identitas No 663 / Edisi XXXIII / Edisi Awal Juni 2007
‘Umpan Tak Dilirik, Kuota Tak Terpenuhi'
Mulai 19 Juni 2007, gedung registrasi Unhas kembali hidup. Pasalnya, gedung yang sudah menganggur beberapa bulan ini tak lama lagi kedatangan tamu. Mereka adalah calon mahasiswa baru yang akan berebut kursi mahasiswa di kampus merah. Ironisnya, meski jumlah mereka ribuan, masih ada saja program studi yang kelebihan kursi. Ada apa gerangan?
Empat jalur penerimaan maba seperti Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB), Jalur Pemanduan Potensi Belajar (JPPB), Penelusuran Prestasi Olah Raga, Seni, dan Keilmuan (POSK) serta Penerimaan Mahasiswa Baru Jalur Non Subsidi (PM-JNS) ternyata belum mampu memenuhi kuota kursi bagi sebagian program studi. Spekulasi mendasar menunjukkan bahwa program studi yang dimaksud mengalami penurunan peminat.
Sebut saja Jurusan Perikanan, terhitung untuk tahun 2006 jumlah pendaftar mengalami penurunan drastis untuk dua program studi, yaitu Sosial Ekonomi Peirkanan (SEP) dan Budidaya Perairan (BDP). Untuk BDP, tahun 2005 lalu sempat memenuhi kuota 45 kursi dengan jumlah peminat yang bersaing sekitar 200 orang, namun kini peminatnya kian minim. Yang terjaring SPMB saja kurang dari setengah kuota, yaitu 23 mahasiswa.
Peternakan, fakultas tetangga sekompleks dengan perikanan mengalami gejala serupa. Pada 2006 ini peminat peternakan dari setiap program studi turun landai dari tahun-tahun sebelumnya. Pada 2003 jumlah mahasiswa yang terdaftar sebanyak 154 orang, tahun berikutnya 116 orang, kemudian tahun 2005 naik menjadi 144 orang, lalu menurun lagi menjadi 140 orang pada 2006. Pada 2006 tercatat mahasiswa prodi Produksi Ternak 24 orang, Nutrisi dan Makanan ternak 33orang, sementara untuk sosek Peternakan 32 orang, dan Teknologi Hasil Ternak (THT) 51 orang. Hal itu menunjukkan bahwa tak ada satu pun jurusan yang memenuhi kursi kuota yang rata-rata terdiri dari 80 kursi.
Fakultas lain yang juga masih terseok-seok menggamit peminat adalah Fakultas Sastra. Sastra Francis misalnya, mahasiswa yang terdaftar pada tahun ini hanya berjumlah 22 orang. Jurusan yang lain seperti Arkeologi dan Sastra Daerah tak beda jauh, yaitu 18 untuk Arkeologi, dan tujuh untuk Sastra Daerah. Belum lagi jurusan Sejarah dan sastra Arab, tak dapat dipungkiri bahwa semua jurusan di Fak. Sastra tak luput dari penurunan peminat.
Menyimak data tersebut, ada hal ganjil yang tampak. BDP misalnya, belum lama ini sempat menggelandang hibah I-MHERE dari Bank Dunia. Dana ini diperuntukkan bagi jurusan yang berakreditasi A serta cakap dan jelas orientasi program kerjanya. Kala itu Unhas mengamanatkan kepada BDP dan farmasi sebagai ujung tombak dalam rangka menyabet dana hibah tersebut. Sementara Fakultas Peternakan, yang sampai saat ini termasuk satu dari sebagian kecil fakultas yang memiliki guru besar yang memadai. Ini menjadi bukti bahwa fakultas tersebut tak boleh dipandang sebelah mata.
Jika dipikir dari segi finansial, masyarakat kita mungkin merugi. Karena subsidi pendidikan di perguruan tinggi tak termanfaatkan secara maksimal. Buktinya, masih ada kursi yang tidak terisi, dengan begitu jatah siswa untuk mengeyam pendidikan terhalangi oleh kurangnya peminat tersebut.
