Persoalan kerusakan lingkungan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat moderen saat ini. Pemanasan global adalah salah satu contoh persoalan yang sangat serius yang harus dihadapai. Karena dampak akhirnya adalah kepunahan makhluk hidup di atas dunia.
Di sampng itu masih banyak isu kerusakan lingkungan lain yang mengancam kehidupan manusia moderen dan ekosistemnya. Mulai dari banjir, tanah longsor, kepunahan spesies-spesies ekonomis dan ekologis penting, degradasi daya dukung lahan dan perairan, menipisnya sumber air, polusi di darat, laut dan udara oleh bahan pencemar berbahaya dan lain sebagainya. Tidak kalah pentingnya perkembangan kehidupan moderen juga mengikis cara pandang alami masyarakat Timur dalam memanfaatkan dan mengelola lingkungannya.
Akar persoalan kerusakan lingkungan itu oleh kalangan intelektual seperti, Capra (2002) Fisikawan, Naes (1989) penggagas Deep Ecology, Fox (1990) penggagas Transpersonal Ecology, ditenggarai berakar pada paradigma emperisme Baconian yang diperkaya oleh gagasan Cartesian-Newtonian yang reduksionis-mekanistik dalam memahami makro dan mikrokosmos alam semesta. Empirisme induktif dalam metode ilmiah yang digagas Francis Bacon tidak hanya memisahkan antara obyek dan subyek peneliti. Tetapi juga mengubah arah ilmu pengetahuan dari upaya untuk mencari kearifan, menjadi upaya untuk menaklukkan dan menguasai alam demi kepentingan manusia (Capra 2002).
Gagasan antroposentrik ini kemudian diperkuat oleh gagasan Rene Descartes tentang Cogito ergo sum, saya berfikir, maka saya ada. Gagasan itu selain salah dalam tataran logika juga mengimplikasikan bahwa pikiran menjadi lebih kuat dari materi (tubuh, red) dan membawanya kepada padangan yang menyatakan bahwa akal dan materi merupakan dua hal yang terpisah dan berbeda secara mendasar.
Selanjutnya pemisahan ini membentuk suatu gagasan bahwa alam semesta merupakan sesuatu sistem makanis, yang terdiri dari benda-benda terpisah yang dapat direduksi menjadi kepingan-kepingan materi dasar. Dengan sifat-sifat dan interaksinya dianggap sangat menentukan semua fenomena alam. Pandangan reduksionis-deterministik Descartes ini kemudian diperkuat Newton yang mereduksi fenomena fisik hanyalah sebagai konsekuensi gerak partikel benda, yang disebabkan oleh kekuatan grafitasi yang saling tarik menarik (Capra 2002).
Padangan Newtonian ini semakin memperkuat metafora Cartesian tentang alam semesta sebagai mesin alroji. Secara umum Bacon, Descartes dan Newton telah mengagas suatu trilogi yaitu pengusaan, pemisahan dan pematerian – reduksinis-mekanistik – alam sebagai karakter science. Oleh karena itu hanya dengan trilogi itulah suatu gagasan atau metode dianggap ilmiah.
Pada akhirnya trilogi itu menjadi semacam worldview atau pandangan dunia yang tidak hanya berpengaruh pada ilmu-ilmu eksakta seperti fisika, kimia, dan biologi. Tetapi lebih dari itu, pandangan dunia ini telah menyeruak jauh pada berbagai bidang ilmu seperti, sosiologi, psikologi (Capra 2002) bahkan ilmu agama.
Penafsiran agama, terutama agama Ibrahimi atau yang dikenal dengan agama samawi ditenggarai telah “tercemar” oleh trilogi di atas (White 1967 dan Toynbee 1972). Hal ini terutama didasarkan pada kenyataan, dalam ketiga kitab suci agama Ibrahimi itu memuat doktrin Imago Dei. Doktrin ini menyebutkan, manusia diciptakan sebagai citra Tuhan. Pandangan ini bagi White dan Toynbee dinilai sangat antroposentrik. Terutama ketika dikaitkan dengan ayat-ayat tentang penaklukan manusia atas alam semesta.
Tulisan ini akan mendiskusikan “jalan alternatif” sebagai landasan dalam memahami teks-teks kitab suci, terutama kitab Suci Al Quran. Dengan cara yang tidak emperis-antroposentrik, sebagaimana yang dikehendaki Al Quran (QS:2:2, 3 & 4). Sehingga spirit keagamaan bisa dihindarkan dari penafsiran yang tidak tepat. Di samping itu tulisan ini ingin menawarkan spirit suci agama, sebagai pandangan dunia dalam pemanfaatan dan pelestarian lingkungan.
Monoteisme sebagai dasar pengelolaan lingkungan
Kepercayaan terhadap Kemahaesaan Tuhan atau monotesime sering disebut sebagai pandangan dunia tauhid dalam teks-teks agama Islam. Pandangan dunia tauhid dapat didefinisikan sebagai konsepsi yang komprehensip tentang alam semesta dan kehidupan manusia, yang didasarkan pada nilai-nilai bahwa hanya ada satu keberadaan yaitu Allah sebagai Kausa Prima.
