<body><iframe src="http://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID=35470829&amp;blogName=KABAR+DARI+KAMPUS+UNHAS&amp;publishMode=PUBLISH_MODE_FTP&amp;navbarType=BLUE&amp;layoutType=CLASSIC&amp;homepageUrl=http%3A%2F%2Fwww.identitasonline.net%2F&amp;searchRoot=http%3A%2F%2Fblogsearch.google.com%2F" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no" frameborder="0" height="30px" width="100%" id="navbar-iframe" title="Blogger Navigation and Search"></iframe> <div id="space-for-ie"></div>
SELAMAT DATANG DI SURAT KABAR KAMPUS UNHAS
Photo Sharing and Video Hosting at PhotobucketPhoto Sharing and Video Hosting at Photobucket

Monday, June 25, 2007

identitas No 663 / Edisi XXXIII / Edisi Awal Juni 2007

‘Umpan Tak Dilirik, Kuota Tak Terpenuhi'

Mulai 19 Juni 2007, gedung registrasi Unhas kembali hidup. Pasalnya, gedung yang sudah menganggur beberapa bulan ini tak lama lagi kedatangan tamu. Mereka adalah calon mahasiswa baru yang akan berebut kursi mahasiswa di kampus merah. Ironisnya, meski jumlah mereka ribuan, masih ada saja program studi yang kelebihan kursi. Ada apa gerangan?

Empat jalur penerimaan maba seperti Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB), Jalur Pemanduan Potensi Belajar (JPPB), Penelusuran Prestasi Olah Raga, Seni, dan Keilmuan (POSK) serta Penerimaan Mahasiswa Baru Jalur Non Subsidi (PM-JNS) ternyata belum mampu memenuhi kuota kursi bagi sebagian program studi. Spekulasi mendasar menunjukkan bahwa program studi yang dimaksud mengalami penurunan peminat.

Sebut saja Jurusan Perikanan, terhitung untuk tahun 2006 jumlah pendaftar mengalami penurunan drastis untuk dua program studi, yaitu Sosial Ekonomi Peirkanan (SEP) dan Budidaya Perairan (BDP). Untuk BDP, tahun 2005 lalu sempat memenuhi kuota 45 kursi dengan jumlah peminat yang bersaing sekitar 200 orang, namun kini peminatnya kian minim. Yang terjaring SPMB saja kurang dari setengah kuota, yaitu 23 mahasiswa.

Peternakan, fakultas tetangga sekompleks dengan perikanan mengalami gejala serupa. Pada 2006 ini peminat peternakan dari setiap program studi turun landai dari tahun-tahun sebelumnya. Pada 2003 jumlah mahasiswa yang terdaftar sebanyak 154 orang, tahun berikutnya 116 orang, kemudian tahun 2005 naik menjadi 144 orang, lalu menurun lagi menjadi 140 orang pada 2006. Pada 2006 tercatat mahasiswa prodi Produksi Ternak 24 orang, Nutrisi dan Makanan ternak 33orang, sementara untuk sosek Peternakan 32 orang, dan Teknologi Hasil Ternak (THT) 51 orang. Hal itu menunjukkan bahwa tak ada satu pun jurusan yang memenuhi kursi kuota yang rata-rata terdiri dari 80 kursi.

Fakultas lain yang juga masih terseok-seok menggamit peminat adalah Fakultas Sastra. Sastra Francis misalnya, mahasiswa yang terdaftar pada tahun ini hanya berjumlah 22 orang. Jurusan yang lain seperti Arkeologi dan Sastra Daerah tak beda jauh, yaitu 18 untuk Arkeologi, dan tujuh untuk Sastra Daerah. Belum lagi jurusan Sejarah dan sastra Arab, tak dapat dipungkiri bahwa semua jurusan di Fak. Sastra tak luput dari penurunan peminat.

