No. 676/Tahun XXXIV/Awal Januari 2008
Diskusi Dikekang,
Penggiatnya Mengerang
Sejumlah mahasiswa berusaha membangkitkan kembali budaya diskusi di pelataran kampus merah. Sayang sekali ruangnya masih dibatasi.
Menyusuri koridor-koridor kampus. Yang tampak hanyalah aktivitas lalu lalang mahasiswa. Sesekali mereka berkumpul untuk mengurus kepentingan akademiknya. Maka bukan tidak mungkin, mahasiswa sekarang cenderung diklaim sebagai mahasiswa 3K (Kamar, Kampus, dan Kampung). Jika mendengar cerita dosen atau orang-orang terdahulu tentang zaman mahasiswa dulu. Tentunya miris menyaksikan model mahasiswa hari ini.
Dulu, diskusi-diskusi di koridor dan pelataran kampus jauh lebih hidup. Selain itu, antusiasme mahasiswa mencari pengetahuan di luar keilmuannya sangatlah besar. Lantas, ada apa dengan wajah mahasiswa hari ini? “Mahasiswa sekarang lebih individualis dan tidak mau pusing. Kampus jadi tampak sepi,” celoteh salah seorang alumni Unhas ketika berjalan di pelataran Baruga.
Prof Dr H Amran Razak SE MSc yang juga mantan aktivis, menceritakan pengalamannya di era 1980 hingga 1990-an. Ketika penguasa menunjukkan taringnya. Mandegnya pergerakan mahasiswa merupakan hal yang lumrah terjadi. Tetapi riak-riak pergerakan mahasiswa terus bergejolak. Banyak mahasiswa yang tidak mau masuk dalam lembaga pemerintah yang terbentuk. Lahirlah kelompok-kelompok diskusi dikalangan mahasiswa. Lahirnya diskusi-diskusi tersebut mengindikasikan tersumbatnya ruang dialogis antara mahasiswa dengan pihak birokrat. Dengan kata lain, keduanya tidak berjalan mesra.
Mahasiswa sebagai agent of change dan social control. Sewajarnya menjadikan dinamika kemahasiswaan dipenuhi dengan kegiatan intelektual. Bukan hanya persoalan akademik. Tetapi diperlukan juga sikap kritis. Ini bisa diperoleh dengan bertukar pikiran seperti diskusi yang kemudian dapat memunculkan kesadaran kritis melihat fenomena yang ada. Sayangnya, budaya tersebut sudah jarang ditemukan di kampus merah ini. Hal itu dirasakan M Khairil Akbar, mahasiswa FISIP Jurusan Hubungan Internasional. Khairil beranggapan bahwa kurangnya animo berdiskusi menyebabkan sepinya aktivitas, sehingga koridor kampus tampak lengang. “Lembaga mahasiswa harusnya punya visi untuk mendorong budaya intelektual di kampus,” ungkap Ketua UKPM ini.
Meski diskusi pelataran tengah redup, sejumlah mahasiswa berupaya menerangi ruang itu kembali. Ruang dialog yang berbau agamis cukup mendapat tempat. Tetapi beberapa kali diskusi mengenai BHP yang dilakukan mahasiswa, ada saja oknum yang mencekal. Misalnya diskusi yang pernah dilakukan UKPM di pelataran Baruga nyaris dihentikan satpam dengan alasan prosedural. Kedua, pembubaran yang terjadi pada diskusi yang diadakan di pelataran Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP) pada Kamis (6/12).
Merindukan ruang diskusi yang mulai menurun serta keinginan memberikan informasi kepada mahasiswa mengenai wacana terkini. Maka BEM Perikanan menggagas diskusi dengan tema “Strategi Mahasiswa Menanggapi Isu BHP”. Ketika diskusi berjalan begitu hangat sekitar satu jam lebih, tanpa diduga pihak fakultas mendesak untuk menghentikan kegiatan tersebut. Pada mulanya Ketua Jurusan Perikanan ingin menyediakan ruangan untuk mereka, ia lalu menyuruh salah seorang mahasiswa untuk menghadap. Tapi tiba-tiba PD III menyuruh untuk menghentikan diskusi tersebut dengan alasan pihak BEM tidak mengkonfirmasi ke PD III bahwa akan ada pemateri Eksternal dan juga dan mengatakan pemateri tersebut berusaha memprovokasi mahasiswa.
Menurut Sasliansyah, moderator diskusi, disamping memang diskusi sebelumnya tidak memerlukan konfirmasi tentang siapa yang menjadi pemateri, alasan tersebut sangat tidak rasional dan tidak etis. Sasliansyah menganggap penjelasan yang dipaparkan oleh pemateri toh tidak untuk meracuni pikiran mahasiswa. Tetapi berdasarkan fakta yang terjadi dan penggunaan bahasanya sangat ilmiah. “Ini merupakan pelanggaran hak atas mimbar intelektual mahasiswa dan mengapa mesti dihentikan dengan cara yang tidak berbudaya,” ungkapnya.
