'HADIAH' BUAT DATUK
Untuk keenam kalinya gelar Doktor HC kembali diretas. Kali ini wakil perdana menteri Malaysia dianugerahi gelar. Apa makna dibalik penganugrahan ini?
Donald Luther Colopita, wasit karate korban pemukulan polisi Malaysia beserta Ceriaty, korban penyiksaan Tenaga Kerja Indonesia mungkin akan kecewa dengan seremoni Dies Natalis Universitas Hasanuddin (Unhas) ke-51, Senin (10/9). Karena pada hari itu, Doktor Honoris Causa (DHC), macam gelar penghargaan bagi orang-orang yang dianggap berjasa dalam bidang tertentu akan Unhas sematkan ke pundak Datuk Sri Mohd Najib bin Tun Abdul Razak, Wakil Perdana Menteri Malaysia, negeri yang membuatnya babak belur awal bulan September ini.
Kekesalan wasit itu sepertinya kali ini tidak digubris oleh Unhas, dengan alasan bahwa Datuk negeri Jiran ini nantinya akan mempererat hubungan diplomatis Indonesia-Malaysia, terkhusus lagi buat Unhas. Mengenai perangainya, tak dapat dipungkiri bahwa dalam beberapa tahun terakhir, Malaysia telah memberi sumbangsih lebih buat Unhas. Indikatornya berupa kerja sama penerimaan pelajar Malaysia di Fakultas Kedokteran Unhas. Dengan kerja sama itu, Unhas mendapat uang pangkal sebesar Rp. 100 juta pertahun. Disamping Rp. 45 Juta persemester yang dibebankan setiap mahasiswa Malaysia. Jika dikalkulasi pemasukan fakultas yang pernah dipimpin Rektor Unhas sekarang, Prof Dr. Idrus Paturusi ini dapat mencapai Rp. 14 Milyar dalam setahun.
Meski begitu, pernyataan di atas adalah satu dari sekian alasan terpilihnya Datuk untuk DHC tahun ini. Karena Penentuan penyandang gelar mesti melewati seleksi kelayakan. Mulanya Dewan Guru Besar Unhas yang diketuai oleh Prof. Dr Muslimin mengadakan rapat untuk menyeleksi beberapa tokoh yang akan dianugrahi Gelar DHC. Setelah penyandang gelar ditentukan, maka tim promotor yang ditunjuk akan menguji kelayakan tokoh itu. “Kami memberikan justifikasi terhadap kelayakan tokoh yang dianugrahi,” ungkap Prof Dr Basri Hasanuddin, Ma, promotor Datuk Sri Mohd Najib, tokoh yang terpilih ditemani Prof Mappanasrun MA, sebagai anggota promotor. Memulai tugasnya, Prof Basri berangkat ke Kuala Lumpur untuk menemui Datuk pada 19 Juli lalu. Di sana ia membincangkan masalah pembangunan, pendidikan, dan hubungan bilateral.
Menurut Dr Dwia Aries Tina MA, Pembantu Rektor IV Unhas, penghargaan buat Datuk kali ini ditujukan dalam bidang ekonomi politik. Poin penting dalam penganugerahan DHC ini seperti hasil pemikirannya bagi rakyat Malaysia, dimana rakyat harus mengurangi budaya “lebih kurang” dan mengembangkan budaya Precision dan kualitas dalam setiap aktivitas yang dilakukan. Poin lain yaitu rakyat Malaysia harus belajar berpikir jangka panjang. Menurutnya sukses jangka panjang terbangun dari keputusan-keputusan jangka pendek yang cepat.
Datuk sangat konsisten pula dengan dasar filosofi pembangunan yang dianutnya. Untuk meraih sukses, konsumen, investor, pelaku bisnis dan pemerintah harus memainkan peranannya masing-masing. Karena itu, disamping kebijakan pemerintah mengundang investor asing, pengusaha itu juga harus memanfaatkan peluang untuk go global. Pada saat yang bersamaan, menurut Datuk, pemerintah juga melanjutkan pembangunan sosial yang mampu mewujudkan masyarakat adil bagi kelompok etnis dan wilayah.
Dalam kapasitasnya sebagai Wakil Perdana Menteri, datuk yang juga mantan menteri Pertahanan Negara ini memainkan peranan penting dalam hubungan diplomasi Indonesia-Malaysia, khususnya bidang ekonomi dan investasi. Tak dapat disangkal bahwa Malaysia adalah negara yang menampung TKI. Kehadiran TKI ini telah memberikan kontribusi positif bagi perekonomian Indonesia sebagai penyumbang devisa.
