<body><iframe src="http://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID=35470829&amp;blogName=KABAR+DARI+KAMPUS+UNHAS&amp;publishMode=PUBLISH_MODE_FTP&amp;navbarType=BLUE&amp;layoutType=CLASSIC&amp;homepageUrl=http%3A%2F%2Fwww.identitasonline.net%2F&amp;searchRoot=http%3A%2F%2Fblogsearch.google.com%2F" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no" frameborder="0" height="30px" width="100%" id="navbar-iframe" title="Blogger Navigation and Search"></iframe> <div id="space-for-ie"></div>
SELAMAT DATANG DI SURAT KABAR KAMPUS UNHAS
Photo Sharing and Video Hosting at PhotobucketPhoto Sharing and Video Hosting at Photobucket

Thursday, January 17, 2008

No. 676/Tahun XXXIV/Awal Januari 2008


Diskusi Dikekang,
Penggiatnya Mengerang


Sejumlah mahasiswa berusaha membangkitkan kembali budaya diskusi di pelataran kampus merah. Sayang sekali ruangnya masih dibatasi.

Menyusuri koridor-koridor kampus. Yang tampak hanyalah aktivitas lalu lalang mahasiswa. Sesekali mereka berkumpul untuk mengurus kepentingan akademiknya. Maka bukan tidak mungkin, mahasiswa sekarang cenderung diklaim sebagai mahasiswa 3K (Kamar, Kampus, dan Kampung). Jika mendengar cerita dosen atau orang-orang terdahulu tentang zaman mahasiswa dulu. Tentunya miris menyaksikan model mahasiswa hari ini.
Dulu, diskusi-diskusi di koridor dan pelataran kampus jauh lebih hidup. Selain itu, antusiasme mahasiswa mencari pengetahuan di luar keilmuannya sangatlah besar. Lantas, ada apa dengan wajah mahasiswa hari ini? “Mahasiswa sekarang lebih individualis dan tidak mau pusing. Kampus jadi tampak sepi,” celoteh salah seorang alumni Unhas ketika berjalan di pelataran Baruga.
Prof Dr H Amran Razak SE MSc yang juga mantan aktivis, menceritakan pengalamannya di era 1980 hingga 1990-an. Ketika penguasa menunjukkan taringnya. Mandegnya pergerakan mahasiswa merupakan hal yang lumrah terjadi. Tetapi riak-riak pergerakan mahasiswa terus bergejolak. Banyak mahasiswa yang tidak mau masuk dalam lembaga pemerintah yang terbentuk. Lahirlah kelompok-kelompok diskusi dikalangan mahasiswa. Lahirnya diskusi-diskusi tersebut mengindikasikan tersumbatnya ruang dialogis antara mahasiswa dengan pihak birokrat. Dengan kata lain, keduanya tidak berjalan mesra.
Mahasiswa sebagai agent of change dan social control. Sewajarnya menjadikan dinamika kemahasiswaan dipenuhi dengan kegiatan intelektual. Bukan hanya persoalan akademik. Tetapi diperlukan juga sikap kritis. Ini bisa diperoleh dengan bertukar pikiran seperti diskusi yang kemudian dapat memunculkan kesadaran kritis melihat fenomena yang ada. Sayangnya, budaya tersebut sudah jarang ditemukan di kampus merah ini. Hal itu dirasakan M Khairil Akbar, mahasiswa FISIP Jurusan Hubungan Internasional. Khairil beranggapan bahwa kurangnya animo berdiskusi menyebabkan sepinya aktivitas, sehingga koridor kampus tampak lengang. “Lembaga mahasiswa harusnya punya visi untuk mendorong budaya intelektual di kampus,” ungkap Ketua UKPM ini.
Meski diskusi pelataran tengah redup, sejumlah mahasiswa berupaya menerangi ruang itu kembali. Ruang dialog yang berbau agamis cukup mendapat tempat. Tetapi beberapa kali diskusi mengenai BHP yang dilakukan mahasiswa, ada saja oknum yang mencekal. Misalnya diskusi yang pernah dilakukan UKPM di pelataran Baruga nyaris dihentikan satpam dengan alasan prosedural. Kedua, pembubaran yang terjadi pada diskusi yang diadakan di pelataran Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP) pada Kamis (6/12).
