Senyum Tergurat dari wajahnya yang ramah, seperti itulah kesan awal Hasdinar dari identitas, saat menemui Syifa Fauzia, Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) angkatan 2007, Selasa (5/1). Tak salah jika pada edisi kali ini, rubrik jeklang identitas memuat kisah Syifa. Salah satu alasannya adalah gadis kelahiran Makassar ini telah dikenal melalui prestasinya di bidang karya tulis ilmiah. Sebut saja, prestasinya membawa nama Unhas dalam Pekan Ilmiah Nasional di Universitas Brawijaya, Jawa Tengah, Rabu hingga Sabtu (22-25/7) tahun 2009.
Syifa, sapaan akrabnya, tak menyangka akan menyabet juara tiga dalam kompetisi tersebut. Pasalnya, dara kelahiran 8 november 1989 ini harus bersaing dengan 1565 peserta dari 119 perguruan tinggi negeri yang ikut berkompetisi dalam ajang bergengsi itu.
Walaupun awalnya merasa berat, sekertaris jenderal direksi FISIP research center ini tetap berusaha optimis, dengan memilih Issue Enviromental sebagai fokus dalam karya yang telah mengharumkan nama almamater kita.
Anak dari pasangan H Abdul Rahim Lanti ST dan A Nurhayati A Ma ini mengaku, cinta dengan lingkungan. Tak perlu dipertanyakan lagi, mengapa ia mengangkat isu lingkungan dalam kompetisi yang diadakan di Malang. Sejak kecil sang ibunda telah menghantarkannya untuk menyukai segala sesuatu yang berhubungan dengan lingkungan, maklum saja ibu dari alumni SMA 1 Maros ini adalah Guru Ilmu Pengetahuan Alam di tingkat Sekolah Dasar.
Berbekal membaca berbagai referensi dan berkonsultasi dengan dosen pembimbing, akhirnya Finalis Olimpiade Ilmu Sosial Tingkat Nasional FISIP Universitas Indonesia tahun 2006 ini, bersama dua rekan seperjuangannya mendapatkan pencerahan untuk mengangkat tema isu Global warming dan menghubungkannya dengan masalah kedaulatan negara.
Karya tulis itu kemudian ia beri judul Telaah Kritis Pencairan Es di Kutub dan Pengaruhnya Terhadap Kedaulatan Wilayah Negara Republik Indonesia. “Sebenarnya Unhas itu bagus dalam pengembangan ide, namun kita terbatas pada data. Jika ingin disetarakan dengan universitas lain kita perlu membenahi perpustakaan kita. Selain itu, butuh dosen yang mau meluangkan waktunya sebagai tempat kita bertanya,” ungkapnya sambil mengenang Pekan Ilmiah yang telah membawanya mengangkat nama kampus merah.
Dunia karya tulis bukanlah hal baru yang digeluti oleh syifa di bangku perkuliahan. Sejak duduk di bangku SMA, berbagai prestasi telah berhasil diraihnya. Berkat ide-ide cemerlangnya, prestasi yang pernah diraihnya adalah sebagai Honda Best Student Tingkat Nasional, yang diselenggarakan oleh Astra Honda Motor pada Tahun 2006.
Tak hanya itu, ia juga pernah tercatat sebagai lima Besar Finalis Symposium National Education Tingkat Nasional, Fakultas Psikologi Universitas Indonesia Tahun 2007. Langkah Syifa yang terus mencoba untuk berprestasi ini, seharusnya menjadi inspirasi bagi kita semua.
Popular Posts
- PENERIMAAN MAHASISWA JALUR UNDANGAN
- Pendaftaran SNMPTN 10-31 Mei 2012
- PK identitas Membuka Pemagangan
- Pemanfaatan Angin dan Air sebagai Sumber Energi Alternatif
- Japanvaganza, Japanese Culture Festival
- Jalur Masuk Unhas 2011/2012
- BNI adakan Kerjasama dengan Unhas
- Mursyida (Dilla) Dai Muda Pilihan ANTV
- Setetes Darah Untuk Generasi Muda
- 8 Mahasiswa Unhas Ikut Kompetisi di Harvard University
1:45 AM
unhas memang tidak akan pernah kehabisan bibit unggul. pantasji kalau jadi universts terbesar dikawasan indonesia timur
1:53 AM
ia sepakat, tapi masalahnya cuma beberapa orang yang jadi bibit unggul, smntara yang entah kapan akan memperlihatkan dan menjadi bibit unggul...