Penuturan berbeda diutarakan oleh PD III FIKP Ir Abdul Rasyid MSi. Meski mengaku bahwa pihak BEM telah menginformasikan akan dilaksanakan diskusi. Namun ternyata pada saat diskusi berlangsung, hanya segelintir peserta dari mahasiswa Perikanan yang hadir. Inilah yang menjadi kekecewaan Rasyid. Pun dirinya menampik melakukan pembubaran diskusi atas dasar menuding pemateri sebagai provokator. ”Tidak ada instruksi bahwa mereka adalah provokator. Saya hanya memberi instruksi bahwa sebaiknya diskusi dihentikan dalam waktu sepuluh menit,” ungkapnya.
Pelarangan diskusi turut dirasakan Zulkarnaen, mahasiswa Fakultas Ekonomi. Menurutnya, pada masa rektor sebelumnya tidak ada pelarangan. Baru pada masa ini diskusi diwarnai dengan pelarangan. Seperti yang terjadi di pelataran Baruga. Baginya, campur tangan birokrasi yang terlalu mengekang kebebasan berlembaga menyebabkan minimnya budaya diskusi di kampus. Dan hal itu dapat mengacu terhadap mandegnya budaya ilmiah pada kampus bersimbol ayam jantan ini.
Usaha pembubaran diskusi yang telah dilakukan sebanyak dua kali itu seolah bertolak belakang dengan pemaparan petinggi di rektorat. Sebut saja Pembantu Rektor III Ir H Nasaruddin Salam. Ia menegaskan bahwa aktivitas intelektual seperti diskusi, tidak ada pelarangan. Nasaruddin merestui, asalkan diskusi tersebut dapat dipertanggungjawabkan. Dan diskusinya tidak membicarakan hal yang bersifat fatal. Amran beranggapan lain. Menurutnya, di zaman ini, tidak ada lagi hal yang tabu untuk dibicarakan. Salah satu program stasiun televisi nasional bahkan mewadahi mahasiswa untuk mengkritik pemerintahan SBY. ”Kalaupun ada pelarangan saat ini, mungkin mereka menggunakan gaya orde baru,” tandas Amran.
Ita/Ayh
Menyusuri koridor-koridor kampus. Yang tampak hanyalah aktivitas lalu lalang mahasiswa. Sesekali mereka berkumpul untuk mengurus kepentingan akademiknya. Maka bukan tidak mungkin, mahasiswa sekarang cenderung diklaim sebagai mahasiswa 3K (Kamar, Kampus, dan Kampung). Jika mendengar cerita dosen atau orang-orang terdahulu tentang zaman mahasiswa dulu. Tentunya miris menyaksikan model mahasiswa hari ini.
Dulu, diskusi-diskusi di koridor dan pelataran kampus jauh lebih hidup. Selain itu, antusiasme mahasiswa mencari pengetahuan di luar keilmuannya sangatlah besar. Lantas, ada apa dengan wajah mahasiswa hari ini? “Mahasiswa sekarang lebih individualis dan tidak mau pusing. Kampus jadi tampak sepi,” celoteh salah seorang alumni Unhas ketika berjalan di pelataran Baruga.
Prof Dr H Amran Razak SE MSc yang juga mantan aktivis, menceritakan pengalamannya di era 1980 hingga 1990-an. Ketika penguasa menunjukkan taringnya. Mandegnya pergerakan mahasiswa merupakan hal yang lumrah terjadi. Tetapi riak-riak pergerakan mahasiswa terus bergejolak. Banyak mahasiswa yang tidak mau masuk dalam lembaga pemerintah yang terbentuk. Lahirlah kelompok-kelompok diskusi dikalangan mahasiswa. Lahirnya diskusi-diskusi tersebut mengindikasikan tersumbatnya ruang dialogis antara mahasiswa dengan pihak birokrat. Dengan kata lain, keduanya tidak berjalan mesra.
Mahasiswa sebagai agent of change dan social control. Sewajarnya menjadikan dinamika kemahasiswaan dipenuhi dengan kegiatan intelektual. Bukan hanya persoalan akademik. Tetapi diperlukan juga sikap kritis. Ini bisa diperoleh dengan bertukar pikiran seperti diskusi yang kemudian dapat memunculkan kesadaran kritis melihat fenomena yang ada. Sayangnya, budaya tersebut sudah jarang ditemukan di kampus merah ini. Hal itu dirasakan M Khairil Akbar, mahasiswa FISIP Jurusan Hubungan Internasional. Khairil beranggapan bahwa kurangnya animo berdiskusi menyebabkan sepinya aktivitas, sehingga koridor kampus tampak lengang. “Lembaga mahasiswa harusnya punya visi untuk mendorong budaya intelektual di kampus,” ungkap Ketua UKPM ini.
