<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener("load", function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <iframe src="http://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID=35470829&amp;blogName=KABAR+DARI+KAMPUS+UNHAS&amp;publishMode=PUBLISH_MODE_FTP&amp;navbarType=BLUE&amp;layoutType=CLASSIC&amp;homepageUrl=http%3A%2F%2Fwww.identitasonline.net%2F&amp;searchRoot=http%3A%2F%2Fblogsearch.google.com%2F" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no" frameborder="0" height="30px" width="100%" id="navbar-iframe" title="Blogger Navigation and Search"></iframe> <div></div>
SELAMAT DATANG DI SURAT KABAR KAMPUS UNHAS
Photo Sharing and Video Hosting at PhotobucketPhoto Sharing and Video Hosting at Photobucket

Saturday, September 29, 2007

No. 669/Tahun XXXIII/Awal September 2007

Borok FKG Tercium Juga

Ketidakpuasan mahasiswa FKG menjalani sistim Akademik yang diterapkan sudah lama dipendam, tiba akhirnya mereka harus melakukan perubahan.

Dari jauh, sayup-sayup terdengar teriakan dari balik pelataran parkir gedung perkuliahan mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) unhas di Jalan Kandea atau yang dikenal dengan Rumah Sakit Gigi dan Mulut (RSGM), Kamis (06/09). Teriakan itu, ibarat orang yang mengerang kesakitan akibat sakit gigi. Kali ini, bukan pasien yang mengerang ‘sakit’ namun seluruh mahasiswa FKG dari strata satu (S1) hingga mahasiswa kepaniteraan (coass).
Mereka melampiaskannya dalam bentuk demonstrasi. Selain berorasi, mereka juga menggelar aksi teaterikal yang menggambarkan ‘perpeloncoan’ dosen FKG terhadap mahasiswanya. Mereka juga membakar jas coass dan mengusung peti mayat sebagai tanda terbunuhnya ketidakadilan dan ketertindasan di kampus itu. Mereka menyayangkan masih banyaknya mahasiswa coass yang harus bertahun-tahun menempuh pendidikan di institusi itu. Sebut saja, masih ada mahasiswa angkatan 1993 yang belum juga menamatkan pendidikannya. ”Hanya 40 persen mahasiswa Kepaniteraan yang bisa lulus. Siapa yang bodoh? Mahasiswa atau dosen yang bodoh mengajari mahasiswanya?” teriak Munawir SKg, mahasiswa coass saat aksi.
Hari, mahasiswa coass yang lain, juga menyayangkan hal yang sama. “Untuk cepat selesai, persyaratannya adalah, yang pertama harus keluarga dosen ‘Anu’. Dan yang kedua, harus pintar cari muka dengan dosen,” teriaknya saat demonstrasi.
Muhammmad Ikbal SKg, Ketua Dewan Mahasiswa Profesi (DMP) FKG, mengungkapkan ada empat faktor penyebab keprihatinan dari mahasiswa kepaniteraan. Yang pertama, fasilitas yang tersedia di klinik tidak mampu mengakomodir seluruh mahasiswa sehingga sebagian besar mahasiswa terpaksa diliburkan.
Yang kedua, masih cukup besarnya jumlah kasus yang harus diselesaikan, waktu responsi dan ujian terlalu lama, standar penilaian kasus, responsi, refarat dan ujian tidak jelas serta jadwal datang dan pulang dosen yang tidak jelas.
Yang ketiga, penyelesaian crash program (program percepatan) untuk mahasiswa angkatan 1991-1998 tidak berjalan sebagaimana mestinya. Dan yang keempat, iklim perkuliahan yang kurang nyaman bagi mahasiswa dimana masih sering terjadi kekerasan psikis oknum dosen terhadap mahasiswa.