Menyimak data tersebut, ada hal ganjil yang tampak. BDP misalnya, belum lama ini sempat menggelandang hibah I-MHERE dari Bank Dunia. Dana ini diperuntukkan bagi jurusan yang berakreditasi A serta cakap dan jelas orientasi program kerjanya. Kala itu Unhas mengamanatkan kepada BDP dan farmasi sebagai ujung tombak dalam rangka menyabet dana hibah tersebut. Sementara Fakultas Peternakan, yang sampai saat ini termasuk satu dari sebagian kecil fakultas yang memiliki guru besar yang memadai. Ini menjadi bukti bahwa fakultas tersebut tak boleh dipandang sebelah mata.

Jika dipikir dari segi finansial, masyarakat kita mungkin merugi. Karena subsidi pendidikan di perguruan tinggi tak termanfaatkan secara maksimal. Buktinya, masih ada kursi yang tidak terisi, dengan begitu jatah siswa untuk mengeyam pendidikan terhalangi oleh kurangnya peminat tersebut.

Minimnya peminat diakui oleh Dr. Ir. Joeharnani Tresnati, DEA, ketua jurusan perikanan. “Kami sudah mengadakan sosialisasi, namun tidak tepat waktu. Kadang sosialisasi dilakukan setelah ujian berakhir sehingga informasi mengenai jurusan perikanan sangat kurang,” ungkap ibu yang bertubuh subur dan nampak ramah ini.

Selain itu kinerja Ikatan Alumni dalam mensosialisasikan perikanan terbilang minim, ini terlihat dari sedikitnya kegiatan yang terlaksana, sehingga gaung perikanan kurang terdengar. Hal lain yang cukup signifikan memengaruhi fluktuasi peminat yaitu sebagian besar siswa lebih terpikat dengan fakultas medik.

Hal sama dialami Fak. Sastra, Fakultas yang berencana merubah nama menjadi Fakultas Ilmu budaya ini juga tersangkut minimnya peminat. Hal lain yang membentengi yaitu jumlah nilai standar kelulusan mahasiswa minimal 400, jadinya banyak siswa yang tidak dinyatakan lulus. Tapi itu tak menjadi penghambat bagi Dr. Amir, Mhum, Pembantu Dekan I Fak. Sastra, “kita pun harus membutuhkan mahasiswa yang memiliki skill. Tak sekedar menempati bangku sebagai mahasiswa yang tak memiliki apa-apa,” katanya.

Selain itu sebagian besar peserta SPMB memilih jurusan atas dasar orientasi kerja yang menjanjikan. Arfanita Bahrun misalnya, calon peserta SPMB yang memilih Jurusan Kedokteran. “Saya memilih Jurusan kedokteran karena ingin cepat mendapatkan pekerjaan,” ungkap Alumnus SMU Neg. 1 Pangkajene ini.

Meski tidak semua program studi mengalami penurunan, namun tiap jurusan harus tetap melakukan beberapa perubahan yang selaras dengan kebutuhan masyarakat. “Kualitas alumni menentukan peningkatan jumlah pendaftar untuk satu program studi. Semoga pendaftar untuk tiap program studi mengalami kenaikan,” ungkap Prof. Dr. Dadang Suriamiharja
Dna, M02, M33, M04/Dam

Tebar Jaring ke Daerah-Daerah
Tidak terpenuhinya kuota kursi beberapa program studi menjadi ancaman bagi eksistensi setiap program studi. Bagaimana usaha fakultas untuk menarik calon mahasiswa baru.

Menaggulangi masalah minimnya peminat, Jurusan Perikanan melancarkan berbagai kiat. Seperti menggencarkan sosialisasi ke beberapa SMA, di beberapa daerah sebelum Ujian Akhir Nasional (UAN) berlangsung. Hal lain yang diterapkan yaitu dengan membagikan brosur, kalender, pamplet. Sebagai bentuk keseriusannya, jurusan ini melakukan kerjasama kemitraan dengan Pemda Provinsi Riau. Hasilnya tahun ini akan ada 15 calon mahasiswa yang akan melaksanakan studi di perikanan.

