<body><iframe src="http://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID=35470829&amp;blogName=KABAR+DARI+KAMPUS+UNHAS&amp;publishMode=PUBLISH_MODE_FTP&amp;navbarType=BLUE&amp;layoutType=CLASSIC&amp;homepageUrl=http%3A%2F%2Fwww.identitasonline.net%2F&amp;searchRoot=http%3A%2F%2Fblogsearch.google.com%2F" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no" frameborder="0" height="30px" width="100%" id="navbar-iframe" title="Blogger Navigation and Search"></iframe> <div id="space-for-ie"></div>
SELAMAT DATANG DI SURAT KABAR KAMPUS UNHAS
Photo Sharing and Video Hosting at PhotobucketPhoto Sharing and Video Hosting at Photobucket

Friday, November 30, 2007

Menyorot Akar Degradasi Nilai Intelektual

Kampus tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan berdiskusi, membaca, menulis, berorganisasi, dan sejumlah predikat lain. Namun kebiasaan demikian mulai langka. Regulasi akademik dan globalisasi, dituding sebagai penyebab.

Boleh jadi kegalauan Narda ST, alumni Fakultas Teknik Unhas angkatan 1992 atas menurunnya budaya intelektual mahasiswa Universitas Hasanuddin belakangan ini, dipicu oleh arus modernisasi yang kian tak terbendung. Kekuatan globalisasi masuk dengan kuat menusuk sampai sudut-sudut kampus. Mahasiswa yang selama ini menyandang predikat Agent of Social Control, telah terbuai dengan sistem yang ada dan malah tak mampu memberikan kontrol sebagaimana mestinya. Jangankan kontrol pada penentu kebijakan (pemerintah), lingkungan sendiri (kampus) pun nyaris tak lagi terdengar. Budaya baca dan diskusi yang dulu diagung-agungkan oleh kalangan kampus, sekarang tak lagi membumi.

”Dulu kondisi sangat sulit. Referensi dan literatur-literatur berkualitas sangat minim. Diskusi di koridor-koridor kampus merupakan pilihan alternatif. Kami tidak hanya mendiskusikan materi perkuliahan, tapi juga isu-isu kebangsaan yang lagi hangat pada masa itu. Kami kerap mendatangkan senior dan tokoh-tokoh yang kami nilai berkompeten untuk berdiskusi,” papar Narda, mengambarkan suasana intelektual semasa Ia mahasiswa.

Salah satu faktor yang disinyalir menggerus nilai-nilai intelektual itu adalah tarikan arus globalisasi yang tidak mampu diantisipasi dengan bijak. Mengutip pendapat A Naharuddin SIp MSi, Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisip) Unhas yang juga mantan aktivis mahasiswa 1998, mengatakan bahwa arus globalisasi telah menumbuhkembangkan pragmatisme di kalangan mahasiswa. Kondisi ini terlihat dengan semakin menurunnya tingkat kepekaan mahasiswa terhadap kondisi lingkungan dan permasalahan sosial yang terjadi di sekitarnya. Hadirnya individualisme di kalangan mahasiswa, juga ditengarai sebagai produk globalisasi. Nilai-nilai pragmatisme ini dianggap salah satu penyebab menurunnya minat mahasiswa untuk membaca, menulis dan berdiskusi.

Ini sungguh ironi, pasalnya budaya intelektual seperti membaca, menulis dan berdiskusi merupakan esensi terdalam dari kehidupan mahasiswa. Tanpa itu sulit diharapkan munculnya gagasan-gagasan cemerlang dalam dinamika intelektual mahasiswa.

Naharuddin juga menyoroti regulasi akademik yang ditetapkan universitas. Regulasi akademik yang ada sekarangt, telah memangkas masa studi mahasiswa. ”Ini mendorong mahasiswa kemudian sibuk dengan persoalan bagaimana dapat selesai dari kampus secepatnya,” papar lelaki yang akrab dipanggil Pak Oceng oleh mahasiswanya ini.

Terkait pengaruh globalisasi tersebut, Alwy Rachman, Dosen Fakultas Sastra Unhas memberikan penilaian yang sebaliknya. Globalisasi hanya menggeser model pengembangan budaya intelektual. ”Terjadi transisi model pengembangan budaya intelektual. Diskusi misalnya, tidak lagi dikoridor kampus tapi lewat aplikasi teknologi. Segmennya juga semakin luas, menjangkau hingga lintas universitas. Ini yang kemudian tidak begitu nampak,” papar Alwi.

Namun bukan berarti globalisasi bebas nilai. Hadirnya media internet dan beragamnya media transformasi ilmu pengetahuan yang ditawarkan korporasi memengaruhi fokus pengembangan budaya intelektual. Mahasiswa kemudian cenderung mengikuti trend yang ditawarkan oleh korporasi (tuntutan pasar). ”Imbasnya nanti pada dosen. Mahasiswa tidak lagi menganggap dosen sebagai satu-satunya sumber ilmu pengetahuan. Tersedia banyak sumber lain dalam proses transformasi ilmu pengetahuan,” papar direktur Lembaga Penerbitan Universitas Hasanuddin (Lephas) ini.

Oleh karenanya Dosen harus memberikan tanggapan yang serius. Jika tidak, bukan tidak mungkin di masa depan, mahasiswa tidak lagi membutuhkan dosen. Kehadiran sumber-sumber pengetahuan baru sebagai imbas globalisasi akan menggantikan peranan dosen. Sorotan mengenai menurunnya budaya intelektual di kalangan mahasiswa juga mesti dialamatkan pada dosen. Betapa masih minimnya kuantitas dosen yang mau belajar dan melakukan diskusi-diskusi untuk meningkatkan kepekaan intelektual.

Menanggapi sorotan terhadap menurunnya minat pengembangan budaya intelektual mahasiwa, M Ikbal, ketua Senat Mahasiswa (SEMA) Fakultas Ekonomi Unhas bertekad menguatkan kembali proses kaderisasi ditingkatan lembaga kemahasiswaan. ”Proses kaderisasi selama ini begitu rapuh. Selain itu kekuatan luar juga telah menumbuhkan hedonisme dan apatisme gerakan intelektual,” papar mahasiswa angkatan 2003 ini.

Senada dengan Ikbal, Awaludin menilai kaderisasi di lembaga mahasiswa adalah fondasi dasar untuk menumbuhkembangkan budaya intelektual di kalangan mahasiswa. Kematangan intelektual itu pun sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, yang dari setiap masa pasti berbeda. ”Setiap zaman membawa warna tersendiri, oleh karena itu mari kita bangun dinamika intelekual yang baik pada masa kita,” papar ketua BEM Fakultas Teknik ini dengan optimis.
(M29, M53, M59/Din)