Minimnya peminat diakui oleh Dr. Ir. Joeharnani Tresnati, DEA, ketua jurusan perikanan. “Kami sudah mengadakan sosialisasi, namun tidak tepat waktu. Kadang sosialisasi dilakukan setelah ujian berakhir sehingga informasi mengenai jurusan perikanan sangat kurang,” ungkap ibu yang bertubuh subur dan nampak ramah ini.
Selain itu kinerja Ikatan Alumni dalam mensosialisasikan perikanan terbilang minim, ini terlihat dari sedikitnya kegiatan yang terlaksana, sehingga gaung perikanan kurang terdengar. Hal lain yang cukup signifikan memengaruhi fluktuasi peminat yaitu sebagian besar siswa lebih terpikat dengan fakultas medik.
Hal sama dialami Fak. Sastra, Fakultas yang berencana merubah nama menjadi Fakultas Ilmu budaya ini juga tersangkut minimnya peminat. Hal lain yang membentengi yaitu jumlah nilai standar kelulusan mahasiswa minimal 400, jadinya banyak siswa yang tidak dinyatakan lulus. Tapi itu tak menjadi penghambat bagi Dr. Amir, Mhum, Pembantu Dekan I Fak. Sastra, “kita pun harus membutuhkan mahasiswa yang memiliki skill. Tak sekedar menempati bangku sebagai mahasiswa yang tak memiliki apa-apa,” katanya.
Selain itu sebagian besar peserta SPMB memilih jurusan atas dasar orientasi kerja yang menjanjikan. Arfanita Bahrun misalnya, calon peserta SPMB yang memilih Jurusan Kedokteran. “Saya memilih Jurusan kedokteran karena ingin cepat mendapatkan pekerjaan,” ungkap Alumnus SMU Neg. 1 Pangkajene ini.
Meski tidak semua program studi mengalami penurunan, namun tiap jurusan harus tetap melakukan beberapa perubahan yang selaras dengan kebutuhan masyarakat. “Kualitas alumni menentukan peningkatan jumlah pendaftar untuk satu program studi. Semoga pendaftar untuk tiap program studi mengalami kenaikan,” ungkap Prof. Dr. Dadang Suriamiharja
Dna, M02, M33, M04/Dam
Tebar Jaring ke Daerah-Daerah
Tidak terpenuhinya kuota kursi beberapa program studi menjadi ancaman bagi eksistensi setiap program studi. Bagaimana usaha fakultas untuk menarik calon mahasiswa baru.
Menaggulangi masalah minimnya peminat, Jurusan Perikanan melancarkan berbagai kiat. Seperti menggencarkan sosialisasi ke beberapa SMA, di beberapa daerah sebelum Ujian Akhir Nasional (UAN) berlangsung. Hal lain yang diterapkan yaitu dengan membagikan brosur, kalender, pamplet. Sebagai bentuk keseriusannya, jurusan ini melakukan kerjasama kemitraan dengan Pemda Provinsi Riau. Hasilnya tahun ini akan ada 15 calon mahasiswa yang akan melaksanakan studi di perikanan.
Dalam waktu dekat ini pula akan dilaksanakan MUBES Ikatam Alumni (IKA Perikanan), yaitu pada 2-19 Juli. Pertemuan ini adalah momentum untuk memaksimalkan IKA dalam hal sosialisasi.
Menurut Prof. Dr.Ir. Ismartoyo, M.Sc, dekan Fakultas Peternakan, sosialisasi yang dilakukan fak. peternakan tidak beda jauh dengan perikanan. Terobosan utama yang dilakukan peternakan ialah melakukan sosialisasi lewat situs internet serta mengirimkan surat ke bupati-bupati.
Banyak hal yang telah dilakukan Fak. Sastra, seperti sosialisasi ke sekolah-sekolah, berupaya mengganti nama jurusan menjadi Fak. Imu Budaya, berkunjung ke daerah-daerah seperti Gowa, Bantaeng, Soppeng dan Pinrang. Selain itu Fak. Sastra juga memberikan beasiswa, khususnya mahasiswa jur. Sastra daerah. Mahasiswa juga turut mengambil peranan dalam sosialisasi. Lewat lomba karya dan baca puisi mereka mempopulerkan Fak. Sastra. “Mudah-mudahan ini dapat membuahkan hasil, kita berdo’a saja,” ungkap Dr. Amir, M.hum pasrah.
