<body><iframe src="http://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID=35470829&amp;blogName=KABAR+DARI+KAMPUS+UNHAS&amp;publishMode=PUBLISH_MODE_FTP&amp;navbarType=BLUE&amp;layoutType=CLASSIC&amp;homepageUrl=http%3A%2F%2Fwww.identitasonline.net%2F&amp;searchRoot=http%3A%2F%2Fblogsearch.google.com%2F" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no" frameborder="0" height="30px" width="100%" id="navbar-iframe" title="Blogger Navigation and Search"></iframe> <div id="space-for-ie"></div>
SELAMAT DATANG DI SURAT KABAR KAMPUS UNHAS
Photo Sharing and Video Hosting at PhotobucketPhoto Sharing and Video Hosting at Photobucket

Tuesday, February 26, 2008

Unhas Perang Lagi



Mahasiswa universitas terbesar di Indonesia timur, Universitas Hasanuddin (Unhas), tawuran lagi Selasa (26/2) pukul 14.15 wita. Tawuran ini dipicu oleh pemukulan yang terjadi pada Kamis (14/2) di Balai Prajurit M Jusuf saat mahasiwa Teknik Unhas menggelar malam inaugurasi.













Selanjutnya!

Thursday, February 14, 2008

‘Rantai Karbon’ Menggantung Mahasiswa

Peniadaan semester pendek pada beberapa fakultas menyebabkan keberadaan nilai C tak bisa diulang. FISIP misalnya, mahasiswanya mulai merasakan pengaruh kebijakan itu.

