Dosen jadi Pasif, Mahasiswa...?
Student Center Learning (SCL) kini telah diterapkan di beberapa fakultas. Peralihan dari sistem teaching ke learning memang tak mudah, beberapa sivitas akademika nampaknya masih sulit beradaptasi dengan atmosfir akademik baru ini.
Kuliah semester awal barulah dimulai, namun Fahrul Mulyadi sudah harus berkutat dengan setumpuk tugas kuliah. Demi menyelesaikan tugas tersebut, mahasiswa Teknik Industri ini harus menyambangi warnet (warung internet) setiap pekan. Bila literatur di warnet itu tidak mencukupi, maka ia akan mangkal di perpustakaan untuk mencari referensi tambahan.
Sebelum kuliah, Fahrul pun harus mempersiapkan diri bila ada pertanyaan dari dosen yang akan menghujamnya. Pertanyaan itu biasanya mengenai materi pekan sebelumnya, atau yang baru akan dibahas dalam pertemuan kuliah saat itu.
Di beberapa fakultas lain, adapula dosen yang sengaja membentuk kelompok mahasiswa yang akan mendiskusikan materi kuliah tertentu. Tiap kelompok diskusi itu biasanya akan melakukan suatu presentasi di depan kelas, lalu kelompok lain dan juga dosen yang bersangkutan akan menanggapinya.
Semua metode itu adalah bagian dari sistem SCL. Pola mengajar dosen dalam kelas menjadi lebih pasif dan hanya berperan sebagai pengarah. Mahasiswalah yang diberikan kebebasan untuk mengeksplor kemampuannya. Tentunya dalam lingkup bidang ilmu yang digeluti. Meski tanpa sosialisasi sebelumnya, mahasiswa mau tak mau harus menyesuaikan diri dengan ritme baru ini.
Menerapkan konsep baru di tatanan pendidikan sekaliber Unhas bukan perkara mudah. Pasalnya, pola pikir sebagian besar sivitas akademika Unhas selama ini menganggap dosen sebagai center of interest dalam perkuliahan. “Hal inilah yang berusaha kita ubah, mengubah mindset dan paradigma,” tandas Prof. Djabir Hamzah, ketua Lembaga Kajian Pengembangan Pendidikan (LKPP) Unhas yang juga penanggungjawab sistem SCL. “Jika tak segera berubah, Unhas akan jauh tertinggal,” lanjutnya.
Langkah awal perubahan kurikulum konvensional dari teaching ke learning ini sebenarnya sudah digarap sejak tiga tahun terakhir. Lebih lanjut Prof. Djabir menjelaskan, SCL memiliki tujuan untuk membangun kultur budaya akademik secara simultan, bukan hanya dosen, tapi juga mahasiswa, pegawai, dan pengelola universitas.
Untuk mengenalkan konsep SCL, sebelumnya pelatihan dosen telah digelar oleh LKPP bulan Agustus lalu. Pelatihan itu dititikberatkan pada metode-metode SCL, seperti Problem Basic Learning dan Case Study. Puluhan dosen dari seluruh fakultas ditatar. Dari setiap jurusan, hanya ada empat dosen yang dipilih untuk mengikuti pelatihan. Hanya saja, minimnya jumlah dosen yang diikutkan membawa tanda tanya besar, adakah pelatihan dosen yang segelintir ini mampu membawa perubahan konsep pengajaran Unhas ke depan?
Andi Herman, mahasiswa Peternakan 2006 menuturkan, dosen yang menjadi wakil fakultasnya di pelatihan itu memang menerapkan metode sesuai dengan standar SCL. Namun ia mengeluhkan, dengan pola mengajar dosen-dosen tua atau beberapa guru besar rata-rata masih konvensional dan hampir tidak bisa berubah.
Selain itu, minimnya fasilitas pendukung menjadi kendala tersendiri bagi penerapan sistem SCL. Hal ini diakui oleh seluruh pihak, baik mahasiswa dan dosen. Utamanya akses internet yang belum memadai, serta buku-buku literatur yang terbatas di perpustakaan. Idealnya, universitas yang menerapkan sistem SCl memang menyediakan fasilitas cukup, baik akses internet gratis maupun buku-buku lengkap. Dalam hal ini Unhas terhitung belum siap. Akses internet lewat hot spot memang telah ada, namun hanya dinikmati oleh mahasiswa yang ber-laptop. Lebih dari itu, bagi mahasiswa dengan tingkat ekonomi pas-pasan, tugas yang bejibun tentu membutuhkan alokasi biaya yang tak sedikit.
