Beasiswa Auto Debet, Sejumput Lega
Sekian lama berkutat dengan cara konvensional dalam penyaluran beasiswa. Kini Unhas mencoba terobosan baru dengan mengucurkan langsung ke rekening mahasiswa, autodebt system. Banyak kalangan menyambut positif aturan baru ini.
Sejumlah mahasiswa yang pernah mengalami pemotongan liar beasiswa menyambut gembira kebijakan rektorat merombak sistem penerimaan beasiswa, yang sebelumnya ‘dari tangan ke tangan’ beralih ke sistem auto debet atau pengucuran beasiswa langsung ke rekening mahasiswa. Hanya saja kali ini terbatas pada dua jenis beasiswa dari 31 jenis beasiswa, yakni B3M (Beasiswa Bantuan Belajar Mahasiswa) dan PPA (Peningkatan Prestasi Akademik). Mengingat dua jenis inilah yang memiliki pundi terbesar, mencakup tujuh miliar lebih untuk 2007. “Kalau sistem ini terbukti polanya bagus, maka beasiswa yang lain akan diikutkan” terang Nasaruddin.
Adapun perihal beasiswa TPSDP salah satu jenis beasiswa yang dikucurkan Bank Dunia, meskipun terbilang besar. Dari data 2006 tercatat dana TPSDP sekitar 1.4 miliar. Namun untuk tahun ke depan menurut Nasaruddin, riwayatnya sudah berakhir. Bukan sekadar perubahan sistem, terhitung tahun ini mahasiswa penerima PPA akan menerima 200 ribu/bulan, sedangkan untuk B3M 150 ribu/bulan.
Cara baru pengucuran beasiswa ini disambut positif beberapa fakultas. Salah satunya Fakultas Sastra. Pembantu Dekan III Sastra, Drs Akin Duli MA, mengungkapkan bahwa cara tersebut lebih bagus karena menjamin keamanan uang mahasiswa.”Seharusnya semua beasiswa diperlakukan seperti itu, di UI (Universitas Indonesia) saja sudah lama dipraktikkan” paparnya membandingkan. Khusus pemotongan beasiswa sebesar 5% yang selama ini berlaku di fakultas sastra, mengundang sorotan terutama dari kalangan mahasiswa Sastra sendiri, sejak dikeluarkannya SK Dekan per tanggal 29 Maret 2007 dengan sendirinya menggugurkan SK Dekan per tanggal 18 April 2005 berisi perihal pemotongan tersebut.”Sebenarnya pemotongan itu bukan untuk ‘fakultas’ tapi untuk pembiayaan kegiatan BEM” Jelasnya mencoba mengklarifikasi
Sekitar tiga ribu lima ratus mahasiswa penerima beasiswa dari berbagai fakultas, harus segera menyetorkan nomor rekening Bank BNI-nya. Sedangkan mahasiswa yang tercatat sebagai angkatan 2002 ke atas, berhubung kartu mahasiswa mereka nonaktif, maka bisa memasukkan nomor rekening baru. Mengingat keterbatasan ATM jika dibandingkan tingkat kebutuhan mahasiswa maka pihak BNI berencana akan menggandakan fasilitas yang telah ada sebelumnya.
Pengubahan sistem penerimaan beasiswa ini, berdasar pada pertimbangan berbagai masalah teknis. Seperti pegawai kemahasiswaan yang kelimpungan melayani antrian ribuan mahasiswa ketika berurusan dengan pengambilan beasiswa. Akan tetapi menurut Nasarudin Salam (PR III) perubahan ke system auto debet ini dimaksudkan agar mahasiswa yang sudah lulus sarjana, mahasiswa DO dan berstatus cuti serta yang tidak mendaftar (ulang) tidak lagi mendapat beasiswa. Disamping itu agar mahasiswa dapat melunasi SPP tepat waktu.
“Banyak mahasiswa terkesan kesulitan membayar SPP, entah saat itu masa panen belum tiba, misalnya,” ungkapnya. “Padahal jika diteliti sebenarnya mereka mendapatkan beasiswa, jangan sampai beasiswa tersebut hanya digunakan dalam urusan konsumtif belaka”. Bagi Nasaruddin secara tidak langsung cara auto debet ini mendidik mahasiswa untuk terampil mengatur penggunaan uang sekaligus untuk gemar menabung. “Kapan mereka butuhkan, baru uang tersebut di cairkan, selama tidak butuh, uang itu tersimpan dan bisa untuk membayar SPP” tambah Nasarudin.