Dalam waktu dekat ini pula akan dilaksanakan MUBES Ikatam Alumni (IKA Perikanan), yaitu pada 2-19 Juli. Pertemuan ini adalah momentum untuk memaksimalkan IKA dalam hal sosialisasi.

Menurut Prof. Dr.Ir. Ismartoyo, M.Sc, dekan Fakultas Peternakan, sosialisasi yang dilakukan fak. peternakan tidak beda jauh dengan perikanan. Terobosan utama yang dilakukan peternakan ialah melakukan sosialisasi lewat situs internet serta mengirimkan surat ke bupati-bupati.

Banyak hal yang telah dilakukan Fak. Sastra, seperti sosialisasi ke sekolah-sekolah, berupaya mengganti nama jurusan menjadi Fak. Imu Budaya, berkunjung ke daerah-daerah seperti Gowa, Bantaeng, Soppeng dan Pinrang. Selain itu Fak. Sastra juga memberikan beasiswa, khususnya mahasiswa jur. Sastra daerah. Mahasiswa juga turut mengambil peranan dalam sosialisasi. Lewat lomba karya dan baca puisi mereka mempopulerkan Fak. Sastra. “Mudah-mudahan ini dapat membuahkan hasil, kita berdo’a saja,” ungkap Dr. Amir, M.hum pasrah.
Dna, M02, M33, M04/Dam




Selanjutnya!

Unhas Minim Pengabdian?

Pengabdian pada masyarakat merupakan prasyarat bagi eksistensi sebuah perguruan tinggi. Beragam cara dapat ditempuh dalam mewujudkannya. Sejauh mana kontribusi Unhas akan hal tersebut?

Demonstrasi kerap dilakukan mahasiswa dalam mengkritisi sesuatu yang dinilai timpang. Umumnya mahasiswa menilai aksi demonstrasi sebagai salah satu wujud pengabdian karena memperjuangkan hak-hak masyarakat. Meski demikian, pengabdian yang dipahami oleh mahasiswa tak selamanya sejalan dengan pemahaman masyarakat. Sehingga terkadang aksi demonstrasi mahasiswa berbenturan dengan masyarakat. “Aksi mahasiswa dapat dikatakan aksi sosial tapi kalau mahasiswa tidak bisa menarik simpati rakyat, malah masyarakat sendiri akan mencemoh kita,” ujar Arianto Abidin, Wakil Presiden BEM Unhas. Jika demikian keadaannya, masihkah mahasiswa mengklaim aksi mereka sebagai wujud pengabdian. “Demonstrasi yang dilakukan oleh mahasiswa seringkali anarkis, contohnya mereka membakar ban bekas, menutup jalan hingga menimbulkan kemacetan. Apa hal ini tidak meresahkan?,” keluh Amiruddin, seorang Guru SLTP 35 Makassar.

Keresahan yang sama diutarakan Syahruddin, seorang pegawai gubernuran. Ia mengemukakan bahwa sebagian mahasiswa saat ini belum bisa menjadi pengayom masyarakat. “Mereka biasa mengatasnamakan kebenaran untuk memerjuangkan hak-hak rakyat, tapi kadang malah menyusahkan dan tidak bisa menjadi contoh di kalangan masyarakat,” ungkapnya.

Tapi hal itu ditampik oleh Ir Muh Restu, “Mahasiswa sudah memberikan kontribusi terhadap masyarakat baik itu lewat KKN ataupun bakti sosial, dari situ bisa kita lihat bahwa begitu besar peran mahasiswa terhadap masyarakat. Memang mahasiswa tidak bisa berbuat maksimal karena mereka juga harus membagi waktunya dengan kegiatan akademik mereka,” ujar Dosen Kehutanan ini.

