Warna-Warni Kemeriahan Maudu’ Lompoa

Masyarakat Desa Cikoang Laikang Kabupaten Takalar memiliki tradisi tersendiri dalam merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW. Perpaduan unsur budaya dan ritual keagamaan menyatu dalam tradisi Maudu’ Lompoa tersebut.


Ratusan masyarakat terlihat berbondong-bondong menuju Sungai Cikoang, Kamis (26/3). Rombongan arak-arakan perahu juga terlihat ramai di sekitarnya. Perahu itu dihiasi lembaran-lembaran kain khas Sulawesi seperti sarung, seprai, pakaian, dan mukena. Perpaduan yang terlihat sangat unik dan penuh warna.
Setiap perahu berisi beberapa bakul beras, nasi pamatara (setengah matang) dan lauk yang menunya didominasi ayam kampung dan telur warna-warni yang penuh hiasan bunga kertas dan male. Male adalah guntingan kertas minyak yang menyerupai tubuh manusia. Setiap perahu adalah milik satu keluarga.
Hari itu merupakan puncak perayaan Maudu’ Lompoa (Maulid Besar). Ini adalah perayaan termegah yang diselenggarakan oleh Keluarga Besar Kerukunan Masyarakat Cikoang setiap tahunnya. Tradisi ini dilakukan sebagai wujud kecintaan masyarakat kepada Nabi Muhammad SAW.
Acara puncak dimulai pada pukul 09.00 WITA di panggung utama tempat masyarakat sering melaksanakan ritual adat mereka, dengan sajian tari-tarian diantaranya adalah tari Pakarena. Bersamaan dengan itu arak-arakan dibawa ke tepi sungai, dan diletakkan berjajaran. Terlihat ada ratusan perahu, mulai dari yang terkecil hingga yang terbesar. Konon, besar atau kecilnya ukuran perahu serta banyaknya isi dan hiasan di dalamnya menandakan tingkat kekuasaan atau kekayaan keluarga pemilik perahu.
Masyarakat terlihat semakin menikmati acara. Deru gendang yang diiringi syair berbahasa Makassar juga turut menambah kemeriahan. Orang-orang mulai saling menyiram dan mencebur ke dalam sungai. Menurut mereka, itu adalah wujud keakraban dan kekeluargaan.
Selanjutnya acara diisi dengan lomba dayung. Di saat yang sama, masyarakat juga mulai memperebutkan isi perahu. Rupanya sebelum puncak acara ini, isi perahu disakralkan dan tak boleh disentuh. Barulah pada hari puncaknya, isi perahu dibagi-bagikan ke masyarakat.
Meski berlangsung meriah dan megah, prosesi Maudu’ Lompoa rupanya membutuhkan persiapan yang memakan waktu cukup lama. Misalnya saja ayam kampung yang digunakan untuk maudu’, sebelumnya harus dikurung 40 hari di tempat bersih dan diberi makanan yang baik. Sementara itu, masyarakat mulai melakukan prosesi anganang baku, yaitu membuat bakul sesaji dari daun lontar. Kemudian mereka menjemur padi dalam lingkaran pagar yang dilanjutkan a’dengka ase, yaitu menumbuk padi dengan lesung. Setelah itu warga mengupas kelapa utuh yang ditanam sendiri (ammisa’ kalulu).
Dua hari sebelum puncaknya, mereka melakukan acara potong ayam dan menghias telur. Para ibu rumah tangga dibantu anak-anaknya mulai memasak beras setengah matang, ayam goreng dan aneka kue tradisional dengan menggunakan kayu bakar.
Menurut masyarakat setempat, pada dasarnya tradisi Maudu’ Lompoa lebih menonjolkan unsur budaya daripada ritual agama. Ini terlihat dengan rangkaian acaranya. Namun bagi basyarakat Cikoang, tradisi ini sangat pantang untuk dilewatkan. Demi mengikuti acara besar ini, mereka rela menghabiskan biaya yang tidak sedikit.
Sukmawati

Tags:

About author

Penerbitan Kampus identitas Unhas.

0 komentar

Leave a Reply

silahkan isi komentar anda.
sebelum isi komentar anda harus daftar terlebih dahulu di sini