Nasib TKW di Balik Keteraturan Singapura


Keteraturan singapura serta bagaimana nasib Tenaga Kerja Wanita (TKW) disana adalah sebuah kisah yang hendak dibagi oleh Haryati Harnang, salah seorang kru identitas saat berkunjung ke negeri berlambang kepala singa itu.


Kamis (7/1) pukul 8 pagi saya dan lily savitri, mahasiswi jurusan akuntansi FE Unhas sudah berada di Corus Hotel Kuala Lumpur (KL) Malaysia. Sebelum matahari terbit kami sudah berangkat menuju Corus Hotel yang merupakan tempat perwakilan bus Aeroline yang akan k ami gunakan menuju singapura.
Setelah check in dan mengurus boarding pass , Pukul 10 pagi bus aeroline double deck ( bus dua tingkat) siap melaju mengantarkan kami menuju kota singa yang pernah dijajah oleh jepang pada tahun 1942 hingga 1945 itu. Tanpa terasa lima jam kami duduk di kursi dengan nomor 7A dan 7B yang berada dilantai dua bus tersebut, pukul 3 sore akhirnya bus tiba di kantor pemeriksaan imigrasi singapura. Setelah pemeriksaan paspor, bus melanjutkan perjalanan membawa penumpang menuju pemberhentian bus di Harbour Front Centre.
“Alhamdulillah akhirnya tiba juga” itulah kata yang terucap dalam hati saat turun dari bus dua tingkat dengan cat warna kuning dan hitam itu. Tak pernah menyangka perjalanan backpacker yang sudah kurencanakan beberapa bulan sebelumnya itu telah sampai juga ke salah satu negara yang paling padat di dunia.
Tanpa menunggu lama, sebuah taksi kemudian membawa kami menuju chatswort road, tepatnya di kantor Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI). Disitulah yang akan menjadi tempat peristirahatan dan persinggahan kami selama berada di negeri bekas jajahan inggris ini. Di KBRI kami menempati sebuah wisma yang sebenarnya merupakan tempat wakil duta besar, akan tetapi saat ini dubes RI untuk singapura tak memiliki wakil. Oleh karena itu, rumah tersebut terkadang difungsikan sebagai tempat untuk tamu-tamu kedutaan dari Indonesia.
Tak sabar ingin mengeksplor kemegahan republik yang terletak 137 KM dari khatulistiwa ini, kami hanya menyimpan barang dan sholat di KBRI kemudian berjalan kaki menuju pusat perbelanjaan Orchard. Kami sengaja memilih berjalan kaki untuk lebih menikmati keteraturan negara yang menempati urutan ke-14 sebagai negara dengan standar kehidupan termahal di dunia menurut survey dari Mercer Human Resource Consulting ini.
Di sepanjang jalan menuju Orchard terdapat banyak rumah susun, dimana sebagian besar warga singapura menempati rumah susun tersebut. Negara yang meiliki empat bahasa resmi ini sungguh tertata dengan rapi dan bersih. Selain berjalan kaki, kami juga sering menggunakan salah satu kereta tercepat di dunia yaitu Mass Rapid Transit (MRT) sewaktu berada di negeri yang 77,3% penduduknya merupakan etnis tionghoa ini.
Singapore Flyer, Science Center, Singapore zoo, Esplanade, China Town, Bugis Street dan Merlion yang merupakan ikon singapura adalah sebagian besar tempat yang menjadi destinasi kami selama wara-wiri di negara yang memiliki sirkuit Formula 1, Grand Pix Singapura. Takjub dengan eksotisnya kota singapura itu sesuatu yang pasti bagi saya, namun miris dengan pemberitaan media tentang nasib TKW bangsa kita di negeri itu juga menjadi perhatianku. Oleh sebab itu saya menyempatkan diri untuk mengintip nasib TKW di penampungan yang berada di KBRI.
Di kompleks KBRI Singapura terdapat satu bangunan yang digunakan sebagai tempat penampungan TKW yang bermasalah. Tempat itu dihuni oleh sekitar 170 orang TKW. Ada yang baru saja masuk ke penampungan, namun ada juga yang 3 bulan bahkan ada yang sudah tiga tahun berada di penampungan. Mereka ditempatkan di penampungan KBRI sambil menunggu kasus atau masalah yang mereka hadapi terselesaikan.
Kasus yang dihadapi oleh TKW itu beragam, ada yang gajinya tidak dibayar, dianiaya oleh majikan dan disiksa oleh polisi. Di penampungan, para pahlawan devisa negara ini dibuatkan jadwal piket memasak dan membersihkan. Selain itu mereka juga ikut membantu orang-orang di KBRI mempersiapkan acara yang akan dilaksanakan di KBRI, misalnya saja pada saat kami disana, para TKW membantu mempersiapkan acara rangkaian perayaan natal dan tahun baru.
Itulah sekilas singkat aktifitas TKW di penampungan yang sebagian besar sangat ingin kembali ke tanah air. Sebelum meninggalkan singapura menuju KL dengan sejuta kisah, saya hanya berharap semoga keteraturan singapura bisa memberikan perubahan bagi nasib TKW Indonesia, selamat berjuang diplomat-diplomat KBRI untuk memberikan perlindungan kepada para tenaga kerja kita disana. (Haryati Harnang)
Tags:

About author

Penerbitan Kampus identitas Unhas.

0 komentar

Leave a Reply

silahkan isi komentar anda.
sebelum isi komentar anda harus daftar terlebih dahulu di sini