Rektor Terpilih Saatnya Realisasi Janji

Empat kandidat calon rektor berebut tahta kekuasaan, adu strategi, visi dan misi pun telah mereka upayakan untuk menjaring dukungan. Lantas bagaimana sang penguasa terpilih merealisasikan janji yang telah dikemas dalam bentuk visi dan misi.
Selasa (15/09), Gedung baruga AP Pettarani Makassar, menjadi saksi bisu bagaimana wajah-wajah tegang empat kandidat calon rektor periode 2010/2014 menunggu hasil pemilihan kali ini, wajah tegang itu kadang tersungging senyum tipis. Ruang dalam baruga kali ini sengaja di tata terbagi menjadi dua bagian, yang pertama pada bagian bawah, dimana kursi-kursi tersebut hanya boleh diisi oleh para guru besar dan yang kedua pada bagian atas diperuntukkan untuk dosen, pegawai hingga mahasiswa.
Sekitar 1000 orang lebih menghadiri acara pemilihan rektor kali ini, sudah termasuk 285 guru besar. Civitas akademika cukup antusias mengikuti acara ini. Panitia Persiapan Pertimbangan Calon Rektor (P3CR) menyiapkan tiga bilik suara untuk pemilihan kali ini, jumlah tersebut cukup untuk menampung 285 guru besar yang siap memberikan suaranya.
Agenda pemilihan pun dimulai kala Prof Natsir Nessa selaku ketua senat Universitas Hasanuddin membuka acara dengan resmi, waktu menunjukkan pukul 10.15 kala satu persatu nama anggota senat disebutkan untuk kemudian masuk dalam bilik suara memberikan suara kepada kandidat pilihan mereka. Nama-nama yang disebutkan oleh panitia tidak berdasarkan fakultas dimana guru besar itu bernaung, akan tetapi sesuai dengan Daftar Pemilih Tetap (DPT) yang dipegang oleh panitia P3CR.
Usai semua anggota senat memberikan suaranya, perhitungan pun dimulai. Lima orang panitia menjadi pusat perhatian di tengah panggung. Tak disangka perhitungan suara diawali oleh suara yang abstain, selanjutnya dari awal hingga sekitar 90 suara yang dibacakan, Idrus unggul dan telah mengantongi 70 suara dari kandidat lainnya.
Perhitungan suara diiringi oleh sorak sorai pendukung Idrus selaku calon incumbent yang sedari tadi hadir untuk memberi dukungan moril kepadanya, mereka mulai menggemuruhkan seisi ruangan, sesekali suara-suara gaduh tersebut diselingi tepuk tangan dari civitas akademika yang hadir.
Dari pojok kanan atas ruang baruga, nampak sekelompok orang yang sedari tadi memicu kegaduhan meneriakkan “Oppoki” “Maju”, dua kata tersebut yang mendominasi kala nama Idrus kembali disebut. Begitu juga jika nama kandidat yang lain disebut masing-masing pendukung bertepuk tangan.
Nampak dengan jelas, optimistik dari para pendukung idrus, mereka mungkin telah menghitung-hitung sendiri perkiraan suara yang nantinya membuat calon yang diusungnya menang, perhitungan suara telah mendekati angka 143, angka tersebut jika telah diperoleh atau dilalui Idrus, maka secara otomatis kandidat incumbent akan memenangkan pertarungan memperebutkan kursi nomor satu di kampus merah ini.
Selang beberapa waktu, angka tersebut pun telah dilalui. Walaupun perhitungan suara belum usai tapi seluruh guru besar yang hadir telah menyalami Idrus.Tak cukup lama perhitungan suara berakhir, dengan nilai akhir Idrus meraup 210 suara, Saleh ali 9 suara, Saleh Pallu 65 suara, Amran razak 0 suara dan abstain 1 suara.
”Tiga nama calon akan dikirim ke menteri pendidikan nasional, kaputusan mungkin ada dua atau tiga minggu kedepan,”ujar Prof Dr Tahir Kasnawi. Menurutnya suara terbanyak akan terpilih menjadi rektor, ”Pemilihan ini sudah demokratis dan selama ini biasanya suara terbanyak yang diangkat, karena secara teori pemilihan ini sudah objektif,”tambahnya.
Tanggung jawab telah di depan mata, tantangan dan harapan dari seluruh civitas akademika berada di genggamannya. Tinggal bagaimana sang rektor menahkodai universitas ini dan merealisasikan janji yang telah diusung dalam visi dan misi . Idrus menyatakan,”Seorang rektor tidak akan mampu membangun universitas tanpa dukungan dari civitas akademika.” Berbagai tantangan yang akan dihadapinya kelak antara lain meningkatkan kualitas universitas menuju world class university tahun 2014, tantangan globalisasi dikalangan mahasiswa, meningkatkan kualitas mutu tenaga pendidik dan alumni.
Demi peningkatan kualitas pendidikan, kepemimpinan Idrus siap membawa Unhas menjadi Perguruan Tinggi BHPP tahun 2010. Tahun pertama awal kepemimipinannya, Idrus menyatakan sebagai tahap persiapan. Pada tahap ini proses perubahan perangkat struktur organisasi mengikuti entitas BHP yang otonom berdasarkan UU no.9 Tahun 2009 sekaligus evaluasi program kerja periode lalu.
Adapun tahapan advanced yang telah dilakukan sejak tahun 2004 antara lain terbentuknya persiapan impelemntasi BHP dan kesiapan dokumen tentang system tata kelola manajemen dan organisasi unhas sebagai institusi pendidikan yang otonom. BHP yang mendapat respon negatif dari beberapa kalangan mahasiswa sebagai komersialisasi pendidikan tetap akan dilakasanakan.”BHP adalah undang-undang jadi sebagai warga negara yang baik kita harus melaksanakan, namun selama kepemimpinan saya SPP mahasiswa tidak akan naik,”ujar mantan dekan fakultas kedokteran unhas ini. Dengan kesiapan material dan non material ini maka jalan menuju BHP adalah keniscayaan. (Dia, M11/Hry)






Tags:

About author

Penerbitan Kampus identitas Unhas.

1 komentar

  1. This comment has been removed by the author.

Leave a Reply

silahkan isi komentar anda.
sebelum isi komentar anda harus daftar terlebih dahulu di sini