Meski diskusi pelataran tengah redup, sejumlah mahasiswa berupaya menerangi ruang itu kembali. Ruang dialog yang berbau agamis cukup mendapat tempat. Tetapi beberapa kali diskusi mengenai BHP yang dilakukan mahasiswa, ada saja oknum yang mencekal. Misalnya diskusi yang pernah dilakukan UKPM di pelataran Baruga nyaris dihentikan satpam dengan alasan prosedural. Kedua, pembubaran yang terjadi pada diskusi yang diadakan di pelataran Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP) pada Kamis (6/12).
Merindukan ruang diskusi yang mulai menurun serta keinginan memberikan informasi kepada mahasiswa mengenai wacana terkini. Maka BEM Perikanan menggagas diskusi dengan tema “Strategi Mahasiswa Menanggapi Isu BHP”. Ketika diskusi berjalan begitu hangat sekitar satu jam lebih, tanpa diduga pihak fakultas mendesak untuk menghentikan kegiatan tersebut. Pada mulanya Ketua Jurusan Perikanan ingin menyediakan ruangan untuk mereka, ia lalu menyuruh salah seorang mahasiswa untuk menghadap. Tapi tiba-tiba PD III menyuruh untuk menghentikan diskusi tersebut dengan alasan pihak BEM tidak mengkonfirmasi ke PD III bahwa akan ada pemateri Eksternal dan juga dan mengatakan pemateri tersebut berusaha memprovokasi mahasiswa.
Menurut Sasliansyah, moderator diskusi, disamping memang diskusi sebelumnya tidak memerlukan konfirmasi tentang siapa yang menjadi pemateri, alasan tersebut sangat tidak rasional dan tidak etis. Sasliansyah menganggap penjelasan yang dipaparkan oleh pemateri toh tidak untuk meracuni pikiran mahasiswa. Tetapi berdasarkan fakta yang terjadi dan penggunaan bahasanya sangat ilmiah. “Ini merupakan pelanggaran hak atas mimbar intelektual mahasiswa dan mengapa mesti dihentikan dengan cara yang tidak berbudaya,” ungkapnya.
Penuturan berbeda diutarakan oleh PD III FIKP Ir Abdul Rasyid MSi. Meski mengaku bahwa pihak BEM telah menginformasikan akan dilaksanakan diskusi. Namun ternyata pada saat diskusi berlangsung, hanya segelintir peserta dari mahasiswa Perikanan yang hadir. Inilah yang menjadi kekecewaan Rasyid. Pun dirinya menampik melakukan pembubaran diskusi atas dasar menuding pemateri sebagai provokator. ”Tidak ada instruksi bahwa mereka adalah provokator. Saya hanya memberi instruksi bahwa sebaiknya diskusi dihentikan dalam waktu sepuluh menit,” ungkapnya.
Pelarangan diskusi turut dirasakan Zulkarnaen, mahasiswa Fakultas Ekonomi. Menurutnya, pada masa rektor sebelumnya tidak ada pelarangan. Baru pada masa ini diskusi diwarnai dengan pelarangan. Seperti yang terjadi di pelataran Baruga. Baginya, campur tangan birokrasi yang terlalu mengekang kebebasan berlembaga menyebabkan minimnya budaya diskusi di kampus. Dan hal itu dapat mengacu terhadap mandegnya budaya ilmiah pada kampus bersimbol ayam jantan ini.
Usaha pembubaran diskusi yang telah dilakukan sebanyak dua kali itu seolah bertolak belakang dengan pemaparan petinggi di rektorat. Sebut saja Pembantu Rektor III Ir H Nasaruddin Salam. Ia menegaskan bahwa aktivitas intelektual seperti diskusi, tidak ada pelarangan. Nasaruddin merestui, asalkan diskusi tersebut dapat dipertanggungjawabkan. Dan diskusinya tidak membicarakan hal yang bersifat fatal. Amran beranggapan lain. Menurutnya, di zaman ini, tidak ada lagi hal yang tabu untuk dibicarakan. Salah satu program stasiun televisi nasional bahkan mewadahi mahasiswa untuk mengkritik pemerintahan SBY. ”Kalaupun ada pelarangan saat ini, mungkin mereka menggunakan gaya orde baru,” tandas Amran.
Ita/Ayh
Selanjutnya!




