<body><iframe src="http://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID=35470829&amp;blogName=KABAR+DARI+KAMPUS+UNHAS&amp;publishMode=PUBLISH_MODE_FTP&amp;navbarType=BLUE&amp;layoutType=CLASSIC&amp;homepageUrl=http%3A%2F%2Fwww.identitasonline.net%2F&amp;searchRoot=http%3A%2F%2Fblogsearch.google.com%2F" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no" frameborder="0" height="30px" width="100%" id="navbar-iframe" title="Blogger Navigation and Search"></iframe> <div id="space-for-ie"></div>
SELAMAT DATANG DI SURAT KABAR KAMPUS UNHAS
Photo Sharing and Video Hosting at PhotobucketPhoto Sharing and Video Hosting at Photobucket

Friday, November 30, 2007

No. 673/Tahun XXXIII/Awal November 2007

Mismanagement, I-MHERE Macet

Beberapa waktu lalu, Jurusan Farmasi dan Budi Daya Perairan Unhas, berhasil meraih program hibah kompetisi I-MHERE dengan total dana milyaran rupiah. Sayang, tindaklanjut program ini belum terlihat.

Setelah melewati empat kali perombakan, akhirnya kerja keras tim Unhas pun berbuah. Betapa tidak, proposal yang dikenal dengan istilah B1 (Improvement of Social Quality and Social Responsibilty) hasil kerjasama Farmasi dan Budi Daya Perairan (BDP) dinyatakan telah memenangkan proyek I-MHERE. Dana milyaran pun ada di depan mata. Namun tak sedikit dari sivitas Unhas bertanya-tanya tentang kelanjutan program ini.

Hubungan kerja sama Unhas dalam hal ini Farmasi dan BDP dengan Bank Dunia ini masih kelihatan samar-samar. Mahasiswa pun dapat merasakan hal ini. Terlihat banyaknya fasilitas yang belum terpenuhi. Gatot Wibowo selaku ketua BEM Perikanan mengeluhkan hal ini. Ia mengatakan bahwa sebelum penandatanganan kontrak, proyek ini telah menjanjikan sekian persen untuk Lembaga Mahasiswa Perikanan sebagaimana yang dilontarkan langsung oleh ketua tim proyek. Namun, pengalokasian dana untuk lembaga mahasiswa sampai sekarang belum ada. Tidak adanya transparansi dana dianggap sebagian mahasiswa sebagai salah satu kendala.

Dr Ir Gunarto Latama MSc, koordinator program studi BDP, mengatakan bahwa pemenuhan fasilitas belum terealisasi karena belum ada kucuran dana. Makanya, program kerja yang telah dikonsep dan tertuang di dalam proposal masih belum berjalan sama sekali. Berkaitan alokasi dana untuk lembaga mahasiswa, salah satu penyusun proposal ini memberikan pernyataan berbeda. ”Alokasi dana proyek ini hanya diperuntukkan bagi mahasiswa yang kurang mampu,” lanjutnya.

Serupa dengan pernyataan Gunarto, Dr Mariyanti A Manggau yang menjadi staff Farmasi juga menyatakan hal serupa. Bahwa selama ini program I-MHERE memang terkendala dana. Lebih jauh tentang I-MHERE, Mariyanti mengatakan bahwa dana I-MHERE ini adalah utang dari Bank Dunia dan yang akan melunasinya adalah pemerintah. Dengan kata lain, ini adalah hibah dari pemerintah.

Ibarat terkendala komunikasi, pernyataan Dr Ir Rusnadi Padjung MSc berbeda lagi. Rusnadi selaku Director Executive I-MHERE Unhas menjelaskan bahwa dana Program I-MHERE B1 sebesar 10 Milyar sudah ada sejak satu tahun lalu. Tepatnya Desember 2006, dana tersebut telah diterima dan masuk dalam rekening I-MHERE Unhas. Program I-MHERE B1 ini diperuntukkan untuk peningkatan relevansi dan sosial responsibility Universitas melalui penguatan jurusan. Sedang Program I-MHERE B2A (Strengthening Institutional Management In Auto Nomous Public Education Institution) untuk perbaikan manajemen mutu yang sehat bagi universitas. Dana untuk B2A ini senilai 3,9 Milyar dan baru masuk pada akhir Oktober lalu.