Pelataran Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) siang itu (04/02), tengah diramaikan mahasiswa yang sedang berbincang-bincang. Diantaranya, ada yang sementara membicarakan mata kuliah yang diambilnya pada semester akhir 2007/2008. Dua mahasiswi Jurusan Hubungan Internasional 2005, Nur Amaliyah Mardiyanti dan Suryani, misalnya. Masalah menimpa diri Nur, teman Suryani. Nur cukup terganggu dengan nilai C yang didapatnya. Makanya, Ia mencoba mengulang nilai C-nya itu. Namun, Nur tak menyangka kalau aturan di FISIP tidak dibolehkan mengulang nilai C.
”Hal ini tak hanya dialami Nur saja. Masih ada tujuh teman seangkatannya yang juga mengulang nilai C,” ujar Suryani. Peniadaan semester pendek merupakan pemicu sebagian mahasiswa mengulang nilai C-nya pada semester panjang. Nilai C memang sering menjadi masalah bagi mahasiswa. Terlebih bagi mereka yang memiliki banyak nilai C yang lazim diberi istilah ‘rantai karbon’ oleh mahasiswa. Betapa tidak, nilai C adalah nilai kelulusan tetapi di sisi lain memengaruhi IPK jadi lebih rendah, utamanya mereka yang lekat dengan ‘rantai karbon’.
Sedangkan dalam buku panduan akademik, tertera Surat Ketetapan Rektor Nomor 1067/J04/P/2003 Pasal 30 tentang Pemberian Nilai Hasil Belajar, yang menjelaskan bahwa nilai C pada program Diploma dan Sarjana sebenarnya dapat diulang, dengan ketentuan: (i) telah melulusi sekurang-kurangnya 84 SKS untuk program Diploma III dan 110 SKS untuk program Sarjana dengan IPK<3,00; (ii) diulang pada mata kuliah yang disajikan di Semester Pendek; (iii) hanya diulang satu kali. Berkaitan dengan adanya otonomi fakultas, aturan tersebut boleh jadi melenceng. Bahkan, penyelewengan aturan dilakukan sejumlah mahasiswa karena aturannya menjadi samar-samar.
Otonomi fakultas, misalnya peniadaan semester pendek, menyebabkan beberapa fakultas tak membolehkan pengulangan nilai C. Ini tentunya memberatkan sebagian mahasiswa yang sangat ingin mengulang nilai C. Namun, ada juga fakultas yang memberi kelowongan bagi mahasiswanya untuk mengulang nilai C pada semester panjang. Bisa tidaknya pengulangan nilai C tergantung dengan kebijakan ataupun karakteristik di tiap fakultas. Dua alasan mengapa mahasiswa ingin mengulang nilai C-nya pada semester panjang baik dilakukan sesuai aturan maupun tidak. Pertama, adanya peniadaan semester pendek di fakultasnya. Kedua, tidak semua mata kuliah dapat diprogramkan pada semester pendek karena terkadang sangat tergantung pada jumlah pesertanya.