Dalam hal pengabdian, peran Lembaga Pengabdian Pada Masyarakat (LPPM) sangat penting untuk menciptakan formula atau solusi terhadap beragam permasalahan yang ada dalam masyarakat. Menurut Alex Palinggi selaku sekretaris LPPM Unhas, selama ini pengabdian kepada masyarakat utamanya oleh mahasiswa Unhas masih kurang. “Laporan Dikti, menempatkan unhas pada rating ke-9 dari seluruh perguruan tinggi kawasan timur, masih kalah dari UNM,” ungkap sekretaris LPPM Unhas ini.

Restu menilai tidak maksimalnya peran mahasiswa kepada masyarakat karena ketika mereka mengadakan semacam bakti social, mereka kekurangan dana. “Banyak mahasiswa yang ingin melakukan penelitian dengan terjun langsung ke masyarakat, namun tidak bisa berbuat banyak karena dana untuk melakukan penelitian sangat kurang,” ujar Restu.

Pendanaan memang menjadi persoalan mendasar dalam setiap kegiatan. Demikian halnya mahasiswa dalam melakukan tugas pengabdian. Untuk itu, sudah saatnya mahasiswa lebih kreatif dalam memikirkan hal apa yang perlu dilakukan sehingga peran mahasiswa dapat dirasakan oleh masyarakat tanpa harus bergantung dengan pendanaan. Bagi Irwan Ashari, mahasiswa harus terjun langsung ke masyarakat melakukan penyuluhan untuk mengembalikan citra yang selama ini terkesan negatif. “Agar efektif, sebelum kita terjun ke masyarakat kita harus betul-betul mendalami disiplin ilmu kita semasa kuliah,” tutur Ketua BEM FK ini.

Salah satu basis pemberdayaan masyarakat adalah sektor agraris atau pertanian. Namun belakangan sektor ini cenderung terabaikan, hal itu terlihat dengan maraknya impor hasil pertanian. Ini terjadi karena perhatian ke sektor ini masih rendah, baik oleh pemerintah maupun akademisi, termasuk mahasiswa. Namun hal itu dibantah oleh Zulkifli. “Anggapan bahwa kita tidak memberi kontribusi ke masyarakat itu tidak benar. Hampir setiap tahun kita melakukan penyuluhan ke masyarakat mengenai masalah pertanian lewat program kerja himpunan,” ujar mahasiswa Teknologi Pertanian ini. Namun rutinitas pengabdian oleh mahasiswa, perlu dikaji ulang. Apakah kegiatan tersebut efektif dalam memberdayakan masyarakat. Atau hanya sekadar rutinitas.
Fmi,M21/Pdy




Selanjutnya!

Sunday, June 17, 2007

identitas No 662 / Edisi XXXIII / Edisi Akhir Mei 2007

Pusat Bahasa tak Bergaung

Unit Pelaksana Tugas (UPT) Pusat Bahasa Unhas telah lama berdiri. Namun banyak yang sering salah kaprah, menganggap aset itu sebagai milik Fakultas Sastra. Apa mungkin karena kurang sosialisasi?

Wajah Murni (bukan nama sebenarnya) terlihat ceria saat itu, Rabu (16/05). Dari bibirnya tersungging senyum ramah pada seorang pria yang menuju ke meja kerjanya. Ternyata pria itu seorang dosen muda Fakultas Kedokteran. Saat itu ia hendak mencari informasi seputar tes TOEFL atau kursus. Dengan tutur kata halus, Staf Honorer Bagian Adminstrasi itu menjelaskan semua hal yang dibutuhkan sang dosen.

Seperti itulah keseharian wanita yang menjadi Staf Pusat Bahasa (PB) sejak tahun 1999 tersebut. Bukan hanya sivitas akademika Unhas saja yang mendapat pelayanan Murni, masyarakat umum yang membutuhkan jasa bahasa pun bisa memperoleh hal yang sama. Kini, PB yang didirikan sejak tahun 1960-an itu memiliki 6 karyawan, yang hampir semuanya masih berstatus honorer.