Buruknya koordinasi tim I-MHERE mengakibatkan pelaksanaan proyek ini tertahan alias belum jalan. Mariyanti terkejut ketika baru mengetahui bahwa ternyata dana sudah ada sejak tahun lalu. ”Itu mi juga. Sekarang sudah kurang koordinasi. Semuanya (tim I-MHERE, red) sudah sibuk dengan urusannya masing-masing. Hanya pada saat penyusunan proposal saja, komunikasi kami lancar," tandas Mariyanti.

Kurangnya komunikasi dari rektorat ke jurusan menyebabkan tejadinya kerancuan pemberitaan tentang pengalokasian dana I-MHERE Unhas. Tetapi terkait dengan ketidaktahuan Gunarto dan Mariyanti, Rusnadi justru menegaskan lain. Rusnadi malah beranggapan bahwa seharusnya pihak jurusanlah yang mengkomunikasikan hal itu ke atas (Director Executive I-MHERE, red). Pun Rusnadi menegaskan bahwa dana tersebut memang tidak diberikan kepada pihak jurusan. Akan tetapi, dana tersebut dikelola oleh orang yang menjalankan proyek dan dibelanjakan sesuai dengan program. Orang yang menjalankan proyek ini disebut Person In Charge (PIC) dan ini belum terbentuk. Dan menurut Rusnadi, jalannya proyek ini sangat bergantung pada PIC.

Walaupun program I-MHERE telah dinyatakan No Objection Letter (NOL) atau tidak ada lagi masalah dengan proposal tersebut. Hingga kini dana tersebut belum tersentuh program dalam proposal itu. Padahal batas waktu pengerjaan yang diberikan Bank Dunia, misalnya untuk B1 adalah dua tahun. Satu tahun keberadaan dana I-MHERE tetapi keberlangsungan program ini nyatanya masih belum jelas.

Akibat ketidakjelasan itu, terjadi perbedaan persepsi ataupun statement antara mahasiswa, staff Farmasi, koordinator program studi BDP, dan Director Executive I-MHERE. Belum lagi program I-MHERE yang dananya tidak sedikit ini dirasa masih kurang sosialisasi dan transparansinya bagi mahasiswa. "Kami (mahasiswa, red) mengharapkan adanya transparansi terhadap penggunaan dana I-MHERE ini," harap Gatot.
M02, M45, M57, M65/ Ayh


Selanjutnya!

Heroisme tak Lagi Dihargai

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah dan jasa para pahlawannya, lantas sejauh mana kita memaknainya dan menghargainya?

Kemerdekaan yang kita rasakan ini merupakan hasil dari perjuangan dan cucuran darah dari para pahlawan yang telah gugur untuk menegakkan dan mempertahankan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Dalam memeroleh kemerdekaan, banyak tantangan dan rintangan yang dilalui, baik dari dalam maupun dari luar. Salah satu ancaman itu adalah serangan pasukan sekutu yang membonceng pasukan Belanda (NICA). Rakyat Indonesia saat itu terus melakukan perlawanan. Hingga puncaknya, pada 10 November 1945, yang dikenal sebagai hari pahlawan.

Saat itu, di kota Surabaya, arek-arek Suroboyo berjuang melawan pasukan sekutu. Dalam pertempuran sengit itu, para pejuang hanya bersenjatakan bambu runcing dan senjata-senjata tradisional lainnya. Sementara pasukan Belanda dilengkapi persenjataan canggih. Keadaan itu tak membuat semangat juang para pemuda Surabaya goyah.. bung Tomo, dengan semboyan ‘rawe-rawe rantas malang-malang tunta,’ mampu membakar semangat rakyat Surabaya untuk melawan penjajah.

Bung Tomo merupakan salah seorang pejuang yang namanya selalu disebut-sebut setiap perayaan hari pahlawan. Namun, heroisme sepuluh November terasa sirna, tatkala pria yang bernama lengkap Soetomo itu, ternyata namanya belum tercatat di lembaran negara sebagai sosok pahlawan nasional.