Namun demikian, penerapan sistem SCL ini juga melahirkan beragam tanggapan. Astuti Arif S. Hut., M.Si adalah salah satu dosen yang menyambut baik konsep SCL ini. Dosen Kimia Kayu di Fakultas Kehutanan ini beranggapan SCL adalah konsep yang bisa menggali kemampuan mahasiswa. “Tugas dosen adalah mencari cara agar mahasiswa lebih aktif, bisa dengan memberi tugas portofolio, diskusi kelompok, dan semacamnya,” tandasnya. “Meskipun ada mahasiswa yang ‘kaget’ terhadap pembelajaran baru ini, mereka diharapkan bisa menyesuaikan diri,” tambahnya.
Pun bagi sebagian mahasiswa, SCL adalah konsep pembelajaran yang ‘menyenangkan’. Sebut saja Meiriance, mahasiswa Teknik Mesin ini sangat setuju dengan konsep belajar ala SCL. “Kita jadi belajar lebih efektif, lewat internet dan buku-buku pengetahuan jadi bertambah, juga melatih kemampuan berbicara,” jelasnya bersemangat.
Sebaliknya bagi Iswan Mabur, mahasiswa Kehutanan ini mengaku belum sepenuhnya menerima konsep pembelajaran SCL. “Tiap mata kuliah ada tugasnya, lebih lagi kadang tugasnya susah-susah, sulit didapat. Selain itu biaya untuk internet, print, dan semacamnya agak mengganggu keuangan,” keluh mahasiswa angkatan 2003 ini.
Berhasil tidaknya SCL ini akan terbukti dari output-nya. Mungkin akhir semester awal ini harus menjadi evaluasi berarti untuk mengoreksi segala kekurangan sistem SCL. Sehingga suatu saat nanti, sistem ini mampu menghasilkan mahasiswa yang berpikir quality oriented, bukan hanya result oriented. (M11/ Mch)
Kuliah semester awal barulah dimulai, namun Fahrul Mulyadi sudah harus berkutat dengan setumpuk tugas kuliah. Demi menyelesaikan tugas tersebut, mahasiswa Teknik Industri ini harus menyambangi warnet (warung internet) setiap pekan. Bila literatur di warnet itu tidak mencukupi, maka ia akan mangkal di perpustakaan untuk mencari referensi tambahan.
Sebelum kuliah, Fahrul pun harus mempersiapkan diri bila ada pertanyaan dari dosen yang akan menghujamnya. Pertanyaan itu biasanya mengenai materi pekan sebelumnya, atau yang baru akan dibahas dalam pertemuan kuliah saat itu.
Di beberapa fakultas lain, adapula dosen yang sengaja membentuk kelompok mahasiswa yang akan mendiskusikan materi kuliah tertentu. Tiap kelompok diskusi itu biasanya akan melakukan suatu presentasi di depan kelas, lalu kelompok lain dan juga dosen yang bersangkutan akan menanggapinya.
Semua metode itu adalah bagian dari sistem SCL. Pola mengajar dosen dalam kelas menjadi lebih pasif dan hanya berperan sebagai pengarah. Mahasiswalah yang diberikan kebebasan untuk mengeksplor kemampuannya. Tentunya dalam lingkup bidang ilmu yang digeluti. Meski tanpa sosialisasi sebelumnya, mahasiswa mau tak mau harus menyesuaikan diri dengan ritme baru ini.
Menerapkan konsep baru di tatanan pendidikan sekaliber Unhas bukan perkara mudah. Pasalnya, pola pikir sebagian besar sivitas akademika Unhas selama ini menganggap dosen sebagai center of interest dalam perkuliahan. “Hal inilah yang berusaha kita ubah, mengubah mindset dan paradigma,” tandas Prof. Djabir Hamzah, ketua Lembaga Kajian Pengembangan Pendidikan (LKPP) Unhas yang juga penanggungjawab sistem SCL. “Jika tak segera berubah, Unhas akan jauh tertinggal,” lanjutnya.
