identitas Nomor 661 / Tahun XXXIII / Edisi Awal Mei 2007
Sarjana Palsu Masuk Baruga
Puluhan mahasiswa Program Reguler Sore Farmasi Unhas Selasa (24/4) menduduki halaman rektorat. Mereka kecewa terhadap institusi Unhas yang telah meloloskan seorang mahasiswa dengan no. 74 yang tidak melalui serangkaian proses yang selayaknya.
Banyak jalan menuju Roma, seperti itulah yang dilakukan oleh SU (inisial), mahasiswa Program Reguler Sore Farmasi. Atas dalih ingin menyenangkan kedua orang tuanya, mahasiswa angkatan 2003 ini pun nekat memasuki Gedung Baruga A P Pettarani lengkap dengan toga di atas kepala.
Walaupun yang terpanggil sebenarnya bukan namanya, SU pun melangkah dengan bangga, berjalan menaiki tangga panggung baruga. Menyalami para petinggi universitas dengan disaksikan oleh ribuan pasang mata.
Padahal SU belum terdaftar sebagai sarjana, mahasiswa Program Reguler Sore Farmasi ini menjalani proses yudisium layaknya seorang sarjana sungguhan dengan menerima lembaran ijazah serta transkrip nilai. Apalagi menurut keterangan yang diperoleh bahwa SU aktif dalam perkulihan hanya empat semester, dua semester terakhir tidak aktif.
Program Reguler sore Fakultas Farmasi yang masih di bawah naungan Fakultas MIPA ini, telah meloloskan seorang mahasiswa yang belum melalui serangkaian proses untuk menjadi Sarjana. Kursi wisudawan yang sebelumnya akan diisi oleh KA (inisial) mahasiswa Reguler Sore Farmasi ini, juga sebenarnya belum memenuhi syarat untuk diwisuda karena belum lulus ujian wisuda.
“KA memang pernah mengikuti ujian tapi belum lulus, sehingga tidak ada kemungkinan dia akan wisuda. Yang mengherankan dia mendaftar pada panitia wisuda sehingga namanya terdaftar pada saat yudisium,” ungkap Drs A Ilham Mahmud Dip Sc.
Menurut informasi, KA mengelak jika dirinya mendaftarkan diri pada panitia wisuda. “Jika bukan dirinya yang mendaftarkan diri lalu siapa yang mendaftarkan dirinya, tidak mungkin saya kan, saya tidak punya kepentingan di situ,” tegas Ilham yang ditemui di Ruangannya di Kampus Baraya.
Setelah menerima laporan dari seorang mahasiswa, Unit Pengawasan Internal (UPI) sebagai badan pengawasan pun melakukan pengecekan dan klarifikasi masalah ini. “Kami telah memanggil dan menanyakan tentang kasus tersebut dan SU sendiri mengaku telah menerima ijazah dan transktip nilai,” ungkap Ketua UPI, Prof Dr Juanda Nawawi MSi.
Namun ijazah yang diterimanya itu atas nama KA. Menurut Kepala Biro Akademik, Drs Massapeary SH. Bahwa sama sekali tidak ada Ijazah yang dikeluarkan atas nama SU. “Seluruh data mahasiswa beserta nilai-nilainya diperiksa kembali di Akademik Pusat, jadi tidak mungkin adanya ijazah yang ke luar atas nama SU,“ ungkapnya tegas.
Aksi mahasiswa Reguler Sore Farmasi (24/4) pun dilatari oleh pengusutan yang terkesan lambat dan ditutup-tutupi. Rektor Unhas Prof Dr dr Idrus Paturusi kemudian memanggil seluruh pihak terkait untuk diminta klarifikasinya.
Rektor pun memutuskan untuk menyerahkan masalah ini kepada pihak fakulltas. Hal ini ditangani langsung oleh Komdis Fakultas MIPA dan akan melakukan penyelidikan lebih lanjut. “Kami meminta untuk mengusut tuntas kasus ini dalam waktu dua minggu. Prof Idrus sendiri telah sepakat dan berjanji untuk menyelesaikan secepatnya,” ungkap Cakra Wardi, pengurus BEM Farmasi.
Ketua UPI beranggapan Ketua Program Studi Reguler Sore Farmasi yang telah mengetahui adanya kursi kosong pun kemudian menghubungi SU lewat telepon. Namun ketua Program Studi sendiri telah menolak hal tersebut.
“Saya sama sekali tidak pernah menelepon ataupun menyuruh untuk ikut wisuda, dan saya tidak punya kepentingan untuk itu. Saya pernah meneleponnya untuk menemui saya, namun itu setelah saya mengetahui kasus ini. Sekadar meminta konfirmasi dari SU. Tapi hingga saat ini dia tidak pernah menemui saya,” jelas Ilham. Masalah ini telah diserahkan kepada Komdis, dengan harapan Komdis dapat mengungkap oknum dibalik ini.