Sementara itu, Pembantu Dekan Bidang Akademik FISIP Dr Muh Kausar Bailusy MA menjelaskan, bahwa aturan untuk pengulangan nilai C sudah tertutup bagi mahasiswa FISIP. Hal ini mulai diterapkan semenjak kepengurusan Dekan FISIP Dr Deddy T Tikson MSc. Alasannya, nilai itu sudah merupakan nilai kelulusan yang tak perlu diulang lagi. Berkaitan dengan peniadaan semester pendek, menurut Kausar, fakultas memang punya wewenang untuk tidak ikut dengan aturan resmi universitas. Itu dilakukan melalui kesepakatan yang dibangun bersama lewat rapat senat fakultas.
Pertimbangan peniadaan semester pendek di FISIP bahwa kebanyakan mahasiswa, yang seyogianya mengulang nilai pada semester pendek, malah dimanfaatkan untuk mengambil mata kuliah baru yang belum diprogramkan dan menjamin dirinya pasti lulus. “…tapi kebijakan ini dengan kata lain tidak akan membunuh sekitar 600 jumlah mahasiswa FISIP,” ujar Kausar. Tetapi, semester pendek akan tetap dibuka di FISIP bagi mahasiswa yang ingin KKN dan memperbaiki nilai karena terancam Drop Out.
Berbeda dengan adanya pelarangan di FISIP, Fakultas Pertanian (Faperta) lain lagi. Di Faperta, aturan tentang pengulangan nilai C dipertegas lagi dengan menempel aturan itu dalam bentuk lembaran pengumuman. ”Soalnya banyak mahasiswa yang kurang memerhatikan aturan akademik ini, atau mungkin juga disebabkan karena mereka kurang membaca,” tutur PD I Faperta Ir Yunus Musa MSc.
Unhas hapuskan SP
Agenda penyelenggaraan aturan baru baik menyangkut peraturan nilai dan semester pendek (SP) tengah digodok. Ini direncanakan lewat pergeseran proses pembelajaran melalui Rencana Strategis (Renstra) Unhas 2004/2005 yakni perubahan dari Instructional Based Learning menjadi Student Center Learning (SCL).
Pembantu Rektor I Prof Dadang Suriamiharja menanggapi bahwa dalam masa transisi menuju teaching ke learning berdampak kepada model pembelajaran dan aturan yang diterapkan fakultas belum seragam. Maka untuk menyeragamkan aturan akademik, efek dari SCL, SK Rektor tahun 2003 itu sedang dalam penggodokan. Nantinya, aturan dalam panduan akademik sebelumnya akan banyak berubah. Rencananya, tahun 2008 ini hasilnya akan diketahui.
Dadang menyebutkan satu contoh. Terkait diterapkannya SCL, di seluruh fakultas, SP akan dihapuskan. Sebagai pengganti SP nanti akan ada remedial test. Sistem ini hanya memberi pengulangan ujian bagi mahasiswa dan tanpa dipungut biaya. Alasan, remedial test lebih meringankan mahasiswa. Selain itu, IP mahasiswa juga boleh jadi meningkat karena pemberian nilai hasil belajar akan berubah menjadi 4,5 dan 3,5 ataupun nilai minus A serta minus B. Namun, menurut Dadang itu masih dalam perencanaan.
Bagi PD I Peternakan Prof Dr Ismartoyo MAgr, hal tersebut dikatakan sebagai sebuah langkah bagi universitas untuk memberi atmosfir baru bagi akademik Unhas. Dan Ismartoyo berharap, bila aturan itu sudah dibuat, agar secepatnya sistem itu punya pedoman aturan, dan tidak mengambang lagi seperti sekarang.
Tin/ Ayh



Selanjutnya!

