<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener("load", function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <iframe src="http://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID=35470829&amp;blogName=KABAR+DARI+KAMPUS+UNHAS&amp;publishMode=PUBLISH_MODE_FTP&amp;navbarType=BLUE&amp;layoutType=CLASSIC&amp;homepageUrl=http%3A%2F%2Fwww.identitasonline.net%2F&amp;searchRoot=http%3A%2F%2Fblogsearch.google.com%2F" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no" frameborder="0" height="30px" width="100%" id="navbar-iframe" title="Blogger Navigation and Search"></iframe> <div></div>
SELAMAT DATANG DI SURAT KABAR KAMPUS UNHAS
Photo Sharing and Video Hosting at PhotobucketPhoto Sharing and Video Hosting at Photobucket

Saturday, September 29, 2007

”Garis Pembatas” di Laboratorium

Rektorat kini telah mengeluarkan larangan memungut dana dari tiap praktikan (peserta praktikum). Hal itu jelas membuat pengelola laboratorium (lab) kelabakan. Pasalnya, selama ini dana itu ikut menutupi minimnya dana oprasional.

Lab Biologi Dasar nampak lengang hari itu, Senin (03/09). Mahasiswa baru yang biasanya hilir mudik di sekitar lab tak juga kelihatan batang hidungnya. Padahal, seperti tahun-tahun sebelumnya, saat itu jadwal praktikum telah dimulai.
Lain halnya dengan tetangga sebelah Biologi, lab Kimia Dasar sepertinya sudah mulai ramai kedatangan para praktikannya. Meski di saat yang sama, belum ada aktivitas yang menonjol di lab itu. Hanya sekadar asistensi umum sebelum praktikum diselenggarakan.
Keterlambatan praktikum itu bukanlah karena persiapan lab tersebut belum matang. Namun ternyata lab-lab itu sedang menanti kucuran dana oprasional. Adanya keputusan rektorat yang tidak membolehkan memungut biaya penyelenggaraan lab pada praktikan menjadi masalahnya.
”Tahun ini memang ada keputusan dari universitas untuk membebaskan praktikan dari pungutan biaya. Katanya, semuanya akan ditanggung oleh universitas,” ujar Robert Sujianto Kordinator Lab Biologi Dasar.
Karena dana rektorat itu tidak kunjung sampai ke tangan pihak pengelola lab, sementara praktikum mendesak untuk dilaksanakan, Robert pun mengeluh. ”Ada kemungkinan praktiukum dibatalkan, menimbang tidak adanya dana untuk penyelenggaran praktikum, sedang di sisi lain, janji rektorat tak kunjung ditepati,” lanjut Robert dengan nada memelas pada kru identitas yang mewawancarainya.
Meski dengan masalah yang sama, lab Kimia Dasar seakan tak mau membuang waktu untuk menanti dana itu. Pihak lab pun berani mengambil keputusan untuk tetap memberlakukan pungutan dana praktikan melalui buku penuntun.
”Universitas memang tidak mengeluarkan dana untuk pembayaran buku penuntun, namun dari pihak mahasiswa sendiri mereka membutuhkan buku penuntun dan bersedia membelinya, maka kami membolehkan mereka membeli buku penuntun,” ujar Rugaiyah Arfah Kordinator lab Kimia Dasar.
Rugaiyah menambahkan, bila pungutan dana itu tidak dilakukan, nilai hasil praktikum akan tertunda. Lagipula ada asumsi yang menyatakan kalau rektorat masih mengijinkan pemungutan biaya dari praktikan asalkan harganya lebih rendah dari harga kopian buku penuntun. ”Ini bisa membuat kita tekor. Sedangkan disisi lain kita harus menghargai hasil kerja pembuat dan penyusun buku tersebut. Harusnya ada upah untuk mereka, dari mana coba?,” tandas Rugaiyah.
Buku penuntun memang awam digunakan untuk mencari dana tambahan bagi lab.
Apalagi di saat mendesak, dan dana utama dari rektorat belum turun. Besarnya dana yang dibutuhkan lab juga beragam. Misalnya, biaya penyediaan alat dan bahan, upah dan pelatihan asisten maupun pengawasan dosen.
Selain membatasi pungutan dari buku penuntun, pihak universitas kini juga menginstruksikan agar praktikan tidak lagi membawa alat praktikum sendiri. Karena universitas, dalam hal ini rektorat telah mengalokasikan dana untuk itu.Tahun ini misalnya, berbeda dari tahun lalu, tim analis (pembuat reagen dari bahan-bahan kimia) untuk pertama kalinya tidak menjadi tanggungan universitas.
Hal ini pula yang menjadi kendala dalam pelaksanaan praktikum. Dengan tidak adanya tim analis, maka praktikan akan membuat reagen sendiri yang telah tersedia di laboratorium. Waktu praktikum akan menjadi panjang dan akan menyita banyak tenaga praktikan.
Sebenarnya, banyak upaya juga telah ditempuh pengelola lab jurusan. Bahkan himpunan mahasiswa pun turut andil untuk mempercepat pengalokasian dana ini. Mulai dari pengajuan proposal, hingga permintaan lisan pun dicoba. Meski tak sering berbuah harapan kosong.
Namun kondisi beberapa lab mata kuliah beberapa fakultas memiliki alur cerita berbeda. Aturan rektorat itu ternyata tak terlalu diindahkan. Pungutan-pungutan biasanya tetap dilakukan. Baik itu di dalam bentuk buku penuntun maupun tugas pendahuluan. Juga bahan-bahan praktik dibawa sendiri oleh praktikan. Fakultas Peternakan misalnya, beberapa praktikum tetap berjalan sebagaimana tahun-tahun sebelumnya. Dengan tetap memungut biaya dari praktikan. Nah loh...! (M45,M10/Mch)