<body><iframe src="http://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID=35470829&amp;blogName=KABAR+DARI+KAMPUS+UNHAS&amp;publishMode=PUBLISH_MODE_FTP&amp;navbarType=BLUE&amp;layoutType=CLASSIC&amp;homepageUrl=http%3A%2F%2Fwww.identitasonline.net%2F&amp;searchRoot=http%3A%2F%2Fblogsearch.google.com%2F" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no" frameborder="0" height="30px" width="100%" id="navbar-iframe" title="Blogger Navigation and Search"></iframe> <div id="space-for-ie"></div>
SELAMAT DATANG DI SURAT KABAR KAMPUS UNHAS
Photo Sharing and Video Hosting at PhotobucketPhoto Sharing and Video Hosting at Photobucket

Saturday, August 25, 2007

identitas No. 667/ Tahun XXXIII/ EDISI Akhir Agustus 2007

Saat BEM Terhimpit PMB

Setahun yang lalu, aksi penolakan PMB kerap digulirkan oleh pihak lembaga kemahasiswaan. Meski dengan beberapa perombakan di dalamnya, ternyata PMB tahun ini masih ditentang oleh mayoritas BEM.


Kamis (16/08), Gedung Audiotorium Baruga Andi Pettarani bagai lautan putih hitam. Sekira 3500 mahasiswa baru (maba) tahun 2007 memadati bangunan yang telah menjadi ikon Unhas tersebut. Hari itu adalah hari pertama Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB). Sekaligus juga hari pertama mereka diterima sebagai mahasiswa di kampus merah ini. Sementara untuk dua hari berikutnya, giliran pihak fakultas yang akan menjamu mereka.
Berbagai bekal diberikan pada maba saat itu. Baik dalam kehidupan akademik maupun nonakademik mereka. Namun dibalik hikmatnya PMB itu berlangsung, ternyata kekecewaan yang diwujudkan dalam aksi penolakan PMB dilakukan oleh beberapa Badan Eksekutif Mahasiswa (Bem).

Penolakan itu diperjelas lagi dengan keogahan beberapa Bem untuk turut ambil bagian dalam PMB. Padahal dalam agenda PMB, diwajibkan untuk memasukkan materi kelembagaan mahasiswa, yang dibawakan langsung oleh perwakilan tiap lembaga.

Dalam Surat Keputusan Rektor Unhas No.7710/H4/UM.13/2007, tentang Penyelenggaraan PMB tahun 2007, pihak BEM secara tegas menolak enam poin aturan di antaranya. Dengan alasan, pihak birokrat telah mengklaim aturan PMB secara sepihak, serta menanggap PMB sebagai bentuk intervensi birokrasi terhadap lembaga kemahasiswaan.

Dari enam poin penolakan itu, salah satu poin yang dianggap sangat mengekang kebebasan Bem ialah rehat pengkaderan. Selama sebulan setelah PMB, tepatnya hingga 15 Sepetember mendatang, segala bentuk pengkaderan yang ditujukan untuk mahasiswa baru dilarang untuk dilaksanakan.
Sebagian besar Bem yang ada di Unhas seketika kebakaran jenggot. Keinginan mereka untuk melakukan kaderisasi awal sesegera mungkin, harus tertunda. Tapi adapula Bem yang tetap mengusahakan pengkaderan awal sebelum memasuki saat-saat ibadah ramadhan tersebut. Seperti yang dilakukan oleh Senat Mahasiswa Teknik.

Keterlibatan Bem dalam PMB
Kecuali Bem Fakultas Kedokteran, seluruh Bem yang ada di Unhas telah tercatat sebagai penolak PMB. Hal itu terlihat bubuhan stempel masing-masing Bem pada surat pernyataan tertanggal 13 Juli lalu.

Namun saat PMB berlangsung di fakultas masing-masing, anehnya beberapa anggota perwakilan Bem yang menolak itu terlihat aktif dalam prosesi PMB. Seperti yang dilakukan oleh Bem FKM, FKG, Hukum dan Kehutanan.

