<body><iframe src="http://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID=35470829&amp;blogName=KABAR+DARI+KAMPUS+UNHAS&amp;publishMode=PUBLISH_MODE_FTP&amp;navbarType=BLUE&amp;layoutType=CLASSIC&amp;homepageUrl=http%3A%2F%2Fwww.identitasonline.net%2F&amp;searchRoot=http%3A%2F%2Fblogsearch.google.com%2F" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no" frameborder="0" height="30px" width="100%" id="navbar-iframe" title="Blogger Navigation and Search"></iframe> <div id="space-for-ie"></div>
SELAMAT DATANG DI SURAT KABAR KAMPUS UNHAS
Photo Sharing and Video Hosting at PhotobucketPhoto Sharing and Video Hosting at Photobucket

Thursday, April 03, 2008

No 679/TahunXXXIV/Akhir Februari 2008

Lembaran Hilang di Buku Panduan

Buku Pedoman Unhas 2006 berganti nama menjadi Buku Panduan. Bukan hanya itu, bukunya pun semakin tipis.



Rosoani Amir diam-diam merasa heran. Saat hendak mencari beberapa informasi di Buku Panduan, mahasiswi Fakultas Kedokteran 2007 itu tak menemukan daftar silabus matakuliah yang akan diprogramkannya pada semester ini. Ia semakin merasa aneh, karena setelah membandingkan dengan Buku Pedoman Unhas 2004 milik kakaknya, ‘kitab suci’ mahasiswa Unhas kepunyaannya itu ternyata lebih tipis.
Buku panduan hanya memiliki 170 halaman, sementara Buku Pedoman sebanyak 334 halaman. Lembaran kurikulum akademik di semua fakultaslah yang raib. Selain itu, semua informasinya tidak berubah dari beberapa tahun terakhir. Meski ada tambahan, seperti kalender akademik.
Tentunya bagi Rosoani, hal itu tidak adil. Apalagi, sebagai mahasiswa baru, seharusnya informasi yang diterima oleh angkatan sebelumnya sama bagi angkatan terbaru. Tidak ada yang perlu dikurangi. Padahal ia mengaku, baginya buku panduan itu sangatlah membantu dalam memahami Unhas dan juga spesifik ilmunya.
Rosoani mungkin satu di antara ribuan mahasiswa baru yang merasa kebingungan saat mencari informasi mengenai fakultasnya di buku panduan. Serasa hambar bila tak ada cantuman matakuliah selama delapan semester wajib pada Buku itu.
Mengenai hal ini, Sekertaris Tim Penyusun Buku Panduan Unhas 2007, H Massapeary SH MH menjelaskan, hal tersebut sudah dibahas dalam rapat penyusunan Buku Panduan Unhas. Tidak adanya informasi mengenai kurikulum di setiap fakultas dikarenakan adanya penyempurnaan kurikulum berbasis kompetensi dengan menerapkan sistem learning yang sementara ini digarap. Sehingga penghilangan 150 halaman itu akan lebih mengefisienkan. Meskipun isinya berkurang, namun Massapeary menganggap, itu tidak akan menghilangkan substansi yang ada pada buku tersebut.
Penggarapan kurikulum ini masih sementara berlangsung. Tengat waktunya selesainya pun belum dipastikan kapan. Karena untuk mengubah kurikulum lama menjadi kurikulum baru pastinya bukan pekerjaan mudah.
Menurut Prof Dr Dadang A Suriamiharja Pembantu Rekor Bidang Akademik, Kurikulum sebelumnya masih menggunakan kurikulum lama, makanya alangkah tidak baiknya mencantumkan kurikulum lama sedangkan kita sementara ingin menerapkan kurikulum baru.
Saat ini Unhas tengah menggarap kurikulum yang berbasis kompetensi. Dalam masa transisi untuk beralih ke kurikulum baru berbasis kompetensi, maka menurut Dadang, untuk mahasiswa angkatan 2007 kurikulumnya akan dilimpahkan di masing-masing fakultas. Ketika kurikulum yang baru sudah disusun, maka harus segera dimuat kembali. Namun untuk mencantumkan semua kurikulum di setiap program studi masih akan dipikirkan dan dipertimbangkan kembali.
”Jangan sampai kita melakukan pemborosan terutama pemborosan biaya. Memang perlu untuk informasi untuk masing-masing kurikulum program studi, namun kepentingannya untuk mahasiswa yang berbeda fakultas tidak terlalu signifikan.”Ungkap Dadang.
Penghilangan ratusan halaman ini pastinya turut mengurangi penggunaan anggaran percetakan. Hal ini diakui pula oleh Dadang. Karena sumber dana Buku Panduan berasal dari iuran awal Mahasiswa baru yang tidak tidak jauh berbeda dari tahun kemarin. Kelebihan dana percetakan tersebut menurut salah satu Guru Besar Mipa itu akan bisa dialokasikan ke bidang lain. Misalnya untuk mendukung dana BSS, seperti pelatihan hingga terselenggarakannya BSS. Atau PMB, yang penyelenggaraannya membutuhkan dana lebih besar.
Dari data yang diperoleh dari Kepala Bagian Perlengkapan Unhas, anggaran Buku Panduan Unhas untuk tahun 2007 sebesar Rp 69.500.000. Dengan jumlah oplah lima ribu eksamplar, dan biaya pereksamplarnya yakni senilai Rp 13.900.
Sebagai orang yang wama mengenai percetakan, Ahmad K Kepala Bagian Umum Percetakan Sulawesi melihat buku panduan itu termasuk murah. Apalagi melihat kualitas dari cetaknya yang ia yakin tidak berasal dari percetakan manapun di Makassar.
Meskipun demikian, ajang penggrapan kurikulum itu membuat mahasiswa baru 2007 merasa dianaktirikan. Meskipun niat penghilangan lembaran ini baik, tetap saja ada yang menjadi korban. Ita/Mch







Selanjutnya!