<body><iframe src="http://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID=35470829&amp;blogName=KABAR+DARI+KAMPUS+UNHAS&amp;publishMode=PUBLISH_MODE_FTP&amp;navbarType=BLUE&amp;layoutType=CLASSIC&amp;homepageUrl=http%3A%2F%2Fwww.identitasonline.net%2F&amp;searchRoot=http%3A%2F%2Fblogsearch.google.com%2F" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no" frameborder="0" height="30px" width="100%" id="navbar-iframe" title="Blogger Navigation and Search"></iframe> <div id="space-for-ie"></div>
SELAMAT DATANG DI SURAT KABAR KAMPUS UNHAS
Photo Sharing and Video Hosting at PhotobucketPhoto Sharing and Video Hosting at Photobucket

Thursday, November 15, 2007

No. 671/Tahun XXXIII/Awal Oktober 2007


Menakar Kinerja Dengan Tunjangan

Kebiasaan sejumlah dosen yang sering mangkir mengajar mulai diterapi dengan pemberian tunjangan kinerja. Mungkinkah kebijakan itu akan berdampak positif?

Saat jam kuliah, tidak sedikit mahasiswa yang masih asik bercengkerama di pelataran atau koridor kampus. Bahkan seringkali ocehan mahasiswa tersebut membuat mahasiswa lain yang tengah kuliah terganggu. Pemandangan seperti ini hampir dijumpai di semua fakultas yang ada di unhas. Pasalnya sebagian dosen yang telah dijadwal untuk memberi kuliah, tidak masuk dengan alasan yang beragam. Mulai dari alasan sakit, urusan proyek, atau lebih memilih mengajar di tempat lain yang tunjangannya lebih besar.

Berangkat dari fenomena itu. Selama kepemimpinan Prof Idrus Paturusi sebagai rektor, tunjangan dosen mulai diperhatikan. Salah satunya dengan pemberian insentif bagi dosen yang melaksanakan kewajibannya dengan baik yang dikenal dengan tunjangan kinerja. Adapun besarnya, Rp 25 ribu hingga Rp 50 robu per SKS per semesternya. Ini dimaksudkan agar dosen tidak lagi melalaikan tugas mengajarnya hanya karena alasan rendahnya pendapatan.

Maka dari itu, agar proses verifikasi dan pengawasan kinerja dosen lebih baik, pihak universitas telah membentuk suatu lembaga yang bertugas dalam mengawasi kinerja dosen, yang dikenal dengan Unit Pengawasan Internal (UPI). Lembaga inilah yang menilai kinerja setiap dosen terkait dengan pemberian tunjangan kinerja atau reward lainnya. Tak hanya itu, lembaga ini diharapkan mampu mengeluarkan semacam rekomedasi untuk penjatuhan sanksi bagi dosen yang tebukti lalai.

Meski demikian, besarnya kewenangan yang diberikan tidak sebanding dengan SDM yang dimiliki. Oleh karenanya, pihak UPI mengharapkan kerjasama dengan mahasiswa dan pihak fakultas agar bersama-sama memantau kinerja dosen. “Bagi mahasiswa yang menemui dosen yang malas masuk kelas, langsung saja melapor ke UPI. Jika ada dosen yang terbukti malas mengajar akan diberi sanksi,” tegas Prof Djuanda selaku ketua UPI. Untuk memaksimalkan perannya, UPI sudah menjajaki kerjasama yang lebih intens dengan staf fakultas dalam melakukan pengawasan baik dari segi administrasi maupun pengawasan secara langsung. “Jika dosen itu ketahuan malas mengajar, maka gajinya akan distop,” tambah Dosen Fisip ini.

Menindaklanjuti hal itu, pihak akademik dari tiap-tiap fakultas telah melakukan monitoring kinerja dosen, mulai dari jadwal mengajar hingga penilaian lainnya. Di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip), proses pengontrolan absen dan monitoring dosen sudah berjalan baik. Yang lebih berperan dalam monitoring ini dilakukan oleh setiap jurusan. Karena pihak jurusanlah yang mengawasi dan mengabsen langsung dosen yang mengajar di ruangan belajar. “Makanya monitoringnya sangat ketat jadi tidak ada dosen yang tidak mengajar lagi. Selain itu setiap mata kuliah ada tiga orang dosen yang mengajar kalau satunya tidak mengajar biasanya dosen yang lain dihubungi untuk mengajar jadi mereka (satu tim) saling koordinasi saja. Makanya tidak ada lagi mahasiswa yang dirugikan sekarang,” ujar Kartiah Gani, kepala bagian akademik Fisip.

Hal sama terlihat di Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM), dimana proses monitoring dosen telah berjalan mulus. “Kalaupun ada dosen yang tidak masuk mengajar, mereka akan menggantinya di hari lain,” tegas Jukmara, staf akademik FKM. Upaya itu tidak lepas dari keinginan pihak rektorat membenahi sistem pengajaran kampus agar mahasiswa nantinya setelah keluar memiliki kompetensi dan nilai jual yang tinggi dalam dunia kerja dan masyarakat.

Meski demikian, sejumlah mahasiswa menilai kinerja sebagaian dosen masih buruk. Syamsudin, mahasiswa Fisip mengatakan kehadiran dosen di kelas belum maksimal. Menurutnya masih ada dosen yang lalai menjalankan tanggungjawabnya dalam mengajar. Meski monitoring jurusan di Fisip telah berjalan, ditambah dengan pengalokasian insentif, kinerja sebagaian dosen ternyata belum sesuai yang diharapkan.

Hal senada diungkapkan oleh Radiman Ruli, mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA). Menurutnya intensitas dosen di ruangan belum berjalan merata. Masih ada saja dosen yang tidak maksimal memberikan kuliah. Khususnya dosen yang merangkap jabatan struktural di jurusan atau fakultas, entah karena sibuk dengan pekerjaan administrasi atau urusan lain.

Terlepas dari prokontra dalam menilai kinerja dosen, monitoring dan pemberian tunjangan kinerja, sangat positif mendorong intensitas kehadiran dosen di ruangan. Kebijakan yang dikeluarkan rektorat itu cukup berhasil mendongkrak antusiasme dosen dalam mengajar. Sebagaimana yang dikemukakan Kepala Biro Administrasi Umum, Drs Halim Doko Msi yang mengatakan, kalau dosen-dosen di berbagai fakultas sudah menunjukkan peningkatan kinerja. Tingkat kehadiran di kelas atau frekuensi tatap mukanya dengan mahasiswa semakin membaik. “Dari beberapa laporan yang saya peroleh, dosen–dosen di fakultas sudah rajin masuk ruangan kuliah setelah diberlakukannya tunjangan kinerja,” terangnya.
(Dayat, Marlin/Pdy)