Dna, M02, M33, M04/Dam
Mulai 19 Juni 2007, gedung registrasi Unhas kembali hidup. Pasalnya, gedung yang sudah menganggur beberapa bulan ini tak lama lagi kedatangan tamu. Mereka adalah calon mahasiswa baru yang akan berebut kursi mahasiswa di kampus merah. Ironisnya, meski jumlah mereka ribuan, masih ada saja program studi yang kelebihan kursi. Ada apa gerangan?
Empat jalur penerimaan maba seperti Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB), Jalur Pemanduan Potensi Belajar (JPPB), Penelusuran Prestasi Olah Raga, Seni, dan Keilmuan (POSK) serta Penerimaan Mahasiswa Baru Jalur Non Subsidi (PM-JNS) ternyata belum mampu memenuhi kuota kursi bagi sebagian program studi. Spekulasi mendasar menunjukkan bahwa program studi yang dimaksud mengalami penurunan peminat.
Sebut saja Jurusan Perikanan, terhitung untuk tahun 2006 jumlah pendaftar mengalami penurunan drastis untuk dua program studi, yaitu Sosial Ekonomi Peirkanan (SEP) dan Budidaya Perairan (BDP). Untuk BDP, tahun 2005 lalu sempat memenuhi kuota 45 kursi dengan jumlah peminat yang bersaing sekitar 200 orang, namun kini peminatnya kian minim. Yang terjaring SPMB saja kurang dari setengah kuota, yaitu 23 mahasiswa.
Peternakan, fakultas tetangga sekompleks dengan perikanan mengalami gejala serupa. Pada 2006 ini peminat peternakan dari setiap program studi turun landai dari tahun-tahun sebelumnya. Pada 2003 jumlah mahasiswa yang terdaftar sebanyak 154 orang, tahun berikutnya 116 orang, kemudian tahun 2005 naik menjadi 144 orang, lalu menurun lagi menjadi 140 orang pada 2006. Pada 2006 tercatat mahasiswa prodi Produksi Ternak 24 orang, Nutrisi dan Makanan ternak 33orang, sementara untuk sosek Peternakan 32 orang, dan Teknologi Hasil Ternak (THT) 51 orang. Hal itu menunjukkan bahwa tak ada satu pun jurusan yang memenuhi kursi kuota yang rata-rata terdiri dari 80 kursi.
Fakultas lain yang juga masih terseok-seok menggamit peminat adalah Fakultas Sastra. Sastra Francis misalnya, mahasiswa yang terdaftar pada tahun ini hanya berjumlah 22 orang. Jurusan yang lain seperti Arkeologi dan Sastra Daerah tak beda jauh, yaitu 18 untuk Arkeologi, dan tujuh untuk Sastra Daerah. Belum lagi jurusan Sejarah dan sastra Arab, tak dapat dipungkiri bahwa semua jurusan di Fak. Sastra tak luput dari penurunan peminat.
Menyimak data tersebut, ada hal ganjil yang tampak. BDP misalnya, belum lama ini sempat menggelandang hibah I-MHERE dari Bank Dunia. Dana ini diperuntukkan bagi jurusan yang berakreditasi A serta cakap dan jelas orientasi program kerjanya. Kala itu Unhas mengamanatkan kepada BDP dan farmasi sebagai ujung tombak dalam rangka menyabet dana hibah tersebut. Sementara Fakultas Peternakan, yang sampai saat ini termasuk satu dari sebagian kecil fakultas yang memiliki guru besar yang memadai. Ini menjadi bukti bahwa fakultas tersebut tak boleh dipandang sebelah mata.
Jika dipikir dari segi finansial, masyarakat kita mungkin merugi. Karena subsidi pendidikan di perguruan tinggi tak termanfaatkan secara maksimal. Buktinya, masih ada kursi yang tidak terisi, dengan begitu jatah siswa untuk mengeyam pendidikan terhalangi oleh kurangnya peminat tersebut.
Minimnya peminat diakui oleh Dr. Ir. Joeharnani Tresnati, DEA, ketua jurusan perikanan. “Kami sudah mengadakan sosialisasi, namun tidak tepat waktu. Kadang sosialisasi dilakukan setelah ujian berakhir sehingga informasi mengenai jurusan perikanan sangat kurang,” ungkap ibu yang bertubuh subur dan nampak ramah ini.
