Unhas Buka Disaster Management
Awal tahun 2008 Unhas akan membuka program magister baru yang nantinya menghasilkan SDM yang mampu terlibat dalam pengelolaan bencana dan konflik. Unhas bakal jadi yang pertama.
“…Mengapa di tanahku terjadi bencana. Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa…”, penggalan bait lagu yang dipopulerkan Ebit G Ade ini tentunya mengingatkan masyarakat Indonesia betapa bencana dan konflik secara beruntun telah melanda negeri ini.
Masih jelas dalam ingatan kita, konflik yang terjadi di Aceh, Ambon dan beberapa daerah lainnya telah menelan korban jiwa. Belum lagi gempa yang kemudian disusul tsunami di Aceh, gempa dan letusan gunung merapi di Yogjakarta, tanah longsor dimana-mana, genangan lumpur Lapindo di Jawa Timur, dan masih berderet rentetan bencana lainnya.
Musibah yang berkali-kali menghantam Indonesia tidak banyak dijadikan pelajaran untuk lebih matang dalam pengelolaan bencana maupun konflik. Sangat disesalkan, pemerintah maupun lembaga yang berada di Indonesia terkesan lemah dalam manajeman penanganan bencana. Maka diperlukan adanya institusi yang bisa mencetak SDM yang handal dalam manajemen penanganan bencana alam maupun konflik. Berangkat dari kesadaran ini, Unhas berencana membentuk program studi baru yang nantinya akan mencetak SDM dalam mengelola bencana maupun konflik. Program Magister (S2) ini bernama Disaster and Emergency Management (Manajemen Bencana dan Kegawatdaruratan).
“Dimana-mana seringkali kita temui terjadi bencana, karena itu Unhas membuka program Manajemen Bencana dan Kegawatdaruratan. Program ini akan dibuka Januari tahun depan, dan ini adalah yang pertama kali di Indonesia,” ujar Dr dr Andi Asadul Islam SpBs, PD III Fakultas Kedokteran sekaligus yang menjadi Sekretaris Pembentukan Program, saat ditemui di ruangannya, Kamis (4/10).
Andi Asadul menambahkan bahwa program ini dibawahi langsung oleh Fakultas Kedokteran, bukan Program Pascasarjana. Selain itu, program ini merupakan hasil kerjasama dengan Departemen Kesehatan RI, WHO (World Health Organization), serta beberapa Universitas di Indonesia, antara lain adalah UI, Unair, UGM, dan Univ Udayana (Unud).
Disaster and Emergency Management difokuskan untuk mencetak tenaga medis (Medical Emergency). “Jadi program ini ditujukan bukan hanya bagi lulusan Jurusan Pendidikan Dokter. Tapi juga untuk lulusan Jurusan Ilmu Keperawatan, dan Fakultas Kesehatan Masyarakat,” ujar PD III FK.
Rencananya, program ini akan terdiri atas empat semester, 42 SKS, dan akan menampung lebih kurang 24 mahasiswa tiap semesternya. Namun, menurut dr Syafruddin Gaus PhD SpAn, Ketua Program Studi untuk Magister Manajemen Bencana dan Kegawatdaruratan, mengenai prosedur akademik program, baru akan dibahas dalam lokakarya bulan November nanti. Prosedur itu di antaranya mengenai kurikulim, modul, kompetensi, lama pendidikan, persyaratan masuk, dan gelar lulusannya.
“Masih banyak perdebatan mengenai ini. Misalnya mengenai lama pendidikan. Dari WHO mengharapkan program ini akan berjalan selama setahun. Tapi kita di sini untuk menjalankan program Magister memerlukan waktu tiga sampai empat semester,” ujarnya. Oleh karena belum ada kejelasan mengenai prosedur akademik itu maka belum ada sosialisasi ke mahasiswa. “Setelah lokakarya dan kemudian disahkan oleh Direktorat Pendidikan Tinggi, baru kita bisa sosialisasi ke mahasiswa,” lanjut Syafruddin.
Meski belum ada sosialisasi ke mahasiswa, namun program ini dinilai cukup menarik bagi sebagian mahasiswa. Fariz Munandar misalnya, ketua Tim Bantuan Medis (TBM) Calcaneus ini mengaku berniat memasuki program tersebut nantinya. “Ini bagus sekali! Insya Allah saya akan masuk pada program ini. Kebetulan kami di sini (TBM Calcaneus, red) memang bergerak di bidang kegawatdaruratan,” ujarnya. Fariz optimis program tersebut bakal banyak peminatnya khususnya teman-teman dari TBM Calcaneus. Pasalnya program yang dibuka Unhas ini adalah yang pertama kalinya di Indonesia dengan kondisinya yang sangat diperlukan. Fariz menilai pembentukan program ini sangat perlu melihat kondisi Indonesia yang rawan terkena bencana.
Diharapkan dari pembentukan program baru ini nantinya akan sangat membantu utamanya dalam menanggulangi bencana ataupun konflik yang melanda negeri ini. Sehingga korban dapat diminimalisir. Semoga pembentukan program ini benar-benar ditindaklanjuti.
