BDP dan Farmasi Menggaet I-MHERE
Dua kali gagal menggaet Dikti mengucurkan dana Bank Dunia lewat IM HERE. Dengan menyandingkan Budidaya Perairan dan Farmasi, Unhas pun Berhasil memperoleh dana hibah Senilai 12 Milyar .
Seperti lazimnya beberapa hari sebelumnya, ketika menengok ruang kerja ketua Program Studi Budidaya Perairan Fakultas Perikanan (KPS BDP), tampak kesibukan mendera banyak pengajar. Tidak sekadar sibuk menyiapkan bahan ajar atau rutinitas perkuliahan, kali ini ada yang istimewa. Dalam sebuah tim bernama HE IU (HERE Education Implementation Unit) menyusun project proposal yang mengatur perincian kegiatan, kebutuhan, menandai keberhasilan merebut hibah I-MHERE (Indonesia Managing Higher Education For Relevance and Effeciency Project). Hal sama juga terlihat di KPS Farmasi. Seyum ramah terlihat jelas sebagai bentuk kegembiraan menyambut hadirnya I -MHERE.
Dua kali gagal menghadirkan I-MHERE, awalnya di tahun 2005, pasalnya hibah ini melibatkan maksimal tiga Program Studi dalam sebuah universitas, maka disandingkanlah Prodi Kelautan dan Perkapalan. Sayang, sejak menempuh tahap awal berupa pengajuan proposal Unhas sudah terjungkal. Kali kedua di tahun 2005, Budidaya dan Kelautan mewakili Unhas, lulus penyeleksian berkas, namun gugur setelah Tim I-M HERE datang langsung menilai.
Tak mau gagal setelah sekian kali mencoba, Unhas mencoba menyandingkan BDP (Budidaya Perairan) dan Farmasi, dan ternyata Unhas pun masuk dalam jajaran universitas penyandang dana Bank Dunia tersebut. Sebelumnya, UNPAD yang memenangkan hibah tersebut. Bedanya Unpad mendapat dana sebesar 20 M Untuk empat tahun, Unhas mendapatkan sebesar 12 M dalam jangka 3.5 tahun.
Dengan tema memecahkan persoalan udang dan rumput laut, Unhas mencoba memberi solusi kepada masyarakat khususnya petani tambak, bagaimana cara menggenjot produksi rumput laut dan udang yang sempat terpuruk. Bukan tanpa sebab seperti yang digambarkan oleh Dr Ir Hilal Anshary Msc, Excecutive Director I-M HERE Unhas sekaligus Ketua Program Studi BDP, tema ini dipilih menyusul keprihatinan melihat produksi udang Sul-Sel yang jauh di bawah standar nasional yakni 2 ton / tahun. Sul-Sel pertahunnya hanya menghasilkan 26 ribu ton dengan luasan sekitar 98 ribu hektar lebih. ”bandingkan dengan Thailand, setahun mereka bisa menghasilkan 310 ton dengan luasan yang hampir sama” paparnya
Bukan cuma itu, Indonesia yang dikenal sebagai penghasil rumput laut terbesar kedua di dunia, tapi tidak bisa menunjang kesejahtraan hidup penduduknya. Dalam hal ini menurut Hilal, pihaknya akan bekerjasama dengan Dinas Provinsi Sulawesi Selatan, Pemda Pinrang, PT Bantimurung Indah serta Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Sulawesi Barat di Mamuju. Ke depannya kerjasama antara BDP dan Farmasi akan sinergi. BDP berperan dalam mengupayakan teknologi budidaya dan pengolahan, sedangkan Farmasi menyiapkan probiotik yang efektif menuntaskan permasalahan pada udang dan rumput laut, terutama masalah penyakit, pelestarian lingkungan tambak, dan diversifikasi produk tambak. "Kalau selama ini kita melihat produk instant dari rumput laut berupa serbuk, kelak produk hadir dalam bentuk aslinya," terang Hilal.