Langkah awal perubahan kurikulum konvensional dari teaching ke learning ini sebenarnya sudah digarap sejak tiga tahun terakhir. Lebih lanjut Prof. Djabir menjelaskan, SCL memiliki tujuan untuk membangun kultur budaya akademik secara simultan, bukan hanya dosen, tapi juga mahasiswa, pegawai, dan pengelola universitas.
Untuk mengenalkan konsep SCL, sebelumnya pelatihan dosen telah digelar oleh LKPP bulan Agustus lalu. Pelatihan itu dititikberatkan pada metode-metode SCL, seperti Problem Basic Learning dan Case Study. Puluhan dosen dari seluruh fakultas ditatar. Dari setiap jurusan, hanya ada empat dosen yang dipilih untuk mengikuti pelatihan. Hanya saja, minimnya jumlah dosen yang diikutkan membawa tanda tanya besar, adakah pelatihan dosen yang segelintir ini mampu membawa perubahan konsep pengajaran Unhas ke depan?
Andi Herman, mahasiswa Peternakan 2006 menuturkan, dosen yang menjadi wakil fakultasnya di pelatihan itu memang menerapkan metode sesuai dengan standar SCL. Namun ia mengeluhkan, dengan pola mengajar dosen-dosen tua atau beberapa guru besar rata-rata masih konvensional dan hampir tidak bisa berubah.
Selain itu, minimnya fasilitas pendukung menjadi kendala tersendiri bagi penerapan sistem SCL. Hal ini diakui oleh seluruh pihak, baik mahasiswa dan dosen. Utamanya akses internet yang belum memadai, serta buku-buku literatur yang terbatas di perpustakaan. Idealnya, universitas yang menerapkan sistem SCl memang menyediakan fasilitas cukup, baik akses internet gratis maupun buku-buku lengkap. Dalam hal ini Unhas terhitung belum siap. Akses internet lewat hot spot memang telah ada, namun hanya dinikmati oleh mahasiswa yang ber-laptop. Lebih dari itu, bagi mahasiswa dengan tingkat ekonomi pas-pasan, tugas yang bejibun tentu membutuhkan alokasi biaya yang tak sedikit.
Namun demikian, penerapan sistem SCL ini juga melahirkan beragam tanggapan. Astuti Arif S. Hut., M.Si adalah salah satu dosen yang menyambut baik konsep SCL ini. Dosen Kimia Kayu di Fakultas Kehutanan ini beranggapan SCL adalah konsep yang bisa menggali kemampuan mahasiswa. “Tugas dosen adalah mencari cara agar mahasiswa lebih aktif, bisa dengan memberi tugas portofolio, diskusi kelompok, dan semacamnya,” tandasnya. “Meskipun ada mahasiswa yang ‘kaget’ terhadap pembelajaran baru ini, mereka diharapkan bisa menyesuaikan diri,” tambahnya.
Pun bagi sebagian mahasiswa, SCL adalah konsep pembelajaran yang ‘menyenangkan’. Sebut saja Meiriance, mahasiswa Teknik Mesin ini sangat setuju dengan konsep belajar ala SCL. “Kita jadi belajar lebih efektif, lewat internet dan buku-buku pengetahuan jadi bertambah, juga melatih kemampuan berbicara,” jelasnya bersemangat.
Sebaliknya bagi Iswan Mabur, mahasiswa Kehutanan ini mengaku belum sepenuhnya menerima konsep pembelajaran SCL. “Tiap mata kuliah ada tugasnya, lebih lagi kadang tugasnya susah-susah, sulit didapat. Selain itu biaya untuk internet, print, dan semacamnya agak mengganggu keuangan,” keluh mahasiswa angkatan 2003 ini.
Berhasil tidaknya SCL ini akan terbukti dari output-nya. Mungkin akhir semester awal ini harus menjadi evaluasi berarti untuk mengoreksi segala kekurangan sistem SCL. Sehingga suatu saat nanti, sistem ini mampu menghasilkan mahasiswa yang berpikir quality oriented, bukan hanya result oriented. (M11/ Mch)