Merindukan ruang diskusi yang mulai menurun serta keinginan memberikan informasi kepada mahasiswa mengenai wacana terkini. Maka BEM Perikanan menggagas diskusi dengan tema “Strategi Mahasiswa Menanggapi Isu BHP”. Ketika diskusi berjalan begitu hangat sekitar satu jam lebih, tanpa diduga pihak fakultas mendesak untuk menghentikan kegiatan tersebut. Pada mulanya Ketua Jurusan Perikanan ingin menyediakan ruangan untuk mereka, ia lalu menyuruh salah seorang mahasiswa untuk menghadap. Tapi tiba-tiba PD III menyuruh untuk menghentikan diskusi tersebut dengan alasan pihak BEM tidak mengkonfirmasi ke PD III bahwa akan ada pemateri Eksternal dan juga dan mengatakan pemateri tersebut berusaha memprovokasi mahasiswa.
Menurut Sasliansyah, moderator diskusi, disamping memang diskusi sebelumnya tidak memerlukan konfirmasi tentang siapa yang menjadi pemateri, alasan tersebut sangat tidak rasional dan tidak etis. Sasliansyah menganggap penjelasan yang dipaparkan oleh pemateri toh tidak untuk meracuni pikiran mahasiswa. Tetapi berdasarkan fakta yang terjadi dan penggunaan bahasanya sangat ilmiah. “Ini merupakan pelanggaran hak atas mimbar intelektual mahasiswa dan mengapa mesti dihentikan dengan cara yang tidak berbudaya,” ungkapnya.
Penuturan berbeda diutarakan oleh PD III FIKP Ir Abdul Rasyid MSi. Meski mengaku bahwa pihak BEM telah menginformasikan akan dilaksanakan diskusi. Namun ternyata pada saat diskusi berlangsung, hanya segelintir peserta dari mahasiswa Perikanan yang hadir. Inilah yang menjadi kekecewaan Rasyid. Pun dirinya menampik melakukan pembubaran diskusi atas dasar menuding pemateri sebagai provokator. ”Tidak ada instruksi bahwa mereka adalah provokator. Saya hanya memberi instruksi bahwa sebaiknya diskusi dihentikan dalam waktu sepuluh menit,” ungkapnya.
Pelarangan diskusi turut dirasakan Zulkarnaen, mahasiswa Fakultas Ekonomi. Menurutnya, pada masa rektor sebelumnya tidak ada pelarangan. Baru pada masa ini diskusi diwarnai dengan pelarangan. Seperti yang terjadi di pelataran Baruga. Baginya, campur tangan birokrasi yang terlalu mengekang kebebasan berlembaga menyebabkan minimnya budaya diskusi di kampus. Dan hal itu dapat mengacu terhadap mandegnya budaya ilmiah pada kampus bersimbol ayam jantan ini.
Usaha pembubaran diskusi yang telah dilakukan sebanyak dua kali itu seolah bertolak belakang dengan pemaparan petinggi di rektorat. Sebut saja Pembantu Rektor III Ir H Nasaruddin Salam. Ia menegaskan bahwa aktivitas intelektual seperti diskusi, tidak ada pelarangan. Nasaruddin merestui, asalkan diskusi tersebut dapat dipertanggungjawabkan. Dan diskusinya tidak membicarakan hal yang bersifat fatal. Amran beranggapan lain. Menurutnya, di zaman ini, tidak ada lagi hal yang tabu untuk dibicarakan. Salah satu program stasiun televisi nasional bahkan mewadahi mahasiswa untuk mengkritik pemerintahan SBY. ”Kalaupun ada pelarangan saat ini, mungkin mereka menggunakan gaya orde baru,” tandas Amran.
Ita/Ayh





Selanjutnya!

Rektorat Berpaling ke Lain Hati

Setelah setahun bekerjasama dengan pihak BNI, kini rektorat mengalihkan transfer beasiswa nonswasta ke BRI. Ribuan mahasiswa yang memperoleh beasiswa PPA dan BBM pun diharuskan membuka rekening baru.