UPT yang berlokasi di Gedung Perpustakaan Pusat lantai dua Wisata Lima ini sengaja didirikan sebagai penunjang pendidikan sivitas akademika Unhas dalam bidang bahasa. Karena statusnya sebagai UPT, berarti jangkauannya harus menjamah semua unit fakultas.

Seiring berjalannya waktu, peran PB justru seakan jauh dari khalayak Unhas. Program pengembangan bahasanya banyak tak menyentuh mahasiswa grass root dan sivitas kampus lainnya. Seperti yang diungkapkan Muh Ikmal, Mahasiswa Pertanian. Ia menilai, selama ini Pusat Bahasa itu seakan hanya wadah pembelajaran bagi Mahasiswa Sastra. Apalagi diperkuat dengan maraknya dosen atau mahasiswa sastra yang mangkal di tempat itu.

Sementara Ardi Setiadi, Mahasiswa Teknik angkatan 2006 ini mengetahui adanya PB hanya dari seniornya. Saat ditanya mengenai pelayanan apa saja yang diberi, ia sama sekali tidak mengetahuinya.

Susahnya mendapatkan informasi mengenai pelayanan PB ini bukan karena tak ada sosialisasi. Murni menjelaskan, kalau Pusat Bahasa telah mengirimkan brosur ke semua fakultas. Selain itu, PB telah bekerjasama dengan rektorat untuk menyebarkan perihal keberadaan PB. Meski Murni tidak memahami, setelah adanya upaya sosialisasi itu, masih banyak mahasiswa tidak mengetahui keberadaan PB.

Beberapa fasilitas yang tersedia di PB saat ini berupa dua laboratorim bahasa yang masing-masing bertempat di lantai dasar, satu ruangan seminar, satu ruangan multi media dan perpustakaan. Saat ini PB hanya meyediakan pelayanan Bahasa Inggris. Namun, ada perencanaan penambahan pelayanan bahasa lain, misalnya bahasa Jepang, Mandarin dan beberapa bahasa lain yang dipakai di dunia Internasional.

Jenis pelayanan yang disediakan PB antara lain, kursus General and Intensive English in Company Training, atau pelatihan seputar bahasa pada instansi atau perusahaan untuk meningkatkan sumber daya manusianya. Pelayanan ini dirancang sesuai kebutuhan setiap perusahaan. Sementara tes TOEFL local, nasional dan internasional pun diadakan secara berkala.

“Dengan pelayanan yang disediakan, sayangnya tidak banyak warga Unhas yang mengenal pusat bahasa, apalagi memanfaatkannya. Kalaupun ada, lebih banyak dosen atau mahasiswa yang berniat mengurus beasiswa ke luar negeri,” tutur Murni.

Adanya anggapan aset yang di kepalai oleh Dra. Etty Bazergan, Ph.D ini hanyalah milik fakultas Sastra, ditampik Murni. Ia mengatakan, hal itu adalah anggapan keliru. “saya sedikit memaklumi kenapa hal itu dikemukakan, mungkin karena sebagian besar yang memanfaatkan Pusat Bahasa selama ini dari Fakultas Sastra, atau mungkin juga karena pengajar yang ada hanyalah berasal dari sastra,” kilah Murni.

Sedikit Berbeda dengan Murni, Dra. Siti Sahraeni, S.S, salah satu pengajar di Pusat Bahasa tidak menampik kurangnya pengetahuan warga Unhas terhadap pusat Bahasa. Hal itu ia anggap akibat publikasi yang dilakukan PB selama ini kurang. Ia juga menyadari hal itu juga dikarenakan PB saat ini memang sementara dalam pengembangan.

Melihat pengembangan kemampuan bahasa sangat menentukan kualitas seseorang di dunia kerja, PB seharusnya bergerak dinamis, sehingga menjadi idaman bagi masyarakat kampus.
Din / Mch


Selanjutnya!

Pembantu Molor Dilantik, Dekan Kewalahan

Empat bulan berlalu sejak dekan FKG dilantik. Namun hingga kini pembantu-pembantunya tak jua dikukuhkan karena faktor administrasi. Kerja Dekan pun terhambat.