Dengan ini diharapkan satu masalah lokal yaitu bagaimana meningkatkan produksi komoditas rumput laut dan udang terpecahkan. Tidak sampai di sini, lebih jauh dalam program outreachnya, IMHERE akan memberi akses bagi pelajar dari keluarga miskin yang secara akademik tergolong mampu, khususnya di derah pesisir. Program ini melalui jalur penelusuran minat dan bakat, mereka bisa menentukan program pilihannya namun tetap diarahkan untuk mengisi program studi yang peminatnya berkurang. Untuk uang SPP, pihak Unhas akan menanggungnya, selain itu bagi yang berprestasi IMHERE menyiapkan beasiswa untuk mereka.
I-MHERE juga memberikan dana 5 juta kepada mahasiswa dari semua fakultas yang ingin mengadakan penelitian atau penyusunan skripsi asalkan topiknya tetap pada tema besar tadi. "Sesuai jatah, tiga mahasiswa dari BDP serta Farmasi dan empat dari Fakultas lain," jelas Dr Rahmawati Syukur Apt yang juga selaku coordinator outreach. "Permohonan diajukan ke PR III yang selanjutnya akan diseleksi oleh tim khusus," tambahnya.
Ditemui di ruang kerjanya Dr Ir Dody Dharmawan Trijuno M App. MSc, PD I FIKP, menanggapi kalau program ini sangat membantu. Menurutnya program ini bukan mencari dana lalu menyusun program, kegiatan sudah harus jelas kemudian dana bisa cair. "Bisa saja ada kegiatan atau program yang dianggap tidak penting akan dicoret oleh Tim IMHERE, jadi ada kemungkinan 12 M bisa berkurang atau bertambah," paparnya. Untuk itu, tim monitoring program ini akan menyeleksi dengan ketat kegiatan dan peruntukan dana program agar benar-benar bermanfaat.
Menilik pengalaman sebelumnya, Husain M Dedi Ardi (Ketua BEM Perikanan) mengatakan dua kali dana hibah yang dikucurkan sebelumnya, memang ada penambahan fasilitas namun rancunya fasilitas seperti ruang komputer disewakan untuk mahasiswa. Untuk itu ke depan, pengelolaan dana program IMHERE ini agar lebih transparan, termasuk ke mahasiswa.
Sky/Ern
Seperti lazimnya beberapa hari sebelumnya, ketika menengok ruang kerja ketua Program Studi Budidaya Perairan Fakultas Perikanan (KPS BDP), tampak kesibukan mendera banyak pengajar. Tidak sekadar sibuk menyiapkan bahan ajar atau rutinitas perkuliahan, kali ini ada yang istimewa. Dalam sebuah tim bernama HE IU (HERE Education Implementation Unit) menyusun project proposal yang mengatur perincian kegiatan, kebutuhan, menandai keberhasilan merebut hibah I-MHERE (Indonesia Managing Higher Education For Relevance and Effeciency Project). Hal sama juga terlihat di KPS Farmasi. Seyum ramah terlihat jelas sebagai bentuk kegembiraan menyambut hadirnya I -MHERE.
Dua kali gagal menghadirkan I-MHERE, awalnya di tahun 2005, pasalnya hibah ini melibatkan maksimal tiga Program Studi dalam sebuah universitas, maka disandingkanlah Prodi Kelautan dan Perkapalan. Sayang, sejak menempuh tahap awal berupa pengajuan proposal Unhas sudah terjungkal. Kali kedua di tahun 2005, Budidaya dan Kelautan mewakili Unhas, lulus penyeleksian berkas, namun gugur setelah Tim I-M HERE datang langsung menilai.
Tak mau gagal setelah sekian kali mencoba, Unhas mencoba menyandingkan BDP (Budidaya Perairan) dan Farmasi, dan ternyata Unhas pun masuk dalam jajaran universitas penyandang dana Bank Dunia tersebut. Sebelumnya, UNPAD yang memenangkan hibah tersebut. Bedanya Unpad mendapat dana sebesar 20 M Untuk empat tahun, Unhas mendapatkan sebesar 12 M dalam jangka 3.5 tahun.
