Tulisan salah satu Mahasiswa Arsitektur membuat shock para dose. Akibatnya, sebagian besar dosen tersinggung dan berinisiatif tak masuk mengajar, Rabu-Jumat (9-11/9).
“Wahai dosen yang zalim, mana tanggung jawabmu sebagai pendidik. Kamu hanya menerima hakmu, tapi tidak ingin menunaikan kewajibanmu. Tunggulah datangnya azab Allah SWT. Siksa Allah SWT itu sangatlah pedih.” Itulah penggalan tulisan Syamsul Fajar S, Mahasiswa Jurusan Arsitektur angkatan 2005, tulisan ini cukup membuat geram dosen hingga absen mengajar.
Tulisan tersebut dibuat setahun yang lalu saat Syamsul menjabat sebagai Ketua Dewan di Himpunan Arsitektur Fakultas Teknik. Kebiasaan menulis di buku harian untuk mendokumentasikan hari-hari yang ia lakukan setiap hari. “Terkadang saya buka facebook. Banyak komentar, katanya saya bersembunyi dibalik tulisan. Cuman yang menjadi masalah, tulisan ini menjadi tidak faktual lagi karena kejadiannya tahun lalu dan saya tidak melihat nantinya akan seperti ini,” ujar Syamsul.
Akhirnya, Selasa (8/9), tulisan yang berjudul Kampus yang Munafik berhasil diedarkan di Jurusan Arsitektur berkat bantuan teman-temannya. Dosen-dosen yang membaca tulisan tersebut akhirnya kaget, dan berujung pada pemogokan mengajar selama tiga hari.
Namun hal berbeda dilakukan oleh Ir Triyatni Mertosenjoyo MT, ia mendapat sms dari rekan dosennya bahwa telah diadakan pemogokan mengajar. Namun ia tidak mempercayai hal tersebut, sehingga keesokan harinya, Kamis (10/9), dia mengklarifikasikan hal itu di bagian kepegawaian Jurusan Teknik Arsitektur namun menurut pegawai tidak ada pemogokan mengajar.
Triyatni mempunyai pandangan lain mengenai tulisan yang diedarkan oleh Syamsul, menurutnya Indonesia adalah negara yang demokratis. Sepanjang dia berani mempertanggungjawabkan apa yang dia tulis. ”Adanya isu mogok itu mungkin hanya karena emosional sesaat dari pihak tertentu. Dosen harus bekerja professional dibanding dengan pekerja biasa. Seharusnya kalau tulisan itu bohong dosen tidak perlu tersinggung,” ujarnya.
Memang sungguh ironis melihat tindakan yang dilakukan oleh beberapa dosen di Jurusan Arsitektur, sebab bila membaca tulisan sepanjang delapan halaman tersebut tak satupun instansi ataupun dosen yang disebutkan dalam tulisannya. Hanya saja Syamsul menumpahkan rasa kekecewaan yang pernah ia rasakan ataupun yang pernah ia lihat.
Akibat perasaan kecewa membaca esai berisi sindiran yang sebagian besar ditujukan untuk dosen itu, para dosen mogok mengajar meskipun jurusan tidak menghentikan proses pengajaran. Dan gara-gara tulisan tersebut, akhirnya Komdis Fakultas pun turun tangan, dan membicarakan permasalahan ini dengan pengurus Lembaga Himpunan Arsitektur dan Senat Teknik untuk ditindaklanjuti.
Menurut Drs H A Effendy Rauf, Sekertaris Jurusan Arsitektur, mahasiswa yang menulisnya cukup sportif dan bertanggung jawab karena namanya dicantumkan. Tetapi apa yang ditulis sama sekali tidak benar. Ia menyesalkan perbuatan Syamsul yang dianggap menghancurkan rumah tangganya sendiri (lembaga, red). ”Dia cuman melihat kulit-kulitnya saja. Dia memberikan hinaan kepada dosen-dosen terutama guru besar dan tidak sadar dengan tindakannya itu akan merusak citra jurusannya. Tidak ada pencanangan mogok, itu hak dosen dengan Komdis Fakultas baru mempelajari tulisannya, kemungkinan sanksi teringan yakni skorsing satu semester atau dua semester dan terberatnya Droup Out,” ujarnya.
Hal sama diungkapkan Sekertaris Kemahasiswaan Fakultas Teknik Ir Syamsuddin Amin, “kita tidak mau nama lembaga rusak gara-gara tulisan itu. Karena nantinya akan berkaitan dengan peserta didik yang akan merusak output kita. Sebab orang luar melihat.” Syamsuddin menambahkan, isu ini hanya terjadi pada masa kepengurusan saat ini. Dulunya, jurusannya tidak pernah mengalami masalah seperti yang terjadi sekarang. ”Tidak ada bukti kuat yang melatarbelakangi tulisan tersebut. Saya beranggapan bahwa ini pencemaran nama baik.”
Pembantu Dekan III Fakultas Teknik Ir H Louis Santoso MSi mengatakan, “urusan itu nantinya kami akan selesaikan di tingkatan fakultas itu urusan internalnya kami.” Selebihnya, Louis tidak mau berkomentar banyak tentang hal tersebut.
Lembaga Senat Teknik dan Himpunan Arsitektur turut andil menyikapi masalah ini. Rasa solidaritas dari mereka sudah menjadi budaya Fakultas Teknik. Semua kejadian yang dilakukan tidak mungkin akan kembali seperti semula, nasi sudah menjadi bubur. Mustari, Mahasiswa Teknik Mesin angkatan 2005 yang jadi salah satu pengurus, mengatakan, “kami hanya menangani masalah ini, jangan sampai ada sanksi yang diberikan, sehingga kami harus siap membantu apabila sanksinya memberatkan.”
Nti, M33, M34/Sri
Popular Posts
- PENERIMAAN MAHASISWA JALUR UNDANGAN
- Pendaftaran SNMPTN 10-31 Mei 2012
- PK identitas Membuka Pemagangan
- Pemanfaatan Angin dan Air sebagai Sumber Energi Alternatif
- Japanvaganza, Japanese Culture Festival
- Jalur Masuk Unhas 2011/2012
- BNI adakan Kerjasama dengan Unhas
- Mursyida (Dilla) Dai Muda Pilihan ANTV
- Setetes Darah Untuk Generasi Muda
- 8 Mahasiswa Unhas Ikut Kompetisi di Harvard University
0 komentar