<body><iframe src="http://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID=35470829&amp;blogName=KABAR+DARI+KAMPUS+UNHAS&amp;publishMode=PUBLISH_MODE_FTP&amp;navbarType=BLUE&amp;layoutType=CLASSIC&amp;homepageUrl=http%3A%2F%2Fwww.identitasonline.net%2F&amp;searchRoot=http%3A%2F%2Fblogsearch.google.com%2F" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no" frameborder="0" height="30px" width="100%" id="navbar-iframe" title="Blogger Navigation and Search"></iframe> <div id="space-for-ie"></div>
SELAMAT DATANG DI SURAT KABAR KAMPUS UNHAS
Photo Sharing and Video Hosting at PhotobucketPhoto Sharing and Video Hosting at Photobucket

Monday, March 03, 2008

Masih Menjadi ‘Ayam Jantan’ dari Timur

Meski sempat memendam kekecewaan lewat pemeringkatan yang diberikan Dikti. Unhas kembali naik peringkat lewat majalah Globe Asia.


Sering baca koran atau buka website Unhas? Kalau sering, mungkin sivitas akademika sudah tahu jika Unhas menjadi urutan ke-7 dalam sepuluh PTN terbaik di Indonesia versi Globe Asia. Padahal Agutus lalu, Unhas tidak masuk 50 besar universitas terbaik Indonesia versi Dikti karena kesalahan pengiriman data. Namun, pemeringkatan Globe Asia menunjukkan kemajuan terhadap salah satu misi yang dicanangkan Rektor Unhas saat ini, yakni untuk mencapai world class.
Globe Asia edisi perdana yang menempatkan Unhas pada urutan ke-7, cukup memberi kesan positif bagi Rektor Unhas. “Ini merupakan sebuah prestasi yang patut dibanggakan. Globe Asia menilai apa yang ada di Unhas. Indikator yang dapat ditarik adalah banyak persyaratan menuju world class dan Unhas sudah memiliki hal tersebut,” ungkap Prof Idrus Paturusi. Senada dengan Idrus, Pembantu Rektor Bidang Kerjasama Dr Dwia Aries Tina menilai bahwa masuknya Unhas di urutan ke-7 patut disyukuri. Dan ini merupakan tantangan bagi Unhas agar dapat lebih maju lagi, tambahnya.
Mengutip dari tempointeraktif.com, publisher majalah bisnis berbahasa Inggris ini adalah seseorang yang cukup dikenal di Sulawesi Selatan yaitu Tanri Abeng. Dan target distribusi Globe Asia adalah negara-negara Asia. “Globe Asia akan menjadi sumber informasi bagi pelaku bisnis Indonesia untuk negara Asia,” ujar Tanri Abeng pada tempointeraktif.com di Jakarta, 22 Januari lalu.
Tak ada peninjauan langsung. Seperti Dikti ataupun Webbo Matrik, pun proses penilaian yang dilakukan Globe Asia, hanya menghimpun data yang diperoleh melalui website ataupun berkutat pada informasi hasil riset. Sebagaimana diakui Rektor ataupun PR IV bahwa selama ini tidak ada konfirmasi oleh Globe Asia. Bedanya, penilaian majalah ini mengedepankan infrastruktur kampus. Pun memasukkan Fakultas Kedokteran (FK) dan Fakultas Hukum (FH) dalam kriteria penilaian. Kriteria untuk kualitas seperti ratio/ perbandingan mahasiswa/ pengajar atau jumlah mahasiswa asing serta ditambah riset dan jurnal, hanya dibobot 16 persen. Dan untuk 16 persen itu, Unhas memperoleh poin yang rendah. Sedang untuk kuantitas, kapasitas serta kualitas kediaman dan asrama kampus, Unhas menduduki posisi ke-2, di bawah Institut Teknologi Surabaya (ITS).