Menurut Emban Ibnu Rusyd Ketua Bem Kehutanan, adanya keterlibatan mahasiswa dalam proses PMB yang dilakukan oleh fakultas mengatasnamakan pribadi, bukan atas nama lembaga dalam hal ini BEM Kehutanan. “Keterlibatan mahasiswa kehutanan dalam proses PMB fakultas kemarin membawa nama pribadi, bukan membawa nama BEM Kehutanan, sedangkan BEM sendiri tidak ambil bagian,” ungkap Emban.

Sedangkan pihak Bem FKM dan FKG menyatakan terlibat karena secara konsep PMB dilaksanakan oleh Bem mereka. Fadli Ketua Maperwa FKG mengungkapkan, peran panitia PMB dalam hal ini dosen dan pegawai fakultas, hanya sebagai pengawas PMB saja.

Lain halnya BEM Hukum yang ikut dalam PMB. “Salah satu tujuan kami untuk ikut serta dalam PMB adalah untuk mensosialisasikan bahwa PMB bukanlah pengkaderan oleh Lembaga Kemahasiswaan,” tutur Nursal, Ketua BEM Hukum yang juga menandatangani surat pernyataan menolak surat rektor unhas tentang pelaksanaan PMB.

Di lain sisi, beberapa BEM lain tetap pada pendiriannya. Penolakan dan pernyataan resmi melalui surat acap kali dikeluarkan. Bem Teknik, Ekonomi, Perikanan dan Kelautan terlihat menyatakan sikapnya secara tertulis.

Awaluddin Ketua Senat Mahasiswa Teknik menyatakan, bahwa teknik tidak ambil bagian dalam PMB yang dilakukan oleh Universtas. “Kami tidak ambil bagian, tetapi bukan berarti kami akan bertindak negatif,“ujarnya.

Demikian pula yang terjadi di Fakultas Ekonomi, ketidakikutsertaan senat mahasiswa ekonomi dalam kegiatan PMB memberikan bukti nyata atas ketidaksetujuan mereka terhadap PMB. Ketua Senat Fak Ekonomi, Menurut Iqbal Ketua Bem Ekonomi, keputusan yang diambil oleh pihak birokrasi tentang PMB adalah keputusan sepihak. “Rapat-rapat PMB dengan pihak birokrat tidak pernah menghasilkan apa-apa. Kami pernah menawarkan untuk ikut dalam PMB, tapi usulan kami agar diberikan dua hari penuh saat PMB tidak diberikan jadi kami tidak ikut di dalamnya. Sehingga kami akan melakukan pengkaderan pada bulan puasa,” ujarnya.

Pelarangan selama sebulan pasca PMB dibenarkan oleh PR III untuk mengatasi masalah tawuran dan menjaga kondisi kampus yang kondusif dan apabila terjadi pelanggaran maka sanksi akan diberikan “ Sanksi akan diberikan kepada mereka yang melanggar tetapi tidak secara langsung, tetapi dimulai dengan pendekatan persuasive dan apabila tidak di indahkan maka sanksi akan diberlakukan, “ ujar Nasaruddin Salam Pembantu rector III universitas Hasanuddin .

Enam Poin Penolakan Bem/Senat Fakultas se-Unhas.
1. Buku pedoman penyelenggaraan Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) Universitas Hasanuddin edisi tahun 2007.
2. Waktu Pelaksanaan PMB yaitu tanggal 16, 18, 19 Agustus 2007
3. Biodata atau informasi lainnya dari Lembaga Kemahasiswaan kepada Maba 2007 disampaikan pada saat penyelenggaraan PMB.
4. Pelaksanaan pembinaan atau pengkaderan kepada Maba oleh Lembaga Kemahasiswaan baru dapat dimulai tanggal 15 September 2007
5. Pimpinan Universitas dan Pimpinan Fakultas supaya segera menyusun dan menerbitkan Surat Keputusan tentang Panitia Pelaksana PMB yang melibatkan semua unsur Civitas Akademik mengacu pada pedoman penyelenggaraan PMB 2007.
6. Sumber dana penyelenggaraan PMB 2007 berasal dari Mahasiswa Baru sebesar Rp. 300.000,- dengan alokasi Rp. 50.000 untuk penyelenggaraan tingkat universitas dan Rp. 250.000 untuk tingkat fakultas yang termasuk diantaranya sekitar Rp. 100.000 untuk pembinaan Mahasiswa Baru setelah PMB.







