FKM Lahirkan Lagi Satu Konsentrasi
Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) membuka konsentrasi baru yaitu Manajemen Rumah Sakit (MARS) untuk Strata Satu (S1). Meski sudah mencapai tahap akhir, nyatanya konsentrasi tersebut belum dibuka awal tahun ini.
“Di rumah sakit, yang harus dibenahi yakni SDM, bagian pengelola yaitu Farmasi atau Logistik, dan pemuasan pelanggan RS,” ujar Kepala Konsentasi MARS Drs Syahrir A Pasinringi saat ditemui Jumat lalu (1/2). Inilah salah satu alasan mengapa MARS akan dibuka bagi program S1 FKM. Selain itu, ada hasil penelitian mengungkapkan bahwa minimal 6 orang dari masing-masing rumah sakit dibutuhkan tenaga ahli pada level menengah di bidang Manajemen Rumah Sakit. Jadi, diperkirakan sebanyak 1932 jumlah tenaga profesi ini dibutuhkan oleh lebih kurang 322 rumah sakit di seluruh Indonesia.
Berangkat dari semua hal itu, akhirnya pihak FKM mulai merancang suatu wadah yang dapat menghasilkan alumni muda yang mampu mengisi ruang tersebut. Hingga diperkenalkanlah Manajemen Rumah Sakit (MARS). Senada dengan itu, beberapa waktu lalu (sekitar tahun 2001/2002) diterima surat yang berasal dari Jepang. Lebih kurang isinya berarti seperti ini: “...jadi untuk mengelola suatu rumah sakit maka dibutuhkan tenaga yang ahli pada bidangnya.” Inilah yang kemudian menginspirasi sejumlah pengajar di FKM membuat konsentrasi baru yang diberi nama Manajemen Rumah Sakit.
Pun Syahrir menambahkan bahwa Manajemen Rumah Sakit ini dibuka bagi S1 karena kebutuhan lapangan kerja rumah sakit. Beberapa alumni kami -lulusan program Pasca Sarjana yang disebut Magister ARS- yang sekarang bekerja di rumah sakit membutuhkan tenaga ahli alumni S1. Selain itu, Syahrir percaya bahwa Manajemen Rumah Sakit akan diminati kalangan mahasiswa karena mampu bersaing.
PR I Prof Dr Dadang Suriamiharja pun menambahkan, bahwa mendirikan konsentrasi baru di fakultas harus melihat kebutuhan mahasiswa. Apakah konsentrasi ini diminati dan sesuaikah dengan kebutuhan masyarakat. Lewat tekat yang kuat, melalui tahun demi tahun dengan proses yang panjang, pun tak jarang menghadapi kendala, akhirnya membuahkan hasil juga. Jumat, tepatnya 2 November 2006, FKM menerima Surat Keputusan tentang dibukanya konsentrasi baru ini. Tak semudah membalikkan telapak tangan, pun proses yang dilaluinya menghabiskan waktu tiga tahun. Keluarnya SK kemudian disambut hangat para pendiri MARS diantaranya, Prof Dr dr M Alimin Maidin MPH, Dr dr Noer Bahry Noor MSc, Drs Syahrir A Pasinringi MS, Fridawaty Rivai SKM MARS, dr A Indahwaty Sidin, dan M Yusran Amir SKM MPH.
MARS untuk S1 bukanlah termasuk ’barang baru’ di FKM. Sebelumnya, program yang serupa tujuan dengan pembentukan MARS ini telah dibuka pada program Pasca Sarjana (S2) FKM yang sekarang dinamakan Magister Administrasi Rumah Sakit (MARS/Magister ARS). Program Magister ARS telah memiliki alumni sebanyak 101 orang. Sedangkan untuk program D3, rencananya akan dibuka berbarengan program S1 di tahun 2008. Meski kesiapannya sudah mencapai tahap akhir, konsentrasi untuk S1 ini belum dibuka oleh FKM pada tahun ini. Padahal sejauh ini, sosialisasi sudah dilakukan baik media cetak dan online. Informasi dapat dilihat di website resmi Unhas. Ini dilakukan dengan harapan MARS sudah bisa dibuka tahun ini.
Kurangkah peminat MARS ini? Tidak. Konsentrasi untuk S1 dengan syarat memasuki semester 4 itu, ternyata mahasiswa semester akhir angkatan 2006 pada tahun ajaran 2007/2008 banyak yang tertarik. Mereka -yang memasuki semester 4- itu rencananya mengambil pilihan konsentrasi MARS mengawali tahun 2008 ini. Akan tetapi berkasnya harus dikembalikan karena ditunda pembukaannya. “Seandainya MARS sudah dibuka, saya pasti memilihnya. Tetapi, tahun ini belum dibuka,” sesal Farida, mahasiswa FKM angkatan 2006. Bahkan, beberapa waktu lalu, sekitar 60 pelajar dari Irian Jaya dan 20 pelajar asal Maluku mengirimkan daftar nama yang akan mendaftar program khusus MARS. “Karena belum buka, maka semuanya dibatalkan,” tambah Syahrir.