FKM Lahirkan Lagi Satu Konsentrasi

Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) membuka konsentrasi baru yaitu Manajemen Rumah Sakit (MARS) untuk Strata Satu (S1). Meski sudah mencapai tahap akhir, nyatanya konsentrasi tersebut belum dibuka awal tahun ini.

“Di rumah sakit, yang harus dibenahi yakni SDM, bagian pengelola yaitu Farmasi atau Logistik, dan pemuasan pelanggan RS,” ujar Kepala Konsentasi MARS Drs Syahrir A Pasinringi saat ditemui Jumat lalu (1/2). Inilah salah satu alasan mengapa MARS akan dibuka bagi program S1 FKM. Selain itu, ada hasil penelitian mengungkapkan bahwa minimal 6 orang dari masing-masing rumah sakit dibutuhkan tenaga ahli pada level menengah  di bidang Manajemen Rumah Sakit. Jadi, diperkirakan sebanyak 1932 jumlah tenaga profesi ini dibutuhkan oleh lebih kurang 322 rumah sakit di seluruh Indonesia.
Berangkat dari semua hal itu, akhirnya pihak FKM mulai merancang suatu wadah yang dapat menghasilkan alumni muda yang mampu mengisi ruang tersebut. Hingga diperkenalkanlah Manajemen Rumah Sakit (MARS). Senada dengan itu, beberapa waktu lalu (sekitar tahun 2001/2002) diterima surat yang berasal dari Jepang. Lebih kurang isinya berarti seperti ini: “...jadi untuk mengelola suatu rumah sakit maka dibutuhkan tenaga yang ahli pada bidangnya.” Inilah yang kemudian menginspirasi sejumlah pengajar di FKM membuat konsentrasi baru yang diberi nama Manajemen Rumah Sakit.
Pun Syahrir menambahkan bahwa Manajemen Rumah Sakit ini dibuka bagi S1 karena kebutuhan lapangan kerja rumah sakit. Beberapa alumni kami -lulusan program Pasca Sarjana yang disebut Magister ARS- yang sekarang bekerja di rumah sakit membutuhkan tenaga ahli alumni S1. Selain itu, Syahrir percaya bahwa Manajemen Rumah Sakit akan diminati kalangan mahasiswa karena mampu bersaing.
PR I Prof Dr Dadang Suriamiharja pun menambahkan, bahwa mendirikan konsentrasi baru di fakultas harus melihat kebutuhan mahasiswa. Apakah konsentrasi ini diminati dan sesuaikah dengan kebutuhan masyarakat. Lewat tekat yang kuat, melalui tahun demi tahun dengan proses yang panjang, pun tak jarang menghadapi kendala, akhirnya membuahkan hasil juga. Jumat, tepatnya 2 November 2006, FKM menerima Surat Keputusan tentang dibukanya konsentrasi baru ini. Tak semudah membalikkan telapak tangan, pun proses yang dilaluinya menghabiskan waktu tiga tahun. Keluarnya SK kemudian disambut hangat para pendiri MARS diantaranya, Prof Dr dr M Alimin Maidin MPH, Dr dr Noer Bahry Noor MSc, Drs Syahrir A Pasinringi MS, Fridawaty Rivai SKM MARS, dr A Indahwaty Sidin, dan M Yusran Amir SKM MPH.
