<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener("load", function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <iframe src="http://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID=35470829&amp;blogName=KABAR+DARI+KAMPUS+UNHAS&amp;publishMode=PUBLISH_MODE_FTP&amp;navbarType=BLUE&amp;layoutType=CLASSIC&amp;homepageUrl=http%3A%2F%2Fwww.identitasonline.net%2F&amp;searchRoot=http%3A%2F%2Fblogsearch.google.com%2F" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no" frameborder="0" height="30px" width="100%" id="navbar-iframe" title="Blogger Navigation and Search"></iframe> <div></div>
SELAMAT DATANG DI SURAT KABAR KAMPUS UNHAS
Photo Sharing and Video Hosting at PhotobucketPhoto Sharing and Video Hosting at Photobucket

Sunday, June 17, 2007

identitas No 662 / Edisi XXXIII / Edisi Akhir Mei 2007

Pusat Bahasa tak Bergaung

Unit Pelaksana Tugas (UPT) Pusat Bahasa Unhas telah lama berdiri. Namun banyak yang sering salah kaprah, menganggap aset itu sebagai milik Fakultas Sastra. Apa mungkin karena kurang sosialisasi?

Wajah Murni (bukan nama sebenarnya) terlihat ceria saat itu, Rabu (16/05). Dari bibirnya tersungging senyum ramah pada seorang pria yang menuju ke meja kerjanya. Ternyata pria itu seorang dosen muda Fakultas Kedokteran. Saat itu ia hendak mencari informasi seputar tes TOEFL atau kursus. Dengan tutur kata halus, Staf Honorer Bagian Adminstrasi itu menjelaskan semua hal yang dibutuhkan sang dosen.

Seperti itulah keseharian wanita yang menjadi Staf Pusat Bahasa (PB) sejak tahun 1999 tersebut. Bukan hanya sivitas akademika Unhas saja yang mendapat pelayanan Murni, masyarakat umum yang membutuhkan jasa bahasa pun bisa memperoleh hal yang sama. Kini, PB yang didirikan sejak tahun 1960-an itu memiliki 6 karyawan, yang hampir semuanya masih berstatus honorer.

UPT yang berlokasi di Gedung Perpustakaan Pusat lantai dua Wisata Lima ini sengaja didirikan sebagai penunjang pendidikan sivitas akademika Unhas dalam bidang bahasa. Karena statusnya sebagai UPT, berarti jangkauannya harus menjamah semua unit fakultas.

Seiring berjalannya waktu, peran PB justru seakan jauh dari khalayak Unhas. Program pengembangan bahasanya banyak tak menyentuh mahasiswa grass root dan sivitas kampus lainnya. Seperti yang diungkapkan Muh Ikmal, Mahasiswa Pertanian. Ia menilai, selama ini Pusat Bahasa itu seakan hanya wadah pembelajaran bagi Mahasiswa Sastra. Apalagi diperkuat dengan maraknya dosen atau mahasiswa sastra yang mangkal di tempat itu.

Sementara Ardi Setiadi, Mahasiswa Teknik angkatan 2006 ini mengetahui adanya PB hanya dari seniornya. Saat ditanya mengenai pelayanan apa saja yang diberi, ia sama sekali tidak mengetahuinya.

Susahnya mendapatkan informasi mengenai pelayanan PB ini bukan karena tak ada sosialisasi. Murni menjelaskan, kalau Pusat Bahasa telah mengirimkan brosur ke semua fakultas. Selain itu, PB telah bekerjasama dengan rektorat untuk menyebarkan perihal keberadaan PB. Meski Murni tidak memahami, setelah adanya upaya sosialisasi itu, masih banyak mahasiswa tidak mengetahui keberadaan PB.

Beberapa fasilitas yang tersedia di PB saat ini berupa dua laboratorim bahasa yang masing-masing bertempat di lantai dasar, satu ruangan seminar, satu ruangan multi media dan perpustakaan. Saat ini PB hanya meyediakan pelayanan Bahasa Inggris. Namun, ada perencanaan penambahan pelayanan bahasa lain, misalnya bahasa Jepang, Mandarin dan beberapa bahasa lain yang dipakai di dunia Internasional.

Jenis pelayanan yang disediakan PB antara lain, kursus General and Intensive English in Company Training, atau pelatihan seputar bahasa pada instansi atau perusahaan untuk meningkatkan sumber daya manusianya. Pelayanan ini dirancang sesuai kebutuhan setiap perusahaan. Sementara tes TOEFL local, nasional dan internasional pun diadakan secara berkala.

“Dengan pelayanan yang disediakan, sayangnya tidak banyak warga Unhas yang mengenal pusat bahasa, apalagi memanfaatkannya. Kalaupun ada, lebih banyak dosen atau mahasiswa yang berniat mengurus beasiswa ke luar negeri,” tutur Murni.

Adanya anggapan aset yang di kepalai oleh Dra. Etty Bazergan, Ph.D ini hanyalah milik fakultas Sastra, ditampik Murni. Ia mengatakan, hal itu adalah anggapan keliru. “saya sedikit memaklumi kenapa hal itu dikemukakan, mungkin karena sebagian besar yang memanfaatkan Pusat Bahasa selama ini dari Fakultas Sastra, atau mungkin juga karena pengajar yang ada hanyalah berasal dari sastra,” kilah Murni.

Sedikit Berbeda dengan Murni, Dra. Siti Sahraeni, S.S, salah satu pengajar di Pusat Bahasa tidak menampik kurangnya pengetahuan warga Unhas terhadap pusat Bahasa. Hal itu ia anggap akibat publikasi yang dilakukan PB selama ini kurang. Ia juga menyadari hal itu juga dikarenakan PB saat ini memang sementara dalam pengembangan.

Melihat pengembangan kemampuan bahasa sangat menentukan kualitas seseorang di dunia kerja, PB seharusnya bergerak dinamis, sehingga menjadi idaman bagi masyarakat kampus.
Din / Mch