Ada pertimbangan lain yang juga dijadikan alasan terpilihnya Datuk Najib. Unhas juga mempertimbangkan latar belakang Datuk Najib. Beberapa peneliti Bugis yang menelusuri garis keturunan Tun Abdul Razak, ayah Datuk Najib, menemukan bahwa Tun Razak berasal dari keturunan Sultan Abdul Jalil atau Mappadulung Daeng Matimmung Karaeng Sanrobone Raja ke 15, Sumbayya di kerajaan Gowa, cucu dari Sultan Hasanuddin. ”Alasan emosional berupa datuk berdarah Bugis turut menjadi pertimbangan,” ujar Prof Basri.
Pemberian Gelar DHC yang tahun lalu disandang Prof Dr BJ Habibie dalam bidang kedirgantaraan ini tidak serta merta diterima Datuk. Mulanya Unhas menjalin kerjasama dengan Universitas Teknologi Malaysia, namun dirasa agak sulit. Panitia kemudian menempuh Jalan lain, yaitu dengan memohon bantuan pihak kedutaan RI agar DHC diajukan ke Datuk. Dengan begitu, barulah Datuk menerima gelar itu. “Saya orang bugis, masa saya menolak,” ungkap Dr Dwia menirukan kalimat datuk saat ditemui di ruangan rektor . Penganugerahan ini pun menurut Prof Basri adalah yang ketiga kalinya. Sebelumnya, penghargaan serupa pernah diberikan oleh Inggris dan Amerika.
Sejak berdirinya, Unhas sudah enam kali menganugerahkan DHC. Mulai dari Ir Sukarno, Khaeru Sholeh, Moh. Hatta, Nelson Madela, BJ Habibie hingga Wakil PM Malaysia untuk tahun ini. Gelar ini merupakan gelar penghormatan yang diberikan pada seseorang akibat dari sepak terjang, pemikiran terhadap suatu bidang tertentu dan memberikan kontribusi ilmu pengetahuan dan kesejahteraan bagi umat manusia. Menurut Dahlan Abu Bakar, pemberian ini bukan karena pendidikan yang digeluti tetapi, murni atas jasanya.
Prof Basri mengharapkan dengan gelar ini Datuk akan melakukan hal positif bagi hubungan kedua negara. Menurutnya pemberian gelar ini bukan untuk sebuah kepentingan, tetapi murni pemberian gelar atas jasa dan sumbangsihnya terhadap suatu bidang. Hal yang sama juga dilontarkan Prof Dr Yunus Zain, Dekan Fakultas Ekonomi. “Kami memang mengharapkan kerjasama antar kedua negara dapat tumbuh baik dalam hal Ekonomi, Kebudayaan, maupun sosial,” katanya.
M02, M26/Dam
Donald Luther Colopita, wasit karate korban pemukulan polisi Malaysia beserta Ceriaty, korban penyiksaan Tenaga Kerja Indonesia mungkin akan kecewa dengan seremoni Dies Natalis Universitas Hasanuddin (Unhas) ke-51, Senin (10/9). Karena pada hari itu, Doktor Honoris Causa (DHC), macam gelar penghargaan bagi orang-orang yang dianggap berjasa dalam bidang tertentu akan Unhas sematkan ke pundak Datuk Sri Mohd Najib bin Tun Abdul Razak, Wakil Perdana Menteri Malaysia, negeri yang membuatnya babak belur awal bulan September ini.
Kekesalan wasit itu sepertinya kali ini tidak digubris oleh Unhas, dengan alasan bahwa Datuk negeri Jiran ini nantinya akan mempererat hubungan diplomatis Indonesia-Malaysia, terkhusus lagi buat Unhas. Mengenai perangainya, tak dapat dipungkiri bahwa dalam beberapa tahun terakhir, Malaysia telah memberi sumbangsih lebih buat Unhas. Indikatornya berupa kerja sama penerimaan pelajar Malaysia di Fakultas Kedokteran Unhas. Dengan kerja sama itu, Unhas mendapat uang pangkal sebesar Rp. 100 juta pertahun. Disamping Rp. 45 Juta persemester yang dibebankan setiap mahasiswa Malaysia. Jika dikalkulasi pemasukan fakultas yang pernah dipimpin Rektor Unhas sekarang, Prof Dr. Idrus Paturusi ini dapat mencapai Rp. 14 Milyar dalam setahun.
Meski begitu, pernyataan di atas adalah satu dari sekian alasan terpilihnya Datuk untuk DHC tahun ini. Karena Penentuan penyandang gelar mesti melewati seleksi kelayakan. Mulanya Dewan Guru Besar Unhas yang diketuai oleh Prof. Dr Muslimin mengadakan rapat untuk menyeleksi beberapa tokoh yang akan dianugrahi Gelar DHC. Setelah penyandang gelar ditentukan, maka tim promotor yang ditunjuk akan menguji kelayakan tokoh itu. “Kami memberikan justifikasi terhadap kelayakan tokoh yang dianugrahi,” ungkap Prof Dr Basri Hasanuddin, Ma, promotor Datuk Sri Mohd Najib, tokoh yang terpilih ditemani Prof Mappanasrun MA, sebagai anggota promotor. Memulai tugasnya, Prof Basri berangkat ke Kuala Lumpur untuk menemui Datuk pada 19 Juli lalu. Di sana ia membincangkan masalah pembangunan, pendidikan, dan hubungan bilateral.