MARS untuk S1 bukanlah termasuk ’barang baru’ di FKM. Sebelumnya, program yang serupa tujuan dengan pembentukan MARS ini telah dibuka pada program Pasca Sarjana (S2) FKM yang sekarang dinamakan Magister Administrasi Rumah Sakit (MARS/Magister ARS). Program Magister ARS telah memiliki alumni sebanyak 101 orang. Sedangkan untuk program D3, rencananya akan dibuka berbarengan program S1 di tahun 2008. Meski kesiapannya sudah mencapai tahap akhir, konsentrasi untuk S1 ini belum dibuka oleh FKM pada tahun ini. Padahal sejauh ini, sosialisasi sudah dilakukan baik media cetak dan online. Informasi dapat dilihat di website resmi Unhas. Ini dilakukan dengan harapan MARS sudah bisa dibuka tahun ini.
Kurangkah peminat MARS ini? Tidak. Konsentrasi untuk S1 dengan syarat memasuki semester 4 itu, ternyata mahasiswa semester akhir angkatan 2006 pada tahun ajaran 2007/2008 banyak yang tertarik. Mereka -yang memasuki semester 4- itu rencananya mengambil pilihan konsentrasi MARS mengawali tahun 2008 ini. Akan tetapi berkasnya harus dikembalikan karena ditunda pembukaannya. “Seandainya MARS sudah dibuka, saya pasti memilihnya. Tetapi, tahun ini belum dibuka,” sesal Farida, mahasiswa FKM angkatan 2006. Bahkan, beberapa waktu lalu, sekitar 60 pelajar dari Irian Jaya dan 20 pelajar asal Maluku mengirimkan daftar nama yang akan mendaftar program khusus MARS. “Karena belum buka, maka semuanya dibatalkan,” tambah Syahrir.
Pihak MARS bingung atas ketidakjelasan belum dibukanya MARS mengawali tahun ini. “Kami (Pihak MARS, red) tidak tahu menahu mengapa? Tapi ini perintah dari PD I, alasannya karena ini keputusan Senat FKM,” ujar salah satu staf Akademik MARS. Sedang PD I saat dikonfirmasi sedikit berkomentar. ”Konsentrasi MARS memang diperuntukkan untuk tahun ajaran 2008/2009 (mahasiswa angkatan 2007 yang memasuki semester 4, red). Lagipula pada saat mahasiswa angkatan 2006 masuk, itu belum diprogramkan,” tegas Dr Ridwan M Thaha MSc. Berdasarkan penjelasan Ridwan, konsentrasi MARS yang merupakan bagian dari program Kesehatan Masyarakat (KESMAS), baru akan dibuka mengawali tahun 2009 bagi mahasiswa semester akhir angkatan 2007.
Akibatnya, MARS untuk S1 mengalami kekosongan jadwal. Padahal tahun ini, semestinya ruangannya sudah disibukkan agenda perkuliahan ataupun kegiatan akademik lainnya. Pun pendiri MARS telah mencoba berbagai upaya agar MARS bisa dibuka sedini mungkin. Termasuk dengan membiayai segala operasional kerja MARS dengan saling kongsi. ”Untuk biaya pembelian meja di ruangan ini pun berasal dari para dosen-dosen. Kami (pendiri-pendiri MARS, red) menjadi konsultan kesehatan di luar dan mendanainya sendiri. Tak sepersen pun didapatkan pendanaan dari fakultas,” tukas Syahrir.
Menanggapi itu, Dadang menilai seharusnya di FKM memiliki sumber dana yang dialokasikan untuk konsentrasi baru itu. Namun tak sekadar mendanai sendiri, upaya lain juga telah dilakukan pendiri MARS, misalnya menyiapkan pengasuh ataupun para tenaga pengajar yang ahli di bidangnya baik yang berasal dari FKM sendiri maupun dokter-dokter yang bekerja di berbagai instansi kesehatan.
Ina/ Ayh



