Perpustakaan Unhas Rambah Digital

Tak perlu repot cari bahan kuliah dengan bertumpuk-tumpuk buku. Atau sibuk cari referensi tesis dan jurnal. Sebab Unhas telah memberi kemudahan dengan sistem digital elektronik.

Sejak tahun 2004, pengunjung di perpustakaan pusat Unhas telah dimanjakan sistem penelusuran buku menggunakan komputer. Layanan dari konvensional ke digital. Ini memberikan kemudahan dalam mengakses buku yang jumlahnya ribuan.
Tapi saat itu, penggunaannya belum maksimal karena masih terdapat ketidaksesuaian data. Sehingga pengunjung cenderung mencari buku secara manual. Selain itu, komputer yang tersedia bagi pengunjung cuma tiga.
Hingga tahun ini, fasilitas yang dikenal dengan Online Public Acces Catalog (OPAC), Unhas mengusahakan penyempurnaan datanya. Meski masih sering ditemui ketidaksesuaian data, seperti lokasi buku, ketidaksesuaian itu sudah diminimalisir. Bahkan sudah ada penambahan katalog komputer.
Saat ini, di sekitar pintu masuk perpustakaan terdapat empat komputer yang dapat digunakan mengakses. Dan di ruangan-ruangan khusus juga disediakan katalog komputer.
Menurut Kepala UPT Perpustakaan Dr Noer Jihad Saleh MA, rencananya akan ada 12 unit katalog komputer yang ditempatkan di berbagai tempat. “Satu unit komputer akan dipasang untuk katalog di gedung rektorat apabila telah mendapat persetujuan pihak rektorat,” ujarnya.
Demi mewujudkan misi menjadi “World Class University”, Unhas telah melakukan banyak renovasi gedung termasuk perpustakaan. Selain penyempurnaan OPAC, ruangan perpustakaan benar-benar telah ‘disulap’. Mulai pintu masuk yang dari kayu menjadi pintu kaca. Hingga dinding yang kusam menjadi putih terang.
Tampaknya, pihak Unhas serius membenahi perpustakaannya untuk mewujudkan misinya. Mengubah image perpustakaan konvensional menjadi digital library.
Dalam perkembangannya, kini, layanan perpustakaan tak harus diakses di gedung perpustakaan. E-journal misalnya, bisa diakses lewat areal hotspot Unhas. Untuk menggunakannya, informasinya bisa diperoleh dari staf perpustakaan. Selain bisa diakses dalam areal hotspot Unhas, perpustakaan pun sudah menyiapkan ruangan yang berisi sekira 60 unit komputer untuk mengakses layanan jurnal itu.
Ruangan yang diberi nama Ruang Layanan Elektronik Jurnal itu diawasi staf. Karena dikhawatirkan fasilitas itu dapat disalahgunakan pengunjung. “Jangan sampai mereka (pengunjung, red) datang ke sini hanya untuk membuka facebook atau situs porno,” ujar La Tommeng, Pegawai Perpustakaan.
Hadirnya e-journal menjadi signal tambahan perubahan citra itu. Pasca renovasi, pertengahan Juni ini mulai didatangkan rak-rak buku yang baru. Dan dalam waktu yang hampir bersamaan, di Unhas, juga diselenggarakan pelatihan terkait jurnal elektronik (e-journal) oleh Dikti. Ini menjadi tindak lanjut atas pembelian dua database jurnal elektronik, Oktober tahun lalu. Dengan fasilitas itu, tak usah repot-repot mencari jurnal yang menumpuk.
Menurut Noer Jihad, fasilitas itu (e-journal, red) sengaja disediakan untuk meningkatkan mutu pelayanan perpustakaan. “Selain karena tuntutan institusi, Jurnal Elektronik juga disediakan sebagai salah satu syarat untuk menuju World Class University,” tutur Noer (baca: identitas akhir Mei 2009).
Kecanggihan lain yang diusahakan Unhas untuk perpustakaannya, yakni penyetoran tugas akhir dalam bentuk hard copy dan soft copy. Sayangnya itu baru berlaku bagi mahasiswa pasca sarjana, sedang mahasiswa strata satu (S1) belum diterapkan. Padahal soft copy yang disimpan dalam keping CD, lebih hemat tempat dan bebas ngengat.
Penyetoran tesis masih disertai hard copy-nya, melihat antusias yang menggandrungi hard copy tesis masih lebih banyak. Sedang untuk layanan soft copy tesis, tengah disiapkan lima unit komputer dan 7 ribu keping CD.
Dimana satu keping CD bisa terdapat sepuluh judul tesis. Jadi, bayangkan jika 7 ribu keping CD itu masing-masing sudah berisi sepuluh tesis! Berarti sudah ada tambahan 70 ribu jilid tesis. Untuk mendapatkan judul tesis yang diinginkan, dapat dicari dalam katalog.
Lalu untuk keamanan hasil karya berupa tesis itu, filenya dikunci sehingga kalimat dan datanya tak bisa di-copy-paste. Pengunjung juga tidak diperkenankan membawa flashdisk untuk menduplikat file tesis tersebut.
Dan terkait belum diterapkannya penyetoran soft copy skripsi bagi S1, Noer Jihad hanya dapat berkata, “staf perpustakaan hanya menerima hasilnya saja. Bukan kami yang menentukan bentuk penyetoran tugas akhir mahasiswa S1. Lagi pula, belum ada keputusan dari PR I.”
M10, M11/Ayh

Tags:

About author

Penerbitan Kampus identitas Unhas.

0 komentar

Leave a Reply

silahkan isi komentar anda.
sebelum isi komentar anda harus daftar terlebih dahulu di sini