Menilik Perjalanan dan Sentuhan BSS
BSS mengalami peningkatan jumlah peserta setiap tahun. Namun, masih banyak sivitas akademika yang tak merasakan pengaruhnya serta mempertanyakan evaluasinya.
Seorang pemuda terlihat berjalan tergesa-gesa menelusuri koridor Fakultas Hukum (FH) yang telah ramai dipenuhi mahasiswa, Selasa pagi (22/01). Maklum, perawakannya yang tinggi dan besar membuatnya lebih menonjol dan berbeda dengan mahasiswa lainnya. Ia khawatir terlambat dalam mengikuti program pelatihan Basic Study Skill (BSS). Mahasiswa baru FH ini mengenakan seragam hitam putih dan jas almamater merah yang menjadi kebanggaan Unhas. Itulah salah satu syarat peserta pelatihan BSS. Dan hukumnya wajib bagi seluruh peserta.
BSS menjadi satu kunci atau prasyarat bagi mahasiswa Unhas untuk sarjana. Ini diwajibkan bagi mahasiswa angkatan 2006 hingga peserta BSS selanjutnya. Apabila belum lulus, maka bukan hanya pria tinggi besar itu, tetapi seluruh mahasiswa Unhas yang diwajibkan mengikuti program ini tidak bakalan bisa mencicipi gelar S1. Tak ada ampunan dari pihak universitas. Tidak tanggung-tanggung, peserta yang kehadirannya kurang dari 80 %, tidak kebagian sertifikat kelulusan.
Sejak pertama diberlakukan pada tahun 2004 dan selanjutnya diujicobakan lagi tahun 2005. Dr Rafiuddin Syam ST MEng selaku Instruktur BSS mengaku bahwa BSS mengalami perkembangan yang cukup baik dari tahun ke tahun. Menurut pria kelahiran Tahuna ini, peningkatan dan perkembangan BSS dapat dilihat dari pertambahan jumlah peserta setiap tahunnya. Pun pengorganisasian dan materi-materi yang diberikan jauh lebih kompleks dari tahun-tahun sebelumnya. “Program ini sangat bermanfaat karena mahasiswa diajarkan manajemen diri dan cara menghilangkan sifat prokrastinasi atau kegemaran mengulur-ulur waktu,” tandasnya.
Meski dianggap mengalami banyak kemajuan. Banyak kalangan sivitas akademika belum mengetahui sejauh mana pengevaluasian dan tingkat keberhasilan program itu. Megawati misalnya. Mahasiswi Fakultas MIPA ini mengaku tidak tahu perihal tingkat keberhasilan BSS meski disadari ada sesuatu yang diperolehnya. “Selama ini saya melihat kalau hasil evaluasi BSS masih belum jelas,” cetusnya. Senada dengan Mega, Pembantu Dekan III FISIP Drs Abdul Gaffar Msi juga tak begitu mengikuti pengevaluasiannya. “Pihak fakultas hanya ditugaskan menjalankan program ini. Untuk masalah evaluasi dari BSS, mungkin pihak universitas yang lebih tahu,” ujar Gaffar.
Hal senada juga dilontarkan oleh Ketua Panitia Train Of Trainer BSS, Dr Tajuddin Parenta MA. Mantan Ketua Jurusan Studi Pembangunan Fakultas Ekonomi ini mengaku untuk hasil evaluasi BSS ia masih belum tahu betul. Pembantu Rektor III Ir H Nasaruddin Salam pun angkat bicara menanggapi hal itu. Nasaruddin mengungkapkan bahwa evaluasi program BSS ini sudah dilakukan oleh pihak universitas. Panitianya terdiri dari tim Monitoring dan tim Evaluasi Unhas. Selain itu, PR III menilai program BSS ini dapat menurunkan rasio Drop Out di tiap-tiap fakultas. Data-data hasil evaluasi menunjukkan bahwa IP dan IPK peserta BSS angkatan ke tiga meningkat dibandingkan angkatan sebelumnya. Dan jika hal ini dipertahankan maka tentu saja dapat menurunkan jumlah mahasiswa yang di Drop Out.
