Pudarnya Pesona Ramsis

Ramsis yang seyogianya sudah ramai dihuni oleh mahasiswa, kurang memikat lagi. Beban sewa yang meningkat dua kali lipat pasca renovasi, menjadi satu penyebabnya.


Senin pagi (24/8), Topan K, maba Unhas asal Samarinda, tampak keluar dari kantor pengelola asrama mahasiswa (ramsis). Ia berencana mendaftar untuk menjadi penghuni ramsis. Namun pegawai yang ditemuinya mengatakan, kalau pendaftaran tidak lagi dipusatkan di tempat itu.

Tempat pendaftaran kini telah dipindahkan ke Gedung Rektorat lantai V. Tepatnya di Ruang Kepala Bagian Pemberdayaan Fasilitas Aset Unhas. Dengan langkah gontai karena puasa, Mahasiswa Fakultas Teknik inipun berjalan menuju Gedung Rektorat.

Sesampainya di ruangan bagian aset, Topan segera menyatakan niatnya untuk tinggal di ramsis kepada Alam, salah seorang pegawai yang menerimanya. Tanpa berlama-lama, pun Alam memberikan map yang berisi formulir untuk diisi, juga Surat Keputusan Rektor No.2802/H4/P/2009 menyangkut aturan dan tata tertib ramsis.

Dengan santai, Topan membaca tata tertib yang telah diberikan. Ia kaget, biaya yang dibebankan mencapai Rp. 1.650.000,- untuk jangka waktu sebelas bulan. Bukan hanya itu, salah satu pasal dalam aturan tersebut masih juga membebankan biaya listrik kepada mahasiswa apabila membawa perlengkapan lain yang tidak terdapat dalam asrama.

Aturan itu tertuang dalam tata tertib Pasal 19 Ayat 3 Bab V yang menyatakan kalau membawa alat masak (rice cooker) akan dikenakan biaya sebesar 10 ribu rupiah. Sementara untuk laptop atau komputer sebagai penunjang pembelajaran dikenakan biaya listrik sebesar 15 ribu rupiah. Sedangkan yang menggunakan tape recorder/DVD player dikenakan biaya tambahan listrik sebesar 20 ribu rupiah.

Adapun aturan ramsis selanjutnya yang mengharuskan dua orang berada dalam satu kamar, yang artinya biaya per kamar untuk sebelas bulan yaitu 3,3 juta rupiah. Akhirnya, karena menilai biayanya terlalu mahal, Topan mengurungkan niatnya untuk mendaftar. “Biaya sewanya terlalu mahal untuk ukuran mahasiswa, apalagi dalam satu kamar harus diisi oleh dua orang,” ungkapnya Kamis (3/9), disela-sela perkuliahannya.

Tak heran, setelah sebulan dibuka, ramsis yang rencananya dihuni maba pada tanggal 3 September masih minim pendaftar. Mengingat biaya sewa yang kian meroket. Dari 94 orang yang mengambil formulir, hanya sekira 18 mahasiswa saja yang mengembalikannya. Sungguh minim peminat ramsis saat ini. Padahal dari tiga blok yang ada di ramsis dengan jumlah kamar sebanyak 792, secara matematis jika dihuni oleh dua orang setiap kamar, maka ramsis mampu menampung sekitar 1.584 mahasiswa.

Ketika ditanya menyangkut minimnya mahasiswa yang medaftar dan sebagian besar peminat tak mengembalikan formulir, Kepala Bagian Pemberdayaan Aset Unhas, Ir Syamsul Bahri MSi mengatakan bahwa penerapan tarif ramsis tersebut didasari oleh biaya yang diberlakukan perguruan tinggi lain seperti ITB, UI dan UNDIP. “Kami memutuskan biaya tersebut bercermin pada perguruan tinggi diluar Makassar, sekaligus juga berdasarkan perhitungan biaya operasional serta perawatan asrama,” jelasnya saat ditemui di kantor Koperasi Unhas, Rabu (2/9).

Syamsul juga menambahkan, jika sampai pada waktu batas pendaftaran dan pengembalian formulir, masih sedikit maba yang mendaftar, nanti akan ada kebijakan yang membolehkan mahasiswa lama untuk menghuni ramsis. “Kalau sampai waktunya nanti hanya sedikit maba yang mendaftar, maka kelak mahasiswa lama juga dibolehkan untuk mendaftar,” terangnya. Dari hasil penelusuran yang dilakukan sampai Kamis (4/9), sudah ada dua mahasiswa lama angkatan 2005 dan 2007 yang mengambil formulir.

Dosen Fakultas Teknik Unhas yang juga Kepala Koperasi Pegawai Negeri (KPN) Unhas ini lebih lanjut menjelaskan kalau kendala utama minimnya maba yang memilih tinggal di ramsis yaitu adanya stigma negatif masa lalu mengenai ramsis. Orang tua banyak melarang anaknya masuk ramsis. Selain itu, mahasiswa yang datang dari luar daerah sudah lebih dahulu menyewa kos-kosan.

Kalau kita bercermin pada ramsis sebelum adanya renovasi, biaya yang harus dikeluarkan mahasiswa untuk menghuni ramsis sangat jauh berbeda. Sekitar tahun 2004 hingga 2006, mahasiswa hanya dibebankan 50 ribu hingga 75 ribu rupiah perbulan untuk satu orang mahasiswa. Dan itupun setiap kamar dihuni per orang. Biaya tersebut sudah termasuk biaya listrik apabila kita memasukkan perlengkapan lainnya.

Dari segi fasilitas penunjang, ramsis sebelum renovasi tidak berbeda jauh dengan ramsis pasca renovasi. Hanya saja sekarang fasilitas yang disediakan semuanya baru. Misalnya saja tempat tidur yang dilengkapi kasur dan bantal, lemari, serta meja belajar.

Jadi, tarif yang diterapkan pihak Pengelola Ramsis Unhas sekarang ini tidak punya dasar yang rasional. Padahal salah satu fungsi asrama mahasiswa selain menampung mahasiswa dari luar daerah juga membantu mahasiswa yang kesulitan keuangan. “Jangan jadikan aset universitas sebagai lahan mengeruk keuntungan tanpa mempertimbangkan secara matang kondisi mahasiswa,” keluh Topan diakhir wawancara. (Kri/Hry)









Tags:

About author

Penerbitan Kampus identitas Unhas.

1 komentar

  1. Anonymous
    6:37 PM

    test

Leave a Reply

silahkan isi komentar anda.
sebelum isi komentar anda harus daftar terlebih dahulu di sini