Selanjutnya!

Menilik Perjalanan dan Sentuhan BSS

BSS mengalami peningkatan jumlah peserta setiap tahun. Namun, masih banyak sivitas akademika yang tak merasakan pengaruhnya serta mempertanyakan evaluasinya.

Seorang pemuda terlihat berjalan tergesa-gesa menelusuri koridor Fakultas Hukum (FH) yang telah ramai dipenuhi mahasiswa, Selasa pagi (22/01). Maklum, perawakannya yang tinggi dan besar membuatnya lebih menonjol dan berbeda dengan mahasiswa lainnya. Ia khawatir terlambat dalam mengikuti program pelatihan Basic Study Skill (BSS). Mahasiswa baru FH ini mengenakan seragam hitam putih dan jas almamater merah yang menjadi kebanggaan Unhas. Itulah salah satu syarat peserta pelatihan BSS. Dan hukumnya wajib bagi seluruh peserta.
BSS menjadi satu kunci atau prasyarat bagi mahasiswa Unhas untuk sarjana. Ini diwajibkan bagi mahasiswa angkatan 2006 hingga peserta BSS selanjutnya. Apabila belum lulus, maka bukan hanya pria tinggi besar itu, tetapi seluruh mahasiswa Unhas yang diwajibkan mengikuti program ini tidak bakalan bisa mencicipi gelar S1. Tak ada ampunan dari pihak universitas. Tidak tanggung-tanggung, peserta yang kehadirannya kurang dari 80 %, tidak kebagian sertifikat kelulusan.
Sejak pertama diberlakukan pada tahun 2004 dan selanjutnya diujicobakan lagi tahun 2005. Dr Rafiuddin Syam ST MEng selaku Instruktur BSS mengaku bahwa BSS mengalami perkembangan yang cukup baik dari tahun ke tahun. Menurut pria kelahiran Tahuna ini, peningkatan dan perkembangan BSS dapat dilihat dari pertambahan jumlah peserta setiap tahunnya. Pun pengorganisasian dan materi-materi yang diberikan jauh lebih kompleks dari tahun-tahun sebelumnya. “Program ini sangat bermanfaat karena mahasiswa diajarkan manajemen diri dan cara menghilangkan sifat prokrastinasi atau kegemaran mengulur-ulur waktu,” tandasnya.
Meski dianggap mengalami banyak kemajuan. Banyak kalangan sivitas akademika belum mengetahui sejauh mana pengevaluasian dan tingkat keberhasilan program itu. Megawati misalnya. Mahasiswi Fakultas MIPA ini mengaku tidak tahu perihal tingkat keberhasilan BSS meski disadari ada sesuatu yang diperolehnya. “Selama ini saya melihat kalau hasil evaluasi BSS masih belum jelas,” cetusnya. Senada dengan Mega, Pembantu Dekan III FISIP Drs Abdul Gaffar Msi juga tak begitu mengikuti pengevaluasiannya. “Pihak fakultas hanya ditugaskan menjalankan program ini. Untuk masalah evaluasi dari BSS, mungkin pihak universitas yang lebih tahu,” ujar Gaffar.
Hal senada juga dilontarkan oleh Ketua Panitia Train Of Trainer BSS, Dr Tajuddin Parenta MA. Mantan Ketua Jurusan Studi Pembangunan Fakultas Ekonomi ini mengaku untuk hasil evaluasi BSS ia masih belum tahu betul. Pembantu Rektor III Ir H Nasaruddin Salam pun angkat bicara menanggapi hal itu. Nasaruddin mengungkapkan bahwa evaluasi program BSS ini sudah dilakukan oleh pihak universitas. Panitianya terdiri dari tim Monitoring dan tim Evaluasi Unhas. Selain itu, PR III menilai program BSS ini dapat menurunkan rasio Drop Out di tiap-tiap fakultas. Data-data hasil evaluasi menunjukkan bahwa IP dan IPK peserta BSS angkatan ke tiga meningkat dibandingkan angkatan sebelumnya. Dan jika hal ini dipertahankan maka tentu saja dapat menurunkan jumlah mahasiswa yang di Drop Out.
Tapi Mega justru meragukan bila BSS bisa banyak berpengaruh ke mahasiswa. Mega mengamati jika kecenderungan beberapa peserta BSS, hanya sekadar ikut-ikutan dan mengejar sertifikat yang dijadikan sebagai prasyarat untuk meraih S1. Sedang Tajuddin justru tidak mempermasalahkan hasil evaluasinya akan seperti apa. Baginya yang terpenting adalah bagaimana supaya dalam BSS dapat mengajarkan mahasiswa baru metode pembelajaran andragogi. Andragogi yang dimaksud adalah pembelajaran orang dewasa. Karena sebelumnya, semasa SMU atau setingkatnya, metode pembelajaran yang didapatkan adalah pedagogi atau pembelajaran anak-anak.
Bertepatan pengurusan KRS
BSS merupakan ajang mengasah soft skill bagi mahasiswa baru. Makanya, waktu pelaksanaan BSS diatur dengan mengambil jadwal diluar waktu perkuliahan. Dan pelaksanaan BSS tahun ini mengambil interval waktu, Selasa-Jumat (22-25/01). Sayangnya, pada beberapa fakultas misalnya Fakultas Teknik, pelaksanaan BSS ini bertepatan dengan waktu pengurusan Kartu Rencana Studi (KRS). Oleh karena itu, banyak peserta BSS yang meminta izin dan tidak mengikuti materi. Alasannya untuk mengurus KRS. Adapula yang harus keluar masuk dari materi BSS demi KRS mereka.
Imbasnya, tentu saja ini berpengaruh pada proses transfer ilmu antara instruktur dan peserta BSS. Ini menjelaskan bahwa pemahaman peserta terhadap materi yang diberikan tidak maksimal. Sedangkan kriteria kelulusan adalah kehadiran peserta BSS mengikuti materi.
Menanggapi hal ini, PD III Fakultas Ir H Louis Santoso MSi menegaskan bahwa masalah ini bukan salah siapa-siapa dan tidak ada hak menyalahkan siapa-siapa. Menurutnya, kalaupun ada yang harus disalahkan maka sistemlah yang harus disalahkan. “Ini seharusnya menjadi pembelajaran penting untuk ke depannya. Bagaimana supaya dapat menererapkan sistem yang lebih baik,” ujar Louis penuh harap.
Ags/ Ayh