Selanjutnya!

Unhas Kecolongan, Kok Bisa?

Sebanyak 50 Perguruan Tinggi (PT)terbaik telah ditetapkan DIKTI. Unhas, sebagai universitas terbesar di Indonesai Timur justru tidak terdaftar.Ini pukulan telak buat Unhas.

Kendati dilontarkan dengan pelan dan dibarengi dengan senyum, namun nada ketegasan dan keseriusan terdengar jelas keluar. Dadang sepertinya enggan bermain-main. dari mulutnya. Kata ‘kecolongan’ berkali-kali mengalir dari tenggorokannya. Ketika identitas berdiskusi dengan Aslan Abidin (sastrawan Sulsel), Aslan mengatakan kenapa mesti kecolongan data, padahal di DIKTI semua data perguruan tinggi negeri dan swasta lengkap. Bisa jadi memang citra Unhas bukan lagi Universitas terkemuka di Indonesia Timur tetapi menjadi Universitas terlucu di Indonesia. “Kok bisa kecolongan data padahal DIKTI punya data lengkap mengenai seluruh Perguruan Tinggi Negeri (PTN)dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS), barangkali Unhas bukan lagi Universitas terkemuka di Indonesia Timur akan tetapi Universitas terlucu di Indonesia” ungkapnya ketika bertandang ke identitas.

Ada 28 Perguruan tinggi Negeri (PTN) dan 22 Perguruan Tinggi Swasta yang masuk dalam daftar DIKTI sebagai sebagai PT terbaik di Indonesia. Di Sulawesi hanya Universitas Tadulako (UNTAD), Sulawesi Tengah, satu-satunya yang masuk dalam daftar.

Kontroversipun bergulir, Dr. Armin Arsyad, M.Si dosen yang juga menjabat ketua program studi Ilmu Politik Fisip Unhas misalnya menilai keputusan DIKTI tidak representatif. Alasanya menurut Armin arsyad parameter yang dipakai DIKTI dalam penilaian tidak jelas. DIKTI bahkan menurut Armin Arsyad menutup mata atas kemajuan yang telah dicapai Unhas.

Unhas menurut Armin punya tekhnik Informasi, fasilitas dan infrastruktur yang memadai. Bahkan Unhas menurutnya saat ini dipercayakan menjadi universitas pembina yang melakukan pembinaan kepada perguruan Tinngi lain,”ada kesalahan informasi data yang sampai di DIKTI,” tutur Armin saat ditemui diruang kerjanya, senin (20/8) sambil mempertegas kalau itu ia terima dari rektor langsung.. Armin justru menyalakan DIKTI yang masih berbasiskan pengolahan data tradisional dalam melakukan kriteria penilaian. Sementara Unhas telah menerapkan system pengolahan data yang maju.

Pernyataan Armin Arsyad diatas justru bertolak belakang dengan keterangan yang diberikan Prof. Ir Dadang A Suriamihardja sendiri. Meski Dadang juga berujar seyogyanya DIKTI tidak menutup mata dalam melakukan penilaian, tapi Dadang tidak mengklaim DIKTI masih mnggunakan system penilaian tradisional,”hanya satu kekurangan kita, pendataan yang masih analog. DIKTI hanya menerima data dalam format digital, ini kekurangan terbesar Unhas” ujar Dadang menimpali . Kekurangan inilah dibahasakan Dadang dengan ‘kecolongan’. Seandainya data itu terformat dalam digital bukan tidak mungkin Unhas bakal masuk dua puluh besar daftar pemeringkatan DIKTI.Masalahnya menurut Dadang pegawai di Unhas belum terlatih menkonversi data dari manual ke system digital.