Ini merupakan salah satu gambaran, jasa pahlawan masih terabaikan atau bahkan terlupakan. Fenomena yang berkembang memperlihatkan kurangnya perhatian terhadap pentingnya mengenang dan memaknai jasa-jasa para pahlawan di hati tiap warganegara, khususnya di kalangan mahasiswa sebagai generasi muda. Setiap tahun, peringatan hari Pahlawan sekadar seremonial semata. Padahal, terdapat esensi yang sangat berharga dalam hari bersejarah itu. Suatu esensi yang sangat agung dan sangat luhur untuk kita junjung tinggi, yaitu spirit patrotisme dan nasionalisme terhadap bangsa kita ini. Momentum hari pahlawan yang jatuh pada tanggal 10 November seharusnya dapat menjadi renungan dalam menghargai jasa-jasa para pahlawan, tetapi akhir ini juga mulai terlupakan.

Lantas Apa yang menyebabkan esensi ini luntur? Dr Edward L Polinggomang, mengungkapkan adanya perbedaan persepsi mengenai konsep pahlawan itu sendiri, sehingga mengakibatkan kurangnya kepercayaan terhadap jasa para pahlawan. “Konsep pahlawan yang dianut masyarakat adalah seseorang yang berjasa melawan kolonial, menciptakan Indonesia yang bersatu. Namun, mereka melupakan bahwa seorang pahlawan itu juga harus layak menjadi panutan rakyat,” ujarnya.

Apakah memang terjadi perbedaan persepsi ataukah civitas akademika memang tak perduli dengan sejarah para pahlawannya? Rahmat Hidayat, mahasiswa program studi Ilmu Pemerintahan Fisip, mengungkapkan penjajahan budaya asing menyebabkan terkikisnya nasionalisme dari hati para pemuda. “Mahasiswa tidak lagi pernah disuguhi kegiatan-kegiatan yang berusaha mengingatkannya akan jasa pahlawan. Momen-momen seperti perayaan dan pengapresiasian jasa pahlawan, tidak pernah lagi mereka dapatkan. Teman-teman semakin larut dengan budaya-budaya asing dan mengesampingkan budaya lokal,” tuturnya.

Lebih lanjut Rahmat mencontohkan, beberapa dari kita lebih bangga berbicara tentang Karl Marx, Che Guevara, serta pahlawan-pahlawan asing lainnya. Namun tidak pernah mengenal lebih jauh dengan keberanian Sultan Hasanuddin serta pahlawan-pahlawan yang berasal dari daerah sendiri. Momentum hari pahlawan bertujuan untuk mencegah amnesia sejarah. Jangan sampai kita melupakan perjuangan para pahlawan kita dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Karena bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah dan jasa para pahlawannya.
(M12,M55,M01,M66/Ikb)




Selanjutnya!

Menyorot Akar Degradasi Nilai Intelektual

Kampus tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan berdiskusi, membaca, menulis, berorganisasi, dan sejumlah predikat lain. Namun kebiasaan demikian mulai langka. Regulasi akademik dan globalisasi, dituding sebagai penyebab.

Boleh jadi kegalauan Narda ST, alumni Fakultas Teknik Unhas angkatan 1992 atas menurunnya budaya intelektual mahasiswa Universitas Hasanuddin belakangan ini, dipicu oleh arus modernisasi yang kian tak terbendung. Kekuatan globalisasi masuk dengan kuat menusuk sampai sudut-sudut kampus. Mahasiswa yang selama ini menyandang predikat Agent of Social Control, telah terbuai dengan sistem yang ada dan malah tak mampu memberikan kontrol sebagaimana mestinya. Jangankan kontrol pada penentu kebijakan (pemerintah), lingkungan sendiri (kampus) pun nyaris tak lagi terdengar. Budaya baca dan diskusi yang dulu diagung-agungkan oleh kalangan kampus, sekarang tak lagi membumi.

”Dulu kondisi sangat sulit. Referensi dan literatur-literatur berkualitas sangat minim. Diskusi di koridor-koridor kampus merupakan pilihan alternatif. Kami tidak hanya mendiskusikan materi perkuliahan, tapi juga isu-isu kebangsaan yang lagi hangat pada masa itu. Kami kerap mendatangkan senior dan tokoh-tokoh yang kami nilai berkompeten untuk berdiskusi,” papar Narda, mengambarkan suasana intelektual semasa Ia mahasiswa.

