Unhas Kecolongan, Kok Bisa?
Sebanyak 50 Perguruan Tinggi (PT)terbaik telah ditetapkan DIKTI. Unhas, sebagai universitas terbesar di Indonesai Timur justru tidak terdaftar.Ini pukulan telak buat Unhas.
Kendati dilontarkan dengan pelan dan dibarengi dengan senyum, namun nada ketegasan dan keseriusan terdengar jelas keluar. Dadang sepertinya enggan bermain-main. dari mulutnya. Kata ‘kecolongan’ berkali-kali mengalir dari tenggorokannya. Ketika identitas berdiskusi dengan Aslan Abidin (sastrawan Sulsel), Aslan mengatakan kenapa mesti kecolongan data, padahal di DIKTI semua data perguruan tinggi negeri dan swasta lengkap. Bisa jadi memang citra Unhas bukan lagi Universitas terkemuka di Indonesia Timur tetapi menjadi Universitas terlucu di Indonesia. “Kok bisa kecolongan data padahal DIKTI punya data lengkap mengenai seluruh Perguruan Tinggi Negeri (PTN)dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS), barangkali Unhas bukan lagi Universitas terkemuka di Indonesia Timur akan tetapi Universitas terlucu di Indonesia” ungkapnya ketika bertandang ke identitas.
Ada 28 Perguruan tinggi Negeri (PTN) dan 22 Perguruan Tinggi Swasta yang masuk dalam daftar DIKTI sebagai sebagai PT terbaik di Indonesia. Di Sulawesi hanya Universitas Tadulako (UNTAD), Sulawesi Tengah, satu-satunya yang masuk dalam daftar.
Kontroversipun bergulir, Dr. Armin Arsyad, M.Si dosen yang juga menjabat ketua program studi Ilmu Politik Fisip Unhas misalnya menilai keputusan DIKTI tidak representatif. Alasanya menurut Armin arsyad parameter yang dipakai DIKTI dalam penilaian tidak jelas. DIKTI bahkan menurut Armin Arsyad menutup mata atas kemajuan yang telah dicapai Unhas.
Unhas menurut Armin punya tekhnik Informasi, fasilitas dan infrastruktur yang memadai. Bahkan Unhas menurutnya saat ini dipercayakan menjadi universitas pembina yang melakukan pembinaan kepada perguruan Tinngi lain,”ada kesalahan informasi data yang sampai di DIKTI,” tutur Armin saat ditemui diruang kerjanya, senin (20/8) sambil mempertegas kalau itu ia terima dari rektor langsung.. Armin justru menyalakan DIKTI yang masih berbasiskan pengolahan data tradisional dalam melakukan kriteria penilaian. Sementara Unhas telah menerapkan system pengolahan data yang maju.
Pernyataan Armin Arsyad diatas justru bertolak belakang dengan keterangan yang diberikan Prof. Ir Dadang A Suriamihardja sendiri. Meski Dadang juga berujar seyogyanya DIKTI tidak menutup mata dalam melakukan penilaian, tapi Dadang tidak mengklaim DIKTI masih mnggunakan system penilaian tradisional,”hanya satu kekurangan kita, pendataan yang masih analog. DIKTI hanya menerima data dalam format digital, ini kekurangan terbesar Unhas” ujar Dadang menimpali . Kekurangan inilah dibahasakan Dadang dengan ‘kecolongan’. Seandainya data itu terformat dalam digital bukan tidak mungkin Unhas bakal masuk dua puluh besar daftar pemeringkatan DIKTI.Masalahnya menurut Dadang pegawai di Unhas belum terlatih menkonversi data dari manual ke system digital.
Kriteria yang ditetapkan DIKTI dalam pemeringkatan tersebut semuanya tersaji dengan lengkap mulai dari data besarnya dana hibah yang diterima Unhas tiap tahunnya, hasil-hasil penelitian pertahun, jumlah dosen dan mahasiswa pertahunnya sampai bentuk pengabdian pada masyarakat. Kendala yang dihadapi Unhas hanyalah system pendataan yang masih manual,”kita kekurangan operator yang mampu menkonversi data dari manual ke digital. Dikti hanya menerima data dalam format digital,”tutur Dadang. Dari keseluruhan pegawai Unhas, Cuma sekian persen saja yang mampu mengoperasilan komputer.
Belajar dari kasus tersebut, Dadang menegaskan kedepannya akan memperbaiki segala kelemahan Unhas terkhusus melatih para pegawi di Unhas yang masih kurang trampil mengoperasikan komputer. Apalagi Pemeringkatan itu menurut Dadang baru yang pertama kali diadakan. Jadi masih ada kesempatan untuk memperbaiki peringkat.Untuk menuju Unhas telah menetapkan program,pencapaian tiga besar berupa transformasi pola pembelajaran dari format teaching menjadi learning, pengolahan data dari manual ke digital, dan model penelitian dari sporadis menjadi road map. Sementara itu Juli lalu Unhas telah menempatkan sejumlah opertor ke semua fakultas yang bertugas menginput semua data ke dalam format digital.