Selama empat bulan itu juga Dekan Fakultas Kedokteran Gigi (FKG), Prof. drg. Moh. Dharmautama Ph.D, Sp.Pros, bekerja menangani tugas yang layaknya dikerjakan oleh Pembantu Dekan II dan Pembantu Dekan III – misalnya saja dalam hal akademik dan kemahasiswaan. Tak hanya sampai di situ, segala aktivitas kemahasiswaan pun terhambat, seperti dalam hal kegiatan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). Persolan ini belum ada penyelesaian, padahal sejumlah mahasiswa FKG mulai gerah dengan atmosfer akademik di fakultasnya. Menurut Prof Dharma, persoalan tersebut hingga hari ini belum tuntas. Masih melewati proses di rektorat “Hingga kini belum tuntas. Masih dalam proses di kantor pusat,” ujarnya saat dimintai tanggapannya terkait keterlambatan pelantikan itu. Ia menjelaskan bahwa pelantikan tersebut rencananya akan dilangsungkan di awal Juni. Informasi ini didapatnya dari Pembantu Rektor II, Dr. dr. A. Wardihan Sinrang.

Praktis dalam empat bulan terakhir, Prof Dharma mengaku kewalahan dengan banyaknya tugas yang harus dikerjakannya sendiri. Padahal mestinya di antara tugas-tugas itu menjadi tanggungjawab pembantu-pembantunya. Salah satunya yang mendesak adalah tugas di bidang akademik dan kemahasiswaan.

Pelantikan ini terkendala masalah administratif. Kendala ini bermula saat Prof Dharma memasukkan nama Pembantu Dekan (PD) ke Senat Universitas. Ketika itu menurut beliau, Senat mengusulkan bahwa harus ada satu nama pendamping untuk setiap PD yang diusulkannya. Nama-nama bakal pendamping diusulkan oleh senat, lalu dari sekian nama itu, tiga orang dipilih oleh Prof Dharma.

Line up nama yang diusulkan Prof Dharma untuk PD I, II, dan III masing-masing: Dr. drg. Baharuddin Thalib M. Kes, drg. Rini Pratiwi M. Kes, dan drg. Asdar Ganing M. Kes. Nama tersebut menurutnya dipilih atas dasar kapabilitas, pengetahuan masalah, kemauan bekerja, dan sikap kooperatif mereka.

Tiga nama PD dan pendampingnya tersebut lalu diusulkan Prof Dharma ke Pimpinan Universitas. Namun lewat PR II, Prof Dharma diminta untuk memasukkan usulan nama pendamping Pembantu Dekan dan pemeringkatannya (scooring). ”Padahal dalam menentukan pendamping itu, saya tidak melakukan proses pemilihan jadi scooring-nya tidak ada,” jelasnya.

Dengan adanya pendamping untuk masing-masing PD yang diusulkan Prof Dharma, belum dapat dipastikan siapa yang bakal menjabat PD secara definitif. Nama PD dan pendampingnya sama-sama memiliki peluang, sebab keputusan akhir menurut Prof Dharma ditentukan oleh Rektorat.

Saat kemungkinan ini dikonfirmasi ke calon PD I yang diusulkan Prof Dharma, Dr. drg. Baharuddin Thalib, M. Kes mengatakan, ia dalam posisi agak sulit untuk berkomentar. ”Tapi kalau kita menghormati proses yang ada, nama yang diusulkan oleh dekanlah yang seharusnya menjabat,” ujar Baharuddin seraya menambahkan, ”Senat sebagai lembaga tinggi punya kapasitas untuk menilai siapa yang layak.”

Senada dengan dekan, Baharuddin juga mengakui pelantikannya terkendala oleh masalah administrasi. Ia mengatakan beberapa kali PR II telah menyurat meminta scooring calon pendamping Pembantu Dekan.