Salah satu faktor yang disinyalir menggerus nilai-nilai intelektual itu adalah tarikan arus globalisasi yang tidak mampu diantisipasi dengan bijak. Mengutip pendapat A Naharuddin SIp MSi, Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisip) Unhas yang juga mantan aktivis mahasiswa 1998, mengatakan bahwa arus globalisasi telah menumbuhkembangkan pragmatisme di kalangan mahasiswa. Kondisi ini terlihat dengan semakin menurunnya tingkat kepekaan mahasiswa terhadap kondisi lingkungan dan permasalahan sosial yang terjadi di sekitarnya. Hadirnya individualisme di kalangan mahasiswa, juga ditengarai sebagai produk globalisasi. Nilai-nilai pragmatisme ini dianggap salah satu penyebab menurunnya minat mahasiswa untuk membaca, menulis dan berdiskusi.

Ini sungguh ironi, pasalnya budaya intelektual seperti membaca, menulis dan berdiskusi merupakan esensi terdalam dari kehidupan mahasiswa. Tanpa itu sulit diharapkan munculnya gagasan-gagasan cemerlang dalam dinamika intelektual mahasiswa.

Naharuddin juga menyoroti regulasi akademik yang ditetapkan universitas. Regulasi akademik yang ada sekarangt, telah memangkas masa studi mahasiswa. ”Ini mendorong mahasiswa kemudian sibuk dengan persoalan bagaimana dapat selesai dari kampus secepatnya,” papar lelaki yang akrab dipanggil Pak Oceng oleh mahasiswanya ini.

Terkait pengaruh globalisasi tersebut, Alwy Rachman, Dosen Fakultas Sastra Unhas memberikan penilaian yang sebaliknya. Globalisasi hanya menggeser model pengembangan budaya intelektual. ”Terjadi transisi model pengembangan budaya intelektual. Diskusi misalnya, tidak lagi dikoridor kampus tapi lewat aplikasi teknologi. Segmennya juga semakin luas, menjangkau hingga lintas universitas. Ini yang kemudian tidak begitu nampak,” papar Alwi.

Namun bukan berarti globalisasi bebas nilai. Hadirnya media internet dan beragamnya media transformasi ilmu pengetahuan yang ditawarkan korporasi memengaruhi fokus pengembangan budaya intelektual. Mahasiswa kemudian cenderung mengikuti trend yang ditawarkan oleh korporasi (tuntutan pasar). ”Imbasnya nanti pada dosen. Mahasiswa tidak lagi menganggap dosen sebagai satu-satunya sumber ilmu pengetahuan. Tersedia banyak sumber lain dalam proses transformasi ilmu pengetahuan,” papar direktur Lembaga Penerbitan Universitas Hasanuddin (Lephas) ini.

Oleh karenanya Dosen harus memberikan tanggapan yang serius. Jika tidak, bukan tidak mungkin di masa depan, mahasiswa tidak lagi membutuhkan dosen. Kehadiran sumber-sumber pengetahuan baru sebagai imbas globalisasi akan menggantikan peranan dosen. Sorotan mengenai menurunnya budaya intelektual di kalangan mahasiswa juga mesti dialamatkan pada dosen. Betapa masih minimnya kuantitas dosen yang mau belajar dan melakukan diskusi-diskusi untuk meningkatkan kepekaan intelektual.

Menanggapi sorotan terhadap menurunnya minat pengembangan budaya intelektual mahasiwa, M Ikbal, ketua Senat Mahasiswa (SEMA) Fakultas Ekonomi Unhas bertekad menguatkan kembali proses kaderisasi ditingkatan lembaga kemahasiswaan. ”Proses kaderisasi selama ini begitu rapuh. Selain itu kekuatan luar juga telah menumbuhkan hedonisme dan apatisme gerakan intelektual,” papar mahasiswa angkatan 2003 ini.

Senada dengan Ikbal, Awaludin menilai kaderisasi di lembaga mahasiswa adalah fondasi dasar untuk menumbuhkembangkan budaya intelektual di kalangan mahasiswa. Kematangan intelektual itu pun sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, yang dari setiap masa pasti berbeda. ”Setiap zaman membawa warna tersendiri, oleh karena itu mari kita bangun dinamika intelekual yang baik pada masa kita,” papar ketua BEM Fakultas Teknik ini dengan optimis.
(M29, M53, M59/Din)




Selanjutnya!