Terkait dengan dampak yang akan diteriam Unhas dengan tidak masuknya Unhas dalam jajaran PT unggulan yang ditetapkan DIKTI Dadang mengatakan bahwa Unhas akan lebih gencar melakukan sosialisasi kemasyarakat. Ini menjaga citra Unhas sebagi PTN terbaik terutama dikawasan Inodonesai Timur tetap terjaga.
Sementara bagi Armin Arsyad mengaku tidak khawatir dengan pemeringkatan yang telah dilakukan DIKTI,”pola pikir masyarakat sudah berubah. Masyarakat kita sekarang mulai kritis. Mereka tidak begitu saja gampang menerima informasi,”ucap Armin. Unhas menurut Armin tidak perlu khawatir dengan dampak yang ditimbulakan dari informsi yang ditetapkan DIKTI. Nama Unhas sebagai universitas terbaik dan terbesar di Indonesia timur sudah melekat dalam benak masyarakat.
Lain halnya dengan Dr. Ir. Sumbangan Baja. M.Si Dosen Pertanian yang juga menjabat ketua jurusan Ilmu tanah ini mengatakan kalau pemeringkatan sangat berpengaruh terhadap sebuah institusi. Ia mencontohkan Universitas Of Sydney, Australia. Universitas terbesar di Negeri asal kanguru ini selalu berupaya memperbaiki kuliatasnya agar tetap masuk dalam daftar peringkat terbaik universiatas.Sampai sekarang universitas tersebut masih menempati peringkat nomor satu dalam penerimaan dana-dana hibah dan kerjasama baik dalam maupun luar negeri,”ini disebabkan Universitas Of Sydney tersebut sangat memperhatikan peringkat dan berusaha untuk selalu mendaptkan peringkat terbaik,”ungkap lelaki yang juga mantan mahasiswa Australia ini.
DR.Ir Sumabagan Baja mengharapakan Unhas tidak perlu kecil hati dalam pemeringkatan ini. lain kali Unhas harus bisa berbenah dari sekarang dengan memperbaiki segala hal khususnya teknologi informasi.. Ia justru menilai dengan tidak masuknya Unhas dalam 50 PT tersebut menjadi pemicu untuk memperbaiki kuliats termasuk dalam pendataan.
Belajar dari kasus tersebut, sepertinya Unhas memang perlu berbenah. Memperbaiki segala kekurangan. Apabila ini tidak diperhatikan, bukan tidak mungkin Unhas kedepannya akan semakin tertinggal jauh dari universitas lain. Bukan hanya pegawai yang harus dituntut berubah, tapi semua elemen civitas akademika mesti berubah. Barangkali saat ini Unhas jangan hanya larut memerhatikan kualitas fisik tapi tentu saja sumber daya mahasiswa juga?
Din/Ern
Kendati dilontarkan dengan pelan dan dibarengi dengan senyum, namun nada ketegasan dan keseriusan terdengar jelas keluar. Dadang sepertinya enggan bermain-main. dari mulutnya. Kata ‘kecolongan’ berkali-kali mengalir dari tenggorokannya. Ketika identitas berdiskusi dengan Aslan Abidin (sastrawan Sulsel), Aslan mengatakan kenapa mesti kecolongan data, padahal di DIKTI semua data perguruan tinggi negeri dan swasta lengkap. Bisa jadi memang citra Unhas bukan lagi Universitas terkemuka di Indonesia Timur tetapi menjadi Universitas terlucu di Indonesia. “Kok bisa kecolongan data padahal DIKTI punya data lengkap mengenai seluruh Perguruan Tinggi Negeri (PTN)dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS), barangkali Unhas bukan lagi Universitas terkemuka di Indonesia Timur akan tetapi Universitas terlucu di Indonesia” ungkapnya ketika bertandang ke identitas.
Ada 28 Perguruan tinggi Negeri (PTN) dan 22 Perguruan Tinggi Swasta yang masuk dalam daftar DIKTI sebagai sebagai PT terbaik di Indonesia. Di Sulawesi hanya Universitas Tadulako (UNTAD), Sulawesi Tengah, satu-satunya yang masuk dalam daftar.
Kontroversipun bergulir, Dr. Armin Arsyad, M.Si dosen yang juga menjabat ketua program studi Ilmu Politik Fisip Unhas misalnya menilai keputusan DIKTI tidak representatif. Alasanya menurut Armin arsyad parameter yang dipakai DIKTI dalam penilaian tidak jelas. DIKTI bahkan menurut Armin Arsyad menutup mata atas kemajuan yang telah dicapai Unhas.
Unhas menurut Armin punya tekhnik Informasi, fasilitas dan infrastruktur yang memadai. Bahkan Unhas menurutnya saat ini dipercayakan menjadi universitas pembina yang melakukan pembinaan kepada perguruan Tinngi lain,”ada kesalahan informasi data yang sampai di DIKTI,” tutur Armin saat ditemui diruang kerjanya, senin (20/8) sambil mempertegas kalau itu ia terima dari rektor langsung.. Armin justru menyalakan DIKTI yang masih berbasiskan pengolahan data tradisional dalam melakukan kriteria penilaian. Sementara Unhas telah menerapkan system pengolahan data yang maju.