Kriteria yang ditetapkan DIKTI dalam pemeringkatan tersebut semuanya tersaji dengan lengkap mulai dari data besarnya dana hibah yang diterima Unhas tiap tahunnya, hasil-hasil penelitian pertahun, jumlah dosen dan mahasiswa pertahunnya sampai bentuk pengabdian pada masyarakat. Kendala yang dihadapi Unhas hanyalah system pendataan yang masih manual,”kita kekurangan operator yang mampu menkonversi data dari manual ke digital. Dikti hanya menerima data dalam format digital,”tutur Dadang. Dari keseluruhan pegawai Unhas, Cuma sekian persen saja yang mampu mengoperasilan komputer.

Belajar dari kasus tersebut, Dadang menegaskan kedepannya akan memperbaiki segala kelemahan Unhas terkhusus melatih para pegawi di Unhas yang masih kurang trampil mengoperasikan komputer. Apalagi Pemeringkatan itu menurut Dadang baru yang pertama kali diadakan. Jadi masih ada kesempatan untuk memperbaiki peringkat.Untuk menuju Unhas telah menetapkan program,pencapaian tiga besar berupa transformasi pola pembelajaran dari format teaching menjadi learning, pengolahan data dari manual ke digital, dan model penelitian dari sporadis menjadi road map. Sementara itu Juli lalu Unhas telah menempatkan sejumlah opertor ke semua fakultas yang bertugas menginput semua data ke dalam format digital.

Terkait dengan dampak yang akan diteriam Unhas dengan tidak masuknya Unhas dalam jajaran PT unggulan yang ditetapkan DIKTI Dadang mengatakan bahwa Unhas akan lebih gencar melakukan sosialisasi kemasyarakat. Ini menjaga citra Unhas sebagi PTN terbaik terutama dikawasan Inodonesai Timur tetap terjaga.

Sementara bagi Armin Arsyad mengaku tidak khawatir dengan pemeringkatan yang telah dilakukan DIKTI,”pola pikir masyarakat sudah berubah. Masyarakat kita sekarang mulai kritis. Mereka tidak begitu saja gampang menerima informasi,”ucap Armin. Unhas menurut Armin tidak perlu khawatir dengan dampak yang ditimbulakan dari informsi yang ditetapkan DIKTI. Nama Unhas sebagai universitas terbaik dan terbesar di Indonesia timur sudah melekat dalam benak masyarakat.

Lain halnya dengan Dr. Ir. Sumbangan Baja. M.Si Dosen Pertanian yang juga menjabat ketua jurusan Ilmu tanah ini mengatakan kalau pemeringkatan sangat berpengaruh terhadap sebuah institusi. Ia mencontohkan Universitas Of Sydney, Australia. Universitas terbesar di Negeri asal kanguru ini selalu berupaya memperbaiki kuliatasnya agar tetap masuk dalam daftar peringkat terbaik universiatas.Sampai sekarang universitas tersebut masih menempati peringkat nomor satu dalam penerimaan dana-dana hibah dan kerjasama baik dalam maupun luar negeri,”ini disebabkan Universitas Of Sydney tersebut sangat memperhatikan peringkat dan berusaha untuk selalu mendaptkan peringkat terbaik,”ungkap lelaki yang juga mantan mahasiswa Australia ini.

DR.Ir Sumabagan Baja mengharapakan Unhas tidak perlu kecil hati dalam pemeringkatan ini. lain kali Unhas harus bisa berbenah dari sekarang dengan memperbaiki segala hal khususnya teknologi informasi.. Ia justru menilai dengan tidak masuknya Unhas dalam 50 PT tersebut menjadi pemicu untuk memperbaiki kuliats termasuk dalam pendataan.

Belajar dari kasus tersebut, sepertinya Unhas memang perlu berbenah. Memperbaiki segala kekurangan. Apabila ini tidak diperhatikan, bukan tidak mungkin Unhas kedepannya akan semakin tertinggal jauh dari universitas lain. Bukan hanya pegawai yang harus dituntut berubah, tapi semua elemen civitas akademika mesti berubah. Barangkali saat ini Unhas jangan hanya larut memerhatikan kualitas fisik tapi tentu saja sumber daya mahasiswa juga?