Saat ditanya kemungkinan adanya like and dislike dalam penentuan pembantu dekan hingga pelantikannya molor, dengan tertawa Prof Dharma hanya berujar, ”Saya tidak tahu”. Hal yang sama juga dikemukakan Dr Baharuddin. Ia mengatakan tidak pernah mendapat konfirmasi maupun informasi mengenai hal ini.

Baharuddin pun berharap, agar pelantikan secepatnya dilakukan. Molornya pelantikan ini menurutnya berpengaruh terhadap kinerja Dekanat. ”Banyak soal yang harus dikerjakan di FKG. Dan itu butuh suasana kondusif untuk menyelesaikannya. Namun tidak etis juga kalau saya langsung bekerja sebagai PD I padahal belum dilantik,” ujarnya.

Keterlambatan pelantikan ini juga disayangkan mahasiswa. Huzair, Sekretaris Senat Mahasiswa FKG mengatakan, molornya pelantikan ini membuat beberapa pekerjaan baik di petinggi fakultas maupun lembaga mahasiswa terkendala.

”Secara kasat mata, memang tidak begitu berdampak pada lembaga mahasiswa. Namun saat mengurus persuratan kegiatan, kami dibuat pusing. Tidak tahu harus ditujukan ke mana surat itu,” jelasnya saat ditemui di Sekretariat FKG. Ia menambahkan hal ini juga berimbas pada kegiatan akademik. Karena kesibukannya, Dekan jadi jarang masuk mengajar.

Huzair pun berharap agar program kerja fakultas tidak banyak terkena imbas dari keterlambatan pelantikan PD ini. Selain itu ia menyayangkan sikap petinggi universitas yang dikatakannya terlalu banyak mengintervensi pemilihan pejabat di Dekanat FKG. ”Harus ada kemandirian fakultas. Tidak boleh ada intervensi,” tegas mahasiswa angkatan 2003 ini.
(Tif/Ern)




Selanjutnya!

Malam Minggu dengan Musik dan Film

Akhir pekan sangat berarti bagi sejumlah orang untuk melepas kepenatan. Peluang ini dimanfaatkan oleh sebagian mahasiswa dengan menggelar festival musik di area pondokan unhas.

Alunan lagu dengan iringan musik band, terdengar dari area kampus depan pondokan unhas. Beberapa minggu yang lalu, setiap malam minggu, warga sekitar pondokan yang umumnya mahasiswa unhas, disuguhi hiburan. Hiburan ini tak hanya diminati oleh mahasiswa, tapi anak-anak usia SD, SMP juga memadati area itu. Lantunan lagu dengan iringan musik, seketika membius para penontonya yang asik bergoyang di depan panggung. Goyangan mereka demikian akrab dengan lantunan lagu-lagu yang dinyayikan para vokalis band. Keasyikan bergoyang ria, oleh sebagian penonton dikhawatirkan menyebabkan kericuhan.

Hasruddin, mahasiswa FMIPA menuturkan dalam konser itu, penonton yang tengah larut dalam goyangan, sesekali terlihat bersinggungan yang dapat memicu kericuhan. Hal sama dibenarkan Fataa, mahasiswa Hukum. Menurutnya hal itu sering terjadi disaat ada kegiatan seperti festival musik. Keduanya sepakat jika penonton dengan status mahasiswa tidak akan melakukan kebrutalan pada kegiatan ini. “Saya kira mereka (mahasiswa) akan mencerminkan dirinya sebagai seorang yang punya etiket dan moralitas yang tinggi,” ujar Fataa yang merespon positif festival musik itu.

Banyak mahasiswa yang hadir, sekadar menyaksikan atau mendengar para pemain band melantunkan musik dan lagunya. Ada yang datang bersama temannya seperti Rini dengan Fitri, ada juga datang bersama kekasihnya. “Setelah belajar bersama kami makan, kebetulan ada keramaian lalu kami singgah sekadar mencari hiburan,” ujar Rini. Pagelaran musik yang diselenggarakan di dekat pondokan itu, menjadi magnet tersendiri pada sebagian warga pondokan.