Sebagaimana yang dituturkan Ikbal, bahwa aksi yang mereka gelar merupakan puncak kemarahan mereka yang bertumpu pada insiden jumat lalu (31/8). Saat seorang mahasiswa coass yang berinisial SD mengalami kekerasan psikis oleh oknum dosen SM dan HC. Sehubungan dengan hal itu, HC yang ditemui ditempat prakteknya hari kamis (06/09), menolak memberi keterangan. “Saya tidak berkapasitas untuk memberi tanggapan. Di sini saya sebagai pihak yang tertuduh. Dan saya tak akan memberikan pembelaan atau tanggapan apapun,” tuturnya.
Namun ia mengakui bahwa saat ini ia sedang dalam proses klarifikasi dengan Komisi Disiplin (Komdis) FKG. “Saya dan SM sudah diperiksa tim Komdis FKG. Dan kita masih dalam proses klarifikasi,” tambahnya. Ia berharap ada pemecahan solusi dari pihak institusi.
Prof drg Moh Dharma Utama PhD, selaku dekan FKG, saat ditemui di ruang kerjanya (06/09) sesaat setelah aksi mahasiswa, mengaku prihatin dengan kondisi yang dirasakan oleh mahasiswa. “Saya meminta maaf kepada para mahasiswa yang merasa kurang dilayani. Karena keterbatasan saya yang merangkap dua tugas. Yaitu sebagai dekan dan pembatu Dekan I. Sudah delapan bulan ini belum juga ditetapkan pengganti dekan yang baru,” ujarnya.
Ia juga mengakui adanya beberapa dosen yang kurang kooperatif. “Beberapa dosen memang selalu tidak memasukkan laporan kinerjanya. Kami sudah berkali-kali memperingatkan bahkan menegurnya, namun tidak diindahkan,” tuturnya. Ia menambahkan, pihak Unit Pengawasan Internal Universitas belum terlibat dalam penanganan masalah yang menyangkut kinerja dosen itu.
Sementara mengenai tuntutan mahasiswa terhadap perbaikan fasilitas, sarana dan prasarana di FKG, Prof Dharma mengaku telah mengupayakannya sejak tahun lalu. “Rancangannya sudah ada sejak tahun lalu. Dan sudah dibicarakan dengan Rektor. Hanya saja terkendala pada dana. Kami selalu menanyakan ini pada pihak Rektorat, namun hingga rapat koordinasi jumat lalu (31/8) belum juga ada tanggapan yang pasti,” tuturnya.
Dalam perkembangannya, pertemuan birokrasi dan mahasiswa FKG telah menghasilkan beberapa kesepakatan, di antaranya pengaktifan kembali RSGM Kandea, membentuk tim monitoring dan evaluasi pendidikan di RSGM, dan optimalisasi sarana dan prasarana FKG. Bersamaan dengan itu, jabatan struktural (pembantu dekan) di FKG yang lowong sejak terpilihnya dekan baru, telah terisi kembali melalui pemungutan suara ulang. Dicapainya kesepakatan itu, semoga memberi angin segar bagi perubahan di FKG ke arah yang lebih baik. Semoga! (M12, M29/ Pdy)

Point Tuntutan Aksi ‘Getir 07’:
Demi mewujudkan sistem pendidikan yang kondusif di Fakultas Kedokteran Gigi Unhas, maka kami segenap mahasiswa FKG menuntut:
1. Pemberlakuan sistim penilaian terhadap profesionalitas dosen secara komprehensif.
2. Perbaikan sistim pendidikan dokter gigi di FKG UH.
3. Perbaikan serta penambahan sarana dan prasarana di FKG UH.
Apabila tidak ada respon dari pihak terkait, maka kami menganggap FKG (RSGM dan Kampus Tamalanrea) Unhas tidak layak sebagai tempat pendidikan dokter gigi dan kami dengan ini menyatakan kedua tempat tersebut ditutup sebagai tempat kegiatan belajar-mengajar pendidikan dokter gigi sampai tercapainya tuntutan ini.