Pihak MARS bingung atas ketidakjelasan belum dibukanya MARS mengawali tahun ini. “Kami (Pihak MARS, red) tidak tahu menahu mengapa? Tapi ini perintah dari PD I, alasannya karena ini keputusan Senat FKM,” ujar salah satu staf Akademik MARS. Sedang PD I saat dikonfirmasi sedikit berkomentar. ”Konsentrasi MARS memang diperuntukkan untuk tahun ajaran 2008/2009 (mahasiswa angkatan 2007 yang memasuki semester 4, red). Lagipula pada saat mahasiswa angkatan 2006 masuk, itu belum diprogramkan,” tegas Dr Ridwan M Thaha MSc. Berdasarkan penjelasan Ridwan, konsentrasi MARS yang merupakan bagian dari program Kesehatan Masyarakat (KESMAS), baru akan dibuka mengawali tahun 2009 bagi mahasiswa semester akhir angkatan 2007.
Akibatnya, MARS untuk S1 mengalami kekosongan jadwal. Padahal tahun ini, semestinya ruangannya sudah disibukkan agenda perkuliahan ataupun kegiatan akademik lainnya. Pun pendiri MARS telah mencoba berbagai upaya agar MARS bisa dibuka sedini mungkin. Termasuk dengan membiayai segala operasional kerja MARS dengan saling kongsi. ”Untuk biaya pembelian meja di ruangan ini pun berasal dari para dosen-dosen. Kami (pendiri-pendiri MARS, red) menjadi konsultan kesehatan di luar dan mendanainya sendiri. Tak sepersen pun didapatkan pendanaan dari fakultas,” tukas Syahrir.
Menanggapi itu, Dadang menilai seharusnya di FKM memiliki sumber dana yang dialokasikan untuk konsentrasi baru itu. Namun tak sekadar mendanai sendiri, upaya lain juga telah dilakukan pendiri MARS, misalnya menyiapkan pengasuh ataupun para tenaga pengajar yang ahli di bidangnya baik yang berasal dari FKM sendiri maupun dokter-dokter yang bekerja di berbagai instansi kesehatan.
Ina/ Ayh
“Di rumah sakit, yang harus dibenahi yakni SDM, bagian pengelola yaitu Farmasi atau Logistik, dan pemuasan pelanggan RS,” ujar Kepala Konsentasi MARS Drs Syahrir A Pasinringi saat ditemui Jumat lalu (1/2). Inilah salah satu alasan mengapa MARS akan dibuka bagi program S1 FKM. Selain itu, ada hasil penelitian mengungkapkan bahwa minimal 6 orang dari masing-masing rumah sakit dibutuhkan tenaga ahli pada level menengah di bidang Manajemen Rumah Sakit. Jadi, diperkirakan sebanyak 1932 jumlah tenaga profesi ini dibutuhkan oleh lebih kurang 322 rumah sakit di seluruh Indonesia.
Berangkat dari semua hal itu, akhirnya pihak FKM mulai merancang suatu wadah yang dapat menghasilkan alumni muda yang mampu mengisi ruang tersebut. Hingga diperkenalkanlah Manajemen Rumah Sakit (MARS). Senada dengan itu, beberapa waktu lalu (sekitar tahun 2001/2002) diterima surat yang berasal dari Jepang. Lebih kurang isinya berarti seperti ini: “...jadi untuk mengelola suatu rumah sakit maka dibutuhkan tenaga yang ahli pada bidangnya.” Inilah yang kemudian menginspirasi sejumlah pengajar di FKM membuat konsentrasi baru yang diberi nama Manajemen Rumah Sakit.
Pun Syahrir menambahkan bahwa Manajemen Rumah Sakit ini dibuka bagi S1 karena kebutuhan lapangan kerja rumah sakit. Beberapa alumni kami -lulusan program Pasca Sarjana yang disebut Magister ARS- yang sekarang bekerja di rumah sakit membutuhkan tenaga ahli alumni S1. Selain itu, Syahrir percaya bahwa Manajemen Rumah Sakit akan diminati kalangan mahasiswa karena mampu bersaing.