Pernyataan Armin Arsyad diatas justru bertolak belakang dengan keterangan yang diberikan Prof. Ir Dadang A Suriamihardja sendiri. Meski Dadang juga berujar seyogyanya DIKTI tidak menutup mata dalam melakukan penilaian, tapi Dadang tidak mengklaim DIKTI masih mnggunakan system penilaian tradisional,”hanya satu kekurangan kita, pendataan yang masih analog. DIKTI hanya menerima data dalam format digital, ini kekurangan terbesar Unhas” ujar Dadang menimpali . Kekurangan inilah dibahasakan Dadang dengan ‘kecolongan’. Seandainya data itu terformat dalam digital bukan tidak mungkin Unhas bakal masuk dua puluh besar daftar pemeringkatan DIKTI.Masalahnya menurut Dadang pegawai di Unhas belum terlatih menkonversi data dari manual ke system digital.
Kriteria yang ditetapkan DIKTI dalam pemeringkatan tersebut semuanya tersaji dengan lengkap mulai dari data besarnya dana hibah yang diterima Unhas tiap tahunnya, hasil-hasil penelitian pertahun, jumlah dosen dan mahasiswa pertahunnya sampai bentuk pengabdian pada masyarakat. Kendala yang dihadapi Unhas hanyalah system pendataan yang masih manual,”kita kekurangan operator yang mampu menkonversi data dari manual ke digital. Dikti hanya menerima data dalam format digital,”tutur Dadang. Dari keseluruhan pegawai Unhas, Cuma sekian persen saja yang mampu mengoperasilan komputer.
Belajar dari kasus tersebut, Dadang menegaskan kedepannya akan memperbaiki segala kelemahan Unhas terkhusus melatih para pegawi di Unhas yang masih kurang trampil mengoperasikan komputer. Apalagi Pemeringkatan itu menurut Dadang baru yang pertama kali diadakan. Jadi masih ada kesempatan untuk memperbaiki peringkat.Untuk menuju Unhas telah menetapkan program,pencapaian tiga besar berupa transformasi pola pembelajaran dari format teaching menjadi learning, pengolahan data dari manual ke digital, dan model penelitian dari sporadis menjadi road map. Sementara itu Juli lalu Unhas telah menempatkan sejumlah opertor ke semua fakultas yang bertugas menginput semua data ke dalam format digital.
Terkait dengan dampak yang akan diteriam Unhas dengan tidak masuknya Unhas dalam jajaran PT unggulan yang ditetapkan DIKTI Dadang mengatakan bahwa Unhas akan lebih gencar melakukan sosialisasi kemasyarakat. Ini menjaga citra Unhas sebagi PTN terbaik terutama dikawasan Inodonesai Timur tetap terjaga.
Sementara bagi Armin Arsyad mengaku tidak khawatir dengan pemeringkatan yang telah dilakukan DIKTI,”pola pikir masyarakat sudah berubah. Masyarakat kita sekarang mulai kritis. Mereka tidak begitu saja gampang menerima informasi,”ucap Armin. Unhas menurut Armin tidak perlu khawatir dengan dampak yang ditimbulakan dari informsi yang ditetapkan DIKTI. Nama Unhas sebagai universitas terbaik dan terbesar di Indonesia timur sudah melekat dalam benak masyarakat.
Lain halnya dengan Dr. Ir. Sumbangan Baja. M.Si Dosen Pertanian yang juga menjabat ketua jurusan Ilmu tanah ini mengatakan kalau pemeringkatan sangat berpengaruh terhadap sebuah institusi. Ia mencontohkan Universitas Of Sydney, Australia. Universitas terbesar di Negeri asal kanguru ini selalu berupaya memperbaiki kuliatasnya agar tetap masuk dalam daftar peringkat terbaik universiatas.Sampai sekarang universitas tersebut masih menempati peringkat nomor satu dalam penerimaan dana-dana hibah dan kerjasama baik dalam maupun luar negeri,”ini disebabkan Universitas Of Sydney tersebut sangat memperhatikan peringkat dan berusaha untuk selalu mendaptkan peringkat terbaik,”ungkap lelaki yang juga mantan mahasiswa Australia ini.
DR.Ir Sumabagan Baja mengharapakan Unhas tidak perlu kecil hati dalam pemeringkatan ini. lain kali Unhas harus bisa berbenah dari sekarang dengan memperbaiki segala hal khususnya teknologi informasi.. Ia justru menilai dengan tidak masuknya Unhas dalam 50 PT tersebut menjadi pemicu untuk memperbaiki kuliats termasuk dalam pendataan.
Belajar dari kasus tersebut, sepertinya Unhas memang perlu berbenah. Memperbaiki segala kekurangan. Apabila ini tidak diperhatikan, bukan tidak mungkin Unhas kedepannya akan semakin tertinggal jauh dari universitas lain. Bukan hanya pegawai yang harus dituntut berubah, tapi semua elemen civitas akademika mesti berubah. Barangkali saat ini Unhas jangan hanya larut memerhatikan kualitas fisik tapi tentu saja sumber daya mahasiswa juga?
Din/Ern