“Ada ji’ namaku di daftar?,” itulah pertanyaan yang terkadang dilontarkan oleh sebagian mahasiswa beberapa bulan terakhir. Memang, menjelang November hingga Desember, ruangan kemahasiswaan di hampir semua fakultas acap kali dikerumuni oleh mahasiswa. Pada bulan itu kepengurusan beasiswa PPA, PPE dan BBM dan beberapa beasiswa lain harus diperbaruhi lagi.
Besar harapan, dari proses pembaruan itu akan muncul nama-nama baru penerima beasiswa. Tercatat, ada 3649 mahasiswa Unhas yang mendapatkan beasiswa BBM maupun PPA setiap tahunnya. Dua beasiswa inilah yang selalu menanjak nominal rupiahnya per bulan. Untuk tahun 2008 ini saja, negara telah menganggarkan Rp 12 milyar hanya untuk PPA dan BBM di Unhas. “PPA dan BBM bertambah jumlahnya sebanyak 200 ribu rupiah per bulan, Ujar Hasanuddin staf bagian kemahasiswaan ini.
Meski begitu, di awal tahun ini, semua mahasiswa yang masuk daftar penerima beasiswa nonswasta ini telah diwanti-wanti untuk membuka nomor rekening baru di Bank Rakyat Indonesia (BRI). Hal itu dilakukan sebagai persyaratan untuk mengambil kucuran beasiswa berikutnya.
Sebelumnya, dengan dalih banyaknya kendala yang ditemui saat proses pemberian beasiswa secara langsung diterapkan, maka rektorat bekerjasama dengan Bank Nasional Indonesia (BNI) menerapkan penarikan beasiswa nonswasta melalui ATM. Lebih tepatnya, rektorat memaksimalkan dwifungsi kartu mahasiswa yang juga kartu Automatic Teller Machine itu. Hal itu pun lalu disambut baik oleh sebagian besar mahasiswa, sebab tak ada lagi proses panjang untuk mendapatkan beasiswa.
Namun setelah satu tahun kerjasama itu berjalan, pihak Unhas seakan menalak pihak BNI. Dan semua urusan beasiswa nonswasta pun kini dialihkan ke BRI.
Adanya surat yang menginstruksikan perpindahan ini, membuat beberapa mahasiswa kalang kabut untuk melengkapi lagi berkas beasiswanya dengan nomor rekening baru. Alhasil, ini pun berbuah keluh, “ribet kalau mesti buka lagi, di BNI saja saya sudah memilki dua nomor rekening,” ujar Iraorismayanti mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi. Namun adapula yang menganggap perpindahan ini dengan nada berbeda. Andi Suharna Ningsih mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik ini misalnya, ia justru menilai dengan mengurus beasiswa di BRI akan semakin gampang dan tidak berbelit.
Menurut Dr dr Wardihan A Sinrang Pembantu Rektor II, pengalihan ini dilakukan untuk mempermudah mahasiswa, karena uang tersebut berasal dari negara melalui bank BRI, supaya cepat masuk ke rekening mahasiswa makanya diwajibkan untuk membuka rekening di BRI.
Pertimbangan waktu dan kemudahan mahasiswa dalam menerima beasiswa yang menjadi tolok ukur utama kepindahan ini. Beasiswa nonswasta masuk ke dalam Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN), selain itu BRI merupakan salah satu Bank rekomendasi Pemerintah. Hal ini dikarenakan BRI telah memenangkan tender di Jakarta dalam menggadang APBN.
“Penerimaan kini tidak lagi melalui perantara, dan ini lebih mengemat waktu pengiriman, lagipula beberapa kali ada rekening mahasiswa yang sudah tutup sehingga uang tersebut dikembalikan lagi ke kas negara,” tukas Wardihan.