Din/Ern




Selanjutnya!

Saturday, August 04, 2007

identitas No. 666/ Tahun XXXIII/ EDISI SPMB 2007

Kiat Mencari PTS Pilihan

Tidak lulus masuk ke PTN jangan dijadikan hambatan untuk tidak melanjutkan studi ke perguruan tinggi. PTS bisa jadi pilihan, berikut tips-tipsnya.

Jatah yang disediakan dalam Perguruan Tinggi Negeri (PTN) tak sebanding dengan pendaftarnya. Ini tak terlepas dari tingginya minat pelajar melanjutkan studinya ke perguruan tinggi. Berdasarkan polling yang dibuat oleh salah satu media elektronik kepada 4.125 pelajar Indonesia pada Juni 2007, diperoleh 2995 pelajar (73%) yang berminat melanjutkan studi ke Perguruan Tinggi. Persaingan ketat membuat sebagian besar pelajar tidak dapat melanjutkan studi ke PTN.
Perlu diketahui, penerimaan melalui jalur SPMB hanya 14-17% peserta saja yang bisa diterima ke PTN. Dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) bisa menjadi suatu alternatif. Banyak yang perlu dicermati untuk mendapatkan PTS pilihan. Tapi sebelumnya, pilihlah bidang studi sesuai minat dan bakat. Bila tidak, jeratan Drop Out (DO) mungkin tak terelakkan. Berikut informasi yang perlu didapatkan baik melalui profile, brosur, pendapat (dari pegawai,dosen, maupun mahasiswa) pada PTS tersebut.

Biaya
Seringkali universitas yang diinginkan tidak sesuai dengan keadaan keuangan orang tua. Kuliah di perguruan tinggi memang banyak komponen biayanya seperti misalnya uang pendaftaran, gedung, spp, ataupun uang praktikum. Terlebih pada PTS. Yang lebih tidak bisa diperkirakan adalah biaya mendadak seperti fotokopi, beli buku, juga transportasi. Sebelum mendaftar, tanyakan detail biaya yang harus ditanggung selama kuliah. Perhitungkan juga biaya lain yang akan ditanggung saat berstatus mahasiswa. Diskusikan dengan orang tua agar orang tua tidak kebingungan mencari biaya setelah berkuliah di tempat tersebut.
Karena bagi masyarakat golongan menengah ke bawah, lokasi dan biaya merupakan masalah yang sangat diperhitungkan. Jika dana terbatas, pilihlah lokasi kuliah yang dekat dengan tempat tinggal atau lokasi luar kota dengan biaya hidup yang rendah. Pilih juga tempat kuliah yang biaya pendidikannya tidak terlalu tinggi. Jika dana yang ada nanti belum mencukupi, maka carilah beasiswa, keringanan, ataupun pekerjaan paruh waktu untuk mencukupi kebutuhan dana yang dibutuhkan.

Status Akreditasi
Bila tahun-tahun sebelumnya dikenal status disamakan, diakui ataupun terdaftar, sekarang ini ada yang bernama status akreditasi. Status inilah yang saat ini menjadi salah satu faktor utama yang digunakan oleh PTS untuk mengiklankan dirinya. Status ini diberikan untuk program studi yang diselenggarakan dan bukan pada keseluruhan jurusan/program studi pada suatu perguruan tinggi. Status akreditasi ini menentukan kemandirian suatu program studi dalam melaksanakan proses belajar mengajar. Akan tetapi status akreditasi bukan satu-satunya kebanggaan untuk melihat perguruan tinggi tersebut bermutu, masih banyak lagi faktor lainnya.