Prinsip tauhid atau monoteisme inilah yang akan dielaborasi dalam tulisan ini. Karena ia mempunyai potensi untuk menjadi sejenis paradigma yang dapat menggantikan paradigma Cartesian-Newtonian yang telah menunjukkan kemampuan destruktifnya terhadap lingkungan.
Pengajaran agama khususnya Islam, berdasarkan sumbernya dapat dibagi menjadi dua, yaitu sumber yang berasal dari periwayatan (naqliyyah) dan intelektual (aqliyyah). Pengajaran yang berdasarkan periwayatan adalah seluruh pengetahuan yang disebarluaskan dari generasi awal yang tidak diperoleh melalui pemfungsian secara maksimal pikiran manusia. Sebaliknya pengajaran intelektual adalah seluruh pengetahuan yang secara prinsip dapat diperoleh oleh kesadaran intelek manusia, tanpa bantuan generasi terdahulu dalam mentransmisi wahyu (Chittick 2000).
Tauhid yang merupakan penegasan bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan karena hanya Allah-lah yang merupakan wujud absolute, adalah contoh yang gamblang dari pengetahuan Intelektual. Pengetahuan ini dapat diperoleh manusia tanpa melalui pengajaran yang bersifat periwayatan. Hal ini karena pengetahuan tentang keabsolutan keberadaan Allah merupakan anugerah kepada manusia ketika ia mengfunsikan akal sehatnya.
Peryataan seorang muslim terhadap keberadaan Tuhan atau yang dikenal dengan syahadah, penyaksian bahwa Allah adalah wujud absolut, berimplikasi pada proses penyerahan diri kepada diri yang absolut yaitu Tuhan. Hal ini karena eksisten-eksisten yang lain selain eksistensi yang absolut adalah eksistensi reflektif, yang bergantung pada eksistensi absolut, sebagai kausa prima.
Secara logis hal ini bisa dipahami melalui relasi sebab akaibat. Sebab tidak mungkin bergantung pada akibat, bahkan sebaliknya akibatlah yang bergantung secara eksistensial kepada Sebab. Karena Tuhan sebagai Sebab dari segala sebab dan merupakan Eksistensi Absolut. Maka seluruh eksistensi selain-Nya adalah eksistensi yang bergantung atau berserah diri kepada-Nya. Dengan demikian penyerahan diri kepada Tuhan yang Esa bukanlah proses yang dogmatis berdasarkan pengetahuan riwayat. Tetapi ia merupakan pengetahuan yang hadir bersamaan dengan kemaujudan manusia dan seluruh eksistensi yang lain.
Oleh karena hubungan antara Eksistensi Tuhan dan eksistensi alam semesta merupakan hubungan yang reflektif dengan Tuhan sebagai Kausa Prima. Maka antara Tuhan dan alam semesta dan antar komponen alam semesta merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Hal ini tidak mengimplikasikan bahwa eksistensi alam semesta sama dengan Eksistensi Tuhan sebagaimana yang disalah-pahami oleh kaum monisme.
Secara sederhana kalangan filosof Islam seperti Sadra Al Muta’allihin, Maestro Filsafat Transendental (Hikmah Al-Mutaaliyyah) menggambarkan, relasi Tuhan dan Alam semesta seperti hubungan cahaya putih yang dilewatkan pada sebuah prisma yang akan menghasilkan pendaran berbagai warna. Tuhan dianalogikan sebagai cahaya putih dan warna-warni yang direfleksikan adalah berbagai esksistensi alam semesta.
Selanjutnya menurut Sadra, masing-masing eksistensi itu memiliki tingkat eksistensi yang berbeda-beda tergantung kekuatannnya masing-masing. Semakin banyak esensi yang dikandung suatu eksistensi, maka semakin rendah tingkat intensitas dan kesempurnaannya. Begitu juga sebaliknya (Rahman 1975). Semakin unik suatu eksistensi, maka semakin tinggi kedudukannya dalam tingkat gradasi eksistensinya dan itulah yang disebut dalam teks-teks agama sebagai manusia sempurna (Insan Kamil) atau Citra Tuhan (Imago Dei).
Penyaksian yang kedua dalam pandangan dunia tauhid atau monoteisme yaitu penyaksian adanya Nabi sebagai manusia yang mempunyai citra gradasional Tuhan yang tertinggi dibandingkan dengan seluruh eksisten-eksisten yang lain. Oleh karena itu para Nabi adalah orang-orang yang telah mengalami sejenis penyingkapan rohani (spiritual disclosure) melalui proses transformasi spiritual, dalam bahasa Al Quran disebut mi’raj. Penyaksian ini menunjukkan, kehadiran para Nabi atau orang-orang suci adalah wakil Tuhan, guna mengingatkan kembali anugerah tauhid yang inheren dalam diri manusia.