Selanjutnya!

Merajut Mimpi Alumni Unhas

”Kami dari pihak Unhas berusaha agar Hard Skill dan Soft Skill mahasiswa dapat berimbang. Hal itu kami maksudkan agar Output Unhas memilki daya saing yang tinggi dan siap pakai dalam memperoleh pekerjaan,” Ir Nasaruddin Salam MT selaku Pembantu Rektor (PR) III.



Universitas Hasanuddin (Unhas) hampir tiap tahunnya mencetak ribuan sarjana. Dan tak sedikit diantara mereka menjadi pengangguran. Ketatnya persaingan dunia kerja membuat para alumni Unhas harus jeli dan pandai dalam mencari lowongan. Tak jarang dari sekian ribu mahasiswa yang telah sarjana, hanya beberapa persen saja yang diterima di beberapa perusahaan. Kondisi ini pula mendorong pihak Unhas membenah diri melalui Metode Pembelajaran Student Center Learning (SCL). Ini diharapkan mampu meningkatkan kemampuan hard skil mahasiswa dalam bidang akademik. Selain itu berbagai macam latihan kepemimpinan diharapkan mampu merangsang minat mahasiswa untuk berlembaga. ”Kami dari pihak Unhas berusaha agar Hard Skill dan Soft Skill mahasiswa dapat berimbang. Hal itu kami maksudkan agar Output Unhas memilki daya saing tinggi dan siap pakai dalam memperoleh pekerjaan,” ujar Ir Nasaruddin Salam MT, Pembantu Rektor (PR) III.
Disamping penguatan internal dibutuhkan pula sebuah badan yang yang mampu menjembatani alumni dan mahasiswa Fresh graduate dengan perusahaan serta instansi. Dengan begitu diharapkan informasi lowongan kerja dapat lebih cepat diterima oleh alumni. Tepatnya Selasa 13 maret 2007, dikeluarkanlah Surat Keputusan (SK) Rektor No.427/H4/O/2007. Mengenai pembentukan Unit Pelaksana Teknis Job Placement Center (UPT JPC) yang bertugas memberikan bimbingan dan pelatihan terhadap mahasiswa tingkat akhir dan alumni mengenai taktik, strategi, serta cara melamar pekerjaan yang baik dengan mengundang pihak-pihak terkait dengan dunia kerja open house (Bursa Kerja). Kegiatan berupa pelatihan peningkatan soft skill bagi mahasiswa tingkat akhir dan alumni antara lain working skill, kewirausahaan, pelatihan motivasi, dan latihan kepemimpinan, pembangunan jaringan serta studi pelacakan di rangkai didalam program UPT .
Mengenai mekanisme pendaftaran di UPT tergantung dari pihak perusahaan yang menentukan. Terkadang pihak perusahaan ingin data diri beserta persyaratannya dikirim langsung ke kantor pusat atau malah pihak UPT sendiri yang mengirimnya. ”Kami hanya mengirimkan pengumuman kepada PD III adanya lowongan kerja, selebihnya PD III sendiri yang menginformasikan ke mahasiswa,” papar Ir M Fauzi Arifin MSi selaku ketua UPT JPC. Beberapa perusahaan pernah menggandeng UPT dalam merekrut tenaga kerja dari alumni Unhas. Diantaranya Pertamina, PT Inco, Bank Danamon, Bank Niaga, Bank Mandiri, Indosat, PT. Semen Tonasa, PT. Trakindo dan PT. Raja Garuda Mas Indonesia. Salah satu perusahaan yang mengadakan kerjasama dengan UPT yakni PT.Indosat menilai bahwa alasannya memilih Unhas karena Unhas masih patut dikatakan Universitas terbaik di Indonesia Timur, ini diungkapkan Arifuddin K selaku koordinator Human Resource INDOSAT. ”Mengenai alasan kami memilih Unhas sebagai tempat perekrutan karyawan, tidak lain karena kami masih melihat Unhas tetap menjadi universitas terbaik di Indonesia Timur,” ujarnya saat ditemui di ruang kerjanya.
Namun di sisi lain hampir setahun usia badan ini dibentuk. Dan pelantikan kepengurusan baru dapat terlaksana bulan Oktober kemarin, itu pun kepala sub. Bagian dan jajaran divisi belum terisi. Hingga saat ini berbagai tugas dan program kerjanya belum sempat terlaksana, bahkan sosialisasi program UPT masih kurang. Tak dapat dipungkiri, keberadaan UPT JPC ini sangat penting bagi mahasiswa fresh Graduate dan alumni dalam membantu memperoleh pekerjan. Namun keberadaannya masih kurang informatif. ”Up to date info harus berimbang tidak hanya saat menjadi mahasiswa fresh gradute tetapi juga saat berstatus alumni harus terus ada,” ungkap Santi Kusumawardani salah satu alumni yang pernah menggunakan layanan jasa UPT JPC.
Fauzi Arifin sendiri memaparkan, sampai saat ini ia sendiri agak kewalahan dalam mengurusi semuanya. Untuk program kedepan dosen teknik geologi tersebut berjanji, bulan Maret nanti akan ada pelatihan bagi mahasiswa tingkat akhir kiat-kiat menghadapi wawancara, psiko tes dan bagaimana memasuki dunia kerja. Akan diadakan pula bursa kerja dan layan online berupa website, yang setiap saat dapat dikunjungi oleh mahasiswa dan alumni Unhas. Sebagai salah satu keluaran Unhas, Arif menyarankan agar pihak alumni Unhas masih harus mempersiapkan dirinya dalam memasuki dunia kerja. Sebab kelemahan alumni Unhas adalah ketidaksiapan dalam memasuki dunia kerja. ”Paling tidak para alumni-alumni Unhas memiliki pengalaman dalam dunia kerja, misalnya magang atau praktek kerja lapang (PKL) yang lebih lama,” tandasnya.
Sedangkan mengenai peran Ikatan Alumni (IKA) Unhas sendiri di dalam memberikan kontribusi bagi alumni yang ingin menapaki dunia kerja setelah keberadaan UPT, PR III menegaskan. Bahwa, kehadiran UPT JPC bukan berarti ketidakmapuan IKA mengurusi alumninya. Melainkan dengan adanya UPT ini diharapkan dapat menghubungkan alumni dengan IKA. ” Mana mungkin organisasi seperti IKA yang didalamnya penuh dengan orang-orang yang sibuk, harus mengurusi alumni Unhas yang mencari kerja, kan tidak mungkin!” imbuhnya.
Sin/ Ikb





Selanjutnya!