Mengemas FK dengan ISO

Setelah berhasil mendapat acungan jempol dengan menggaet mahasiswa asal Negeri Jiran Malaysia, kini Fakultas Kedokteran (FK) tengah berbenah diri demi mendapatkan sertifikasi ISO 9001 : 2000. Sebuah standarisasi mutu bertaraf internasional.

Sesekali percakapan di ruangan pembantu dekan FK itu dibumbuinya dengan senyuman. Tak jarang pula ia bertutur dengan aksen serius. dr Mahmud Gaz Nawie Ph D Sp PA, Pembantu Dekan IV FK saat itu memang sedang menjamu tamu penting. Ia adalah Alvin Andiharu, konsultan dari Premisys Consulting, sebuah badan sertifikasi ISO (International Standardization for Organization).

Alvin nampak mendengarkan Mahmud dengan penuh perhatian. Sejak 20 Agustus lalu, Alvin telah menjalankan fungsinya sebagai konsultan ISO. Baginya, menjalani konsultasi di FK tak jauh beda dengan tempat klien-kliennya yang lain. Namun khusus untuk FK, Alvin mengaku memberi penilaian sedikit khsusus, sebab tahap-tahap sertifikasi mutu internasional bagi sebuah institusi pendidikan haruslah terperinci. Hal itu dikarenakan target yang ingin dicapai ialah ISO 9001-2000.

“Beberapa bulan ini kami telah memerhatikan sistem kerja di FK, melakukan training yang melibatkan tim ISO sendiri, juga nantinya akan melakukan konsultasi pembentukan sistem pada bulan desember mendatang, lalu melakukan sosialisasi dan implementasi dan terakhir melakukan audit,” tukas Alvin.

Geliat FK untuk go international ini sudah terlihat sejak lima tahun terakhir, saat mahasiswa asing mulai berkuliah di sana. Setelah memperoleh pengakuan lokal, yakni dari pihak Badan Akreditasi Nasional, birokrat FK sepertinya melihat sebuah celah baru untuk melangkah lebih maju. Menurut Drs Alimin Bado MS Kepala Biro Akademik Unhas, upaya yang dilakukan FK ini adalah demi menarik peluang go internasional, dengan memenuhi standar mutu internasional tersebut.

Sebenarnya, rencana penerapan ISO 9001:2000 sudah ada sejak Dr. Irawan Yusuf menjabat sebagai Dekan FK, tepatnya setahun lalu. Namun baru terlaksana pada bulan Agustus tahun ini.

Alimin menganggap hal ini sebagai suatu terobosan baru bagi mutu pelayanan. Bila berhasil, FK akan menjadi fakultas pertama di Unhas yang mendapatkan sertifikasi ISO. Jika hasilnya memuaskan, maka FK akan direkomendasikan untuk mendapatkan pengakuan dari badan sertifikasi sekaligus dari badan akreditasi.

Prosedur ISO
ISO 9001:2000 serupa dengan Standar Nasional Indonesia- SNI 19-9001-2001. Sistem manajemen ini berguna untuk mengendalikan dan mengarahkan organisasi dalam Perbaikan dan pengukuran mutu secara terus-menerus, untuk mengeliminasi variasi dengan menggunakan alat-alat statistik.

Pihak Birokrat FK menginginkan sertifikasi ini, karena mengharapkan manajemen kerja yang terstruktur, tercatat dan terjamin. Namun untuk mendapatkan sertifikasi ini, FK terlebih dahulu harus melalui tiga tahap, yakni pra-sertifikasi, sertifikasi dan pasca-sertifikasi.

“Saat ini FK masih berada di tahap pra-sertifikasi atau tahap audit dan target tercapainya sertifikat yaitu pada Desember tahun depan,” tutur Alvin Andiharu selaku konsultan FK. Pada tahap ini, badan sertifikasi akan meminta beberapa dokumentasi yang dibutuhkan, umumnya pedoman mutu, prosedur-prosedur, serta struktur organisasi. Setelah hal ini dapat diterima oleh badan sertifikasi, maka akan lanjut ke tahap sertifikasi.