Untuk menjadi manusia transendental yang keberadaan reflektifnya adalah sebagai citra Tuhan, upaya pengingatan merupakan upaya penting untuk mentransformasi manusia yang masih mentubuh (profan) dan belum sepenuhnya menyadari konsepsi monoteisme yang inheren di dalam dirinya. Seluruh proses “belajar menjadi manusia” pertama kali tergantung pada bagaimana mengingat Keabsolutan Tuhan dan selanjutnya tergantung pada pengingatan yang aktif dan bebas terhadapNya (Chittick 2000).
Selanjutnya syahadah kenabian juga merupakan konsepsi tentang manusia suci yang kepadanya pengelolaan alam semesta menjadi tanggungjawabnya. Penyerahan pengelolaan alam kepada manusia suci ini sebagai rangkaian logis bahwa ia merupakan eksistensi gradasional yang paling tinggi dan meniscayakan kehampaan campur tangan dari eksistensi gradasional lainnya yang lebih rendah.
Pengelolaan dalam padangan dunia monotesime merupakan bagian dari proses pembimbingan alam semesta untuk kembali menyadari posisinya dan yang akan kembali kepadaNya. Oleh karena itu konsepsi teks-teks agama tentang “ditaklukkannya” alam semesta untuk manusia harus dipahami dalam konteks syahadah kedua, yaitu penyaksian adanya manusia suci yang merupakan citra Tuhan. Sebagai citra Tuhan yang merupakan eksistensi gradasional tertinggi, Nabi tidak dimungkinkan secara logis melakukan kesalahan atau kerusakan.
Dalam bahasa Al Quran Nabi disebut sebagai manusia yang telah dan sedang mengalami pensucian dari segala jenis kesalahan (QS:33:33). Sebagaimana Tuhan yang tidak melakukan kesalahan atau kerusakan, maka manusia suci sebagai citra Tuhan juga tidak melakukan kesalahan atau kerusakan. Oleh karenanya proses pengaturan atau pengelolaan alam tidak dilimpahkan kepada eksisten-eksisten reflektif, kecuali kepada mereka yang telah mentransformasi dirinya menjadi citra Tuhan (QS:24:55;QS:21:105) atau dalam bahasa Tu Wei-Ming disebut sebagai manusia yang telah mensurga (Chittick 2000).
Prinsip-prinsip pandangan dunia monotesime di atas tidak hanya dapat mengantikan dualisme Cartesian-Newtonian tentang persoalan jiwa dan tubuh, antara subyek dan obyek. Tetapi juga memberi landasan ontologis-epistemis tentang sesuatu yang bersifat metafisik dan fisik serta relasi antara mikro dan makrokosmos yang merupakan satu kesatuan organik. Tidak seperti metafora Cartesian-Newtonian yang menganggap alam semesta sebagai mesin besar yang deterministik, padangan dunia monotesime memahami bahwa alam semesta merupakan bagian eksistensi reflektif yang selalu bergerak dan oleh karena itu hidup menuju pada titik kesempurnaan dibawah bimbingan Tuhan.
Disamping itu pandangan dunia monoteisme menyediakan gagasan hirarkial dinamis tentang alam semesta. Gagasan ini memahami bahwa alam semesta sekalipun merupakan satu kesatuan yang utuh dan organik, tidak menepis kenyataan hirarkis di dalamnya yang berbeda dengan pandangan kaum deep ecology egaliter (Griffin 2003). Hirarki itu dalam pandangan dunia monoteisme bukan suatu yang determistik-meterialistik. Tetapi merupakan sesuatu yang dinamis dan transendental. Suatu peringkat-peringkat atau maqam yang dicapai dengan mengaktifkan intelektualitas yang mentauhid yang inheren dalam kehadiran setiap eksistensi reflektif di bawah bimbingan Tuhan melalui manusia suci sebagai citra-Nya.
Dengan demikian pandangan dunia monoteisme menyediakan konsepsi ontologis-epistemis tentang alam semesta yang organik-dinamik. Disamping itu ia juga menawarkan konsepsi aksiologis tentang proses bagaimana menjadi citra Tuhan. Dalam pandangan dunia monoteisme hanya manusia citra Tuhanlah yang mempunyai kemampuan sempurna dalam mengelolah alam semesta. Karena mereka bukan hanya telah mengenal (ma´rifat) atau mengalami spiritual disclosure tetapi juga telah “lebur” (fana) atau terserap oleh Sang Maha Pengelolah alam semesta, Allah Rabb Al-‘Alamin.
Khusnul Yaqin
Ekotoksikolog dan Sekretaris Jurusan Perikanan, Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Unhas.
Popular Posts
- PENERIMAAN MAHASISWA JALUR UNDANGAN
- Pendaftaran SNMPTN 10-31 Mei 2012
- PK identitas Membuka Pemagangan
- Pemanfaatan Angin dan Air sebagai Sumber Energi Alternatif
- Japanvaganza, Japanese Culture Festival
- Jalur Masuk Unhas 2011/2012
- BNI adakan Kerjasama dengan Unhas
- Mursyida (Dilla) Dai Muda Pilihan ANTV
- Setetes Darah Untuk Generasi Muda
- 8 Mahasiswa Unhas Ikut Kompetisi di Harvard University
0 komentar