Dengan tema memecahkan persoalan udang dan rumput laut, Unhas mencoba memberi solusi kepada masyarakat khususnya petani tambak, bagaimana cara menggenjot produksi rumput laut dan udang yang sempat terpuruk. Bukan tanpa sebab seperti yang digambarkan oleh Dr Ir Hilal Anshary Msc, Excecutive Director I-M HERE Unhas sekaligus Ketua Program Studi BDP, tema ini dipilih menyusul keprihatinan melihat produksi udang Sul-Sel yang jauh di bawah standar nasional yakni 2 ton / tahun. Sul-Sel pertahunnya hanya menghasilkan 26 ribu ton dengan luasan sekitar 98 ribu hektar lebih. ”bandingkan dengan Thailand, setahun mereka bisa menghasilkan 310 ton dengan luasan yang hampir sama” paparnya
Bukan cuma itu, Indonesia yang dikenal sebagai penghasil rumput laut terbesar kedua di dunia, tapi tidak bisa menunjang kesejahtraan hidup penduduknya. Dalam hal ini menurut Hilal, pihaknya akan bekerjasama dengan Dinas Provinsi Sulawesi Selatan, Pemda Pinrang, PT Bantimurung Indah serta Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Sulawesi Barat di Mamuju. Ke depannya kerjasama antara BDP dan Farmasi akan sinergi. BDP berperan dalam mengupayakan teknologi budidaya dan pengolahan, sedangkan Farmasi menyiapkan probiotik yang efektif menuntaskan permasalahan pada udang dan rumput laut, terutama masalah penyakit, pelestarian lingkungan tambak, dan diversifikasi produk tambak. "Kalau selama ini kita melihat produk instant dari rumput laut berupa serbuk, kelak produk hadir dalam bentuk aslinya," terang Hilal.
Dengan ini diharapkan satu masalah lokal yaitu bagaimana meningkatkan produksi komoditas rumput laut dan udang terpecahkan. Tidak sampai di sini, lebih jauh dalam program outreachnya, IMHERE akan memberi akses bagi pelajar dari keluarga miskin yang secara akademik tergolong mampu, khususnya di derah pesisir. Program ini melalui jalur penelusuran minat dan bakat, mereka bisa menentukan program pilihannya namun tetap diarahkan untuk mengisi program studi yang peminatnya berkurang. Untuk uang SPP, pihak Unhas akan menanggungnya, selain itu bagi yang berprestasi IMHERE menyiapkan beasiswa untuk mereka.
I-MHERE juga memberikan dana 5 juta kepada mahasiswa dari semua fakultas yang ingin mengadakan penelitian atau penyusunan skripsi asalkan topiknya tetap pada tema besar tadi. "Sesuai jatah, tiga mahasiswa dari BDP serta Farmasi dan empat dari Fakultas lain," jelas Dr Rahmawati Syukur Apt yang juga selaku coordinator outreach. "Permohonan diajukan ke PR III yang selanjutnya akan diseleksi oleh tim khusus," tambahnya.
Ditemui di ruang kerjanya Dr Ir Dody Dharmawan Trijuno M App. MSc, PD I FIKP, menanggapi kalau program ini sangat membantu. Menurutnya program ini bukan mencari dana lalu menyusun program, kegiatan sudah harus jelas kemudian dana bisa cair. "Bisa saja ada kegiatan atau program yang dianggap tidak penting akan dicoret oleh Tim IMHERE, jadi ada kemungkinan 12 M bisa berkurang atau bertambah," paparnya. Untuk itu, tim monitoring program ini akan menyeleksi dengan ketat kegiatan dan peruntukan dana program agar benar-benar bermanfaat.
Menilik pengalaman sebelumnya, Husain M Dedi Ardi (Ketua BEM Perikanan) mengatakan dua kali dana hibah yang dikucurkan sebelumnya, memang ada penambahan fasilitas namun rancunya fasilitas seperti ruang komputer disewakan untuk mahasiswa. Untuk itu ke depan, pengelolaan dana program IMHERE ini agar lebih transparan, termasuk ke mahasiswa.
Sky/Ern