Fasilitas Pendidikan
Jangan mengandalkan tampilan fisik saja. Gedung megah dan ber-AC saja tidak cukup untuk menjamin berlangsungnya proses belajar mengajar yang baik. Fasilitas utama yang harus diketahui dalam suatu PTS adalah seberapa baik dan bagusnya fasilitas seperti laboratorium (komputer, akuntansi, bahasa, dan lain-lain), bimbingan dan konseling serta perpustakaan yang dimiliki. Perhatikan kelengkapan perpustakaannya. Semuanya ini penting untuk mendukung keberhasilan sistem akademik yang diterapkan.
Bahkan pada beberapa PTS, disediakan wadah yang dibawahi suatu Lembaga Pengembangan yang nantinya memberikan pelatihan seperti kursus maupun workshop yang relevan dengan bidang ilmunya. Selain itu, beberapa PTS juga menyediakan fasilitas non-fisik yang patut diperhitungkan. Fasilitas itu berupa keringanan biaya yang biasanya diberikan kepada mahasiswa berprestasi ataupun yang dapat lulus dalam jangka waktu yang ditentukan.

Metode Belajar
Banyak cara yang ditawarkan oleh pihak universitas untuk mencetak lulusan yang berkualitas. Proses belajar dua arah, di mana mahasiswa pun dituntut untuk aktif saat berada di dalam kelas. Ini merupakan salah satu cara untuk pembentukan konsep yang matang. Dan seiring perkembangan zaman, pada sebagian PTS telah menerapkan sistem belajar bentuk e-learning. Sistem e-learning ini memberikan ruang gerak yang lebih bebas, dimana mahasiswa dapat mengikuti kuliah dengan mengakses proses pembelajaran yang sedang berlangsung di kelas. Dengan demikian, belajar tidak lagi terbatas ruang dan waktu. Makanya, tak sedikit PTS yang memberikan fasilitas notebook kepada mahasiswanya, sebagai suatu upaya untuk mendukung proses belajar tersebut.

Kurikulum
Akhir-akhir ini pun marak ditemui PTS yang telah menggunakan kurikulum berbasis kompetensi dan menjalin kerja sama dengan universitas luar negeri dalam pembuatan kurikulum. Hal tersebut direalisasikan melalui program-program studi yang ditawarkan, seperti program dual degree, sehingga seorang mahasiswa mendapat kesempatan untuk kuliah di dua tempat. Yaitu di PTS yang bersangkutan dan di universitas luar negeri yang diajak bekerja sama. Dan sadar akan tingginya kebutuhan untuk mampu bersaing di dunia kerja juga menuntut adanya perubahan dalam proses belajar mengajar. Jika unsur praktik biasanya lebih banyak diterapkan dalam jenjang diploma atau pascasarjana, kini hal itu juga telah diadopsi dalam jenjang strata satu. Dalam hal ini proporsi antara teori dan praktik diupayakan agar tetap seimbang.

Tenaga Pengajar
Hal ini menjadi salah satu daya magnet dari sebuah universitas untuk menjaring mahasiswa. Sejumlah PTS pun telah melengkapi armada pengajarnya dengan lulusan dari universitas ternama baik dari dalam maupun luar negeri. Setiap pengajar juga didorong untuk terus mengembangkan diri yang bisa diwujudkan melalui penelitian atau memberi fasilitas pengembangan untuk meningkatkan kualifikasi pendidikan tenaga akademiknya ke jenjang strata dua atau tiga.

Prospek
Hal terakhir yang mesti diperhatikan adalah bagaimana PTS menjanjikan prospek pekerjaan yang cerah di masa datang. Masuk pada suatu program studi favorit belum tentu menjanjikan apa-apa. Jika masuknya tidak sesuai bakat dan kemampuan maka bisa jadi akan putus di tengah jalan bahkan mungkin lulus tetapi kemudian hanya menjadi pengangguran. Anda harus dapat memprediksi prospek bidang studi yang dipilih dalam memasuki lapangan pekerjaan sesudah lulus nanti. Konsultasikan dengan banyak orang. Dan tidak sedikit PTS berkoneksi dengan perusahaan tertentu untuk menjaring lulusannya. Jangan mempertaruhkan masa depan diri sendiri. Dapatkanlah banyak informasi dari tips ini. Semoga membantu!
*Diolah dari berbagai sumber.
Ayh/Mch


Selanjutnya!