Seperti halnya festival musik yang lain, festival kali ini pun di sponsori oleh salah satu produsen rokok ternama di Indonesia. Awalnya, festival musik yang diadakan sebagai promo tour ini ditujukan di tempat umum. Kebetulan event organizer (EO-nya) adalah beberapa orang dari mahasiswa Unhas, maka festival musik ini lalu dipindahkan ke kampus. Alasannya ini bisa menjadi salah satu bentuk hiburan bagi beberapa warga kampus untuk menghilangkan ketegangan yang mungkin ditemui selama beraktivitas.

Amri Hidayat, Mahasiswa Pertanian 2000 selaku promotor kegiatan ini berharap Sabtu (19/05) itu menjadi malam terakhir festival ini. “Saya tidak ingin ini selalu diadakan karena saya tidak mau mengajarkan pada warga kampus untuk menjadi hedon (pencari kesenangan semata),” ungkap Amri. Tanggapan berbeda diutarakan Tini (44). Ia berharap kegiatan yang menarik keramaian seperti ini tetap berlanjut. Pasalnya, Tini yang berjualan Sarabba dan Gorengan dekat festival itu mengaku keuntungan yang diperolehnya meningkat dua kali lipat sejak diadakannya festival.

Meski festival musik itu dimaksudkan memberi hiburan, sebagian mahasiswa pondokan menilai acara semacam itu sangat mengganggu. Zulkifli misalnya, mahasiswa Pertanian 2006 ini menghindari Festival tersebut karena dianggapnya terlalu ribut apalagi ia sering mendengar perihal kericuhan. Untuk itu, sebagian mahasiswa yang tinggal di pondokan lebih memilih nonton bareng bertajuk Bioskop Kampus 2007, yang diselenggarakan UKM Liga Film Mahasiswa (LFM) Unhas, sebagai alternatif hiburan malam minggunya. “Saya pikir kegiatan ini (nonton bareng) sangat bagus sebagai hiburan apalagi untuk bersosialisasi dengan banyak orang yang hadir,” ujar Zulkifli.

Menurut Muh Ilham, nonton bareng ini diadakan, agar warga kampus dapat melihat film bukan sekadar hiburan tetapi dapat memetik pesan yang ada dalam film itu. “Pada kesempatan ini juga dipertunjukkan film-film produksi LFM Unhas, dengan harapan penontonnya tak sekadar menjadi penikmat film tetapi nantinya bisa menjadi movie maker,” kata ketua LFM ini.

Suparman Abdullah Msi pun menilai festival musik dan nonton bareng merupakan hiburan yang layak dinikmati. “Jika dulu orang lebih senang nonton bola, mungkin remaja sekarang lebih senang nonton film atau dengar musik,” ujar dosen sosilogi unhas ini. Ada kebutuhan untuk memperoleh hiburan yang juga harus bisa dipenuhi dan hiburan yang menjadi ajang aktualisasi mahasiswa ini pantas mendapat tempat, lanjutnya.

Hanya saja, menurut Suparman, hiburan ini sebisa mungkin dibuat pengaturan tentang hal-hal yang layak serta waktu yang tepat. Karena bila terlalu rutin dilaksanakan juga dapat memberi dampak yang kurang bagus bagi pola belajar dan konsentrasi mahasiswa dalam perkuliahan. Tapi tak serta merta festival musik ini lantas bisa divonis akan menyebabkan pola-pola hedon bagi mahasiswa. “Saya pikir hiburan apapun itu bisa menyebabkan orang menjadi hedonis, jika kegiatannya memang dikemas dengan pola-pola hedon. Semuanya tergantung pilihan orang,” tambahnya. Suparman berharap kegiatan hiburan jangan sampai dijadikan rutinitas di kampus karena besar pengaruhnya terhadap kualitas output universitas, “Lagipula pasti banyak juga yang merasa terganggu dengan kegiatan tersebut,” ujarnya.
Ayh/Pdy


Selanjutnya!