PR I Prof Dr Dadang Suriamiharja pun menambahkan, bahwa mendirikan konsentrasi baru di fakultas harus melihat kebutuhan mahasiswa. Apakah konsentrasi ini diminati dan sesuaikah dengan kebutuhan masyarakat. Lewat tekat yang kuat, melalui tahun demi tahun dengan proses yang panjang, pun tak jarang menghadapi kendala, akhirnya membuahkan hasil juga. Jumat, tepatnya 2 November 2006, FKM menerima Surat Keputusan tentang dibukanya konsentrasi baru ini. Tak semudah membalikkan telapak tangan, pun proses yang dilaluinya menghabiskan waktu tiga tahun. Keluarnya SK kemudian disambut hangat para pendiri MARS diantaranya, Prof Dr dr M Alimin Maidin MPH, Dr dr Noer Bahry Noor MSc, Drs Syahrir A Pasinringi MS, Fridawaty Rivai SKM MARS, dr A Indahwaty Sidin, dan M Yusran Amir SKM MPH.
MARS untuk S1 bukanlah termasuk ’barang baru’ di FKM. Sebelumnya, program yang serupa tujuan dengan pembentukan MARS ini telah dibuka pada program Pasca Sarjana (S2) FKM yang sekarang dinamakan Magister Administrasi Rumah Sakit (MARS/Magister ARS). Program Magister ARS telah memiliki alumni sebanyak 101 orang. Sedangkan untuk program D3, rencananya akan dibuka berbarengan program S1 di tahun 2008. Meski kesiapannya sudah mencapai tahap akhir, konsentrasi untuk S1 ini belum dibuka oleh FKM pada tahun ini. Padahal sejauh ini, sosialisasi sudah dilakukan baik media cetak dan online. Informasi dapat dilihat di website resmi Unhas. Ini dilakukan dengan harapan MARS sudah bisa dibuka tahun ini.
Kurangkah peminat MARS ini? Tidak. Konsentrasi untuk S1 dengan syarat memasuki semester 4 itu, ternyata mahasiswa semester akhir angkatan 2006 pada tahun ajaran 2007/2008 banyak yang tertarik. Mereka -yang memasuki semester 4- itu rencananya mengambil pilihan konsentrasi MARS mengawali tahun 2008 ini. Akan tetapi berkasnya harus dikembalikan karena ditunda pembukaannya. “Seandainya MARS sudah dibuka, saya pasti memilihnya. Tetapi, tahun ini belum dibuka,” sesal Farida, mahasiswa FKM angkatan 2006. Bahkan, beberapa waktu lalu, sekitar 60 pelajar dari Irian Jaya dan 20 pelajar asal Maluku mengirimkan daftar nama yang akan mendaftar program khusus MARS. “Karena belum buka, maka semuanya dibatalkan,” tambah Syahrir.
Pihak MARS bingung atas ketidakjelasan belum dibukanya MARS mengawali tahun ini. “Kami (Pihak MARS, red) tidak tahu menahu mengapa? Tapi ini perintah dari PD I, alasannya karena ini keputusan Senat FKM,” ujar salah satu staf Akademik MARS. Sedang PD I saat dikonfirmasi sedikit berkomentar. ”Konsentrasi MARS memang diperuntukkan untuk tahun ajaran 2008/2009 (mahasiswa angkatan 2007 yang memasuki semester 4, red). Lagipula pada saat mahasiswa angkatan 2006 masuk, itu belum diprogramkan,” tegas Dr Ridwan M Thaha MSc. Berdasarkan penjelasan Ridwan, konsentrasi MARS yang merupakan bagian dari program Kesehatan Masyarakat (KESMAS), baru akan dibuka mengawali tahun 2009 bagi mahasiswa semester akhir angkatan 2007.
Akibatnya, MARS untuk S1 mengalami kekosongan jadwal. Padahal tahun ini, semestinya ruangannya sudah disibukkan agenda perkuliahan ataupun kegiatan akademik lainnya. Pun pendiri MARS telah mencoba berbagai upaya agar MARS bisa dibuka sedini mungkin. Termasuk dengan membiayai segala operasional kerja MARS dengan saling kongsi. ”Untuk biaya pembelian meja di ruangan ini pun berasal dari para dosen-dosen. Kami (pendiri-pendiri MARS, red) menjadi konsultan kesehatan di luar dan mendanainya sendiri. Tak sepersen pun didapatkan pendanaan dari fakultas,” tukas Syahrir.
Menanggapi itu, Dadang menilai seharusnya di FKM memiliki sumber dana yang dialokasikan untuk konsentrasi baru itu. Namun tak sekadar mendanai sendiri, upaya lain juga telah dilakukan pendiri MARS, misalnya menyiapkan pengasuh ataupun para tenaga pengajar yang ahli di bidangnya baik yang berasal dari FKM sendiri maupun dokter-dokter yang bekerja di berbagai instansi kesehatan.
Ina/ Ayh