Tahap selanjutnya berisi evaluasi, dan pelatihan yang akan melibatkan tim ISO sendiri. Dan tahap ketiga, yaitu pasca-sertifikasi. Dalam tahap ini, surveillance audit akan dilakukan dalam interval waktu yang teratur, untuk melihat bagaimana kinerja sistem manajemen mutu setelah sertifikasi.

Untuk mendapatkan pengakuan internasional tersebut, yang harus diutamakan adalah kepuasan pelanggan. Pelanggan disini pastilah mahasiswa. Namun saat proses sertifikasi ini sudah di depan mata, nampaknya masih banyak mahasiswa FK yang kurang paham dengan ISO. ”Sosialisasinya masih dalam bentuk pamflet dan spanduk, kalau dalam bentuk diskusi masih belum ada,” ungkap Anang mahasiswa FK angkatan 2003.

Meski begitu, tim ISO 9001:2000 di FK telah matang dibentuk. Dengan dipimpin langsung oleh dekan dan pembantu dekan IV. Tim tersebut disiapkan ruangan tersendiri dan berperan sebagai pengawas dan melakukan beragam kerjasama dengan para konsultan badan serifikasi, dalam hal mengontrol dan mengawasi mutu pelayanan FK.

Alimin Bado menjelaskan, bila ingin survive maka harus peduli pada sistem pelayanan. FK dalam hal ini berupaya penuh untuk mendapatkan sertifikasi ISO 9001:2000, dan alimin berharap, jejak FK ini bisa menjadi teladan bagi fakultas lain di Unhas.
(M04, M13,M52,M58 /Mch)




Selanjutnya!

Thursday, November 15, 2007

No. 671/Tahun XXXIII/Awal Oktober 2007


Menakar Kinerja Dengan Tunjangan

Kebiasaan sejumlah dosen yang sering mangkir mengajar mulai diterapi dengan pemberian tunjangan kinerja. Mungkinkah kebijakan itu akan berdampak positif?

Saat jam kuliah, tidak sedikit mahasiswa yang masih asik bercengkerama di pelataran atau koridor kampus. Bahkan seringkali ocehan mahasiswa tersebut membuat mahasiswa lain yang tengah kuliah terganggu. Pemandangan seperti ini hampir dijumpai di semua fakultas yang ada di unhas. Pasalnya sebagian dosen yang telah dijadwal untuk memberi kuliah, tidak masuk dengan alasan yang beragam. Mulai dari alasan sakit, urusan proyek, atau lebih memilih mengajar di tempat lain yang tunjangannya lebih besar.

Berangkat dari fenomena itu. Selama kepemimpinan Prof Idrus Paturusi sebagai rektor, tunjangan dosen mulai diperhatikan. Salah satunya dengan pemberian insentif bagi dosen yang melaksanakan kewajibannya dengan baik yang dikenal dengan tunjangan kinerja. Adapun besarnya, Rp 25 ribu hingga Rp 50 robu per SKS per semesternya. Ini dimaksudkan agar dosen tidak lagi melalaikan tugas mengajarnya hanya karena alasan rendahnya pendapatan.

Maka dari itu, agar proses verifikasi dan pengawasan kinerja dosen lebih baik, pihak universitas telah membentuk suatu lembaga yang bertugas dalam mengawasi kinerja dosen, yang dikenal dengan Unit Pengawasan Internal (UPI). Lembaga inilah yang menilai kinerja setiap dosen terkait dengan pemberian tunjangan kinerja atau reward lainnya. Tak hanya itu, lembaga ini diharapkan mampu mengeluarkan semacam rekomedasi untuk penjatuhan sanksi bagi dosen yang tebukti lalai.

Meski demikian, besarnya kewenangan yang diberikan tidak sebanding dengan SDM yang dimiliki. Oleh karenanya, pihak UPI mengharapkan kerjasama dengan mahasiswa dan pihak fakultas agar bersama-sama memantau kinerja dosen. “Bagi mahasiswa yang menemui dosen yang malas masuk kelas, langsung saja melapor ke UPI. Jika ada dosen yang terbukti malas mengajar akan diberi sanksi,” tegas Prof Djuanda selaku ketua UPI. Untuk memaksimalkan perannya, UPI sudah menjajaki kerjasama yang lebih intens dengan staf fakultas dalam melakukan pengawasan baik dari segi administrasi maupun pengawasan secara langsung. “Jika dosen itu ketahuan malas mengajar, maka gajinya akan distop,” tambah Dosen Fisip ini.

