Meski anggaran praktik lapangan telah dianggarkan, tapi mahasiswa di lingkungan eksak masih harus merogoh kocek pribadi.
Praktik lapang, begitulah mahasiswa eksak menyebutnya. Bagi sebagian mereka yang memprogram mata kuliah tertentu, diharuskan mengikuti praktik lapangan. Tapi melakukan studi lapangan seperti itu tentu memakan biaya selain biaya bahan praktik semisal biaya transportasi, konsumsi dan akomodasi. Namun anggaran praktik lapang yang sedianya untuk para mahasiswa praktikan, tak sepenuhnya diberikan oleh setiap jurusan. Akibatnya, mahasiswa yang melakukan praktik lapangan di luar masih harus menggunakan uang pribadi, yang jumlahnya tidak sedikit. Tak urung hal ini kerap memberatkan mahasiswa bersangkutan
Nisar Sahran misalnya, mahasiswa Jurusan Sosial Ekonomi (Sosek) Fakultas Pertanian (Fapert) mengakui hal itu. Mahasiswa yang menjabat ketua Himpunan Mahasiswa Peminat Sosek Pertanian (Misekta) ini mengatakan praktik lapangan diwajibkan bagi setiap mahasiswa tapi memakan ongkos yang besar. “Kucuran dana dari jurusan hanya diperuntukkan untuk dosen saja, istilahnya Surat Perintah Perjalanan Dosen (SPPD), sementara mahasiswa tidak,” katanya. Nisar menambahkan mata kuliah yang memprogramkan praktik lapang jumlahnya tak sedikit dan jarang ada yang diintegrasikan dalam satu lokasi, sehingga harus menyediakan dana berkali-kali.
Menanggapi adanya keberatan yang dihadapi mahasiswa soal biaya praktik lapang itu, Ketua Jurusan Sosek Fapert, Dr Ir Muslim Salam MEc mengatakan biaya praktik lapangan memang dibebankan pada mahasiswa. Meski di Sosek sendiri mendapat dana senilai Rp 200 juta tapi anggaran itu menurutnya tak cukup untuk membiayai praktik lapangan mahasiswa Sosek yang berjumlah tiga ratus orang. “Banyak hal yang lebih penting untuk dianggarkan, misalnya infrastruktur, gaji honorer pegawai, wireless, penambahan LCD, computer dan semacamnya lebih penting dan dibutuhkan oleh mahasiswa,” jelasnya. Ia menambahkan untuk praktik lapangan pihak jurusan hanya menanggung dosen dengan SPPD.
Senada dengan Muslim, Ketua Jurusan Sosek Peternakan, Ir Aminawar mengungkapkan masalah anggaran praktik setiap mata kuliah masih minim. Pasalnya, di jurusan yang dibawahinya, penyediaan biaya tidak hanya untuk anggaran praktik lapangan tapi praktik laboratorium juga membutuhkan dana. “Jujur saja, untuk mata kuliah yang saya pegang anggarannya Rp 590 ribu per semester dengan rincian Rp 1500 tiap mahasiswa tapi anggaran ini hanya diberikan pada dosen yang bersangkutan untuk keperluan perbanyakan kuesioner, transportasi dan lain-lain di lokasi praktik lapangan,” jelas Aminawar
Adanya biaya yang dibebankan pada mahasiswa yang mengikuti praktik lapangan tersebut, dengan alasan kurangnya kucuran dana, perlu dipertanyakan. Hal itu diungkapkan oleh Awal Maulana. Mahasiswa Jurusan Agronomi Pertanian tersebut menganggap alasan minimnya anggaran dan sejenisnya sebenarnya tidak memuaskan. Maulana merasa masih sulit menerima alasan seperti itu lantaran mahasiswa eksak telah membayar uang SPP lebih mahal dari noneksak. ”Kita mahasiswa eksak, membayar SPP lebih mahal. Selisihnya Rp 150 ribu dari noneksak,” katanya. Maulana juga menyayangkan proses peminjaman bus Unhas yang sangat rumit dan lama sehingga menyulitkannya untuk memanfaatkan bus Unhas sebagai media transportasi praktik lapangan. “Walaupun agak mahal, kita lebih memilih menyewa mobil lain karena praktik lapangan tak mungkin ditunda untuk menunggu bus Unhas yang agak lama diurus sana-sini,” ungkap mahasiswa angkatan 2006 itu..
Soal penggunaan anggaran praktikum itu, Pembantu Dekan II Peternakan mengatakan, diserahkan pada jurusan masing-masing. Pihak fakultas hanya mendistribusikan dananya dan jurusan sendiri yang menentukan penggunaannya sesuai dengan kebutuhan dan kondisi yang ada di jurusan tersebut.
Meskipun di sejumlah jurusan, mahasiswa merasa sangat terbebani dengan biaya praktik lapang, tapi di Jurusan Ilmu Tanah, tidak demikian. Barangkali itu karena ada langkah taktis dari dosen mata kuliah terkait untuk meminimalisir ongkos yang akan digunakan mahasiswa dalam studi lapang di luar kampus. Fitrah Irawan contohnya, mahasiswa Ilmu Tanah ini menilai praktik lapangan di jurusannya tak terlalu memberatkan mahasiswa dari segi keuangan. Ia mengatakan sejumlah dosen berinisiatif menyelenggarakan praktik lapangan secara terpadu untuk beberapa mata kuliah, sehingga tidak berkali-kali mengadakan praktik lapang dengan tempat yang berbeda. “Misalnya belum lama ini kami melakukan praktik lapang di Malino, hanya mengeluarkan biaya lima puluh ribu rupiah,“ ujar Presiden Himpunan Mahasiswa Ilmu Tanah itu.
BALADA SEORANG KAMILAN
1 minute ago


0 comments:
Post a Comment