<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener("load", function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <iframe src="http://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID=35470829&amp;blogName=KABAR+DARI+KAMPUS+UNHAS&amp;publishMode=PUBLISH_MODE_FTP&amp;navbarType=BLUE&amp;layoutType=CLASSIC&amp;homepageUrl=http%3A%2F%2Fwww.identitasonline.net%2F&amp;searchRoot=http%3A%2F%2Fblogsearch.google.com%2F" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no" frameborder="0" height="30px" width="100%" id="navbar-iframe" title="Blogger Navigation and Search"></iframe> <div></div>
SELAMAT DATANG DI SURAT KABAR KAMPUS UNHAS
Photo Sharing and Video Hosting at PhotobucketPhoto Sharing and Video Hosting at Photobucket

Sunday, June 17, 2007

Malam Minggu dengan Musik dan Film

Akhir pekan sangat berarti bagi sejumlah orang untuk melepas kepenatan. Peluang ini dimanfaatkan oleh sebagian mahasiswa dengan menggelar festival musik di area pondokan unhas.

Alunan lagu dengan iringan musik band, terdengar dari area kampus depan pondokan unhas. Beberapa minggu yang lalu, setiap malam minggu, warga sekitar pondokan yang umumnya mahasiswa unhas, disuguhi hiburan. Hiburan ini tak hanya diminati oleh mahasiswa, tapi anak-anak usia SD, SMP juga memadati area itu. Lantunan lagu dengan iringan musik, seketika membius para penontonya yang asik bergoyang di depan panggung. Goyangan mereka demikian akrab dengan lantunan lagu-lagu yang dinyayikan para vokalis band. Keasyikan bergoyang ria, oleh sebagian penonton dikhawatirkan menyebabkan kericuhan.

Hasruddin, mahasiswa FMIPA menuturkan dalam konser itu, penonton yang tengah larut dalam goyangan, sesekali terlihat bersinggungan yang dapat memicu kericuhan. Hal sama dibenarkan Fataa, mahasiswa Hukum. Menurutnya hal itu sering terjadi disaat ada kegiatan seperti festival musik. Keduanya sepakat jika penonton dengan status mahasiswa tidak akan melakukan kebrutalan pada kegiatan ini. “Saya kira mereka (mahasiswa) akan mencerminkan dirinya sebagai seorang yang punya etiket dan moralitas yang tinggi,” ujar Fataa yang merespon positif festival musik itu.

Banyak mahasiswa yang hadir, sekadar menyaksikan atau mendengar para pemain band melantunkan musik dan lagunya. Ada yang datang bersama temannya seperti Rini dengan Fitri, ada juga datang bersama kekasihnya. “Setelah belajar bersama kami makan, kebetulan ada keramaian lalu kami singgah sekadar mencari hiburan,” ujar Rini. Pagelaran musik yang diselenggarakan di dekat pondokan itu, menjadi magnet tersendiri pada sebagian warga pondokan.

Seperti halnya festival musik yang lain, festival kali ini pun di sponsori oleh salah satu produsen rokok ternama di Indonesia. Awalnya, festival musik yang diadakan sebagai promo tour ini ditujukan di tempat umum. Kebetulan event organizer (EO-nya) adalah beberapa orang dari mahasiswa Unhas, maka festival musik ini lalu dipindahkan ke kampus. Alasannya ini bisa menjadi salah satu bentuk hiburan bagi beberapa warga kampus untuk menghilangkan ketegangan yang mungkin ditemui selama beraktivitas.

Amri Hidayat, Mahasiswa Pertanian 2000 selaku promotor kegiatan ini berharap Sabtu (19/05) itu menjadi malam terakhir festival ini. “Saya tidak ingin ini selalu diadakan karena saya tidak mau mengajarkan pada warga kampus untuk menjadi hedon (pencari kesenangan semata),” ungkap Amri. Tanggapan berbeda diutarakan Tini (44). Ia berharap kegiatan yang menarik keramaian seperti ini tetap berlanjut. Pasalnya, Tini yang berjualan Sarabba dan Gorengan dekat festival itu mengaku keuntungan yang diperolehnya meningkat dua kali lipat sejak diadakannya festival.

Meski festival musik itu dimaksudkan memberi hiburan, sebagian mahasiswa pondokan menilai acara semacam itu sangat mengganggu. Zulkifli misalnya, mahasiswa Pertanian 2006 ini menghindari Festival tersebut karena dianggapnya terlalu ribut apalagi ia sering mendengar perihal kericuhan. Untuk itu, sebagian mahasiswa yang tinggal di pondokan lebih memilih nonton bareng bertajuk Bioskop Kampus 2007, yang diselenggarakan UKM Liga Film Mahasiswa (LFM) Unhas, sebagai alternatif hiburan malam minggunya. “Saya pikir kegiatan ini (nonton bareng) sangat bagus sebagai hiburan apalagi untuk bersosialisasi dengan banyak orang yang hadir,” ujar Zulkifli.

Menurut Muh Ilham, nonton bareng ini diadakan, agar warga kampus dapat melihat film bukan sekadar hiburan tetapi dapat memetik pesan yang ada dalam film itu. “Pada kesempatan ini juga dipertunjukkan film-film produksi LFM Unhas, dengan harapan penontonnya tak sekadar menjadi penikmat film tetapi nantinya bisa menjadi movie maker,” kata ketua LFM ini.

Suparman Abdullah Msi pun menilai festival musik dan nonton bareng merupakan hiburan yang layak dinikmati. “Jika dulu orang lebih senang nonton bola, mungkin remaja sekarang lebih senang nonton film atau dengar musik,” ujar dosen sosilogi unhas ini. Ada kebutuhan untuk memperoleh hiburan yang juga harus bisa dipenuhi dan hiburan yang menjadi ajang aktualisasi mahasiswa ini pantas mendapat tempat, lanjutnya.

Hanya saja, menurut Suparman, hiburan ini sebisa mungkin dibuat pengaturan tentang hal-hal yang layak serta waktu yang tepat. Karena bila terlalu rutin dilaksanakan juga dapat memberi dampak yang kurang bagus bagi pola belajar dan konsentrasi mahasiswa dalam perkuliahan. Tapi tak serta merta festival musik ini lantas bisa divonis akan menyebabkan pola-pola hedon bagi mahasiswa. “Saya pikir hiburan apapun itu bisa menyebabkan orang menjadi hedonis, jika kegiatannya memang dikemas dengan pola-pola hedon. Semuanya tergantung pilihan orang,” tambahnya. Suparman berharap kegiatan hiburan jangan sampai dijadikan rutinitas di kampus karena besar pengaruhnya terhadap kualitas output universitas, “Lagipula pasti banyak juga yang merasa terganggu dengan kegiatan tersebut,” ujarnya.
Ayh/Pdy