Menindaklanjuti hal itu, pihak akademik dari tiap-tiap fakultas telah melakukan monitoring kinerja dosen, mulai dari jadwal mengajar hingga penilaian lainnya. Di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip), proses pengontrolan absen dan monitoring dosen sudah berjalan baik. Yang lebih berperan dalam monitoring ini dilakukan oleh setiap jurusan. Karena pihak jurusanlah yang mengawasi dan mengabsen langsung dosen yang mengajar di ruangan belajar. “Makanya monitoringnya sangat ketat jadi tidak ada dosen yang tidak mengajar lagi. Selain itu setiap mata kuliah ada tiga orang dosen yang mengajar kalau satunya tidak mengajar biasanya dosen yang lain dihubungi untuk mengajar jadi mereka (satu tim) saling koordinasi saja. Makanya tidak ada lagi mahasiswa yang dirugikan sekarang,” ujar Kartiah Gani, kepala bagian akademik Fisip.

Hal sama terlihat di Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM), dimana proses monitoring dosen telah berjalan mulus. “Kalaupun ada dosen yang tidak masuk mengajar, mereka akan menggantinya di hari lain,” tegas Jukmara, staf akademik FKM. Upaya itu tidak lepas dari keinginan pihak rektorat membenahi sistem pengajaran kampus agar mahasiswa nantinya setelah keluar memiliki kompetensi dan nilai jual yang tinggi dalam dunia kerja dan masyarakat.

Meski demikian, sejumlah mahasiswa menilai kinerja sebagaian dosen masih buruk. Syamsudin, mahasiswa Fisip mengatakan kehadiran dosen di kelas belum maksimal. Menurutnya masih ada dosen yang lalai menjalankan tanggungjawabnya dalam mengajar. Meski monitoring jurusan di Fisip telah berjalan, ditambah dengan pengalokasian insentif, kinerja sebagaian dosen ternyata belum sesuai yang diharapkan.

Hal senada diungkapkan oleh Radiman Ruli, mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA). Menurutnya intensitas dosen di ruangan belum berjalan merata. Masih ada saja dosen yang tidak maksimal memberikan kuliah. Khususnya dosen yang merangkap jabatan struktural di jurusan atau fakultas, entah karena sibuk dengan pekerjaan administrasi atau urusan lain.

Terlepas dari prokontra dalam menilai kinerja dosen, monitoring dan pemberian tunjangan kinerja, sangat positif mendorong intensitas kehadiran dosen di ruangan. Kebijakan yang dikeluarkan rektorat itu cukup berhasil mendongkrak antusiasme dosen dalam mengajar. Sebagaimana yang dikemukakan Kepala Biro Administrasi Umum, Drs Halim Doko Msi yang mengatakan, kalau dosen-dosen di berbagai fakultas sudah menunjukkan peningkatan kinerja. Tingkat kehadiran di kelas atau frekuensi tatap mukanya dengan mahasiswa semakin membaik. “Dari beberapa laporan yang saya peroleh, dosen–dosen di fakultas sudah rajin masuk ruangan kuliah setelah diberlakukannya tunjangan kinerja,” terangnya.
(Dayat, Marlin/Pdy)




Selanjutnya!

Wednesday, November 14, 2007

Unhas Buka Disaster Management

Awal tahun 2008 Unhas akan membuka program magister baru yang nantinya menghasilkan SDM yang mampu terlibat dalam pengelolaan bencana dan konflik. Unhas bakal jadi yang pertama.

“…Mengapa di tanahku terjadi bencana. Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa…”, penggalan bait lagu yang dipopulerkan Ebit G Ade ini tentunya mengingatkan masyarakat Indonesia betapa bencana dan konflik secara beruntun telah melanda negeri ini.

Masih jelas dalam ingatan kita, konflik yang terjadi di Aceh, Ambon dan beberapa daerah lainnya telah menelan korban jiwa. Belum lagi gempa yang kemudian disusul tsunami di Aceh, gempa dan letusan gunung merapi di Yogjakarta, tanah longsor dimana-mana, genangan lumpur Lapindo di Jawa Timur, dan masih berderet rentetan bencana lainnya.