M12, M28/Ayh
“…Mengapa di tanahku terjadi bencana. Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa…”, penggalan bait lagu yang dipopulerkan Ebit G Ade ini tentunya mengingatkan masyarakat Indonesia betapa bencana dan konflik secara beruntun telah melanda negeri ini.
Masih jelas dalam ingatan kita, konflik yang terjadi di Aceh, Ambon dan beberapa daerah lainnya telah menelan korban jiwa. Belum lagi gempa yang kemudian disusul tsunami di Aceh, gempa dan letusan gunung merapi di Yogjakarta, tanah longsor dimana-mana, genangan lumpur Lapindo di Jawa Timur, dan masih berderet rentetan bencana lainnya.
Musibah yang berkali-kali menghantam Indonesia tidak banyak dijadikan pelajaran untuk lebih matang dalam pengelolaan bencana maupun konflik. Sangat disesalkan, pemerintah maupun lembaga yang berada di Indonesia terkesan lemah dalam manajeman penanganan bencana. Maka diperlukan adanya institusi yang bisa mencetak SDM yang handal dalam manajemen penanganan bencana alam maupun konflik. Berangkat dari kesadaran ini, Unhas berencana membentuk program studi baru yang nantinya akan mencetak SDM dalam mengelola bencana maupun konflik. Program Magister (S2) ini bernama Disaster and Emergency Management (Manajemen Bencana dan Kegawatdaruratan).
“Dimana-mana seringkali kita temui terjadi bencana, karena itu Unhas membuka program Manajemen Bencana dan Kegawatdaruratan. Program ini akan dibuka Januari tahun depan, dan ini adalah yang pertama kali di Indonesia,” ujar Dr dr Andi Asadul Islam SpBs, PD III Fakultas Kedokteran sekaligus yang menjadi Sekretaris Pembentukan Program, saat ditemui di ruangannya, Kamis (4/10).
Andi Asadul menambahkan bahwa program ini dibawahi langsung oleh Fakultas Kedokteran, bukan Program Pascasarjana. Selain itu, program ini merupakan hasil kerjasama dengan Departemen Kesehatan RI, WHO (World Health Organization), serta beberapa Universitas di Indonesia, antara lain adalah UI, Unair, UGM, dan Univ Udayana (Unud).
Disaster and Emergency Management difokuskan untuk mencetak tenaga medis (Medical Emergency). “Jadi program ini ditujukan bukan hanya bagi lulusan Jurusan Pendidikan Dokter. Tapi juga untuk lulusan Jurusan Ilmu Keperawatan, dan Fakultas Kesehatan Masyarakat,” ujar PD III FK.
Rencananya, program ini akan terdiri atas empat semester, 42 SKS, dan akan menampung lebih kurang 24 mahasiswa tiap semesternya. Namun, menurut dr Syafruddin Gaus PhD SpAn, Ketua Program Studi untuk Magister Manajemen Bencana dan Kegawatdaruratan, mengenai prosedur akademik program, baru akan dibahas dalam lokakarya bulan November nanti. Prosedur itu di antaranya mengenai kurikulim, modul, kompetensi, lama pendidikan, persyaratan masuk, dan gelar lulusannya.
“Masih banyak perdebatan mengenai ini. Misalnya mengenai lama pendidikan. Dari WHO mengharapkan program ini akan berjalan selama setahun. Tapi kita di sini untuk menjalankan program Magister memerlukan waktu tiga sampai empat semester,” ujarnya. Oleh karena belum ada kejelasan mengenai prosedur akademik itu maka belum ada sosialisasi ke mahasiswa. “Setelah lokakarya dan kemudian disahkan oleh Direktorat Pendidikan Tinggi, baru kita bisa sosialisasi ke mahasiswa,” lanjut Syafruddin.
Meski belum ada sosialisasi ke mahasiswa, namun program ini dinilai cukup menarik bagi sebagian mahasiswa. Fariz Munandar misalnya, ketua Tim Bantuan Medis (TBM) Calcaneus ini mengaku berniat memasuki program tersebut nantinya. “Ini bagus sekali! Insya Allah saya akan masuk pada program ini. Kebetulan kami di sini (TBM Calcaneus, red) memang bergerak di bidang kegawatdaruratan,” ujarnya. Fariz optimis program tersebut bakal banyak peminatnya khususnya teman-teman dari TBM Calcaneus. Pasalnya program yang dibuka Unhas ini adalah yang pertama kalinya di Indonesia dengan kondisinya yang sangat diperlukan. Fariz menilai pembentukan program ini sangat perlu melihat kondisi Indonesia yang rawan terkena bencana.
Diharapkan dari pembentukan program baru ini nantinya akan sangat membantu utamanya dalam menanggulangi bencana ataupun konflik yang melanda negeri ini. Sehingga korban dapat diminimalisir. Semoga pembentukan program ini benar-benar ditindaklanjuti.
M12, M28/Ayh