Tapi Mega justru meragukan bila BSS bisa banyak berpengaruh ke mahasiswa. Mega mengamati jika kecenderungan beberapa peserta BSS, hanya sekadar ikut-ikutan dan mengejar sertifikat yang dijadikan sebagai prasyarat untuk meraih S1. Sedang Tajuddin justru tidak mempermasalahkan hasil evaluasinya akan seperti apa. Baginya yang terpenting adalah bagaimana supaya dalam BSS dapat mengajarkan mahasiswa baru metode pembelajaran andragogi. Andragogi yang dimaksud adalah pembelajaran orang dewasa. Karena sebelumnya, semasa SMU atau setingkatnya, metode pembelajaran yang didapatkan adalah pedagogi atau pembelajaran anak-anak.
Bertepatan pengurusan KRS
BSS merupakan ajang mengasah soft skill bagi mahasiswa baru. Makanya, waktu pelaksanaan BSS diatur dengan mengambil jadwal diluar waktu perkuliahan. Dan pelaksanaan BSS tahun ini mengambil interval waktu, Selasa-Jumat (22-25/01). Sayangnya, pada beberapa fakultas misalnya Fakultas Teknik, pelaksanaan BSS ini bertepatan dengan waktu pengurusan Kartu Rencana Studi (KRS). Oleh karena itu, banyak peserta BSS yang meminta izin dan tidak mengikuti materi. Alasannya untuk mengurus KRS. Adapula yang harus keluar masuk dari materi BSS demi KRS mereka.
Imbasnya, tentu saja ini berpengaruh pada proses transfer ilmu antara instruktur dan peserta BSS. Ini menjelaskan bahwa pemahaman peserta terhadap materi yang diberikan tidak maksimal. Sedangkan kriteria kelulusan adalah kehadiran peserta BSS mengikuti materi.
Menanggapi hal ini, PD III Fakultas Ir H Louis Santoso MSi menegaskan bahwa masalah ini bukan salah siapa-siapa dan tidak ada hak menyalahkan siapa-siapa. Menurutnya, kalaupun ada yang harus disalahkan maka sistemlah yang harus disalahkan. “Ini seharusnya menjadi pembelajaran penting untuk ke depannya. Bagaimana supaya dapat menererapkan sistem yang lebih baik,” ujar Louis penuh harap.
Ags/ Ayh
Seorang pemuda terlihat berjalan tergesa-gesa menelusuri koridor Fakultas Hukum (FH) yang telah ramai dipenuhi mahasiswa, Selasa pagi (22/01). Maklum, perawakannya yang tinggi dan besar membuatnya lebih menonjol dan berbeda dengan mahasiswa lainnya. Ia khawatir terlambat dalam mengikuti program pelatihan Basic Study Skill (BSS). Mahasiswa baru FH ini mengenakan seragam hitam putih dan jas almamater merah yang menjadi kebanggaan Unhas. Itulah salah satu syarat peserta pelatihan BSS. Dan hukumnya wajib bagi seluruh peserta.
BSS menjadi satu kunci atau prasyarat bagi mahasiswa Unhas untuk sarjana. Ini diwajibkan bagi mahasiswa angkatan 2006 hingga peserta BSS selanjutnya. Apabila belum lulus, maka bukan hanya pria tinggi besar itu, tetapi seluruh mahasiswa Unhas yang diwajibkan mengikuti program ini tidak bakalan bisa mencicipi gelar S1. Tak ada ampunan dari pihak universitas. Tidak tanggung-tanggung, peserta yang kehadirannya kurang dari 80 %, tidak kebagian sertifikat kelulusan.
Sejak pertama diberlakukan pada tahun 2004 dan selanjutnya diujicobakan lagi tahun 2005. Dr Rafiuddin Syam ST MEng selaku Instruktur BSS mengaku bahwa BSS mengalami perkembangan yang cukup baik dari tahun ke tahun. Menurut pria kelahiran Tahuna ini, peningkatan dan perkembangan BSS dapat dilihat dari pertambahan jumlah peserta setiap tahunnya. Pun pengorganisasian dan materi-materi yang diberikan jauh lebih kompleks dari tahun-tahun sebelumnya. “Program ini sangat bermanfaat karena mahasiswa diajarkan manajemen diri dan cara menghilangkan sifat prokrastinasi atau kegemaran mengulur-ulur waktu,” tandasnya.