Disinggung mengenai pemotongoan liar beasiswa, H Abu Bakar, Kepala Biro Kemahasiswaan mengungkapkan bakal menindaki, seandainya ada tindak kecurangan dalam pengucuran beasiswa. “Jika seandainya ada pihaknya yang terbukti melakukan tindak kecurangan dalam pengucuran beasiswa, maka saya tidak segan menindaki. Hal pertama yang bisa dilakukan adalah dengan mengancam, bisa juga pemindahan ke bagian lain atau malah dipecat.” namun semuanya tergantung tingkat kesalahan” ungkap H. Abubakar. (sky/ ern)
Sejumlah mahasiswa yang pernah mengalami pemotongan liar beasiswa menyambut gembira kebijakan rektorat merombak sistem penerimaan beasiswa, yang sebelumnya ‘dari tangan ke tangan’ beralih ke sistem auto debet atau pengucuran beasiswa langsung ke rekening mahasiswa. Hanya saja kali ini terbatas pada dua jenis beasiswa dari 31 jenis beasiswa, yakni B3M (Beasiswa Bantuan Belajar Mahasiswa) dan PPA (Peningkatan Prestasi Akademik). Mengingat dua jenis inilah yang memiliki pundi terbesar, mencakup tujuh miliar lebih untuk 2007. “Kalau sistem ini terbukti polanya bagus, maka beasiswa yang lain akan diikutkan” terang Nasaruddin.
Adapun perihal beasiswa TPSDP salah satu jenis beasiswa yang dikucurkan Bank Dunia, meskipun terbilang besar. Dari data 2006 tercatat dana TPSDP sekitar 1.4 miliar. Namun untuk tahun ke depan menurut Nasaruddin, riwayatnya sudah berakhir. Bukan sekadar perubahan sistem, terhitung tahun ini mahasiswa penerima PPA akan menerima 200 ribu/bulan, sedangkan untuk B3M 150 ribu/bulan.
Cara baru pengucuran beasiswa ini disambut positif beberapa fakultas. Salah satunya Fakultas Sastra. Pembantu Dekan III Sastra, Drs Akin Duli MA, mengungkapkan bahwa cara tersebut lebih bagus karena menjamin keamanan uang mahasiswa.”Seharusnya semua beasiswa diperlakukan seperti itu, di UI (Universitas Indonesia) saja sudah lama dipraktikkan” paparnya membandingkan. Khusus pemotongan beasiswa sebesar 5% yang selama ini berlaku di fakultas sastra, mengundang sorotan terutama dari kalangan mahasiswa Sastra sendiri, sejak dikeluarkannya SK Dekan per tanggal 29 Maret 2007 dengan sendirinya menggugurkan SK Dekan per tanggal 18 April 2005 berisi perihal pemotongan tersebut.”Sebenarnya pemotongan itu bukan untuk ‘fakultas’ tapi untuk pembiayaan kegiatan BEM” Jelasnya mencoba mengklarifikasi
Sekitar tiga ribu lima ratus mahasiswa penerima beasiswa dari berbagai fakultas, harus segera menyetorkan nomor rekening Bank BNI-nya. Sedangkan mahasiswa yang tercatat sebagai angkatan 2002 ke atas, berhubung kartu mahasiswa mereka nonaktif, maka bisa memasukkan nomor rekening baru. Mengingat keterbatasan ATM jika dibandingkan tingkat kebutuhan mahasiswa maka pihak BNI berencana akan menggandakan fasilitas yang telah ada sebelumnya.
Pengubahan sistem penerimaan beasiswa ini, berdasar pada pertimbangan berbagai masalah teknis. Seperti pegawai kemahasiswaan yang kelimpungan melayani antrian ribuan mahasiswa ketika berurusan dengan pengambilan beasiswa. Akan tetapi menurut Nasarudin Salam (PR III) perubahan ke system auto debet ini dimaksudkan agar mahasiswa yang sudah lulus sarjana, mahasiswa DO dan berstatus cuti serta yang tidak mendaftar (ulang) tidak lagi mendapat beasiswa. Disamping itu agar mahasiswa dapat melunasi SPP tepat waktu.
“Banyak mahasiswa terkesan kesulitan membayar SPP, entah saat itu masa panen belum tiba, misalnya,” ungkapnya. “Padahal jika diteliti sebenarnya mereka mendapatkan beasiswa, jangan sampai beasiswa tersebut hanya digunakan dalam urusan konsumtif belaka”. Bagi Nasaruddin secara tidak langsung cara auto debet ini mendidik mahasiswa untuk terampil mengatur penggunaan uang sekaligus untuk gemar menabung. “Kapan mereka butuhkan, baru uang tersebut di cairkan, selama tidak butuh, uang itu tersimpan dan bisa untuk membayar SPP” tambah Nasarudin.
Disinggung mengenai pemotongoan liar beasiswa, H Abu Bakar, Kepala Biro Kemahasiswaan mengungkapkan bakal menindaki, seandainya ada tindak kecurangan dalam pengucuran beasiswa. “Jika seandainya ada pihaknya yang terbukti melakukan tindak kecurangan dalam pengucuran beasiswa, maka saya tidak segan menindaki. Hal pertama yang bisa dilakukan adalah dengan mengancam, bisa juga pemindahan ke bagian lain atau malah dipecat.” namun semuanya tergantung tingkat kesalahan” ungkap H. Abubakar. (sky/ ern)