Menurut Dr Dwia Aries Tina MA, Pembantu Rektor IV Unhas, penghargaan buat Datuk kali ini ditujukan dalam bidang ekonomi politik. Poin penting dalam penganugerahan DHC ini seperti hasil pemikirannya bagi rakyat Malaysia, dimana rakyat harus mengurangi budaya “lebih kurang” dan mengembangkan budaya Precision dan kualitas dalam setiap aktivitas yang dilakukan. Poin lain yaitu rakyat Malaysia harus belajar berpikir jangka panjang. Menurutnya sukses jangka panjang terbangun dari keputusan-keputusan jangka pendek yang cepat.
Datuk sangat konsisten pula dengan dasar filosofi pembangunan yang dianutnya. Untuk meraih sukses, konsumen, investor, pelaku bisnis dan pemerintah harus memainkan peranannya masing-masing. Karena itu, disamping kebijakan pemerintah mengundang investor asing, pengusaha itu juga harus memanfaatkan peluang untuk go global. Pada saat yang bersamaan, menurut Datuk, pemerintah juga melanjutkan pembangunan sosial yang mampu mewujudkan masyarakat adil bagi kelompok etnis dan wilayah.
Dalam kapasitasnya sebagai Wakil Perdana Menteri, datuk yang juga mantan menteri Pertahanan Negara ini memainkan peranan penting dalam hubungan diplomasi Indonesia-Malaysia, khususnya bidang ekonomi dan investasi. Tak dapat disangkal bahwa Malaysia adalah negara yang menampung TKI. Kehadiran TKI ini telah memberikan kontribusi positif bagi perekonomian Indonesia sebagai penyumbang devisa.
Ada pertimbangan lain yang juga dijadikan alasan terpilihnya Datuk Najib. Unhas juga mempertimbangkan latar belakang Datuk Najib. Beberapa peneliti Bugis yang menelusuri garis keturunan Tun Abdul Razak, ayah Datuk Najib, menemukan bahwa Tun Razak berasal dari keturunan Sultan Abdul Jalil atau Mappadulung Daeng Matimmung Karaeng Sanrobone Raja ke 15, Sumbayya di kerajaan Gowa, cucu dari Sultan Hasanuddin. ”Alasan emosional berupa datuk berdarah Bugis turut menjadi pertimbangan,” ujar Prof Basri.
Pemberian Gelar DHC yang tahun lalu disandang Prof Dr BJ Habibie dalam bidang kedirgantaraan ini tidak serta merta diterima Datuk. Mulanya Unhas menjalin kerjasama dengan Universitas Teknologi Malaysia, namun dirasa agak sulit. Panitia kemudian menempuh Jalan lain, yaitu dengan memohon bantuan pihak kedutaan RI agar DHC diajukan ke Datuk. Dengan begitu, barulah Datuk menerima gelar itu. “Saya orang bugis, masa saya menolak,” ungkap Dr Dwia menirukan kalimat datuk saat ditemui di ruangan rektor . Penganugerahan ini pun menurut Prof Basri adalah yang ketiga kalinya. Sebelumnya, penghargaan serupa pernah diberikan oleh Inggris dan Amerika.
Sejak berdirinya, Unhas sudah enam kali menganugerahkan DHC. Mulai dari Ir Sukarno, Khaeru Sholeh, Moh. Hatta, Nelson Madela, BJ Habibie hingga Wakil PM Malaysia untuk tahun ini. Gelar ini merupakan gelar penghormatan yang diberikan pada seseorang akibat dari sepak terjang, pemikiran terhadap suatu bidang tertentu dan memberikan kontribusi ilmu pengetahuan dan kesejahteraan bagi umat manusia. Menurut Dahlan Abu Bakar, pemberian ini bukan karena pendidikan yang digeluti tetapi, murni atas jasanya.
Prof Basri mengharapkan dengan gelar ini Datuk akan melakukan hal positif bagi hubungan kedua negara. Menurutnya pemberian gelar ini bukan untuk sebuah kepentingan, tetapi murni pemberian gelar atas jasa dan sumbangsihnya terhadap suatu bidang. Hal yang sama juga dilontarkan Prof Dr Yunus Zain, Dekan Fakultas Ekonomi. “Kami memang mengharapkan kerjasama antar kedua negara dapat tumbuh baik dalam hal Ekonomi, Kebudayaan, maupun sosial,” katanya.
M02, M26/Dam