Selain itu kinerja Ikatan Alumni dalam mensosialisasikan perikanan terbilang minim, ini terlihat dari sedikitnya kegiatan yang terlaksana, sehingga gaung perikanan kurang terdengar. Hal lain yang cukup signifikan memengaruhi fluktuasi peminat yaitu sebagian besar siswa lebih terpikat dengan fakultas medik.
Hal sama dialami Fak. Sastra, Fakultas yang berencana merubah nama menjadi Fakultas Ilmu budaya ini juga tersangkut minimnya peminat. Hal lain yang membentengi yaitu jumlah nilai standar kelulusan mahasiswa minimal 400, jadinya banyak siswa yang tidak dinyatakan lulus. Tapi itu tak menjadi penghambat bagi Dr. Amir, Mhum, Pembantu Dekan I Fak. Sastra, “kita pun harus membutuhkan mahasiswa yang memiliki skill. Tak sekedar menempati bangku sebagai mahasiswa yang tak memiliki apa-apa,” katanya.
Selain itu sebagian besar peserta SPMB memilih jurusan atas dasar orientasi kerja yang menjanjikan. Arfanita Bahrun misalnya, calon peserta SPMB yang memilih Jurusan Kedokteran. “Saya memilih Jurusan kedokteran karena ingin cepat mendapatkan pekerjaan,” ungkap Alumnus SMU Neg. 1 Pangkajene ini.
Meski tidak semua program studi mengalami penurunan, namun tiap jurusan harus tetap melakukan beberapa perubahan yang selaras dengan kebutuhan masyarakat. “Kualitas alumni menentukan peningkatan jumlah pendaftar untuk satu program studi. Semoga pendaftar untuk tiap program studi mengalami kenaikan,” ungkap Prof. Dr. Dadang Suriamiharja
Dna, M02, M33, M04/Dam
Tebar Jaring ke Daerah-Daerah
Tidak terpenuhinya kuota kursi beberapa program studi menjadi ancaman bagi eksistensi setiap program studi. Bagaimana usaha fakultas untuk menarik calon mahasiswa baru.
Menaggulangi masalah minimnya peminat, Jurusan Perikanan melancarkan berbagai kiat. Seperti menggencarkan sosialisasi ke beberapa SMA, di beberapa daerah sebelum Ujian Akhir Nasional (UAN) berlangsung. Hal lain yang diterapkan yaitu dengan membagikan brosur, kalender, pamplet. Sebagai bentuk keseriusannya, jurusan ini melakukan kerjasama kemitraan dengan Pemda Provinsi Riau. Hasilnya tahun ini akan ada 15 calon mahasiswa yang akan melaksanakan studi di perikanan.
Dalam waktu dekat ini pula akan dilaksanakan MUBES Ikatam Alumni (IKA Perikanan), yaitu pada 2-19 Juli. Pertemuan ini adalah momentum untuk memaksimalkan IKA dalam hal sosialisasi.
Menurut Prof. Dr.Ir. Ismartoyo, M.Sc, dekan Fakultas Peternakan, sosialisasi yang dilakukan fak. peternakan tidak beda jauh dengan perikanan. Terobosan utama yang dilakukan peternakan ialah melakukan sosialisasi lewat situs internet serta mengirimkan surat ke bupati-bupati.
Banyak hal yang telah dilakukan Fak. Sastra, seperti sosialisasi ke sekolah-sekolah, berupaya mengganti nama jurusan menjadi Fak. Imu Budaya, berkunjung ke daerah-daerah seperti Gowa, Bantaeng, Soppeng dan Pinrang. Selain itu Fak. Sastra juga memberikan beasiswa, khususnya mahasiswa jur. Sastra daerah. Mahasiswa juga turut mengambil peranan dalam sosialisasi. Lewat lomba karya dan baca puisi mereka mempopulerkan Fak. Sastra. “Mudah-mudahan ini dapat membuahkan hasil, kita berdo’a saja,” ungkap Dr. Amir, M.hum pasrah.
Dna, M02, M33, M04/Dam




