Unhas Minim Pengabdian?
Pengabdian pada masyarakat merupakan prasyarat bagi eksistensi sebuah perguruan tinggi. Beragam cara dapat ditempuh dalam mewujudkannya. Sejauh mana kontribusi Unhas akan hal tersebut?
Demonstrasi kerap dilakukan mahasiswa dalam mengkritisi sesuatu yang dinilai timpang. Umumnya mahasiswa menilai aksi demonstrasi sebagai salah satu wujud pengabdian karena memperjuangkan hak-hak masyarakat. Meski demikian, pengabdian yang dipahami oleh mahasiswa tak selamanya sejalan dengan pemahaman masyarakat. Sehingga terkadang aksi demonstrasi mahasiswa berbenturan dengan masyarakat. “Aksi mahasiswa dapat dikatakan aksi sosial tapi kalau mahasiswa tidak bisa menarik simpati rakyat, malah masyarakat sendiri akan mencemoh kita,” ujar Arianto Abidin, Wakil Presiden BEM Unhas. Jika demikian keadaannya, masihkah mahasiswa mengklaim aksi mereka sebagai wujud pengabdian. “Demonstrasi yang dilakukan oleh mahasiswa seringkali anarkis, contohnya mereka membakar ban bekas, menutup jalan hingga menimbulkan kemacetan. Apa hal ini tidak meresahkan?,” keluh Amiruddin, seorang Guru SLTP 35 Makassar.
Keresahan yang sama diutarakan Syahruddin, seorang pegawai gubernuran. Ia mengemukakan bahwa sebagian mahasiswa saat ini belum bisa menjadi pengayom masyarakat. “Mereka biasa mengatasnamakan kebenaran untuk memerjuangkan hak-hak rakyat, tapi kadang malah menyusahkan dan tidak bisa menjadi contoh di kalangan masyarakat,” ungkapnya.
Tapi hal itu ditampik oleh Ir Muh Restu, “Mahasiswa sudah memberikan kontribusi terhadap masyarakat baik itu lewat KKN ataupun bakti sosial, dari situ bisa kita lihat bahwa begitu besar peran mahasiswa terhadap masyarakat. Memang mahasiswa tidak bisa berbuat maksimal karena mereka juga harus membagi waktunya dengan kegiatan akademik mereka,” ujar Dosen Kehutanan ini.
Dalam hal pengabdian, peran Lembaga Pengabdian Pada Masyarakat (LPPM) sangat penting untuk menciptakan formula atau solusi terhadap beragam permasalahan yang ada dalam masyarakat. Menurut Alex Palinggi selaku sekretaris LPPM Unhas, selama ini pengabdian kepada masyarakat utamanya oleh mahasiswa Unhas masih kurang. “Laporan Dikti, menempatkan unhas pada rating ke-9 dari seluruh perguruan tinggi kawasan timur, masih kalah dari UNM,” ungkap sekretaris LPPM Unhas ini.
Restu menilai tidak maksimalnya peran mahasiswa kepada masyarakat karena ketika mereka mengadakan semacam bakti social, mereka kekurangan dana. “Banyak mahasiswa yang ingin melakukan penelitian dengan terjun langsung ke masyarakat, namun tidak bisa berbuat banyak karena dana untuk melakukan penelitian sangat kurang,” ujar Restu.
Pendanaan memang menjadi persoalan mendasar dalam setiap kegiatan. Demikian halnya mahasiswa dalam melakukan tugas pengabdian. Untuk itu, sudah saatnya mahasiswa lebih kreatif dalam memikirkan hal apa yang perlu dilakukan sehingga peran mahasiswa dapat dirasakan oleh masyarakat tanpa harus bergantung dengan pendanaan. Bagi Irwan Ashari, mahasiswa harus terjun langsung ke masyarakat melakukan penyuluhan untuk mengembalikan citra yang selama ini terkesan negatif. “Agar efektif, sebelum kita terjun ke masyarakat kita harus betul-betul mendalami disiplin ilmu kita semasa kuliah,” tutur Ketua BEM FK ini.
Salah satu basis pemberdayaan masyarakat adalah sektor agraris atau pertanian. Namun belakangan sektor ini cenderung terabaikan, hal itu terlihat dengan maraknya impor hasil pertanian. Ini terjadi karena perhatian ke sektor ini masih rendah, baik oleh pemerintah maupun akademisi, termasuk mahasiswa. Namun hal itu dibantah oleh Zulkifli. “Anggapan bahwa kita tidak memberi kontribusi ke masyarakat itu tidak benar. Hampir setiap tahun kita melakukan penyuluhan ke masyarakat mengenai masalah pertanian lewat program kerja himpunan,” ujar mahasiswa Teknologi Pertanian ini. Namun rutinitas pengabdian oleh mahasiswa, perlu dikaji ulang. Apakah kegiatan tersebut efektif dalam memberdayakan masyarakat. Atau hanya sekadar rutinitas.
