Demi Kualitas, Satu Pintu Ditutup
Peminat reso akan masuk pintu gerbang yang sama dengan calon mahasiswa Repa. Ini sengaja diberlakukan agar kualitas alumni Reso bisa menyamai alumni Repa.
Program ekstensi telah berganti nama menjadi reguler sore (Reso). Awalnya program ini ditujukan untuk para pekerja yang ingin mengenyam pendidikan pada Strata Satu Unhas. Makanya aktivitas perkuliahan dilangsungkan di malam hari. Reso juga diperuntukkan bagi calon mahasiswa yang tidak lulus pada Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB). Oleh karena itu, dibuatlah mekanisme penerimaan mahasiswa baru pada program Reso melalui tes khusus diluar SPMB.
Reso dan reguler pagi (Repa) berbeda dalam banyak hal. Di antaranya seperti yang telah disebutkan, yaitu mulai dari waktu perkuliahan hingga mekanisme penerimaan. Bahkan setoran biaya perkuliahannya pun jauh berbeda. Repa yang hanya menghabiskan ratusan ribu persemesternya, sedangkan Reso bisa bermain jutaan. Yang bisa mengikuti tes Reso tentunya terbatas pada orang-orang yang bisa menyanggupi setoran yang ditawarkan saja. Ini berarti seleksinya tidak seketat Repa.
Perbedaan inilah yang membuat sebagian orang beranggapan alumni program Reso sulit dipertanggungjawabkan dari segi kualitas. Meskipun status mereka saat lulus tidak berbeda dengan alumni Repa. Dekan Fisip Deddy Tikson Phd menuturkan satu contoh kasus, “pernah ada kasus di salah satu fakultas, alumninya melamar pekerjaan. Lantas tidak diterima karena diketahui ia lulusan program Reso.”
Untuk memperbaiki hal tersebut, Pembantu Rektor (PR) I Prof Dadang A Suriamihardja menawarkan solusi. Yaitu dengan mengubah mekanisme penerimaan di Reso. Jika sebelumnya melalui tes tersendiri, sekarang melalui UMB (Ujian Masuk Bersama) dan SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri). Dimana calon mahasiswanya diurutkan berdasarkan peringkat kelulusan. Peringkat dibawah batas kuota akan ditawarkan untuk masuk ke program Reso.
Tawaran PR I ini disambut baik oleh Dekan Fisip. “Saya setuju dengan mekanisme yang ditawarkan itu. Karena setidaknya ini lebih baik dari sebelumnya. Penerimaan mahasiswa melalui program Reso selama ini tidak mencerminkan kualitas,” ujar Deddy. Terkait itu, nada setuju juga datang dari Dekan FKM Prof Dr Fenni Hadju. “Kita akan ikuti format yang akan diambil Senat Universitas. Tidak ada masalah mengenai itu. Dari segi kualitas, kita akan berhati-hati,” tukasnya.
Tawaran tersebut telah disampaikan dan direkomendasikan ke Rektor. Hanya tinggal menunggu Surat Keputusan agar mekanisme baru ini bisa diselenggarakan tahun ini. Namun hal ini juga menuai sedikit hambatan, mengingat penerimaan mahasiswa baru yang sudah di depan mata. Sementara itu seluruh fakultas masih berada dalam ketidakpastian mengenai penerimaan mahasiswa Resonya. Fisip sendiri sudah memilih bersikap tegas dengan tidak membuka program Reso pada tahun ini.
“Dalam rangka penertiban itu, Fisip untuk tahun ini tidak membuka penerimaan Reso,” ujar Deddy. Meski begitu, ada hal baik dari mekanisme baru ini. Setidaknya mahasiswa Reso dan Repa akan masuk pada pintu gerbang yang sama yaitu pintu masuk seleksi nasional, SNMPTN. Peminat Reso pun harus membuang jauh anggapan bahwa dirinya akan diberi pintu masuk yang mudah hanya dengan membayar lebih.
Reso Nyaris Dihapuskan
Menumpuknya mahasiswa S1 membuat Unhas berencana menghapus program Reso. ”Unhas ini kan akan menjadi Research University, jadi kalau bisa populasi S1 jangan terlalu besar. Oleh karena itu, Reso sudah pasti akan out,” ujar PR I Prof Dadang A Suriamihardja. Besarnya populasi bisa dilihat dari rasio perbandingan dosen dengan mahasiswa yang tidak seimbang. Rasio idealnya antara lain 1:13. Sementara di FKM misalnya, rasio sudah hampir mencapai 1:20.
Walaupun Dadang berpikir demikian, beberapa fakultas masih mengharapkan program Reso tetap ada. Misalnya Fakultas Teknik, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Fakultas Hukum, dan Fakultas Ekonomi. Menurut Dekan FKM, program Reso sangat dibutuhkan oleh calon mahasiswa dari daerah-daerah yang jauh dari Makassar. “Yang paling esensial, kita mau membantu calon mahasiswa dari daerah terpencil yang sulit berkompetisi di seleksi nasional,” terangnya.
Hingga saat ini, keputusan untuk melanjutkan atau tidak program Reso masih menjadi otonomi fakultas. “Kita tidak bisa mendesak fakultas untuk melepas Reso karena itu otonomi fakultas,” ujar PR I. Meski Reso tetap ada, bagaimanapun Unhas harus tetap berupaya mempertahankan kualitas lulusannya. Kualitas akan baik jika terdapat keseimbangan rasio antara dosen, mahasiswa serta fasilitas.