Dna/Sur
Puluhan mahasiswa Program Reguler Sore Farmasi Unhas Selasa (24/4) menduduki halaman rektorat. Mereka kecewa terhadap institusi Unhas yang telah meloloskan seorang mahasiswa dengan no. 74 yang tidak melalui serangkaian proses yang selayaknya.
Banyak jalan menuju Roma, seperti itulah yang dilakukan oleh SU (inisial), mahasiswa Program Reguler Sore Farmasi. Atas dalih ingin menyenangkan kedua orang tuanya, mahasiswa angkatan 2003 ini pun nekat memasuki Gedung Baruga A P Pettarani lengkap dengan toga di atas kepala.
Walaupun yang terpanggil sebenarnya bukan namanya, SU pun melangkah dengan bangga, berjalan menaiki tangga panggung baruga. Menyalami para petinggi universitas dengan disaksikan oleh ribuan pasang mata.
Padahal SU belum terdaftar sebagai sarjana, mahasiswa Program Reguler Sore Farmasi ini menjalani proses yudisium layaknya seorang sarjana sungguhan dengan menerima lembaran ijazah serta transkrip nilai. Apalagi menurut keterangan yang diperoleh bahwa SU aktif dalam perkulihan hanya empat semester, dua semester terakhir tidak aktif.
Program Reguler sore Fakultas Farmasi yang masih di bawah naungan Fakultas MIPA ini, telah meloloskan seorang mahasiswa yang belum melalui serangkaian proses untuk menjadi Sarjana. Kursi wisudawan yang sebelumnya akan diisi oleh KA (inisial) mahasiswa Reguler Sore Farmasi ini, juga sebenarnya belum memenuhi syarat untuk diwisuda karena belum lulus ujian wisuda.
“KA memang pernah mengikuti ujian tapi belum lulus, sehingga tidak ada kemungkinan dia akan wisuda. Yang mengherankan dia mendaftar pada panitia wisuda sehingga namanya terdaftar pada saat yudisium,” ungkap Drs A Ilham Mahmud Dip Sc.
Menurut informasi, KA mengelak jika dirinya mendaftarkan diri pada panitia wisuda. “Jika bukan dirinya yang mendaftarkan diri lalu siapa yang mendaftarkan dirinya, tidak mungkin saya kan, saya tidak punya kepentingan di situ,” tegas Ilham yang ditemui di Ruangannya di Kampus Baraya.
Setelah menerima laporan dari seorang mahasiswa, Unit Pengawasan Internal (UPI) sebagai badan pengawasan pun melakukan pengecekan dan klarifikasi masalah ini. “Kami telah memanggil dan menanyakan tentang kasus tersebut dan SU sendiri mengaku telah menerima ijazah dan transktip nilai,” ungkap Ketua UPI, Prof Dr Juanda Nawawi MSi.
Namun ijazah yang diterimanya itu atas nama KA. Menurut Kepala Biro Akademik, Drs Massapeary SH. Bahwa sama sekali tidak ada Ijazah yang dikeluarkan atas nama SU. “Seluruh data mahasiswa beserta nilai-nilainya diperiksa kembali di Akademik Pusat, jadi tidak mungkin adanya ijazah yang ke luar atas nama SU,“ ungkapnya tegas.
Aksi mahasiswa Reguler Sore Farmasi (24/4) pun dilatari oleh pengusutan yang terkesan lambat dan ditutup-tutupi. Rektor Unhas Prof Dr dr Idrus Paturusi kemudian memanggil seluruh pihak terkait untuk diminta klarifikasinya.
Rektor pun memutuskan untuk menyerahkan masalah ini kepada pihak fakulltas. Hal ini ditangani langsung oleh Komdis Fakultas MIPA dan akan melakukan penyelidikan lebih lanjut. “Kami meminta untuk mengusut tuntas kasus ini dalam waktu dua minggu. Prof Idrus sendiri telah sepakat dan berjanji untuk menyelesaikan secepatnya,” ungkap Cakra Wardi, pengurus BEM Farmasi.
Ketua UPI beranggapan Ketua Program Studi Reguler Sore Farmasi yang telah mengetahui adanya kursi kosong pun kemudian menghubungi SU lewat telepon. Namun ketua Program Studi sendiri telah menolak hal tersebut.
“Saya sama sekali tidak pernah menelepon ataupun menyuruh untuk ikut wisuda, dan saya tidak punya kepentingan untuk itu. Saya pernah meneleponnya untuk menemui saya, namun itu setelah saya mengetahui kasus ini. Sekadar meminta konfirmasi dari SU. Tapi hingga saat ini dia tidak pernah menemui saya,” jelas Ilham. Masalah ini telah diserahkan kepada Komdis, dengan harapan Komdis dapat mengungkap oknum dibalik ini.
Dna/Sur