Poin maksimal untuk semua kriteria baik fasilitas dan kualitas adalah 440. Sedang poin 259 yang diperoleh Universitas Hasanuddin, membawanya berada di bawah Universitas Indonesia, Universitas Gajah Mada, Institut Teknologi Bandung , Institut Pertanian Bogor, Universitas Padjajaran, dan Universitas Airlangga. Dan dari sepuluh PTN itu, hanya Unhas yang berasal dari kawasan Indonesia Timur. Sebagai PTN favorit di Indonesia Timur. Maka, wajarlah jika nama ‘ayam jantan’ disandang Unhas.
Pemberitaan ini membawa angin segar untuk Unhas khususnya dalam bidang kerja sama. Menurut Dwia, dengan ini mitra Unhas akan lebih aktraktif untuk menjalin kerjasama sebab Unhas mempunyai kualifikasi yang baik. Pendapat serupa dilontarkan oleh Dekan Fakultas Hukum Prof Dr H Syamsul Bachri. Menurutnya peluang kerja sama di Unhas akan terbuka lebar. Dan hal ini dapat menguntungkan kedua belah pihak baik Unhas maupun stockholder (pemegang saham, red) yang ikut di dalamnya.
Unhas juga melihat peluang pasar yang bisa ditimbulkan dari pemberitaan Globe Asia. Dwia berpendapat bahwa saat ini saja, Unhas sudah menjadi pilihan utama untuk kawasan Indonesia Timur. Tanpa pemberian peringkat itupun, Unhas sudah kewalahan menampung minat mahasiswa yang sangat tinggi. Namun, Dwia memiliki harapan besar, bahwa adanya pemberitaan ini maka minat pasar akan semakin bertambah. Sehingga Unhas dapat menjadi pilihan Universitas favorit di Indonesia dan bersaing di luar negeri.
Kritikan dari ITS
Mengutip posting-an dari sebuah blog, Rektor ITS Prof Probo justru merasa aneh terhadap pemberian peringkat yang dilakukan Globe Asia. Meski ITS menduduki peringkat ke-8 Top 10 Public Universities (PTN), Probo mengeritik majalah tersebut lewat sebuah posting internet, Senin (11/02). Keanehan itu melihat naiknya Universitas Pelita Harapan (UPH) dengan poin 356 mengalahkan beberapa PTS terkemuka di Indonesia seperti Trisakti (263) dan Atmajaya (243). Selain itu, poin yang diperoleh UPH hanya berada satu tingkat di bawah UI (366) mengalahkan PTN favorit seperti UGM (338), ITB (296), IPB (283), Unpad (282), Unair (279), Unhas (259) ataupun ITS (258).
Webbo Rank periode Juli 2007, memasukkan UGM dan ITB dalam ranking ke-12 dan ke-13 se-Asia Tenggara. Bahkan Universitas Petra yang oleh Globe Asia menduduki posisi terakhir Top 10 Private Universities (PTS), namun oleh Webbo Rank ditempatkan dalam ranking 49 se-Asia Tenggara. Tak ada kelas ranking untuk UPH, padahal Webbo Rank adalah sistem pemeringkatan dunia yang dianggap paling sederhana. Keanehan lain misalnya memberi bobot yang sangat tinggi bagi fasilitas kampus dan bukan kualitas. Selain itu, masuknya FK dan FH dalam penilaian, merugikan posisi seperti institusi pertanian atau teknologi yang memang tidak memiliki fakultas tersebut.
UPH dan Globe Asia yang ada dalam naungan satu grup, yakni Grup Lippo, dianggap telah melakukan kebohongan publik. Utamanya bagi orangtua dan eksekutif sebagai target pasar. Bagi Probo, ini adalah fenomena dimana pendidikan, khususnya pendidikan tinggi, dijadikan komoditas untuk menaikkan status sosial pemilik untuk meraup keuntungan besar. Dalam posting-an itu, ditulis bahwa di tangan pesulap bisnis, maka pendidikan dikelola dengan kesan gaya hidup, bukan cerminan gaya kualitas.
Sri/ Ayh




