<body><iframe src="http://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID=35470829&amp;blogName=KABAR+DARI+KAMPUS+UNHAS&amp;publishMode=PUBLISH_MODE_FTP&amp;navbarType=BLUE&amp;layoutType=CLASSIC&amp;homepageUrl=http%3A%2F%2Fwww.identitasonline.net%2F&amp;searchRoot=http%3A%2F%2Fblogsearch.google.com%2F" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no" frameborder="0" height="30px" width="100%" id="navbar-iframe" title="Blogger Navigation and Search"></iframe> <div id="space-for-ie"></div>
SELAMAT DATANG DI SURAT KABAR KAMPUS UNHAS
Photo Sharing and Video Hosting at PhotobucketPhoto Sharing and Video Hosting at Photobucket

Friday, November 30, 2007

No. 673/Tahun XXXIII/Awal November 2007

Mismanagement, I-MHERE Macet

Beberapa waktu lalu, Jurusan Farmasi dan Budi Daya Perairan Unhas, berhasil meraih program hibah kompetisi I-MHERE dengan total dana milyaran rupiah. Sayang, tindaklanjut program ini belum terlihat.

Setelah melewati empat kali perombakan, akhirnya kerja keras tim Unhas pun berbuah. Betapa tidak, proposal yang dikenal dengan istilah B1 (Improvement of Social Quality and Social Responsibilty) hasil kerjasama Farmasi dan Budi Daya Perairan (BDP) dinyatakan telah memenangkan proyek I-MHERE. Dana milyaran pun ada di depan mata. Namun tak sedikit dari sivitas Unhas bertanya-tanya tentang kelanjutan program ini.

Hubungan kerja sama Unhas dalam hal ini Farmasi dan BDP dengan Bank Dunia ini masih kelihatan samar-samar. Mahasiswa pun dapat merasakan hal ini. Terlihat banyaknya fasilitas yang belum terpenuhi. Gatot Wibowo selaku ketua BEM Perikanan mengeluhkan hal ini. Ia mengatakan bahwa sebelum penandatanganan kontrak, proyek ini telah menjanjikan sekian persen untuk Lembaga Mahasiswa Perikanan sebagaimana yang dilontarkan langsung oleh ketua tim proyek. Namun, pengalokasian dana untuk lembaga mahasiswa sampai sekarang belum ada. Tidak adanya transparansi dana dianggap sebagian mahasiswa sebagai salah satu kendala.

Dr Ir Gunarto Latama MSc, koordinator program studi BDP, mengatakan bahwa pemenuhan fasilitas belum terealisasi karena belum ada kucuran dana. Makanya, program kerja yang telah dikonsep dan tertuang di dalam proposal masih belum berjalan sama sekali. Berkaitan alokasi dana untuk lembaga mahasiswa, salah satu penyusun proposal ini memberikan pernyataan berbeda. ”Alokasi dana proyek ini hanya diperuntukkan bagi mahasiswa yang kurang mampu,” lanjutnya.

Serupa dengan pernyataan Gunarto, Dr Mariyanti A Manggau yang menjadi staff Farmasi juga menyatakan hal serupa. Bahwa selama ini program I-MHERE memang terkendala dana. Lebih jauh tentang I-MHERE, Mariyanti mengatakan bahwa dana I-MHERE ini adalah utang dari Bank Dunia dan yang akan melunasinya adalah pemerintah. Dengan kata lain, ini adalah hibah dari pemerintah.

Ibarat terkendala komunikasi, pernyataan Dr Ir Rusnadi Padjung MSc berbeda lagi. Rusnadi selaku Director Executive I-MHERE Unhas menjelaskan bahwa dana Program I-MHERE B1 sebesar 10 Milyar sudah ada sejak satu tahun lalu. Tepatnya Desember 2006, dana tersebut telah diterima dan masuk dalam rekening I-MHERE Unhas. Program I-MHERE B1 ini diperuntukkan untuk peningkatan relevansi dan sosial responsibility Universitas melalui penguatan jurusan. Sedang Program I-MHERE B2A (Strengthening Institutional Management In Auto Nomous Public Education Institution) untuk perbaikan manajemen mutu yang sehat bagi universitas. Dana untuk B2A ini senilai 3,9 Milyar dan baru masuk pada akhir Oktober lalu.

Buruknya koordinasi tim I-MHERE mengakibatkan pelaksanaan proyek ini tertahan alias belum jalan. Mariyanti terkejut ketika baru mengetahui bahwa ternyata dana sudah ada sejak tahun lalu. ”Itu mi juga. Sekarang sudah kurang koordinasi. Semuanya (tim I-MHERE, red) sudah sibuk dengan urusannya masing-masing. Hanya pada saat penyusunan proposal saja, komunikasi kami lancar," tandas Mariyanti.

Kurangnya komunikasi dari rektorat ke jurusan menyebabkan tejadinya kerancuan pemberitaan tentang pengalokasian dana I-MHERE Unhas. Tetapi terkait dengan ketidaktahuan Gunarto dan Mariyanti, Rusnadi justru menegaskan lain. Rusnadi malah beranggapan bahwa seharusnya pihak jurusanlah yang mengkomunikasikan hal itu ke atas (Director Executive I-MHERE, red). Pun Rusnadi menegaskan bahwa dana tersebut memang tidak diberikan kepada pihak jurusan. Akan tetapi, dana tersebut dikelola oleh orang yang menjalankan proyek dan dibelanjakan sesuai dengan program. Orang yang menjalankan proyek ini disebut Person In Charge (PIC) dan ini belum terbentuk. Dan menurut Rusnadi, jalannya proyek ini sangat bergantung pada PIC.

Walaupun program I-MHERE telah dinyatakan No Objection Letter (NOL) atau tidak ada lagi masalah dengan proposal tersebut. Hingga kini dana tersebut belum tersentuh program dalam proposal itu. Padahal batas waktu pengerjaan yang diberikan Bank Dunia, misalnya untuk B1 adalah dua tahun. Satu tahun keberadaan dana I-MHERE tetapi keberlangsungan program ini nyatanya masih belum jelas.

Akibat ketidakjelasan itu, terjadi perbedaan persepsi ataupun statement antara mahasiswa, staff Farmasi, koordinator program studi BDP, dan Director Executive I-MHERE. Belum lagi program I-MHERE yang dananya tidak sedikit ini dirasa masih kurang sosialisasi dan transparansinya bagi mahasiswa. "Kami (mahasiswa, red) mengharapkan adanya transparansi terhadap penggunaan dana I-MHERE ini," harap Gatot.
M02, M45, M57, M65/ Ayh