Fmi,M21/Pdy
Demonstrasi kerap dilakukan mahasiswa dalam mengkritisi sesuatu yang dinilai timpang. Umumnya mahasiswa menilai aksi demonstrasi sebagai salah satu wujud pengabdian karena memperjuangkan hak-hak masyarakat. Meski demikian, pengabdian yang dipahami oleh mahasiswa tak selamanya sejalan dengan pemahaman masyarakat. Sehingga terkadang aksi demonstrasi mahasiswa berbenturan dengan masyarakat. “Aksi mahasiswa dapat dikatakan aksi sosial tapi kalau mahasiswa tidak bisa menarik simpati rakyat, malah masyarakat sendiri akan mencemoh kita,” ujar Arianto Abidin, Wakil Presiden BEM Unhas. Jika demikian keadaannya, masihkah mahasiswa mengklaim aksi mereka sebagai wujud pengabdian. “Demonstrasi yang dilakukan oleh mahasiswa seringkali anarkis, contohnya mereka membakar ban bekas, menutup jalan hingga menimbulkan kemacetan. Apa hal ini tidak meresahkan?,” keluh Amiruddin, seorang Guru SLTP 35 Makassar.
Keresahan yang sama diutarakan Syahruddin, seorang pegawai gubernuran. Ia mengemukakan bahwa sebagian mahasiswa saat ini belum bisa menjadi pengayom masyarakat. “Mereka biasa mengatasnamakan kebenaran untuk memerjuangkan hak-hak rakyat, tapi kadang malah menyusahkan dan tidak bisa menjadi contoh di kalangan masyarakat,” ungkapnya.
Tapi hal itu ditampik oleh Ir Muh Restu, “Mahasiswa sudah memberikan kontribusi terhadap masyarakat baik itu lewat KKN ataupun bakti sosial, dari situ bisa kita lihat bahwa begitu besar peran mahasiswa terhadap masyarakat. Memang mahasiswa tidak bisa berbuat maksimal karena mereka juga harus membagi waktunya dengan kegiatan akademik mereka,” ujar Dosen Kehutanan ini.
Dalam hal pengabdian, peran Lembaga Pengabdian Pada Masyarakat (LPPM) sangat penting untuk menciptakan formula atau solusi terhadap beragam permasalahan yang ada dalam masyarakat. Menurut Alex Palinggi selaku sekretaris LPPM Unhas, selama ini pengabdian kepada masyarakat utamanya oleh mahasiswa Unhas masih kurang. “Laporan Dikti, menempatkan unhas pada rating ke-9 dari seluruh perguruan tinggi kawasan timur, masih kalah dari UNM,” ungkap sekretaris LPPM Unhas ini.
Restu menilai tidak maksimalnya peran mahasiswa kepada masyarakat karena ketika mereka mengadakan semacam bakti social, mereka kekurangan dana. “Banyak mahasiswa yang ingin melakukan penelitian dengan terjun langsung ke masyarakat, namun tidak bisa berbuat banyak karena dana untuk melakukan penelitian sangat kurang,” ujar Restu.
Pendanaan memang menjadi persoalan mendasar dalam setiap kegiatan. Demikian halnya mahasiswa dalam melakukan tugas pengabdian. Untuk itu, sudah saatnya mahasiswa lebih kreatif dalam memikirkan hal apa yang perlu dilakukan sehingga peran mahasiswa dapat dirasakan oleh masyarakat tanpa harus bergantung dengan pendanaan. Bagi Irwan Ashari, mahasiswa harus terjun langsung ke masyarakat melakukan penyuluhan untuk mengembalikan citra yang selama ini terkesan negatif. “Agar efektif, sebelum kita terjun ke masyarakat kita harus betul-betul mendalami disiplin ilmu kita semasa kuliah,” tutur Ketua BEM FK ini.
Salah satu basis pemberdayaan masyarakat adalah sektor agraris atau pertanian. Namun belakangan sektor ini cenderung terabaikan, hal itu terlihat dengan maraknya impor hasil pertanian. Ini terjadi karena perhatian ke sektor ini masih rendah, baik oleh pemerintah maupun akademisi, termasuk mahasiswa. Namun hal itu dibantah oleh Zulkifli. “Anggapan bahwa kita tidak memberi kontribusi ke masyarakat itu tidak benar. Hampir setiap tahun kita melakukan penyuluhan ke masyarakat mengenai masalah pertanian lewat program kerja himpunan,” ujar mahasiswa Teknologi Pertanian ini. Namun rutinitas pengabdian oleh mahasiswa, perlu dikaji ulang. Apakah kegiatan tersebut efektif dalam memberdayakan masyarakat. Atau hanya sekadar rutinitas.
Fmi,M21/Pdy




