Komunitas Hijau, Komunitas Bisnis
Green Comunity resmi disandang Unhas tahun lalu. Penghijauan dan mempelopori kelestarian lingkungan menjadi visi utama. Meski tujuan mulianya itu kini mulai menyimpang.
Hujan yang sedikit deras terus menghujam lapangan depan mesjid kampus Unhas pertengahan April tahun lalu. Saat itu, panitia peresmian Unhas Green Comunity (UGC) tengah siap menyambut kedatangan Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY di tempat tersebut. Beberapa panitia yang terlihat panik kemudian menggulung karpet merah di tengah jalan yang telah basah kuyup, juga menyingkirkan alat-alat elektronik yang berada di lapangan.
Namun demikian, SBY dan istrinya tetap memenuhi jadwalnya ke kampus seperti semula. Hujan pun mulai mereda. Kawasan yang disterilkan sejauh satu kilometer tersebut penuh riuh lantang dengan sorakan bahagia mahasiswa atau masyarakat sewaktu menyaksikan rombongan presiden memasuki kampus.
Peresmian UGC dengan simbolisasi penanaman jenis pohon endemik oleh SBY serta belasan pejabat tinggi Sulawesi Selatan itu dilakukan tanpa hambatan. SBY turut menyambut positif komitmen UGC, yang saat itu dibacakan oleh seorang mahasiswa. Ia dengan nada lantang menginginkan UGC dapat berperan aktif dalam kelestarian lingkungan, meski harus dimulai dari lingkungan kampus terlebih dahulu.
Kini, Bank Bibit yang disebut-sebut sebagai wajah UGC saat peresmian itu telah menghasilkan bibit pohon siap tanam. Ratusan pohon bahkan telah ditanam di seputar area kampus beberapa waktu lalu. Meski tak ada proses pemeliharaan lagi setelahnya.
Namun seiring berjalannya waktu, bibit yang merupakan sumbangan dari Bank Panin itu ternyata telah dikomersilkan. Beberapa pihak yang mengira bibit itu digratiskan harus menelan ludah, dan mengerus kocek lebih dulu sebelum mendapatkan bibit tersebut. Dari beberapa yang ditemui, kebanyakan yang menginginkan bibit itu ialah mahasiswa. Mereka meminta bibit itu untuk melakukan penanaman, baik dalam rangka praktek kuliah atau sekadar penghijauan di dalam kampus.
”Ketika bermaksud untuk mengambil bibit di situ, saya dimintai 3000 rupiah, dengan alasan uang tersebut sebagai biaya polibag dan perawatan bibit” ujar Muh Ridho salah satu Mahasiswa Kehutanan.
Sementara pihak pengelola Bank Bibit, Muh Laga menuturkan hal yang sebaliknya. Menurutnya, kalau mahasiswa atau dosen yang ada di Unhas silakan ambil dan tidak dipungut biaya, tapi jika dari luar dan berhubungan dengan proyek pembibitan itu dikenakan biaya. ”Kita kasih bayaran 3000 rupiah per bibit, dan itupun kalau mereka dengan suka rela membayar,” terang Laga.
Selaku pihak donatur utama Bank Bibit, Andi T. Gappa Branch Manager Bank Panin Makassar menyatakan, bibit yang ada di Green Communuity itu semuanya gratis. ”Kalau ada yang mau ambil untuk ditanam, silakan saja ambil tidak perlu mengeluarkan uang berapa pun itu” Ungkap pria yang biasa disapa Oni ini.
Oni yang sebelumnya mengetahui Bank Bibit UGC itu dijadikan lahan bisnis, akhirnya memutuskan menarik diri dari UGC. Ia mengira, sejak awal mahasiswa yang dimintai sebagai sukarelawan untuk mengurus bibit itu benar-benar memiliki niat luhur. Namun melihat hal ini, ia pun menilai, kalau sukarelawan yang menjaga bank Bibit UGC itu berpikir lain, mengira kalau Bank Bibit adalah ladang proyek yang dapat menghasilkan uang.
Saat ini tak ada lagi aktivitas yang terlihat di lokasi penyemaian Bank Bibit UGC. Tempat penyemaian yang berada di kawasan Pintu Satu Unhas itu telah kosong melompong. Mungkikah UGC telah berakhir?
”Komintas Hijau” yang diinisiatori oleh dosen dan mahasiswa Fakultas Pertanian dan Fakultas Kehutanan itu kini tak lagi bergaung sejak peresmian. Padahal, pihak Pemerintah Kota Makassar telah merespon program ini, dengan turut menanam ribuan pohon di wilayah perkotaan.
Mengenai kelanjutan UGC, Drs Muh Yusran yang kini sebagai Pembantu Dekan II Fakultas Kehutanan mengatakan, UGC bertujuan memotivasi masyarakat untuk mencintai lingkungan dan turut menjaganya. Ia pun menambahkan, kalau ada niat untuk tetap melanjutkan program UGC ini ke depannya. Namun ia tak menjelaskan secara rinci mengenai kelanjutan itu.
Mengenai lokasi penyemaian, Dosen Manajemen ini juga menjelaskan, tempat penampungan bibit yang dulu berada di samping Masjid Kampus dipindahkan karena mengganggu pemandangan. ” Kan dulunya di depan mesjid, karena tempatnya merusak pemandangan, jadi harus dipindahkan di samping mesjid,” ujar Yusran.