Musibah yang berkali-kali menghantam Indonesia tidak banyak dijadikan pelajaran untuk lebih matang dalam pengelolaan bencana maupun konflik. Sangat disesalkan, pemerintah maupun lembaga yang berada di Indonesia terkesan lemah dalam manajeman penanganan bencana. Maka diperlukan adanya institusi yang bisa mencetak SDM yang handal dalam manajemen penanganan bencana alam maupun konflik. Berangkat dari kesadaran ini, Unhas berencana membentuk program studi baru yang nantinya akan mencetak SDM dalam mengelola bencana maupun konflik. Program Magister (S2) ini bernama Disaster and Emergency Management (Manajemen Bencana dan Kegawatdaruratan).

“Dimana-mana seringkali kita temui terjadi bencana, karena itu Unhas membuka program Manajemen Bencana dan Kegawatdaruratan. Program ini akan dibuka Januari tahun depan, dan ini adalah yang pertama kali di Indonesia,” ujar Dr dr Andi Asadul Islam SpBs, PD III Fakultas Kedokteran sekaligus yang menjadi Sekretaris Pembentukan Program, saat ditemui di ruangannya, Kamis (4/10).

Andi Asadul menambahkan bahwa program ini dibawahi langsung oleh Fakultas Kedokteran, bukan Program Pascasarjana. Selain itu, program ini merupakan hasil kerjasama dengan Departemen Kesehatan RI, WHO (World Health Organization), serta beberapa Universitas di Indonesia, antara lain adalah UI, Unair, UGM, dan Univ Udayana (Unud).

Disaster and Emergency Management difokuskan untuk mencetak tenaga medis (Medical Emergency). “Jadi program ini ditujukan bukan hanya bagi lulusan Jurusan Pendidikan Dokter. Tapi juga untuk lulusan Jurusan Ilmu Keperawatan, dan Fakultas Kesehatan Masyarakat,” ujar PD III FK.

Rencananya, program ini akan terdiri atas empat semester, 42 SKS, dan akan menampung lebih kurang 24 mahasiswa tiap semesternya. Namun, menurut dr Syafruddin Gaus PhD SpAn, Ketua Program Studi untuk Magister Manajemen Bencana dan Kegawatdaruratan, mengenai prosedur akademik program, baru akan dibahas dalam lokakarya bulan November nanti. Prosedur itu di antaranya mengenai kurikulim, modul, kompetensi, lama pendidikan, persyaratan masuk, dan gelar lulusannya.

“Masih banyak perdebatan mengenai ini. Misalnya mengenai lama pendidikan. Dari WHO mengharapkan program ini akan berjalan selama setahun. Tapi kita di sini untuk menjalankan program Magister memerlukan waktu tiga sampai empat semester,” ujarnya. Oleh karena belum ada kejelasan mengenai prosedur akademik itu maka belum ada sosialisasi ke mahasiswa. “Setelah lokakarya dan kemudian disahkan oleh Direktorat Pendidikan Tinggi, baru kita bisa sosialisasi ke mahasiswa,” lanjut Syafruddin.

Meski belum ada sosialisasi ke mahasiswa, namun program ini dinilai cukup menarik bagi sebagian mahasiswa. Fariz Munandar misalnya, ketua Tim Bantuan Medis (TBM) Calcaneus ini mengaku berniat memasuki program tersebut nantinya. “Ini bagus sekali! Insya Allah saya akan masuk pada program ini. Kebetulan kami di sini (TBM Calcaneus, red) memang bergerak di bidang kegawatdaruratan,” ujarnya. Fariz optimis program tersebut bakal banyak peminatnya khususnya teman-teman dari TBM Calcaneus. Pasalnya program yang dibuka Unhas ini adalah yang pertama kalinya di Indonesia dengan kondisinya yang sangat diperlukan. Fariz menilai pembentukan program ini sangat perlu melihat kondisi Indonesia yang rawan terkena bencana.

Diharapkan dari pembentukan program baru ini nantinya akan sangat membantu utamanya dalam menanggulangi bencana ataupun konflik yang melanda negeri ini. Sehingga korban dapat diminimalisir. Semoga pembentukan program ini benar-benar ditindaklanjuti.
M12, M28/Ayh


Selanjutnya!