BNI Tidak Tahu
Sebagai bank yang terbuka, siap melayani siapa saja. BRI pun akan berusaha memberikan pelayanan yang semaksimal mungkin kepada mahasiswa maupun nasabah lainnya. Selain itu, untuk jangka waktu secepatnya akan ada penambahan ATM di Unhas. “Untuk sementara, Cabang Unit kami yang terletak di UPT lantai satu Perpustakaan ini akan membantu mahasiswa khusus area kampus,” ujar Hasnawi Pimpinan Unit BRI cabang Tamalanrea.
Dalam waktu dekat ini, BRI juga akan menyiapkan loket tersendiri yang menyangkut masalah penerimaan beasiswa. Serta proses penerimaan akan dilakukan secara terjadwal dan berselingan antara BBM dan PPA. Sehingga mahasiswa tidak kerepotan dalam menunggu antrian.
Namun setelah dikonfirmasi dengan pihak BNI, justru BNI tak mengetahui ihwal perpindahan ini. Ini cukup mengejutkan Nurnahida saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (7/1). “Kami sama sekali belum mengetahui hal tersebut, surat pemberitahuan pun tak ada dari Unhas,” ujar Petugas Pengganti Sementara Pimpinan BNI cabang Unhas Tamalanrea.
Bagi Nurnahida, Unhas dan BNI sudah begitu lama melakukan kerjasama dan menjalin hubungan baik. Dan ia tak tahu mengapa terjadi perpindahan seperti ini dadakan tanpa konfirmasi sebelumnya. Pihak BNI seakan tak bisa menanggapi apa-apa, “Mungkin Unhas punya alasan tersendiri bagi mahasiswa,” tambah wanita yang biasa disapa Ida ini.
Selama membantu Unhas menangani transfer beasiswa, BNI beberapa kali mengalami beberapa kendala. Sering terjadinya kesalahan data baik penulisan rekening, nama bahkan penulihan nomor pokok mahasiswa. Akibatnya mahasiswa kembali direpotkan. Bahkan pihak BNI pun berkali-kali mengirimkan surat mengenai kesalahan tersebut tapi unhas pun hanya diam saja tanpa ada respon mengenai kesalahan.
Namun, di balik semua itu kerjasama dengan Unhas, yang jelas keuntungan akan diperoleh pihak BRI, yakni dengan bertambahnya jumlah nasabah. Dan bagi pihak BNI tetap mendapat keuntungan tersendiri yakni melalui pembayaran SPP yang disetor mahasiswa. (Ina/Mch)



Selanjutnya!

Asuhan Swasta Mencari Harapan

133 cleaning service Unhas di asuh oleh pihak swasta. Selain dengan upah di bawah standar pemerintah, mereka juga diikat dengan beragam kontrak kerja.


