Kontroversial dan mengejutkan adalah ciri Khasnya

Tokoh yang satu ini terkenal dengan gagasan dan ide-idenya yang kontroversial. Kadang ia muncul dengan gagasan yang melawan arus dan mengejutkan banyak pihak. Namun, ia tetaplah salah satu tokoh yang harus kita kenang karena pergerakannya di dunia politik



“gitu, aja kok repot ?”, begitulah kalimat yang sering dilontarkan oleh sosok akademika di edisi kali ini. Kalimat yang dipopulerkan oleh sosok yang juga salah satu mantan presiden negara kita. Yah, begitulah orang-orang mengenali Abdurrahman Wahid. Sosok yang familiar dengan sapaan Gus Dur ini ternyata lahir di Jombang, 4 Agustus 1940 dari pasangan KH Wahid Hasyim dan Hj Sholehah.
Tokoh yang pernah bercita-cita menjadi anggota ABRI ini pun memulai jenjang pendidikannya, dengan mengikuti pendidikan Sekolah Dasar di Jakarta. Setelah itu, Gus Dur melanjutkan pendidikannya ke Sekolah Menengah Ekonomi Pertama di Yogyakarta hingga lulus pada tahun 1957. Gus Dur memasuki dunia pendidikan agama secara intensif. Mula-mula ia menimba ilmu agama selama sekitar dua tahun di Pesantren Tegalrejo, Magelang, di bawah bimbingan Kiai Chudori. Selanjutnya di Pesantren Tambak Beras, Jombang, Gus Dur bekerja sambil meneruskan pendidikan di pesantren sebagai santri senior.
Kehidupan religius memang telah mengisi kehidupannya. Sewaktu kecil, ia sudah diajar mengaji dan membaca Al Quran oleh kakeknya di Pesantren Tebuireng, Jombang. Maklum, kakeknya adalah pendiri Nahdlatul Ulama (NU) yakni Hasyim Asy'ari. Sedangkan dari garis keturunan sang Ibu, ia merupakan keturunan tokoh besar NU, KH Bisri Sansuri.
Pada usia 22 tahun, Sosok yang memiliki hobi mendengarkan musik klasik barat ini, berangkat menuju Mekah untuk menunaikan ibadah haji, sekaligus untuk melanjutkan studinya di Universitas Al-Azhar di Kairo. Di sana, ia tinggal bersama para pelajar asal Indonesia dan sempat menjadi Sekretaris Persatuan Pelajar Indonesia di Mesir. Saat di luar negeri itu jugalah Gus Dur melangsungkan pernikahan jarak jauh dengan Siti Nuriah. Pasangan ini kemudian dikaruniai empat orang putri, yakni Alissa Munawarah, Arifah, Chayatunnufus, dan Inayah.
Setelah menyelesaikan pendidikannya di Mesir, pada tahun 1966 Gus Dur pindah ke Baghdad, Irak. Ia bergabung di Department of Religion di Universitas Baghdad dengan mengambil spesialisasi ilmu sastra dan humaniora. Dari Baghdad, Gus Dur meneruskan pengembaraan akademisnya ke sejumlah negara Eropa, dari satu universitas ke universitas lainnya. Terakhir, ia tinggal di Belanda selama sekitar enam bulan, dan sempat mendirikan Perkumpulan Pelajar Muslim Indonesia dan Malaysia.
Setelah hampir menjelajahi dunia, ia kembali ke Tanah Air, pada tahun 1971. Pada saat itu, Gus Dur bergabung dengan Fakultas Ushuluddin Universitas Hasyim Asy'ari. Di universitas kota kelahirannya, Gus Dur mengajar teologi dan beberapa ilmu agama. Selanjutnya, sejak tahun 1974 ia dipercaya sebagai sekretaris pesantren Tebuireng. Tak hanya aktivitas mengajar, nampaknya Gus Dur senang mengirimkan tulisannya di berbagai surat kabar, majalah, dan jurnal. Dan berawal dari tulisan-tulisannyalah sosoknya mulai dikenal.
Kiprahnya di dunia politik dimulai sekitar awal 1980 an, ketika ia mulai banyak bersinggungan dan secara terbuka menawarkan ide-ide tentang pluralisme, demokrasi, HAM, dan lain-lain. Tindakan politiknya semakin jelas, sejak ia terpilih menjadi Ketua Umum PBNU pada Muktamar 1984 di Situbondo. Melalui peran Gus Dur, NU menjadi ormas Islam pertama yang menerima pemberlakuan Pancasila sebagai satu-satunya asas dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Meskipun pernah hubungan Gus Dur dengan pemerintah kembali merenggang karena sikap kritisnya terhadap pemerintahan Soeharto, posisinya sebagai Ketua Umum PBNU tetap dapat dipertahankannya selama dua kali muktamar berturut-turut, yaitu pada tahun 1989 dan 1994.
Oleh sebagian orang, gagasan-gagasan dan tindakan Gus Dur kerap dipandang sebagai hal kontroversial dan mengejutkan, Sekali waktu, Gus Dur menggagas untuk mengganti salam assalamu'alaikum dengan selamat pagi. Gagasan yang kontan mendatangkan sergahan dari umat Islam. Pada lain waktu, Gus Dur mengejutkan banyak orang melalui kunjungannya ke Israel pada tahun 1994, justru ketika masyarakat banyak menyoroti kelicikan negeri tersebut terhadap nasib rakyat Palestina. Walaupun berbagai hal yang dianggap kontroversial telah dilakukan oleh Gus Dur, namun sepak terjangnya di dunia politik tak boleh kita hapus dengan begitu saja, apalagi ia pernah menjadi mantan presiden Republik Indonesia. Semoga dia yang telah menghadap Ilahi, pada hari rabu 30 Desember 2009, dapat diterima disisinya. Amin.


Tags:

About author

Penerbitan Kampus identitas Unhas.

0 komentar

Leave a Reply

silahkan isi komentar anda.
sebelum isi komentar anda harus daftar terlebih dahulu di sini