<body><iframe src="http://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID=35470829&amp;blogName=KABAR+DARI+KAMPUS+UNHAS&amp;publishMode=PUBLISH_MODE_FTP&amp;navbarType=BLUE&amp;layoutType=CLASSIC&amp;homepageUrl=http%3A%2F%2Fwww.identitasonline.net%2F&amp;searchRoot=http%3A%2F%2Fblogsearch.google.com%2F" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no" frameborder="0" height="30px" width="100%" id="navbar-iframe" title="Blogger Navigation and Search"></iframe> <div id="space-for-ie"></div>
SELAMAT DATANG DI SURAT KABAR KAMPUS UNHAS
Photo Sharing and Video Hosting at PhotobucketPhoto Sharing and Video Hosting at Photobucket

Friday, November 30, 2007

Heroisme tak Lagi Dihargai

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah dan jasa para pahlawannya, lantas sejauh mana kita memaknainya dan menghargainya?

Kemerdekaan yang kita rasakan ini merupakan hasil dari perjuangan dan cucuran darah dari para pahlawan yang telah gugur untuk menegakkan dan mempertahankan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Dalam memeroleh kemerdekaan, banyak tantangan dan rintangan yang dilalui, baik dari dalam maupun dari luar. Salah satu ancaman itu adalah serangan pasukan sekutu yang membonceng pasukan Belanda (NICA). Rakyat Indonesia saat itu terus melakukan perlawanan. Hingga puncaknya, pada 10 November 1945, yang dikenal sebagai hari pahlawan.

Saat itu, di kota Surabaya, arek-arek Suroboyo berjuang melawan pasukan sekutu. Dalam pertempuran sengit itu, para pejuang hanya bersenjatakan bambu runcing dan senjata-senjata tradisional lainnya. Sementara pasukan Belanda dilengkapi persenjataan canggih. Keadaan itu tak membuat semangat juang para pemuda Surabaya goyah.. bung Tomo, dengan semboyan ‘rawe-rawe rantas malang-malang tunta,’ mampu membakar semangat rakyat Surabaya untuk melawan penjajah.

Bung Tomo merupakan salah seorang pejuang yang namanya selalu disebut-sebut setiap perayaan hari pahlawan. Namun, heroisme sepuluh November terasa sirna, tatkala pria yang bernama lengkap Soetomo itu, ternyata namanya belum tercatat di lembaran negara sebagai sosok pahlawan nasional.

Ini merupakan salah satu gambaran, jasa pahlawan masih terabaikan atau bahkan terlupakan. Fenomena yang berkembang memperlihatkan kurangnya perhatian terhadap pentingnya mengenang dan memaknai jasa-jasa para pahlawan di hati tiap warganegara, khususnya di kalangan mahasiswa sebagai generasi muda. Setiap tahun, peringatan hari Pahlawan sekadar seremonial semata. Padahal, terdapat esensi yang sangat berharga dalam hari bersejarah itu. Suatu esensi yang sangat agung dan sangat luhur untuk kita junjung tinggi, yaitu spirit patrotisme dan nasionalisme terhadap bangsa kita ini. Momentum hari pahlawan yang jatuh pada tanggal 10 November seharusnya dapat menjadi renungan dalam menghargai jasa-jasa para pahlawan, tetapi akhir ini juga mulai terlupakan.

Lantas Apa yang menyebabkan esensi ini luntur? Dr Edward L Polinggomang, mengungkapkan adanya perbedaan persepsi mengenai konsep pahlawan itu sendiri, sehingga mengakibatkan kurangnya kepercayaan terhadap jasa para pahlawan. “Konsep pahlawan yang dianut masyarakat adalah seseorang yang berjasa melawan kolonial, menciptakan Indonesia yang bersatu. Namun, mereka melupakan bahwa seorang pahlawan itu juga harus layak menjadi panutan rakyat,” ujarnya.

Apakah memang terjadi perbedaan persepsi ataukah civitas akademika memang tak perduli dengan sejarah para pahlawannya? Rahmat Hidayat, mahasiswa program studi Ilmu Pemerintahan Fisip, mengungkapkan penjajahan budaya asing menyebabkan terkikisnya nasionalisme dari hati para pemuda. “Mahasiswa tidak lagi pernah disuguhi kegiatan-kegiatan yang berusaha mengingatkannya akan jasa pahlawan. Momen-momen seperti perayaan dan pengapresiasian jasa pahlawan, tidak pernah lagi mereka dapatkan. Teman-teman semakin larut dengan budaya-budaya asing dan mengesampingkan budaya lokal,” tuturnya.

Lebih lanjut Rahmat mencontohkan, beberapa dari kita lebih bangga berbicara tentang Karl Marx, Che Guevara, serta pahlawan-pahlawan asing lainnya. Namun tidak pernah mengenal lebih jauh dengan keberanian Sultan Hasanuddin serta pahlawan-pahlawan yang berasal dari daerah sendiri. Momentum hari pahlawan bertujuan untuk mencegah amnesia sejarah. Jangan sampai kita melupakan perjuangan para pahlawan kita dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Karena bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah dan jasa para pahlawannya.
(M12,M55,M01,M66/Ikb)