Suasana kampus masih sedikit lengang setelah liburan. Namun di pagi yang lembab itu, Prof Dr dr Idrus A Paturusi, SPbO seakan berniat memulai tahun ini dengan harapan akan adanya kedisiplinan. Inspeksi mendadak atau sidak pun dilakukan oleh rektor Unhas tersebut. Bersama beberapa staf dan jajarannya, ia melakukan peninjauan langsung di beberapa sudut kampus, Jumat (04/01).
Sidak kali ini sedikit berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Sasarannya tidak hanya kinerja kepegawaian, kinerja Cleaning Service pun Idrus lirik. Awalnya, guru besar Fakultas Kedokteran ini tak menemukan banyak hal ganjil di daerah Teknik, Mipa dan sekitarnya. Namun saat mulai memasuki kawasan agrokompleks, khususnya area Fakultas Pertanian, senyuman Idrus mulai ’melempem’. Bagaimana tidak, seonggok kotoran hewan terlihat di depan matanya, tepatnya di sekitar Lecture Theatre (LT) 7. Idrus pun mengkomplain kepada Ovan, petugas kebersihan yang kebetulan lewat saat itu kemudian memintanya membersihkan kotoran tersebut.
Tapi, saat itu Ovan tampak ogah-ogahan menuruti perintah orang nomor satu Unhas itu. Karena mengganggap bahwa LT 7 bukan wilayah kerjanya. Tersentak oleh peristiwa itu, saat itu (jam berapa) juga rektor lalu mengumpulkan para Cleaning Cervice area agro kompleks untuk memberi arahan langsung di Jasper (Jasaboga Pertanian).
Arahan itu bak boom class bagi petugas kebersihan. Alhasil, hari-hari berikutnya area agrokompleks tampak lebih bersih. Bahkan kotoran yang melekat di sela-sela tegel pun tak luput dari target mereka -Petugas Kebersihan-.
Di sisi lain, geliat para petugas kebersihan diakui telah merubah atmosfir kampus. Namun di balik semuanya itu, riak-riak keluhan dan tuntutan kecil yang selama ini mereka pendam akhirnya membuncah juga.
Iwan -bukan nama sebenarnya- mengatakan, mereka harus bekerja selama enam hari kerja dengan waktu kerja lebih kurang sepuluh jam per harinya. CV Timur Jaya Utama (TJU) yang selama ini menaunginya hanya memberi upah bulanan sebesar Rp 460 ribu per bulan. Jumlah ini jauh dari standar Upah minimum regional Sulawesi Selatan yang ditetapkan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Sulsel sebesar Rp 700 ribu per bulan. Sumber: Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) Sulsel.
”Kita kerja di sini sekadar untuk bertahan hidup (baca:makan). Untuk aset masa depan itu tidak mungkin,” ungkap Iwan (samaran:red), yang bekerja di lantai dasar Perpustakaan Pusat.
Terdapat 133 petugas cleaning service (CS) yang mejeng di berbagai sudut kampus. Dan ternyata, bukan hanya CV TJU saja yang menjadi induk para CS. Ada tiga instansi lain yang juga mengambil untung dari inovasi rektor dalam hal kebersihan ini. Di antaranya, CV Prima Mitra, CV Rezky Jaya dan CV Targetama Clean. Semua area kerja instansi itu telah terpetakan, agar tak saling menyerobot atau saling tuding dalam menetapkan area.
TJU memiliki 49 orang CS, termasuk koordinator dan manajernya. THU bertanggung jawab untuk menjaga kebersihan Gedung Baruga A Pettarani, PKP, Wisma Rambo, Masjid MPM, Gedung IPTEK, Fakultas Kedokteran dan Pascasarjana. CV Targetama Clean memiliki 42 orang CS, bertugas di fakultas-fakultas lain. Sementara CV Prima Mitra dan CV Rezky Jaya, dengan total personel sebanyak 46 orang, pihak ini bertanggung jawab terhadap kebersihan pekarangan kampus.
Kontrak Kerja Samar-Samar
CV TJU telah menjadi satu-satunya mitra keperecayaan universitas. Terbukti, dengan empat menjalin kerja sama, baik yang sebelumnya di fakultas dan belakanag tingkat Unhas.
Namun di balik itu, ternyata sistem manajemen CV TJU seakan samar-samar. Kontrak kerja sama yang selama ini menjadi pedoman dalam menjalankan tugas, malah tidak pernah ada transparansinya ke CS. Ari mengaku, tak pernah melihat peraturan kontrak tersebut. Tapi hal ini ditampik oleh Hamzah Anwar selaku manajer CV TJU saat dikonfirmasi. ”Selama ini mereka telah menandatangani kontrak berdasarkan kesepakatan atas isi kontrak,” katanya.
Mengenai upah, saat dikonfirmasi, Fauzy Basalama selaku Direktur CV TJU hanya mengemukakan alasan, masih banyak perusahaan lain yang upah karyawannya di bawah UMR. Dan ia menambahkan, baik urusan kontrak karyawan sampai dengan sistem upah, itu merupakan rahasia dapur perusahaan dan patut dirahasiakan demi keamanan data perusahaan.
Aturan kerja CS pun tak lepas dari kedisiplinan tingkat tinggi. Bila tidak masuk dalam sehari misalnya. Pihak instansi swasta yang menaungi akan memotong upah sebesar Rp 15 ribu per hari. ”Kalau pakai keterangan dokter bisa bagi dua dari dendanya, tapi untuk dapat surat keterangan dokter itu saya musti keluar berapa duit?,” tukas Ari (samaran,red).
Bagi pihak pengelola jasa kebersihan, Unhas hanya membeli jasa perusahaan mereka, jadi setiap jasa yang dipakai itulah yang kemudian dihitung dan dibayarkan sebagai gaji para CS. (Sni/Mch)





Selanjutnya!