Meski dianggap mengalami banyak kemajuan. Banyak kalangan sivitas akademika belum mengetahui sejauh mana pengevaluasian dan tingkat keberhasilan program itu. Megawati misalnya. Mahasiswi Fakultas MIPA ini mengaku tidak tahu perihal tingkat keberhasilan BSS meski disadari ada sesuatu yang diperolehnya. “Selama ini saya melihat kalau hasil evaluasi BSS masih belum jelas,” cetusnya. Senada dengan Mega, Pembantu Dekan III FISIP Drs Abdul Gaffar Msi juga tak begitu mengikuti pengevaluasiannya. “Pihak fakultas hanya ditugaskan menjalankan program ini. Untuk masalah evaluasi dari BSS, mungkin pihak universitas yang lebih tahu,” ujar Gaffar.
Hal senada juga dilontarkan oleh Ketua Panitia Train Of Trainer BSS, Dr Tajuddin Parenta MA. Mantan Ketua Jurusan Studi Pembangunan Fakultas Ekonomi ini mengaku untuk hasil evaluasi BSS ia masih belum tahu betul. Pembantu Rektor III Ir H Nasaruddin Salam pun angkat bicara menanggapi hal itu. Nasaruddin mengungkapkan bahwa evaluasi program BSS ini sudah dilakukan oleh pihak universitas. Panitianya terdiri dari tim Monitoring dan tim Evaluasi Unhas. Selain itu, PR III menilai program BSS ini dapat menurunkan rasio Drop Out di tiap-tiap fakultas. Data-data hasil evaluasi menunjukkan bahwa IP dan IPK peserta BSS angkatan ke tiga meningkat dibandingkan angkatan sebelumnya. Dan jika hal ini dipertahankan maka tentu saja dapat menurunkan jumlah mahasiswa yang di Drop Out.
Tapi Mega justru meragukan bila BSS bisa banyak berpengaruh ke mahasiswa. Mega mengamati jika kecenderungan beberapa peserta BSS, hanya sekadar ikut-ikutan dan mengejar sertifikat yang dijadikan sebagai prasyarat untuk meraih S1. Sedang Tajuddin justru tidak mempermasalahkan hasil evaluasinya akan seperti apa. Baginya yang terpenting adalah bagaimana supaya dalam BSS dapat mengajarkan mahasiswa baru metode pembelajaran andragogi. Andragogi yang dimaksud adalah pembelajaran orang dewasa. Karena sebelumnya, semasa SMU atau setingkatnya, metode pembelajaran yang didapatkan adalah pedagogi atau pembelajaran anak-anak.
Bertepatan pengurusan KRS
BSS merupakan ajang mengasah soft skill bagi mahasiswa baru. Makanya, waktu pelaksanaan BSS diatur dengan mengambil jadwal diluar waktu perkuliahan. Dan pelaksanaan BSS tahun ini mengambil interval waktu, Selasa-Jumat (22-25/01). Sayangnya, pada beberapa fakultas misalnya Fakultas Teknik, pelaksanaan BSS ini bertepatan dengan waktu pengurusan Kartu Rencana Studi (KRS). Oleh karena itu, banyak peserta BSS yang meminta izin dan tidak mengikuti materi. Alasannya untuk mengurus KRS. Adapula yang harus keluar masuk dari materi BSS demi KRS mereka.
Imbasnya, tentu saja ini berpengaruh pada proses transfer ilmu antara instruktur dan peserta BSS. Ini menjelaskan bahwa pemahaman peserta terhadap materi yang diberikan tidak maksimal. Sedangkan kriteria kelulusan adalah kehadiran peserta BSS mengikuti materi.
Menanggapi hal ini, PD III Fakultas Ir H Louis Santoso MSi menegaskan bahwa masalah ini bukan salah siapa-siapa dan tidak ada hak menyalahkan siapa-siapa. Menurutnya, kalaupun ada yang harus disalahkan maka sistemlah yang harus disalahkan. “Ini seharusnya menjadi pembelajaran penting untuk ke depannya. Bagaimana supaya dapat menererapkan sistem yang lebih baik,” ujar Louis penuh harap.
Ags/ Ayh