Tak adanya struktur Hirarki UGC, membuat komunitas hijau ini semakin meredup. Padahal, niatnya untuk melestarikan lingkungan pantas didukung. Mungkinkah karena semboyan UGC, ”Selamatkan Lingkungan Kita, Selamatkan Negara Kita, Selamatkan Masa Depan Kita” telah berubah, menjadi Selamatkan Kepentingan Bisnis Kita? Fmi,M12,M28/Mch
Hujan yang sedikit deras terus menghujam lapangan depan mesjid kampus Unhas pertengahan April tahun lalu. Saat itu, panitia peresmian Unhas Green Comunity (UGC) tengah siap menyambut kedatangan Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY di tempat tersebut. Beberapa panitia yang terlihat panik kemudian menggulung karpet merah di tengah jalan yang telah basah kuyup, juga menyingkirkan alat-alat elektronik yang berada di lapangan.
Namun demikian, SBY dan istrinya tetap memenuhi jadwalnya ke kampus seperti semula. Hujan pun mulai mereda. Kawasan yang disterilkan sejauh satu kilometer tersebut penuh riuh lantang dengan sorakan bahagia mahasiswa atau masyarakat sewaktu menyaksikan rombongan presiden memasuki kampus.
Peresmian UGC dengan simbolisasi penanaman jenis pohon endemik oleh SBY serta belasan pejabat tinggi Sulawesi Selatan itu dilakukan tanpa hambatan. SBY turut menyambut positif komitmen UGC, yang saat itu dibacakan oleh seorang mahasiswa. Ia dengan nada lantang menginginkan UGC dapat berperan aktif dalam kelestarian lingkungan, meski harus dimulai dari lingkungan kampus terlebih dahulu.
Kini, Bank Bibit yang disebut-sebut sebagai wajah UGC saat peresmian itu telah menghasilkan bibit pohon siap tanam. Ratusan pohon bahkan telah ditanam di seputar area kampus beberapa waktu lalu. Meski tak ada proses pemeliharaan lagi setelahnya.
Namun seiring berjalannya waktu, bibit yang merupakan sumbangan dari Bank Panin itu ternyata telah dikomersilkan. Beberapa pihak yang mengira bibit itu digratiskan harus menelan ludah, dan mengerus kocek lebih dulu sebelum mendapatkan bibit tersebut. Dari beberapa yang ditemui, kebanyakan yang menginginkan bibit itu ialah mahasiswa. Mereka meminta bibit itu untuk melakukan penanaman, baik dalam rangka praktek kuliah atau sekadar penghijauan di dalam kampus.
”Ketika bermaksud untuk mengambil bibit di situ, saya dimintai 3000 rupiah, dengan alasan uang tersebut sebagai biaya polibag dan perawatan bibit” ujar Muh Ridho salah satu Mahasiswa Kehutanan.
Sementara pihak pengelola Bank Bibit, Muh Laga menuturkan hal yang sebaliknya. Menurutnya, kalau mahasiswa atau dosen yang ada di Unhas silakan ambil dan tidak dipungut biaya, tapi jika dari luar dan berhubungan dengan proyek pembibitan itu dikenakan biaya. ”Kita kasih bayaran 3000 rupiah per bibit, dan itupun kalau mereka dengan suka rela membayar,” terang Laga.
Selaku pihak donatur utama Bank Bibit, Andi T. Gappa Branch Manager Bank Panin Makassar menyatakan, bibit yang ada di Green Communuity itu semuanya gratis. ”Kalau ada yang mau ambil untuk ditanam, silakan saja ambil tidak perlu mengeluarkan uang berapa pun itu” Ungkap pria yang biasa disapa Oni ini.
Oni yang sebelumnya mengetahui Bank Bibit UGC itu dijadikan lahan bisnis, akhirnya memutuskan menarik diri dari UGC. Ia mengira, sejak awal mahasiswa yang dimintai sebagai sukarelawan untuk mengurus bibit itu benar-benar memiliki niat luhur. Namun melihat hal ini, ia pun menilai, kalau sukarelawan yang menjaga bank Bibit UGC itu berpikir lain, mengira kalau Bank Bibit adalah ladang proyek yang dapat menghasilkan uang.
Saat ini tak ada lagi aktivitas yang terlihat di lokasi penyemaian Bank Bibit UGC. Tempat penyemaian yang berada di kawasan Pintu Satu Unhas itu telah kosong melompong. Mungkikah UGC telah berakhir?
”Komintas Hijau” yang diinisiatori oleh dosen dan mahasiswa Fakultas Pertanian dan Fakultas Kehutanan itu kini tak lagi bergaung sejak peresmian. Padahal, pihak Pemerintah Kota Makassar telah merespon program ini, dengan turut menanam ribuan pohon di wilayah perkotaan.
Mengenai kelanjutan UGC, Drs Muh Yusran yang kini sebagai Pembantu Dekan II Fakultas Kehutanan mengatakan, UGC bertujuan memotivasi masyarakat untuk mencintai lingkungan dan turut menjaganya. Ia pun menambahkan, kalau ada niat untuk tetap melanjutkan program UGC ini ke depannya. Namun ia tak menjelaskan secara rinci mengenai kelanjutan itu.
Mengenai lokasi penyemaian, Dosen Manajemen ini juga menjelaskan, tempat penampungan bibit yang dulu berada di samping Masjid Kampus dipindahkan karena mengganggu pemandangan. ” Kan dulunya di depan mesjid, karena tempatnya merusak pemandangan, jadi harus dipindahkan di samping mesjid,” ujar Yusran.
Tak adanya struktur Hirarki UGC, membuat komunitas hijau ini semakin meredup. Padahal, niatnya untuk melestarikan lingkungan pantas didukung. Mungkinkah karena semboyan UGC, ”Selamatkan Lingkungan Kita, Selamatkan Negara Kita, Selamatkan Masa Depan Kita” telah berubah, menjadi Selamatkan Kepentingan Bisnis Kita? Fmi,M12,M28/Mch




