Sivitas akademika bisa lega. Unhas ketiban alat penjernih air dari Menkes.Dengan alat itu, sivitas akademika bisa memperoleh air minum bersih secara cuma-cuma.
Di sebuah bangunan berukuran sekitar 4 X 4 meter, di samping gedung rektorat, tampak seorang lelaki sedang sibuk mengisi sejumlah galon air minum. Dengan lincah, satu per satu galon tersebut ia isi sampai penuh secara bergantian. Tak jauh dari situ, beberapa Satuan Pengaman (Satpam) tengah mengamati pekerjaanya. Sesekali terdengar ucapan senda gurau diantara mereka. Setelah semua galon penuh, lelaki itu keluar dari bangunan kecil tersebut. Anwar, lelaki itu, baru saja melayani pegawai yang mau mengisi air galon, Rabu (13/05). Menurut Anwar, mesin penjernih air yang tersedia di samping kantor rektorat ini, sudah dapat dimanfaatkan untuk mengisi air minum. Akan tetapi, masih banyak orang yang belum mengetahui hal itu. Jadi masih kurang juga yang menggunakannya.
Meski begitu, mesin water purifier yang diperoleh langsung dari Menteri Kesehatan itu, akan diperuntukkan kepada seluruh sivitas akademika Unhas. Tapi, untuk bisa mengambil air minum bersih dari hasil penyulingan mesin itu, harus memperoleh izin dari bagian rumah tangga Unhas atau surat rekomendasi dari fakultas. Hal ini disampaikan oleh Drs Haeruddin, Kepala Subbagian (Kasubag) Rumah Tangga Unhas. “Untuk fakultas, harus ada rekomendasi dari kepala tata usaha atau Kasubag perlengkapan fakultas bahwa air ini dipergunakan oleh fakultas,” paparnya
Sementara itu, bagi mahasiswa yang berasal dari Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) fakultas, dapat mengambil air dengan menunjukkan keterangan dari bagian kemahasiswaan fakultas. Dan untuk mahasiswa yang dari Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Unhas, bisa langsung melapor ke bagian rumah tangga. “Ini dilakukan karena ditakutkan nanti akan dipakai yang tidak-tidak, misalnya diperjualbelikan, padahal kan gratis. Jadi cukup melapor saja bahwa ada UKM disini, kemudian membawa galon,” jelas Haeruddin.
Haeruddin menambahkan, saat ini ia belum menyurat ke semua fakultas soal pemanfaatan mesin water purifier itu, mengingat upaya pengoperasiannya belum begitu maksimal. Tapi, pihaknya dalam waktu dekat akan menyurat ke fakultas dan UKM untuk menggunakannya secara maksimal. “Kita mau melihat dulu perkembangannya, berapa galon dari fakultas yang bisa dipenuhi. Kalau memang tidak mampu nanti kita atur waktunya,” ujarnya.
Hijral Aswad, mahasiswa fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) angkatan 2005 mengatakan sangat mendukung dengan keberadaan alat ini tapi sosialisasinya masih kurang. Informasi seperti ini harusnya disebar agar diketahui sivitas akademika Unhas. “Kurangnya sosialisasi membuat saya pribadi dan teman-teman yang lain baru mengetahui informasi tersebut, jadi harusnya disosialisasikan secara merata diseluruh area Unhas, dengan memajang informasi berupa pamflet,” harap mahasiswi jurusan biologi ini
Mesin penjernih itu nantinya diharapkan dapat memenuhi kebutuhan air minum di Unhas. Dalam satu jam misalnya, mesin tersebut dapat menghasilkan seribu liter air bersih. Menurut Anwar, teknisi water purifier, air hasil olahan mesin itu lebih bagus daripada air galon yang kerap dijajakan di depot air bersih. “Malah menurut teknisi dari Depkes, yang memasang alat ini, air olahannya lebih bagus dari air aqua,” kata Anwar. Hanya saja, hal itu belum terbukti benar. Pihak Unhas sendiri belum melakukan penelitian tentang kemurnian air hasil olahan mesin tersebut. Meski saat ini sebagian karyawan rektorat telah mengkonsumsinya.
Selain itu, yang jadi soal dari mesin tersebut adalah limbah hasil olahannya. Air yang bisa diolah sebanyak empat ribu liter akan menghasilkan kotoran atau limbah sebanyak dua ribu liter. Limbah ini nantinya disimpan dalam satu bak penyimpanan, atau langsung dialirkan ketempat sekitarnya. “ Saya kira sisa air itu tidak berbahaya, kita bisa langsung menyiram tanaman atau mencuci kendaraan dengan air buangan itu,” kata Anwar.
Ironisnya, seluk beluk kehadiran mesin water purifier itu tak banyak yang tahu. Sejumlah pegawai teras yang langsung mengurusi alat itu, tak tahu menahu latar belakang pemberian alat tersebut. Drs Halim Doko Msi misalnya, selaku Kepala Biro Umum Unhas. Halim. Halim mengatakan belum mengetahui bagaimana awalnya sehingga ada bantuan ini. Kemungkinan besar rektor sendiri yang bicara langsung dengan menteri kesehatan soal ini. “Saya juga cuma menerima, karena tiba-tiba ada, ya kita fasilitasi,” ungkapnya. (M08,ASR/Dyt)
Popular Posts
- PENERIMAAN MAHASISWA JALUR UNDANGAN
- Pendaftaran SNMPTN 10-31 Mei 2012
- PK identitas Membuka Pemagangan
- Pemanfaatan Angin dan Air sebagai Sumber Energi Alternatif
- Japanvaganza, Japanese Culture Festival
- Jalur Masuk Unhas 2011/2012
- BNI adakan Kerjasama dengan Unhas
- Mursyida (Dilla) Dai Muda Pilihan ANTV
- Setetes Darah Untuk Generasi Muda
- 8 Mahasiswa Unhas Ikut Kompetisi di Harvard University
0 komentar