Suk/ Ayh
Program ekstensi telah berganti nama menjadi reguler sore (Reso). Awalnya program ini ditujukan untuk para pekerja yang ingin mengenyam pendidikan pada Strata Satu Unhas. Makanya aktivitas perkuliahan dilangsungkan di malam hari. Reso juga diperuntukkan bagi calon mahasiswa yang tidak lulus pada Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB). Oleh karena itu, dibuatlah mekanisme penerimaan mahasiswa baru pada program Reso melalui tes khusus diluar SPMB.
Reso dan reguler pagi (Repa) berbeda dalam banyak hal. Di antaranya seperti yang telah disebutkan, yaitu mulai dari waktu perkuliahan hingga mekanisme penerimaan. Bahkan setoran biaya perkuliahannya pun jauh berbeda. Repa yang hanya menghabiskan ratusan ribu persemesternya, sedangkan Reso bisa bermain jutaan. Yang bisa mengikuti tes Reso tentunya terbatas pada orang-orang yang bisa menyanggupi setoran yang ditawarkan saja. Ini berarti seleksinya tidak seketat Repa.
Perbedaan inilah yang membuat sebagian orang beranggapan alumni program Reso sulit dipertanggungjawabkan dari segi kualitas. Meskipun status mereka saat lulus tidak berbeda dengan alumni Repa. Dekan Fisip Deddy Tikson Phd menuturkan satu contoh kasus, “pernah ada kasus di salah satu fakultas, alumninya melamar pekerjaan. Lantas tidak diterima karena diketahui ia lulusan program Reso.”
Untuk memperbaiki hal tersebut, Pembantu Rektor (PR) I Prof Dadang A Suriamihardja menawarkan solusi. Yaitu dengan mengubah mekanisme penerimaan di Reso. Jika sebelumnya melalui tes tersendiri, sekarang melalui UMB (Ujian Masuk Bersama) dan SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri). Dimana calon mahasiswanya diurutkan berdasarkan peringkat kelulusan. Peringkat dibawah batas kuota akan ditawarkan untuk masuk ke program Reso.
Tawaran PR I ini disambut baik oleh Dekan Fisip. “Saya setuju dengan mekanisme yang ditawarkan itu. Karena setidaknya ini lebih baik dari sebelumnya. Penerimaan mahasiswa melalui program Reso selama ini tidak mencerminkan kualitas,” ujar Deddy. Terkait itu, nada setuju juga datang dari Dekan FKM Prof Dr Fenni Hadju. “Kita akan ikuti format yang akan diambil Senat Universitas. Tidak ada masalah mengenai itu. Dari segi kualitas, kita akan berhati-hati,” tukasnya.
Tawaran tersebut telah disampaikan dan direkomendasikan ke Rektor. Hanya tinggal menunggu Surat Keputusan agar mekanisme baru ini bisa diselenggarakan tahun ini. Namun hal ini juga menuai sedikit hambatan, mengingat penerimaan mahasiswa baru yang sudah di depan mata. Sementara itu seluruh fakultas masih berada dalam ketidakpastian mengenai penerimaan mahasiswa Resonya. Fisip sendiri sudah memilih bersikap tegas dengan tidak membuka program Reso pada tahun ini.
“Dalam rangka penertiban itu, Fisip untuk tahun ini tidak membuka penerimaan Reso,” ujar Deddy. Meski begitu, ada hal baik dari mekanisme baru ini. Setidaknya mahasiswa Reso dan Repa akan masuk pada pintu gerbang yang sama yaitu pintu masuk seleksi nasional, SNMPTN. Peminat Reso pun harus membuang jauh anggapan bahwa dirinya akan diberi pintu masuk yang mudah hanya dengan membayar lebih.
Reso Nyaris Dihapuskan
Menumpuknya mahasiswa S1 membuat Unhas berencana menghapus program Reso. ”Unhas ini kan akan menjadi Research University, jadi kalau bisa populasi S1 jangan terlalu besar. Oleh karena itu, Reso sudah pasti akan out,” ujar PR I Prof Dadang A Suriamihardja. Besarnya populasi bisa dilihat dari rasio perbandingan dosen dengan mahasiswa yang tidak seimbang. Rasio idealnya antara lain 1:13. Sementara di FKM misalnya, rasio sudah hampir mencapai 1:20.
Walaupun Dadang berpikir demikian, beberapa fakultas masih mengharapkan program Reso tetap ada. Misalnya Fakultas Teknik, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Fakultas Hukum, dan Fakultas Ekonomi. Menurut Dekan FKM, program Reso sangat dibutuhkan oleh calon mahasiswa dari daerah-daerah yang jauh dari Makassar. “Yang paling esensial, kita mau membantu calon mahasiswa dari daerah terpencil yang sulit berkompetisi di seleksi nasional,” terangnya.
Hingga saat ini, keputusan untuk melanjutkan atau tidak program Reso masih menjadi otonomi fakultas. “Kita tidak bisa mendesak fakultas untuk melepas Reso karena itu otonomi fakultas,” ujar PR I. Meski Reso tetap ada, bagaimanapun Unhas harus tetap berupaya mempertahankan kualitas lulusannya. Kualitas akan baik jika terdapat keseimbangan rasio antara dosen, mahasiswa serta fasilitas.
Suk/ Ayh




