami karena menindas kaum wanita, namun menganggap aneh  jika ia memperjuangkan hak laki-laki untuk mengandung dan melahirkan. Secara teknologi itu mungkin, tapi ia akan menolak lalu kemudian mengarahkan perdebatan akan pada aspek kodrat dan keagamaan. Sebuah  ironi sebenarnya  menyaksikan seorang bicara tentang agama setelah sebelumnya menolaknya.
Bahkan agama kita pun mengenal dan memperbolehkan poligami. Terlepas dari banyaknya spekulasi dan perdebatan mengenai hal itu, kenyataanya tetap sama, poligami boleh dan ada dalam dimensi keagamaan itu. pilihan sikap kita jelas, setuju atau mengingkari hal tersebut. Disinilah permasalahan itu berkembang biak mengakar dan membesar. Mengakui ada dan bolehnya hal tersebut tidak berarti harus dan ingin melakukannya, semuanya kembali menjadi pilihan pribadi,

Saya tidak heran jika teman saya mengatakan tidak masalah jika dipoligami, saya juga tidak bermasalah jika seorang kawan tidak mau dipoligami, bahkan bukan masalah yang besar jika seorang laki-laki mengatakan ingin melakukan poligami atau sebaliknya, itu pendapat pribadi. agama saya membolehkan hal tersebut dan saya percaya itu. Saya yakin Tuhan tidak pernah berspekulasi ketika berfirman kepada nabi-nabinya dan saya rasa jibril tidak diciptakan dengan kecenderungan untuk menipu ketika menyampaikan wahyu kepada rasulullah. tapi jika engkau meragukan perasaanku, maka pakailah perasaanmu sendiri.
Sebenarnya ada titik temu yang samar  dalam seteru pendapat ini, beberapa pihak menganggap laki-laki benar-benar menikmati haknya untuk melakukan poligami, sedangkan pihak lainnya justru merasa dirugikan. Pihak-pihak ini dapat kita bagi lagi, pihak yang pro, kontra dan merasa tidak perlu memusingkan poligami. Tidak bisa dipungkiri memang sebagian laki-laki memandang poligami sebagai hak ekslusif laki-laki dalam rumah tangga. Kredo yang paling sering kita dengar untuk mempertegas hal ini adalah “Sunnah Rassul” tapi tetap saja lemah menurutku, karena sulit membayangkan motivasi utama para pejuang poligami itu dari sebuah monolog panjang tentang sunnah rasul sedang dirinya sendiri mengabaikan hal-hal yang diwajibkan Tuhan
Untuk yang kontra pun tidak terlalu jauh berbeda, menjunjung tinggi harkat dan martabat wanita, tapi aborsi dan persetubuhan diluar nikah dikategorikan kegiatan biasa yang bertumpu pada kesadaran individunya. Pemenuhan kepuasan individu yang keterlaluan inilah yang menjadi masalah, menggerus jiwa laki-laki dan perempuan mengenai masa depan, tentang sebuah garis keturunan dan masa depan anak cucu kita. Karena kita terlalu sibuk hidup dimasa sekarang, menghabiskan waktu membahagiakan diri dan menolak menumpukan kehidupan kita pada masa depan yang lebih baik. Untuk itulah ada baiknya kita berpikir jernih mengenai masalah ini, karena menurutku bukan polgami sebenarnya ujung seteru dari perbedaan antara seorang laki-laki dan perempuan, tapi pandangan kita pada pentingnya sebuah keluarga. Karena jika dalam sebuah bangsa kaum wanitanya telah kehilangan naluri keibuan dan kaum laki-lakinya sudah kehilangan nurani seorang ayah, maka akan percuma jika kita bicara tentang masa depan yang lebih baik.
Haerul Purnama
Mahasiswa Teknik Sipil 2003 dan  Penggiat Majalah Elektronik Pete-pete Nusantara



Tags:

About author

Penerbitan Kampus identitas Unhas.

1 komentar

  1. Anonymous
    1:32 AM

    poligami, yes...
    narkoba no...

Leave a Reply

silahkan isi komentar anda.
sebelum isi komentar anda harus daftar terlebih dahulu di sini