Selanjutnya!

Berbenah Menuju Sistem Multimedia

Unhas akan menerapkan suatu sistem yang dinamakan Sistem Informasi Manajemen. Realisasinya tengah berjalan tetapi belum disosialisasikan ke mahasiswa.


Minggu kedua Januari lalu, di lantai dasar perpustakaan pusat, samping ruangan Bimbingan dan Konseling, tepatnya di ruangan P3KI, dipadati 40 lebih pegawai administrasi. Dalam rangka mempersiapkan Unhas menjadi universitas terpadu berbasis multimedia, sekarang ini tengah diupayakan pembangunan, pengembangan dan penerapan sistem informasi yang nantinya akan menggeser proses input data secara manual menjadi otomatisasi. Tiap-tiap fakultas mengirimkan tiga orang perwakilan untuk pengenalan sistem baru tersebut.
Sistem yang dinamakan Sistem Informasi Manajemen (SIM) ini merupakan program kerjasama Unhas dengan IM-HERE untuk universitas dan INHERENT. Penerapan sistem tersebut dimaksudkan akan mempermudah memperoleh informasi yang diinginkan baik dari universitas maupun tiap-tiap fakultas.
SIM ini sudah pernah dibangun pada tahun 2002 dengan bantuan hibah dari proyek TPSDP. Namun, bantuan ini belum cukup untuk melengkapi sistem tersebut. Proyek ini berjalan kembali sejak ada bantuan dari Bank Dunia (IM-HERE) yang memberikan serta melengkapi sistem yang telah ada sebelumnya. IM-HERE disini bertindak sebagai pelanjut dan pengembang dari program INHERENT sebelumnya.
Kesiapan Unhas menuju universitas berbasis multimedia hingga kini masih dalam tahap pengembangan sistem. Fasilitas jaringan yang tersedia saat ini berupa; koneksi internet simetri (uplink dan downlink) dengan kapasitas 256 Kbps dari rektorat dan beberapa koneksi lainnya yang telah dilanggan oleh berbagai fakultas dan jurusan. Termasuk koneksi downlink sebesar 9 Mbps dari School of Internet (SOI) yang diselenggarakan oleh WADE Japan, serta koneksi tertutup (intranet) untuk Global Development Learning Network (GDLN) dari Bank Dunia.
Fasilitas-fasilitas itu nantinya akan diintegrasikan dengan dana IM-HERE untuk pemanfaatan seluas-luasnya oleh PTN dan PTS. IM-HERE B2A diperuntukkan untuk perbaikan manajemen mutu universitas, sebagai persiapan BHP, yang menggunakan total dana 3,9 Milyar, saat ini sedang dikembangkan oleh masing-masing fakultas.
Diharapkan penerapannya dapat terealisasi dalam waktu dekat. Dekan Teknik Prof Dr Ir H M Saleh Pallu MEng ketika ditemui diruangnya, menyatakan optimis bahwa pada semester awal tahun 2008 nanti, SIM sudah dapat diterapkan di Fakultas Teknik. Lebih lanjut, Saleh menambahkan bahwa upaya yang tengah dilakukan masih sebatas penginputan data yang dilakukan dengan kombinasi antara manual dan otomatis.
Berbeda dengan Saleh, Drs M Hasbih MSc selaku Ketua Divisi Sumber Daya Manusia untuk Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi (PTIK) beranggapan lain. Menurutnya, pengembangan SIM ini telah siap untuk diterapkan. Tinggal menunggu Surat Keputusan (SK) Rektor. “Bulan Februari ini diharapkan SK telah turun, jadi sistem ini sudah bisa diterapkan oleh universitas dan masing-masing fakultas,” ujarnya.
Hasbih menambahkan bahwa dalam penerapan sistem ini, mahasiswa tidak perlu khawatir. Nantinya sistem ini tidak lagi menggunakan jaringan hotspot melainkan dengan menggunakan fiber optic. Ini akan dipasang dari PTIK ke tiap-tiap fakultas. Sehingga tak akan ditemukan kendala untuk mengakses atau meng-input data yang dibutuhkan, meski hampir semua mahasiswa, dalam waktu yang bersamaan, juga mengakses hal yang sama.
Sistem berbasis multimedia ini sangat mendukung kesiapan Unhas menjadi universitas terpadu yang memiliki pencatatan aset yang jelas. “Menjadi universitas terpadu bukanlah suatu hal yang mudah”, ujar PR I Prof Dadang A Suriamiharja. Ia juga berharap agar sistem ini dapat dengan cepat terealisasi sehingga memudahkan perolehan informasi yang dibutuhkan. Meski demikian, Unhas tetap bercita-cita menjadi salah satu universitas terpadu yang sifatnya sehat. Dan pencatatan informasi ke dalam sebuah sistem database menjadi hal terpenting sebagai langkah awal penerapan sistem ini.
Kesiapan Unhas menerapkan SIM boleh jadi sedang menginjak proses akhir. Namun, sebagian besar mahasiswa masih tidak mengetahui sistem baru yang rencananya sudah siap diterapkan ini. Mardiansyah misalnya. “Saya tidak pernah mendengar bila nantinya di Unhas akan diterapkan sebuah sistem informasi baru yang dapat diakses dengan mudah oleh mahasiswa”, ujar mahasiswa FKM angkatan 2007 tersebut. Rizal, mahasiswa Jurusan Ilmu Pemerintahan FISIP angkatan 2005 pun menyatakan hal serupa. Menurutnya, pihak fakultas belum pernah mengadakan sosialisasi dengan sistem ini.
Ini memaksa Hasbi kembali angkat bicara. Menurutnya, sistem ini bukannya tidak ingin disosialisasikan kepada mahasiswa. Akan tetapi, bila sistem telah siap dan SK sudah keluar, barulah proses sosialisasi kepada mahasiswa dilakukan. “Bila sistem belum layak diterapkan dan pengenalannya sudah dilaksanakan ke seluruh mahasiswa maka akan timbul kerancuan. Selain itu, proses penyelesaian sistem ini pun dapat terhambat dan tidak dapat berjalan sesuai harapan”, tandasnya. Hasbih melanjutkan bahwa sosialisasi penerapan sistem ini nantinya diambil alih oleh masing-masing fakultas. Jadi, fakultaslah yang nantinya bertanggung jawab atas sosialisasi sistem baru ini.
Fia/ Ayh
.




Selanjutnya!